Selasa, 19 Mei 2026

Menjaga Pelita di Ampek Koto




Ruangan rapat di kantor wali nagari itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya. Mungkin karena udara siang itu mendung menggantung, atau mungkin karena beban berat yang dibawa oleh setiap orang yang duduk di sana. Bagi saya, langkah kaki menuju ruangan ini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sebagai pengawas madrasah yang membina langsung tempat ini, kehadiran saya di sini bukan sekadar pemenuhan undangan kedinasan atau formalitas birokrasi di atas kertas. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada—sebuah panggilan jiwa yang mendesak. Mengetahui madrasah yang selama ini saya awasi, saya bimbing, dan saya perjuangkan sedang berada di ujung tanduk, membuat saya menolak untuk sekadar menjadi penonton dari jauh. Saya harus ada di sana, mendengarkan detak jantungnya yang melemah.

Saya memandangi wajah-wajah di sekeliling meja dengan rasa takzim sekaligus gundah. Di sana duduk Sekretaris Camat dengan raut formalnya yang perlahan melunak, Wali Nagari yang sesekali memijit pelipis, mantan anggota DPRD Kabupaten Agam yang melipat tangan di dada, hingga para pengurus yayasan, kepala madrasah, rekan-rekan kepala SD negeri se-kanagarian, kepala KUA, serta para penyuluh agama.

Kami semua berkumpul bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk sebuah urusan yang beraroma seperti upacara pelepasan—atau, jika kami cukup tangguh hari ini, sebuah operasi penyelamatan.

Di depan mata saya, angka-angka di atas kertas terasa seperti tamparan yang sunyi. Sebagai pengawas, saya tahu betul angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah potret sebuah tragedi yang nyata. Dua orang murid di kelas tujuh. Dua orang murid di kelas delapan. Totalnya hanya empat orang manusia muda yang tersisa di koridor sekolah. Sementara itu, ada sebelas pasang mata guru yang setiap hari datang, menanti, dan mengajar dengan ketidakpastian yang menggantung di atas kepala mereka. Sebelas guru untuk empat murid adalah sebuah anomali matematika yang menyakitkan untuk dilihat.

Selama berbulan-bulan, yayasan telah megap-megap, tekor, dan terseok-seok hanya untuk memastikan dapur para guru tetap mengepul, walau sering kali upah itu terlambat atau tak cukup. Sebagai pengawas yang sering mendengar keluh kesah mereka, saya bisa merasakan kelelahan yang amat sangat yang mengendap di ruangan ini. Menghidupkan sekolah dengan jumlah murid segelintir itu seperti mencoba menyalakan api unggun di tengah badai dengan korek api yang basah.

Namun, di tengah aroma keputusasaan yang samar itu, sesuatu yang ganjil justru terjadi di dalam ruangan ini.

Saat perwakilan perantau berbicara melalui pengeras suara—suaranya berderak, datang dari tempat yang jauh namun terasa begitu dekat di dada—ada getaran yang berpindah. Mereka, yang tanah kakinya tak lagi memijak Palembayan, justru mengulurkan tangan paling pertama. Komitmen dana disebut, angka-angka bantuan mulai mengalir, bukan sebagai sedekah, melainkan sebagai tebusan atas rindu dan tanggung jawab moral yang tak luntur oleh jarak.

Saya melihat sekeliling, dan dada saya mendadak terasa hangat. Perbedaan jabatan, friksi masa lalu, atau ego sektoral antara sekolah negeri dan swasta mendadak menguap begitu saja. Ada kekompakan yang janggal namun indah. Guru-guru SD negeri, penyuluh agama, hingga pejabat daerah saling mengangguk, menyumbang ide, dan menawarkan bahu. Kami sedang tidak hanya membicarakan tentang menyelamatkan sebuah bangunan bernama madrasah; kami sedang berusaha menyelamatkan martabat kampung halaman kami sendiri.

Pada akhirnya, sebuah sekolah bukanlah tentang megahnya gedung atau menterengnya akreditasi yang sering saya periksa dalam laporan tahunan. Sekolah adalah sebuah maklumat terencana tentang masa depan. Ketika sebuah kampung membiarkan madrasahnya mati, mereka sebenarnya sedang sepakat untuk memakamkan sebagian dari masa lalu dan seluruh masa depan mereka.

Melihat bagaimana ruang rapat yang tadinya tegang berubah menjadi ruang gotong royong yang hangat, saya menyadari satu hal: kemiskinan murid di MTsS Ampek Koto mungkin adalah sebuah krisis, tetapi respons yang lahir di kantor wali nagari hari ini adalah sebuah kekayaan yang tidak bisa dihitung dengan nominal. Tugas saya sebagai pengawas mungkin berat, tetapi siang ini, di Ampek Koto, melihat seluruh elemen masyarakat bersatu, saya tahu kami menolak untuk membiarkan pelita ini padam dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siswa Malas Belajar karena TikTokers Lebih Kaya? Ini Cara Membalik Logikanya

Dulu, ruang kelas sekolah dasar kita sering kali dipenuhi oleh satu narasi seragam dari para guru: “Kalian harus belajar yang rajin, Nak. Se...