Pernahkah Anda merasa suasana kantor penuh ketegangan, padahal target kerja sebenarnya tercapai? Atau mungkin turnover pegawai muda semakin tinggi tanpa alasan yang jelas?
Sebuah data mengejutkan mengungkap bahwa 72% konflik di kantor sebenarnya tidak terjadi karena beban pekerjaan, melainkan karena satu hal yang sering luput dari radar HRD: Kesenjangan Komunikasi.
Saat ini, Gen Z telah mengisi 40% dari total tenaga kerja aktif di Indonesia. Namun ironisnya, banyak perusahaan masih mempertahankan gaya komunikasi era 2000-an. Hasilnya bisa ditebak: miskomunikasi, ekspektasi yang kabur, dan drama internal yang tak berkesudahan.
Masalah utamanya bukan pada Skill Gap, melainkan Communication Gap.
Mitos "Gen Z Itu Manja"
Seringkali kita mendengar keluhan bahwa Gen Z terlalu sensitif atau sulit diatur. Padahal, realitanya sistem komunikasi kitalah yang belum berevolusi.
Gen Z tidak butuh pemimpin yang "lembek", mereka butuh komunikasi yang:
Jelas & Spesifik
Manusiawi
Dua Arah
Banyak Leader yang masih menggunakan pola lama: berbicara dengan kode, meledak di akhir tanpa peringatan, atau memberi instruksi tanpa konteks. Di sinilah "terjemahan" menjadi kacau.
Contoh Kasus "Lost in Translation":
Leader Berkata: "Kamu kerja yang bener dong."
Gen Z Mendengar: "Aku salah apa? Kenapa aku diserang tanpa penjelasan?"
Leader Berkata: "Kamu udah sampai mana?"
Gen Z Mendengar: "Apakah aku sedang ditekan/dicurigai?"
Leader mungkin hanya berniat memastikan progres, namun bagi Gen Z, ambiguitas ini terasa seperti intimidasi.
Cara Bicara yang Berhasil (Workable) untuk Gen Z
Gen Z adalah generasi yang sangat sensitif terhadap ambiguitas. Mereka bukan anti-tegas, mereka anti-ketidakjelasan. Mereka cepat belajar dan sangat responsif jika diberi konteks yang tepat.
Cobalah ubah naskah komunikasi Anda dengan pendekatan berikut:
1. Ubah Interogasi Menjadi Dukungan
❌ Jangan bilang: "Udah selesai belum?"
✅ Ganti dengan: "Ada hambatan apa? Apa support yang kamu butuhkan supaya ini selesai tepat waktu?"
2. Ubah Instruksi Abstrak Menjadi Spesifik
❌ Jangan bilang: "Tolong kerjain secepatnya."
✅ Ganti dengan: "Saya butuh ini selesai hari Jum’at jam 3 sore. Kalau kamu stuck, kabari saya 1 hari sebelumnya ya."
Hasilnya? Simpel, jelas, dan tanpa drama. Ekspektasi tersampaikan, dan karyawan merasa didukung, bukan diawasi.
Solusi Strategis untuk HR & Leader
Jika Anda ingin membangun tim yang solid dan meminimalisir drama, saatnya melakukan upgrade pada budaya komunikasi:
Terapkan Komunikasi 2 Arah: Jangan hanya memberi perintah, dengarkan masukan.
Weekly Check-in (10 Menit): Luangkan waktu singkat untuk sinkronisasi, bukan hanya rapat bulanan yang panjang.
Jelaskan Target + "Why": Berikan alasan di balik sebuah tugas agar mereka paham konteks besarnya.
Bangun Psychological Safety: Buat lingkungan di mana bertanya atau mengaku salah itu aman.
Fokus pada Progress, Bukan Jam Kerja: Hasil akhir lebih penting daripada durasi duduk di kursi.
Stop Asumsi, Mulai Bertanya: Hindari menebak-nebak, tanyakan langsung kebutuhan mereka.
Kesimpulan: Komunikasi Baik = Performa Naik
Gen Z memiliki radar yang tajam dalam membaca "energi" tim. Jika budaya kantor tidak konsisten—standar berubah-ubah tergantung mood atasan—maka trust akan runtuh, dan turnover akan meroket.
Ingatlah, Gen Z bukanlah masalah yang harus diatasi. Cara kita berkomunikasi-lah yang perlu di-upgrade. Ketika HR dan Leader berani mengubah cara bicara menjadi lebih manusiawi dan terstruktur, organisasi pun akan bertransformasi.
Workplace reboot dimulai dari cara kita bicara hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar