Kamis, 27 November 2025

Siaga Bencana: Saatnya Madrasah di Sumatera Barat Prioritaskan Keselamatan Melebihi Kegiatan Akademik

Foto : Lubang besar menganga di depan gedung MTsN 3 Agam akibat tanah di bawah beton digerus air banjir.

Satu pekan terakhir, langit Sumatera Barat seolah tak berhenti menangis. Curah hujan dengan intensitas tinggi telah memicu banjir, longsor, dan banjir lahar dingin (galodo) di beberapa titik vital—mulai dari Agam, Tanah Datar, hingga Padang Pariaman dan sekitarnya.

Berita duka pun berdatangan. Ada saudara kita yang kehilangan harta benda, bahkan kehilangan nyawa. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Bagi kita, para pengelola Madrasah dan satuan pendidikan, situasi ini bukan sekadar berita di media massa dan media sosial. Ini adalah alarm bahaya. Sekolah dan Madrasah adalah rumah kedua bagi ribuan anak-anak. Di tengah cuaca ekstrim yang belum menentu ini, kebijakan apa yang harus segera diambil?

Jika nyawa sudah terancam, maka upaya penyelamatan adalah yang paling utama diatas segala-galanya (hifdzul nafs). Berikut adalah langkah taktis dan empatik yang harus segera diambil oleh Kepala Madrasah dan pengelola pendidikan di Sumbar:

1. Keselamatan Nyawa Adalah "Kurikulum" Utama

Dalam kondisi darurat bencana (Emergency Response), target akademis harus minggir sejenak. Jangan memaksakan kehadiran siswa atau guru jika akses jalan menuju madrasah berisiko tinggi (rawan longsor atau banjir bandang).

  • Langkah Konkret: Lakukan pemetaan risiko jalur siswa dan guru. Jika >30% akses tidak aman, beranikan diri untuk meliburkan aktivitas fisik atau mengubah mode belajar. Ingat, ketertinggalan pelajaran bisa dikejar, tapi nyawa tidak ada gantinya.

2. Aktifkan Mode Pembelajaran Fleksibel (Darurat)

Kita sudah belajar banyak dari pandemi. Saatnya mengaktifkan kembali mekanisme tersebut, namun dengan pendekatan yang lebih welas asih.

  • Langkah Konkret: Jika gedung madrasah terendam atau akses terputus, alihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

  • Catatan Penting: Jangan membebani siswa dengan tugas berat. Banyak dari mereka mungkin sedang sibuk membersihkan rumah dari lumpur atau trauma. Berikan tugas yang relevan, misalnya: Jurnal kegiatan membantu orang tua pasca-banjir atau doa bersama keluarga.

3. Posko Madrasah Peduli: Bangun Solidaritas

Pendidikan karakter (Akhlak) diuji saat musibah. Jadikan Madrasah sebagai pusat energi positif dan bantuan.

  • Langkah Konkret:

    • Data segera siswa/guru yang terdampak langsung (rumah rusak/sakit/menjadi korban).

    • Galang donasi internal (Siswa bantu Siswa).

    • Jika lokasi madrasah aman, jadikan aula atau musala sebagai titik pengungsian sementara atau dapur umum bagi warga sekitar madrasah.

4. Audit Infrastruktur Pasca-Hujan

Bagi madrasah yang "lolos" dari banjir besar, jangan lengah. Hujan deras berhari-hari seringkali melemahkan struktur bangunan.

  • Langkah Konkret: Cek segera instalasi listrik (bahaya korsleting), kondisi atap, plafon yang lapuk karena air, dan sistem drainase sekolah. Pastikan lingkungan sekolah aman sebelum siswa diizinkan masuk kembali.

5. Trauma Healing Sederhana

Anak-anak merekam kejadian bencana dengan cara berbeda. Suara hujan deras atau sirine ambulan bisa memicu kecemasan.

  • Langkah Konkret: Saat sekolah kembali masuk, jangan langsung masuk ke materi pelajaran berat (Matematika/Sains). Awali hari pertama dengan sesi sharing, doa bersama, atau permainan ringan untuk mengembalikan keceriaan psikologis mereka.

Penutup: Ikhtiar Langit dan Bumi

Bapak/Ibu Kepala Madrasah dan Guru, Saat ini kita sedang diuji. Sebagai pemimpin pendidikan, keputusan cepat dan tepat Anda sangat dinanti.

Jangan takut salah mengambil keputusan demi keselamatan. Berkomunikasilah secara intensif dengan Komite Sekolah, Kemenag setempat, dan orang tua.

Mari kita doakan agar Ranah Minang segera pulih, cuaca kembali bersahabat, dan anak-anak didik kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Jaga diri, jaga keluarga, jaga madrasah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Bukan Hanya Tentang Nilai, Tapi Tentang Selamat! Mengapa Kurikulum Bencana Harus Jadi Pelajaran Wajib

Apakah kita benar-benar siap menghadapi masa depan? Belakangan ini, berita tentang bencana alam—mulai dari banjir bandang di Sumatera, gempa...