Rabu, 26 November 2025

Workplace Reboot: Bukan Gen Z yang 'Manja', Tapi Cara Komunikasi Kita yang Kadaluwarsa



Pernahkah Anda merasa suasana kantor penuh ketegangan, padahal target kerja sebenarnya tercapai? Atau mungkin turnover pegawai muda semakin tinggi tanpa alasan yang jelas?

Sebuah data mengejutkan mengungkap bahwa 72% konflik di kantor sebenarnya tidak terjadi karena beban pekerjaan, melainkan karena satu hal yang sering luput dari radar HRD: Kesenjangan Komunikasi.

Saat ini, Gen Z telah mengisi 40% dari total tenaga kerja aktif di Indonesia. Namun ironisnya, banyak perusahaan masih mempertahankan gaya komunikasi era 2000-an. Hasilnya bisa ditebak: miskomunikasi, ekspektasi yang kabur, dan drama internal yang tak berkesudahan.

Masalah utamanya bukan pada Skill Gap, melainkan Communication Gap.

Mitos "Gen Z Itu Manja"

Seringkali kita mendengar keluhan bahwa Gen Z terlalu sensitif atau sulit diatur. Padahal, realitanya sistem komunikasi kitalah yang belum berevolusi.

Gen Z tidak butuh pemimpin yang "lembek", mereka butuh komunikasi yang:

  1. Jelas & Spesifik

  2. Manusiawi

  3. Dua Arah

Banyak Leader yang masih menggunakan pola lama: berbicara dengan kode, meledak di akhir tanpa peringatan, atau memberi instruksi tanpa konteks. Di sinilah "terjemahan" menjadi kacau.

Contoh Kasus "Lost in Translation":

  • Leader Berkata: "Kamu kerja yang bener dong."

  • Gen Z Mendengar: "Aku salah apa? Kenapa aku diserang tanpa penjelasan?"

  • Leader Berkata: "Kamu udah sampai mana?"

  • Gen Z Mendengar: "Apakah aku sedang ditekan/dicurigai?"

Leader mungkin hanya berniat memastikan progres, namun bagi Gen Z, ambiguitas ini terasa seperti intimidasi.

Cara Bicara yang Berhasil (Workable) untuk Gen Z

Gen Z adalah generasi yang sangat sensitif terhadap ambiguitas. Mereka bukan anti-tegas, mereka anti-ketidakjelasan. Mereka cepat belajar dan sangat responsif jika diberi konteks yang tepat.

Cobalah ubah naskah komunikasi Anda dengan pendekatan berikut:

1. Ubah Interogasi Menjadi Dukungan

  • Jangan bilang: "Udah selesai belum?"

  • Ganti dengan: "Ada hambatan apa? Apa support yang kamu butuhkan supaya ini selesai tepat waktu?"

2. Ubah Instruksi Abstrak Menjadi Spesifik

  • Jangan bilang: "Tolong kerjain secepatnya."

  • Ganti dengan: "Saya butuh ini selesai hari Jum’at jam 3 sore. Kalau kamu stuck, kabari saya 1 hari sebelumnya ya."

Hasilnya? Simpel, jelas, dan tanpa drama. Ekspektasi tersampaikan, dan karyawan merasa didukung, bukan diawasi.

Solusi Strategis untuk HR & Leader

Jika Anda ingin membangun tim yang solid dan meminimalisir drama, saatnya melakukan upgrade pada budaya komunikasi:

  • Terapkan Komunikasi 2 Arah: Jangan hanya memberi perintah, dengarkan masukan.

  • Weekly Check-in (10 Menit): Luangkan waktu singkat untuk sinkronisasi, bukan hanya rapat bulanan yang panjang.

  • Jelaskan Target + "Why": Berikan alasan di balik sebuah tugas agar mereka paham konteks besarnya.

  • Bangun Psychological Safety: Buat lingkungan di mana bertanya atau mengaku salah itu aman.

  • Fokus pada Progress, Bukan Jam Kerja: Hasil akhir lebih penting daripada durasi duduk di kursi.

  • Stop Asumsi, Mulai Bertanya: Hindari menebak-nebak, tanyakan langsung kebutuhan mereka.

Kesimpulan: Komunikasi Baik = Performa Naik

Gen Z memiliki radar yang tajam dalam membaca "energi" tim. Jika budaya kantor tidak konsisten—standar berubah-ubah tergantung mood atasan—maka trust akan runtuh, dan turnover akan meroket.

Ingatlah, Gen Z bukanlah masalah yang harus diatasi. Cara kita berkomunikasi-lah yang perlu di-upgrade. Ketika HR dan Leader berani mengubah cara bicara menjadi lebih manusiawi dan terstruktur, organisasi pun akan bertransformasi.

Workplace reboot dimulai dari cara kita bicara hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Bukan Hanya Tentang Nilai, Tapi Tentang Selamat! Mengapa Kurikulum Bencana Harus Jadi Pelajaran Wajib

Apakah kita benar-benar siap menghadapi masa depan? Belakangan ini, berita tentang bencana alam—mulai dari banjir bandang di Sumatera, gempa...