Rabu, 26 November 2025

"Saya Sudah Terlalu Tua untuk Belajar Hal Baru": Mengapa Bapak/Ibu Guru Salah Besar (Dan Cara Membuktikannya)


Pernahkah Bapak/Ibu duduk di ruang guru, melihat rekan junior yang jari-jemarinya menari lincah di atas laptop membuat media pembelajaran interaktif, lalu bergumam dalam hati:

"Ah, sudahlah. Saya sudah tua. Otak saya sudah tidak encer lagi. Biar yang muda-muda saja yang belajar, toh sebentar lagi saya pensiun."

Jika kalimat itu pernah terlintas, artikel ini khusus ditulis untuk Bapak/Ibu Guru.

Banyak dari kita terjebak dalam mitos bahwa kemampuan belajar menurun drastis seiring bertambahnya usia. Kita merasa jika ingin mempelajari skill baru—entah itu menggunakan Canva, belajar bahasa asing untuk persiapan liburan pensiun, atau bahkan berkebun hidroponik—kita butuh waktu bertahun-tahun.

Kabar baiknya: Bapak/Ibu Guru tidak butuh waktu tahunan.

Berdasarkan buku The First 20 Hours karya Josh Kaufman, Bapak/Ibu Guru hanya butuh waktu sekitar 20 jam (kurang lebih satu bulan jika dicicil) untuk menjadi cukup ahli dalam hal baru. Bukan bertahun-tahun.

Mari kita bedah mengapa masa jelang pensiun justru adalah waktu emas untuk belajar, dan bagaimana melakukannya tanpa merasa terbebani.

Mitos 10.000 Jam yang Menyesatkan

Selama ini, mungkin Bapak/Ibu Guru pernah mendengar "Aturan 10.000 Jam". Katanya, untuk menguasai sesuatu, kita butuh 10.000 jam latihan. Bagi seorang guru yang sibuk mengoreksi tugas dan menyiapkan administrasi, angka ini terdengar mustahil.

Josh Kaufman meluruskan kekeliruan ini. 10.000 jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjadi kelas dunia (seperti atlet Olimpiade atau musisi virtuoso).

Tapi, apakah Bapak/Ibu ingin menjadi atlet E-Sport kelas dunia? Tentu tidak. Bapak/Ibu Guru hanya ingin bisa membuat video pembelajaran sederhana, atau mungkin bisa merajut untuk mengisi waktu luang nanti.

Untuk sekadar "bisa dan lancar", Kaufman membuktikan Anda hanya butuh 20 jam pertama. Itu saja.

4 Langkah Belajar Cepat (Tanpa Stres)

Bagaimana cara menjejalkan pembelajaran ke dalam jadwal mengajar yang padat? Berikut 4 langkah praktis dari Kaufman yang bisa Bapak/Ibu Guru terapkan mulai hari ini:

1. Dekonstruksi: Jangan Telan Bulat-Bulat

Kesalahan terbesar pemula adalah ingin "Belajar Komputer". Itu terlalu luas dan menakutkan. Pecah skill tersebut menjadi bagian terkecil yang paling Anda butuhkan.

  • Jangan: Ingin menguasai seluruh fitur Microsoft Excel.

  • Ganti dengan: Saya ingin belajar cara merekap nilai siswa dan menghitung rata-rata otomatis. Fokus pada potongan kecil itu saja dulu. Lupakan rumus rumit yang tidak akan Bapak/Ibu Guru pakai.

2. Belajar Secukupnya untuk Koreksi Diri

Sebagai guru, naluri kita biasanya adalah "baca buku teorinya sampai habis baru praktek". Kaufman menyarankan sebaliknya. Jangan habiskan waktu membaca 5 buku manual tebal.

Cukup tonton 1-2 video tutorial YouTube atau baca satu artikel panduan singkat, lalu langsung coba. Tujuannya adalah agar saat Bapak/Ibu Guru salah klik atau salah langkah, Bapak/Ibu Guru sadar, "Oh, ini salah," dan bisa memperbaikinya sendiri. Belajar sambil melakukan (learning by doing) jauh lebih cepat menempel di ingatan daripada sekadar membaca.

3. Singkirkan Hambatan

Bapak/Ibu Guru pasti setuju, musuh terbesar belajar bukanlah usia, melainkan gangguan. Notifikasi WhatsApp grup sekolah, suara TV, atau sekadar rasa malas menyiapkan peralatan.

Jika Bapak/Ibu Guru ingin belajar melukis untuk persiapan pensiun, jangan simpan kanvas dan cat di dalam gudang. Letakkan di atas meja yang mudah dijangkau. Jika ingin belajar aplikasi di laptop, tutup dulu tab browser berita gosip atau media sosial. Beri diri Bapak/Ibu Guru "karpet merah" untuk langsung mulai.

4. Komitmen 20 Jam

Ini kuncinya. Berjanjilah pada diri sendiri untuk melakukan skill baru ini selama total 20 jam.

Jika Bapak/Ibu Guru meluangkan waktu 45 menit setiap hari (mungkin setelah sholat Isya atau bangun tidur pagi), Anda akan menyelesaikan 20 jam ini hanya dalam waktu satu bulan.

Bayangkan: Bulan depan, Bapak/Ibu Guru sudah bisa hal baru yang hari ini terasa mustahil.

Mengapa Harus Belajar Sekarang? Kan Mau Pensiun?

Justru karena sebentar lagi pensiun, belajar hal baru adalah investasi kesehatan terbaik.

  1. Menjaga Otak Tetap Muda: Mempelajari skill baru adalah senam terbaik untuk otak, mencegah pikun, dan menjaga ketajaman mental.

  2. Mencegah Post-Power Syndrome: Banyak pensiunan merasa hampa karena kehilangan rutinitas. Memiliki skill atau hobi baru yang dipelajari sebelum pensiun akan memberi Anda tujuan dan semangat baru saat masa tugas berakhir.

  3. Kebanggaan Diri: Tidak ada rasa yang lebih memuaskan daripada membuktikan pada diri sendiri (dan rekan kerja yang lebih muda) bahwa, "Saya Senior, tapi saya tidak ketinggalan zaman."

Bapak/Ibu Guru Guru, lonceng sekolah mungkin sebentar lagi berhenti berbunyi untuk Bapak/Ibu Guru, tapi lonceng kehidupan dan pembelajaran tidak pernah berhenti.

Jangan biarkan angka usia membatasi potensi Bapak/Ibu Guru. Pilih satu hal yang ingin Bapak/Ibu Guru pelajari, sisihkan 45 menit hari ini, dan nikmati proses menjadi "murid" kembali.

Selamat belajar kembali, Bapak/Ibu Guru!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Bukan Hanya Tentang Nilai, Tapi Tentang Selamat! Mengapa Kurikulum Bencana Harus Jadi Pelajaran Wajib

Apakah kita benar-benar siap menghadapi masa depan? Belakangan ini, berita tentang bencana alam—mulai dari banjir bandang di Sumatera, gempa...