Senin, 03 November 2025
Hari ini, Senin pertama di bulan
November 2025, saya memulai kegiatan sebagaimana biasa dengan mengikuti apel
pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Cuaca pagi yang cerah
seolah menambah semangat seluruh ASN untuk mengawali pekan dengan penuh
tanggung jawab. Kasubag TU, Bapak Pebri Doni, M.A. bertindak sebagai pembina
apel. Dalam arahannya, beliau menyampaikan beberapa agenda penting nasional dan
daerah yang akan menjadi perhatian Kementerian Agama dalam waktu dekat, antara
lain pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat nasional di Serang,
Banten yang akan diikuti oleh siswa, guru, dan kepala madrasah dari berbagai
provinsi, serta MTQ Nasional tingkat Provinsi Sumatera Barat yang tahun ini
dipusatkan di Kota Bukittinggi.
Kasubag TU menekankan pentingnya
sinergi antarpegawai dalam mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, baik dalam
bentuk dukungan administrasi, publikasi, maupun motivasi terhadap para peserta
yang menjadi duta madrasah dari Kabupaten Agam. Setelah apel, saya segera
bergegas mempersiapkan perjalanan ke lapangan untuk melaksanakan agenda monitoring
pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di beberapa Madrasah Aliyah di
Kecamatan Tanjung Raya, yakni MAN 4 Agam, MA MTI Bayur, dan MAN 1 Agam.
📍 Monitoring Pelaksanaan TKA di
Kecamatan Tanjung Raya
Sekitar pukul 09.00 WIB saya tiba
di MAN 4 Agam. Suasana madrasah tampak kondusif dan tertib. Para siswa tampak
serius mengerjakan soal-soal TKA berbasis digital dengan pengawasan ketat dari
panitia dan proktor. Saya menyempatkan diri berkeliling ruangan ujian untuk
memastikan seluruh perangkat berfungsi baik, tidak ada kendala teknis, dan
peserta berada dalam suasana yang mendukung.
Setelah itu, saya berdialog cukup panjang dengan Kepala MAN 4 Agam, Bapak Ilham
Mizoni, S.Pd. Kami membahas berbagai hal strategis, termasuk persiapan
Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) yang dijadwalkan akan dilaksanakan
pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Dalam dialog tersebut, saya menekankan
pentingnya persiapan dokumen dan eviden kinerja secara sistematis, termasuk
penguatan aspek inovasi, supervisi akademik, serta manajemen kinerja berbasis
data. Kami juga berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu pembelajaran dan
peran kepala madrasah sebagai pemimpin pembelajaran (instructional leader).
Dari MAN 4 Agam, saya melanjutkan
perjalanan ke MA MTI Bayur. Madrasah ini berada di lingkungan pesantren tertua
di Tanjung Raya, dengan tradisi keilmuan yang kuat dan karakter religius yang
kental. Di lokasi, saya disambut hangat oleh pimpinan pondok pesantren, kepala
madrasah, serta beberapa guru. Pelaksanaan TKA berjalan dengan baik, para
peserta didampingi langsung oleh guru pengawas dan panitia internal madrasah.
Setelah meninjau pelaksanaan TKA, saya berdiskusi dengan pimpinan pondok
tentang sinkronisasi kurikulum pesantren dengan kurikulum madrasah, tantangan
integrasi nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran sains, serta pentingnya
inovasi berbasis teknologi tanpa menghilangkan ruh keikhlasan dan adab dalam
menuntut ilmu.
Perjalanan saya lanjutkan ke MAN 1
Agam. Di madrasah ini, kegiatan TKA juga berlangsung tertib dan lancar. Kepala
madrasah serta para guru menyambut saya dengan ramah dan terbuka terhadap
berbagai masukan. Kami berdialog tentang strategi penguatan riset siswa dan
pembinaan lomba-lomba akademik, termasuk persiapan menghadapi OMI tahun depan.
Saya menekankan bahwa kegiatan seperti TKA bukan sekadar seleksi administratif,
melainkan sarana untuk memetakan kompetensi akademik siswa agar program
pembinaan berikutnya bisa lebih terarah dan efektif.
⚙️ Kunjungan ke MAS PP Hamka Maninjau
dan Pendampingan Monev Kanwil
Menjelang siang, saya melanjutkan
perjalanan ke MAS Pondok Pesantren Prof. Hamka Maninjau. Namun, di madrasah ini
tidak ditemukan pelaksanaan TKA. Setelah berdialog dengan kepala madrasah,
diketahui bahwa mereka terlambat mendaftarkan siswa sebagai peserta TKA
sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan tahun ini. Saya menyampaikan motivasi
agar keterlambatan administrasi ini dijadikan pelajaran berharga, serta
mendorong agar tahun depan seluruh proses pendaftaran dilakukan lebih awal.
Saya juga menyarankan agar madrasah memperkuat koordinasi dengan seksi
pendidikan madrasah dan sesama madrasah lain agar tidak tertinggal dalam
program nasional semacam ini.
Setelah menyelesaikan monitoring
lapangan, saya beristirahat sejenak untuk makan siang sebelum menerima kabar
bahwa tim monitoring dan evaluasi (monev) dari Kanwil Kemenag Sumatera Barat
akan datang ke MTsN 4 Agam. Mendapat informasi tersebut, saya segera meluncur
ke lokasi untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan monev tersebut. Dalam kegiatan
ini, saya turut membantu memastikan bahwa seluruh dokumen administrasi dan
eviden yang diminta tim monev dapat ditunjukkan dengan baik oleh pihak
madrasah. Saya juga ikut memberikan penjelasan tambahan terkait pelaksanaan
program pembelajaran mendalam (deep learning), Kurikulum Berbasis Cinta (KBC),
serta integrasi kegiatan guru dan siswa dalam konteks kurikulum merdeka.
🌿 Refleksi Hari Ini
Hari ini menjadi rangkaian kegiatan
yang cukup panjang dan melelahkan, namun juga sangat bermakna. Monitoring ke
empat madrasah memberikan gambaran langsung tentang keragaman kesiapan madrasah
dalam menghadapi program nasional. Ada madrasah yang sudah sangat siap dan
tertata dengan baik, ada pula yang masih memerlukan pendampingan intensif,
terutama dalam hal manajemen administrasi dan komunikasi antarunit kerja.
Dari perjalanan hari ini saya
kembali diingatkan bahwa tugas pengawas madrasah bukan hanya menilai dan
memeriksa, tetapi juga menjadi sahabat belajar bagi kepala madrasah, guru, dan
bahkan siswa. Setiap dialog, setiap kunjungan, dan setiap bimbingan adalah
bagian dari proses membangun mutu pendidikan berbasis cinta, kolaborasi, dan
inovasi.
Dan sebagaimana sering saya
sampaikan dalam setiap pembinaan, “Madrasah unggul bukan lahir dari
fasilitas besar, tetapi dari hati-hati kecil yang besar cintanya pada
pendidikan.”
Selasa, 04 November 2025
Hari ini, Selasa 4 November 2025,
saya memulai kegiatan dengan melengkapi laporan hasil monitoring pelaksanaan
Tes Kompetensi Akademik (TKA) di beberapa madrasah yang telah saya
laksanakan sehari sebelumnya. Penyusunan laporan ini penting sebagai bentuk
pertanggungjawaban dan dokumentasi atas kegiatan lapangan, serta sebagai bahan
evaluasi untuk peningkatan mutu pelaksanaan TKA di masa mendatang. Dalam
laporan tersebut, saya menyoroti tingkat kesiapan madrasah, keterlibatan guru,
dan pelaksanaan teknis di lapangan agar dapat dijadikan rujukan oleh seksi
pendidikan madrasah maupun kepala madrasah binaan.
Sekitar pukul 09.00 WIB, saya
berangkat menuju MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah, salah satu madrasah
binaan yang berlokasi di Kecamatan Lubuk Basung. Perjalanan menuju madrasah
berlangsung lancar, dan sesampainya di lokasi, saya disambut hangat oleh kepala
madrasah, Ibu Wasiatul Ilmah Mursal, beserta beberapa guru yang sudah menunggu
di ruang guru. Kunjungan hari ini difokuskan pada kegiatan pembinaan
terhadap kepala dan guru madrasah dalam upaya memperkuat kompetensi
pedagogis serta membangun motivasi kerja yang lebih tinggi di kalangan
pendidik.
🏫 Pembinaan Kepala dan Guru Madrasah
Dalam sesi pembinaan kepada kepala
madrasah, saya menyampaikan beberapa masukan penting terkait penguatan aspek
manajerial dan supervisi akademik. Saya menekankan bahwa kepemimpinan
kepala madrasah sangat menentukan atmosfer kerja dan budaya belajar di
lingkungan sekolah. Kepala madrasah perlu memberikan dukungan nyata kepada
guru-guru yang masih lemah dalam aspek pedagogis, baik melalui supervisi,
diskusi reflektif, maupun pelatihan internal.
Selanjutnya, saya meminta seluruh
guru untuk berkumpul dan mengikuti sesi pembinaan langsung. Dalam suasana yang
santai namun serius, saya menyampaikan materi tentang tanggung jawab besar
seorang guru di era perubahan cepat saat ini. Saya membuka sesi dengan
mengajak guru melakukan refleksi: apakah mereka masih memiliki semangat
mengajar yang sama seperti ketika pertama kali menjadi guru? Refleksi ini
membuat suasana hening sejenak, seolah menembus kesadaran masing-masing
pendidik akan makna pengabdian mereka.
Beberapa guru kemudian menyampaikan
keluhan tentang kondisi siswa yang semakin beragam dan kompleks, mulai
dari masalah motivasi belajar yang rendah, kedisiplinan, hingga sikap tidak
sopan terhadap guru. Saya menyimak dengan penuh empati, lalu memberikan
beberapa trik dan strategi pendekatan yang bisa digunakan untuk
menghadapi dinamika siswa zaman sekarang. Saya menyarankan agar guru tidak
hanya mengandalkan metode lama, tetapi mulai belajar dari pengalaman guru lain
yang berhasil. Banyak hal kecil yang bisa dilakukan untuk membangun
hubungan positif dengan murid: mendengarkan mereka, memberi ruang untuk
berekspresi, dan menanamkan nilai tanpa menggurui.
Saya juga menekankan pentingnya
guru membangun budaya refleksi setelah setiap kegiatan mengajar. Catat
hal-hal yang berjalan baik dan yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, guru akan
menjadi pembelajar sejati — tidak berhenti pada rutinitas, tetapi terus
berproses menuju keunggulan.
🌱 Motivasi dan Rencana Tindak Lanjut
Dalam kesempatan itu saya
menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:
“Anak-anak kita bukanlah kertas
kosong yang bisa kita tulis sesuka hati, tetapi taman yang harus kita rawat
agar tumbuh sesuai fitrahnya.”
Saya mengingatkan guru-guru agar tidak
menyerah menghadapi kesulitan, sebab setiap siswa memiliki potensi unik
yang mungkin tidak langsung terlihat. Kuncinya adalah ketekunan, kesabaran, dan
kecintaan dalam mendidik. Guru harus mampu memadukan ketegasan dan kelembutan,
serta menampilkan teladan nyata dalam perilaku.
Sebagai tindak lanjut, saya
menyampaikan bahwa pada kunjungan berikutnya saya akan kembali
menanyakan perkembangan dari pembinaan hari ini — apakah sudah ada perubahan
pada sikap dan metode pembelajaran guru, serta bagaimana efektivitas pendekatan
yang sudah disarankan. Dengan demikian, pembinaan ini bukan sekadar kegiatan seremonial,
melainkan proses berkelanjutan yang terukur dan terpantau.
✍️ Refleksi Pribadi
Kegiatan hari ini kembali
mengingatkan saya pada satu hal mendasar: tugas seorang pengawas bukan hanya
memeriksa, melainkan menyalakan api semangat di hati para guru. Banyak guru
yang sesungguhnya hebat, namun kehilangan motivasi karena tekanan pekerjaan,
minim apresiasi, dan keterbatasan sarana. Di sinilah peran pengawas menjadi
penting — hadir memberi arah, menyemangati, dan membimbing agar guru kembali
menyadari nilai luhur profesinya.
Saya menutup pembinaan dengan doa bersama, memohon agar Allah memudahkan langkah-langkah kami dalam mendidik generasi yang beriman, cerdas, dan berakhlak mulia. Di wajah para guru saya lihat secercah semangat baru yang mulai menyala kembali. Semoga kunjungan kecil ini menjadi pemantik perubahan besar di madrasah tercinta ini.
Rabu, 05 November 2025
Hari ini, Rabu 5 November 2025,
saya memulai aktivitas pagi di kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam
dengan suasana yang cukup tenang dan produktif. Kegiatan pagi diisi dengan belajar
mandiri di platform BKN Pedia yang merupakan bagian dari program
pengembangan kompetensi ASN. Materi yang saya pelajari kali ini berkaitan
dengan prosedur kenaikan pangkat PNS, mulai dari dasar regulasi,
mekanisme penilaian angka kredit, hingga pemanfaatan sistem digital dalam
pengajuan berkas kenaikan pangkat. Saya mengikuti seluruh rangkaian
pembelajaran sampai tuntas dan berhasil menyelesaikan seluruh modul dengan
memperoleh sertifikat penyelesaian.
Kegiatan belajar mandiri ini bukan
sekadar formalitas administratif, tetapi juga saya jadikan sebagai sarana
penyegaran pengetahuan tentang sistem kepegawaian yang terus mengalami
pembaruan seiring dengan implementasi sistem digitalisasi ASN. Pemahaman yang
baik terhadap aturan kenaikan pangkat penting bagi pengawas madrasah, sebab hal
ini juga menjadi bahan konsultasi yang sering diajukan oleh para guru dan
kepala madrasah di lapangan. Dengan mengikuti pembelajaran semacam ini, saya
berharap bisa memberikan bimbingan administratif yang lebih akurat dan
kontekstual kepada madrasah binaan.
🎓 Monitoring Pelaksanaan TKA MAS
Bawan
Sekitar pukul 10.30 WIB, setelah
menyelesaikan kegiatan belajar mandiri, saya berangkat menuju labor komputer
MAN 5 Agam untuk melakukan monitoring pelaksanaan Tes Kompetensi
Akademik (TKA) bagi siswa dari MAS Bawan. Kegiatan TKA ini merupakan
bagian dari asesmen yang dilaksanakan secara serentak di berbagai madrasah
untuk mengukur capaian kemampuan akademik siswa madrasah aliyah.
Setibanya di lokasi, saya disambut
oleh panitia pelaksana TKA dan Kepala MAS Bawan, Ibu Sunting Yani.
Kegiatan ujian berjalan dengan tertib, lancar, dan kondusif. Dari total
9 siswa yang terdaftar sebagai peserta, hanya 6 orang yang hadir mengikuti tes,
sementara 3 orang siswa tidak hadir tanpa keterangan. Saya langsung
menyarankan kepada panitia dan kepala madrasah agar segera menelusuri alasan
ketidakhadiran siswa-siswa tersebut, apakah karena kendala teknis, masalah
pribadi, atau faktor lain yang perlu mendapatkan perhatian.
Saya juga menilai pelaksanaan
teknis kegiatan cukup baik — perangkat komputer berfungsi normal, jaringan
internet stabil, dan pengawasan pelaksanaan ujian berjalan dengan disiplin.
Guru-guru pengawas terlihat aktif memastikan siswa dapat mengikuti ujian dengan
baik. Dalam kegiatan ini saya juga mengamati ekspresi para siswa yang tampak
serius namun santai, menunjukkan semangat yang cukup positif dalam mengikuti
ujian.
💬 Diskusi Pembinaan dengan Kepala
Madrasah
Di sela kegiatan monitoring, saya
berdialog cukup panjang dengan Ibu Sunting Yani mengenai kondisi aktual
MAS Bawan dan arah pengembangan madrasah ke depan. Dalam percakapan itu,
terungkap bahwa tantangan utama madrasah adalah tingkat kehadiran siswa yang
belum stabil. Beberapa siswa sering tidak hadir tanpa keterangan yang
jelas, dan sebagian lainnya memiliki motivasi belajar yang rendah.
Saya memberikan saran agar fokus
utama pengembangan madrasah diarahkan pada peningkatan kehadiran dan
keterlibatan siswa. Saya menyampaikan bahwa sebelum berbicara tentang
prestasi akademik atau lomba-lomba, madrasah harus memastikan bahwa siswa
benar-benar hadir secara konsisten dan merasa betah berada di sekolah. Untuk
itu, saya menganjurkan agar pihak madrasah membuat kegiatan-kegiatan yang
menarik minat siswa, baik kegiatan akademik maupun non-akademik, seperti
ekstrakurikuler yang bersifat rekreatif dan edukatif.
Ibu Sunting Yani menyambut baik
saran tersebut dan menyampaikan rencana madrasah untuk membangun sarana
olahraga berupa lapangan bola voli di lingkungan madrasah. Ia meyakini
bahwa kegiatan olahraga bisa menjadi sarana efektif untuk meningkatkan
kedisiplinan, kekompakan, serta daya tarik bagi siswa agar lebih bersemangat
datang ke sekolah. Saya mengapresiasi gagasan tersebut dan mendorong agar
rencana ini segera direalisasikan dengan dukungan komite madrasah dan
masyarakat sekitar.
Selain itu, saya juga menekankan
pentingnya pembiasaan membaca dan memahami Al-Qur’an di kalangan siswa.
Sebagai madrasah, nilai spiritual harus tetap menjadi pondasi utama dalam
membangun karakter peserta didik. Saya menyarankan agar dibuat program
“Gerakan Literasi Qur’an” setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, atau
minimal dua kali dalam seminggu, yang tidak hanya berisi kegiatan membaca,
tetapi juga tadabbur makna ayat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan
spiritual.
📈 Refleksi dan Catatan Pembinaan
Kegiatan hari ini memberikan saya
kesempatan untuk melihat secara langsung dampak nyata dari kegiatan TKA
terhadap semangat belajar siswa, sekaligus memahami tantangan yang masih
dihadapi madrasah swasta kecil seperti MAS Bawan. Keterbatasan sarana dan
rendahnya motivasi belajar sering menjadi kendala utama, tetapi dengan
kepemimpinan yang visioner dan kreatif, saya yakin madrasah ini bisa tumbuh
menjadi lembaga yang lebih baik.
Saya juga menyampaikan kepada
kepala madrasah bahwa pembinaan seperti ini akan terus dilakukan secara
periodik agar tercipta kesinambungan antara evaluasi dan pendampingan.
Pengawas bukan hanya hadir ketika ada penilaian atau masalah, tetapi juga
sebagai mitra yang mendampingi proses peningkatan mutu dari waktu ke waktu.
Sebelum meninggalkan lokasi, saya
menutup kunjungan dengan memberikan apresiasi kepada panitia pelaksana TKA dan
seluruh guru yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Saya
berpesan agar madrasah terus berinovasi, berkolaborasi dengan masyarakat
sekitar, serta menghidupkan kembali semangat cinta belajar di kalangan siswa.
Refleksi Pribadi:
Hari ini kembali saya belajar bahwa
tugas pengawas tidak hanya menilai, tetapi juga menyalakan semangat
perubahan. Setiap madrasah punya kisah perjuangan, dan setiap guru
membutuhkan dorongan agar tetap teguh di jalannya. Pembinaan sederhana seperti
ini mungkin tampak kecil, tetapi bisa menjadi energi besar bagi perubahan di
masa depan.
Semoga upaya kecil hari ini menjadi bagian dari ikhtiar besar dalam membangun madrasah yang unggul, berkarakter, dan bernilai spiritual tinggi.
Kamis, 06 Novembe 2025
Hari ini, Kamis 6 November 2025,
saya berkegiatan di kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Kondisi fisik yang
belum pulih sepenuhnya membuat saya memilih untuk berfokus pada aktivitas
administratif dan kegiatan daring, tanpa turun langsung ke madrasah binaan.
Meskipun demikian, hari ini tetap produktif dengan adanya kegiatan strategis
dari Kanwil Kemenag Sumatera Barat yang dapat memperkaya wawasan saya dalam
bidang pengembangan madrasah.
☕ Kegiatan Breakfast Meeting Kanwil
Kemenag Sumatera Barat
Pada pagi hari, saya mengikuti kegiatan
rutin dua pekanan “Breakfast Meeting” yang diselenggarakan oleh Kanwil
Kemenag Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini diikuti secara hybrid (online
dan offline), di mana peserta daring terdiri atas para Kepala Kantor
Kemenag kabupaten/kota, Kasi Penmad/Pendis, Kepala Madrasah, dan para Pengawas
Madrasah se-Sumatera Barat, sementara peserta luring hadir langsung di aula
Kanwil terdiri atas Kakanwil, para Kabid, Pembimas, Ketua Tim Penmad, serta
pejabat Sekjen Kanwil.
Tema pertemuan kali ini cukup
menarik dan relevan dengan arah kebijakan pendidikan Islam modern, yaitu “Program
Unggulan Ekoteologi dan Integrasi Sains pada Madrasah.” Saya mengikuti
kegiatan ini secara daring dari kantor. Walaupun tidak bisa mengikuti
keseluruhan sesi karena adanya kendala teknis jaringan, saya tetap
mencatat beberapa poin penting dari paparan narasumber dan diskusi yang
berlangsung.
Dari pemaparan tersebut, saya
menangkap bahwa arah kebijakan pengembangan madrasah ke depan tidak lagi hanya
menitikberatkan pada aspek kognitif dan religius semata, tetapi juga menuntut
adanya kepedulian terhadap isu lingkungan hidup (ekologi) yang berakar
dari nilai-nilai keislaman. Pendekatan ini dikenal sebagai “ekoteologi”
— yaitu pandangan teologis bahwa manusia memiliki tanggung jawab spiritual
untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari amanah kekhalifahan
(stewardship) di bumi.
Program integrasi sains dan
ekoteologi ini diharapkan bisa menjadi pilar pengembangan kurikulum madrasah
berbasis kearifan lokal dan tanggung jawab lingkungan. Madrasah tidak lagi
hanya menjadi tempat belajar ilmu agama dan sains secara terpisah, tetapi
menjadi pusat pembentukan karakter ekologis dan ilmiah yang berlandaskan
nilai-nilai tauhid.
🌱 Inisiatif dan Usulan Program:
MARWAH
Terinspirasi dari tema pertemuan
tersebut, saya memanfaatkan waktu di sela-sela kegiatan untuk merumuskan
sebuah usulan program unggulan yang saya beri judul:
“MARWAH: MAdrasah meRawat alam Warisan IlAHi.”
Program MARWAH dirancang sebagai inisiatif
sistematis untuk menjadikan madrasah di Sumatera Barat sebagai pusat inkubasi
kepemimpinan ekologis (environmental stewardship) yang menggabungkan tiga
pilar utama:
- Sains
Modern –
Madrasah mendorong siswa melakukan riset sederhana dan proyek berbasis
data untuk memahami masalah lingkungan seperti pengelolaan sampah, air,
energi, dan konservasi alam.
- Teologi
Islam (Ekoteologi)
– Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis difokuskan pada ayat-ayat kauniyah yang
menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan
manifestasi iman.
- Kearifan
Lokal (Adat Minangkabau)
– Mengintegrasikan nilai-nilai adat seperti alam takambang jadi guru
sebagai basis etika ekologis yang memperkuat karakter siswa dalam
menghargai lingkungan.
Program ini saya susun dalam bentuk
naskah singkat sebanyak tiga halaman, mencakup latar belakang, tujuan,
konsep pelaksanaan, dan rencana tindak lanjut. Inti dari program MARWAH adalah
menjadikan madrasah sebagai model percontohan ekopedagogi Islam, tempat
di mana teologi, sains, dan budaya lokal berpadu membentuk kesadaran
ekologis yang spiritual dan ilmiah.
Saya mengirimkan konsep program ini
melalui pesan WhatsApp kepada salah seorang peserta meeting dari Kanwil agar
dapat diteruskan kepada pihak yang berwenang untuk ditelaah lebih lanjut. Saya
berharap gagasan ini dapat berkontribusi terhadap pengembangan arah kebijakan
pendidikan madrasah berbasis ekoteologi di tingkat provinsi.
💭 Refleksi Kegiatan
Walaupun secara fisik belum
sepenuhnya fit, saya merasa kegiatan hari ini cukup berarti. Mengikuti
pertemuan daring dan menulis gagasan program memberikan ruang produktif
untuk berpikir strategis. Saya menyadari bahwa pengawas madrasah bukan
hanya bertugas melakukan supervisi teknis, tetapi juga harus berperan sebagai inovator
dan konseptor pendidikan yang mampu merespons isu-isu global dengan
perspektif keislaman dan lokalitas.
Melalui program seperti MARWAH,
saya ingin menegaskan bahwa madrasah tidak kalah relevan dengan lembaga
pendidikan modern, bahkan memiliki kekuatan unik karena berpijak pada
nilai-nilai spiritual dan sosial budaya yang kuat.
Refleksi pribadi:
Terkadang keterbatasan fisik justru membuka ruang untuk lebih tenang berpikir dan menulis. Hari ini saya belajar bahwa gagasan yang lahir dari ruang kerja sederhana bisa menjadi awal dari perubahan besar, jika disampaikan dengan niat baik dan semangat kolaboratif.
Jum’at, 07 November 2025
Hari ini, Jumat 7 November 2025,
saya menjalankan kegiatan dari kantor. Aktivitas diawali dengan menyelesaikan
sejumlah urusan administrasi rutin serta memeriksa kembali beberapa
laporan pembinaan madrasah yang sudah masuk. Walaupun suasana menjelang akhir
pekan biasanya lebih tenang, saya tetap memanfaatkan waktu untuk kegiatan
produktif yang bersifat penguatan kompetensi dan kolaborasi antar-pengawas.
🧭 Konsultasi dengan Sesama Pengawas
Madrasah
Pada pagi hari, saya menerima kunjungan
konsultasi dari Ibu Yendrawaty, salah seorang pengawas madrasah dari Kota
Bukittinggi.
Beliau berdiskusi cukup panjang
mengenai peran dan strategi pengawas dalam pendampingan kegiatan kokurikuler
di madrasah serta pelaksanaan PKKM.
Dalam pembahasan tersebut, kami
menyoroti bahwa kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler kini menjadi
salah satu instrumen penting dalam membentuk karakter dan kompetensi siswa di
era Kurikulum Merdeka. Saya menyampaikan pandangan bahwa pendampingan pengawas
terhadap kegiatan tersebut seharusnya tidak hanya bersifat administratif,
tetapi juga menekankan aspek pembinaan nilai dan kolaborasi lintas peran,
misalnya dengan kepala madrasah dan guru pembimbing kegiatan siswa.
Kami juga mendiskusikan sinkronisasi
PKKM (Penilaian Kinerja Kepala Madrasah) dengan perkembangan terbaru dunia
pendidikan yang semakin digital dan berbasis data. Saya menekankan pentingnya
mengintegrasikan aspek transformasi digital, inovasi pembelajaran, dan
kepemimpinan adaptif ke dalam penilaian kepala madrasah agar lebih
kontekstual dengan tuntutan zaman.
Pertemuan ini berlangsung dengan
suasana akrab dan saling melengkapi perspektif antar-sesama pengawas. Saya
merasa pertemuan semacam ini penting karena membuka ruang refleksi dan
pembaruan pemahaman di antara pengawas madrasah lintas daerah.
🕌 Persiapan Khutbah Jumat di Masjid
Baitul Makmur Manggopoh
Menjelang siang, saya mempersiapkan
diri untuk menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Baitul Makmur Manggopoh.
Tema khutbah yang saya pilih adalah “Menumbuhkan Ketenteraman Jiwa melalui
Kedekatan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”
Tema ini saya pilih karena relevan
dengan kondisi masyarakat yang semakin sibuk dan sering menghadapi tekanan
psikologis dalam kehidupan modern. Saya ingin mengingatkan jamaah bahwa Al-Qur’an
dan Sunnah bukan hanya sumber hukum, tetapi juga sumber ketenangan batin dan
terapi spiritual bagi siapa pun yang mau mendekat.
Kegiatan ibadah berlangsung khidmat
dan diikuti jamaah dalam jumlah cukup banyak. Saya bersyukur dapat kembali
mengisi khutbah dengan suasana yang kondusif dan penuh perhatian dari jamaah.
📜 Disposisi Menghadiri Musyawarah
Besar Pengurus Masjid Agung Nurul Falah
Menjelang sore, saya menerima disposisi
dari Kakankemenag Kabupaten Agam untuk mewakili beliau pada kegiatan
Musyawarah Besar Pengurus Masjid Agung Nurul Falah Pemerintah Kabupaten Agam
yang dijadwalkan berlangsung Sabtu, 8 November 2025.
Saya menyiapkan bahan dan informasi
yang diperlukan untuk menghadiri kegiatan tersebut, termasuk data tentang
perkembangan program keagamaan dan kolaborasi antara pengurus masjid dan
Kemenag.
💭 Refleksi Kegiatan
Hari ini terasa padat, tetapi
bernuansa kolaboratif. Diskusi dengan rekan sesama pengawas memberi semangat
baru bahwa pengawasan madrasah bukan pekerjaan individual, melainkan
kerja sinergi untuk memastikan mutu pendidikan tetap relevan dan berkembang.
Sementara itu, aktivitas keagamaan melalui khutbah Jumat menjadi pengingat pribadi bahwa profesi pengawas juga bagian dari dakwah dan pelayanan umat.
Senin, 10 November 2025
Hari ini, Senin 10 November 2025,
bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Saya menjalankan
kegiatan di kantor dengan suasana yang khidmat dan penuh refleksi atas jasa
para pejuang bangsa.
Sejak pagi, saya mengikuti siaran
langsung peringatan Hari Pahlawan melalui kanal YouTube resmi pemerintah.
Dalam siaran tersebut, disampaikan pula pengumuman penerima gelar Pahlawan
Nasional Tahun 2025.
🇮🇩 Kebanggaan bagi Dunia Pendidikan
Islam
Salah satu momen yang sangat
membanggakan adalah ketika diumumkan bahwa Hajjah Rahmah El Yunusiyah
ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2025.
Beliau merupakan pendiri
Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang, seorang tokoh besar Minangkabau
yang telah membuka jalan bagi kemajuan pendidikan perempuan di Indonesia.
Perjuangannya bahkan menjadi inspirasi bagi Universitas Al-Azhar Kairo
untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Atas kontribusinya, beliau
memperoleh gelar “Syaikhah”, menjadikannya perempuan pertama di dunia
yang menerima gelar kehormatan akademik tertinggi dalam bidang pendidikan Islam
dari lembaga tersebut.
📚 Kajian Regulasi Baru: KMA Nomor
1503 Tahun 2025
Selain mengikuti peringatan Hari
Pahlawan, saya juga menerima regulasi baru terkait kurikulum madrasah,
yaitu Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Regulasi ini
merupakan penyempurnaan dari KMA Nomor 450 Tahun 2024, yang hadir
sebagai respons terhadap dinamika dan perkembangan sistem pendidikan nasional.
Saya melakukan kajian mandiri
terhadap regulasi tersebut, mempelajari perubahan dan penyempurnaan yang
termuat di dalamnya terutama terkait integrasi kurikulum merdeka, digitalisasi
pembelajaran, serta penguatan karakter moderasi beragama di madrasah.
Untuk memperdalam pemahaman dan
memudahkan berbagi pengetahuan dengan rekan sejawat, saya membuat ringkasan
(resume) dalam bentuk podcast edukatif.
Podcast ini saya hasilkan dengan
memanfaatkan AI NotebookLM milik Google, yang saya gunakan untuk
mengonversi catatan kajian menjadi naskah audio yang informatif dan mudah
dipahami.
✍️ Refleksi Pribadi
Penetapan Rahmah El Yunusiyah
sebagai pahlawan nasional bersamaan dengan hadirnya KMA 1503/2025 terasa
seperti pengingat yang kuat: bahwa pendidikan Islam harus terus bertransformasi
tanpa meninggalkan nilai dasar perjuangan dan keteladanan para pendidik
terdahulu.
Sebagai pengawas madrasah, saya
melihat ini sebagai momentum untuk mengintegrasikan semangat perjuangan dan
inovasi.
Rahmah El Yunusiyah berjuang
melalui pendidikan perempuan, sementara kita hari ini berjuang melalui transformasi
digital, kurikulum merdeka, dan pembelajaran mendalam (deep learning).
Hari ini menjadi kombinasi antara refleksi historis dan langkah inovatif. Dari mengenang perjuangan tokoh pendidikan Islam hingga menganalisis arah baru kebijakan kurikulum madrasah, semuanya bermuara pada satu cita-cita: memajukan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unggul, humanis, dan adaptif terhadap zaman.
Selasa, 11 November 2025
Hari ini saya melanjutkan kajian
mandiri terhadap KMA Nomor 1503 Tahun 2025, regulasi baru yang menjadi
penyempurnaan dari KMA 450 Tahun 2024. Fokus kegiatan saya adalah mendalami
arah kebijakan dan penerapan teknis regulasi ini di tingkat madrasah.
Saya mempelajari secara lebih rinci
struktur kurikulum, integrasi mata pelajaran, serta penekanan baru pada
dimensi karakter dan moderasi beragama. Tujuannya agar dalam waktu dekat,
saya dapat memberikan pendampingan yang relevan dan berbasis regulasi
terkini kepada kepala madrasah dan guru di madrasah binaan.
Untuk memperluas pemahaman, saya berdiskusi
dengan rekan sesama pengawas madrasah dari beberapa kabupaten/kota lain
melalui grup komunikasi daring. Dari diskusi itu, saya memperoleh berbagai
perspektif penerapan kebijakan, terutama terkait sinkronisasi antara KMA
1503/2025 dengan Kurikulum Merdeka dan program penguatan profil pelajar
Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin.
Selama kegiatan kajian, saya juga memanfaatkan
teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu melakukan analisis isi
dan peringkasan substansi regulasi. Hasilnya lebih mudah dipahami dan
efisien untuk dibagikan.
Sebagai tindak lanjut, saya menyusun
podcast edukatif yang menjelaskan secara sederhana konsep dasar, arah
kebijakan, serta strategi implementasi KMA 1503/2025 di madrasah. Podcast
ini ditujukan bagi kepala madrasah dan guru agar mereka bisa memahami regulasi
dengan cepat dan menerapkannya secara tepat di lapangan.
Hari ini menjadi bagian dari komitmen saya untuk menyiapkan madrasah menghadapi perubahan kebijakan pendidikan nasional dengan pendekatan adaptif, kolaboratif, dan berbasis teknologi.
Rabu, 12 November2025
Hari ini saya memulai aktivitas
dengan olahraga rutin bersama pegawai lain di GOR Lubuk Basung. Selain
menjaga kebugaran tubuh, kegiatan olahraga ini menjadi sarana membangun
semangat kebersamaan dan memperkuat hubungan antarpegawai.
Sambil berolahraga, saya melanjutkan
pekerjaan membuat resume KMA Nomor 1503 Tahun 2025 menggunakan Google AI
Studio. Tujuannya untuk menghasilkan versi audio yang ringkas dan
komunikatif agar kepala madrasah serta guru dapat memahami substansi aturan
baru tersebut tanpa harus membaca dokumen yang panjang. Saya berupaya agar
konten ini bisa digunakan sebagai bahan sosialisasi digital yang mudah diakses
di berbagai platform.
Setelah berolahraga, saya kembali
ke ruang kerja. Pagi itu saya menerima kabar penting bahwa telah
dilaksanakan pelantikan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat oleh
Menteri Agama RI di Jakarta. Sosok yang dilantik adalah Bapak H. Mustafa,
M.A., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kankemenag Kota Solok.
Momen ini tentu membawa semangat
baru bagi jajaran Kementerian Agama di daerah. Sebagai bentuk apresiasi dan
dukungan, Ketua Pokjawasmad Provinsi Sumatera Barat, Bapak Rasman,
meminta saya untuk membuat flyer ucapan selamat atas pelantikan tersebut.
Saya menyiapkan dua desain flyer, satu atas nama Pokjawasmad Provinsi
Sumatera Barat dan satu lagi atas nama Pokjawasmad Kabupaten Agam.
Desain saya buat dengan gaya
profesional dan inspiratif, menggambarkan semangat perubahan dan harapan baru
bagi dunia pendidikan madrasah di Sumatera Barat.
Hari ini saya menutup kegiatan dengan rasa syukur—bisa tetap produktif, menjaga kesehatan, dan tetap berkontribusi dalam membangun citra positif lembaga pengawas madrasah di tengah berbagai dinamika perubahan kebijakan dan kepemimpinan.
Kamis, 13 November 2025
Pagi ini saya berangkat dari kantor
menuju MTsS Muhammadiyah Manggopoh untuk melaksanakan monitoring
pembelajaran sekaligus pembinaan kepala dan guru madrasah. Setibanya
di madrasah, saya mengamati kegiatan belajar yang berlangsung dengan suasana
cukup kondusif. Guru-guru terlihat bersemangat membimbing siswa, meskipun
dengan segala keterbatasan sarana yang ada.
Usai melakukan observasi kelas,
saya berdialog santai dengan kepala madrasah dan para guru di ruang kantor.
Dari obrolan itu mengalir jujur berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ada yang
berkaitan dengan status honor guru non-PNS, proses sertifikasi, minimnya
keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, hingga permasalahan siswa
seperti ketidakhadiran dan kurangnya disiplin.
Saya menyimak dengan empati,
kemudian memberikan masukan dan pandangan praktis. Saya tekankan
pentingnya memahami akar persoalan dari sudut pandang Kurikulum Berbasis
Cinta (KBC). Bahwa setiap masalah dalam pendidikan bukan sekadar
administratif, tapi juga persoalan rasa dan relasi. KBC hadir
untuk menumbuhkan kembali cinta dalam proses belajar—antara guru, murid, dan
lingkungan belajar. Saya juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan
seluruh pihak, baik orang tua, komite, maupun masyarakat, agar madrasah
benar-benar menjadi ruang tumbuh bersama.
Siangnya, saya kembali ke kantor
dan melanjutkan pekerjaan dengan membuat media pembelajaran dan sosialisasi
digital yang memudahkan kepala serta guru memahami implementasi Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning) dan KBC berdasarkan KMA 1503 Tahun 2025
yang baru terbit. Saya menggunakan AI untuk membuat mindmap
interaktif, podcast, dan monolog reflektif yang bisa dijadikan panduan
mandiri bagi guru.
Selain itu, saya juga membantu
rekan pengawas dari daerah lain yang meminta dukungan untuk menyusun panduan
strategi asesmen, analisis butir soal, serta asesmen pembelajaran mendalam.
Semua itu saya rancang berbasis AI agar efisien, akurat, dan mudah diadaptasi
oleh guru madrasah di berbagai wilayah.
Hari ini terasa padat, namun bermakna. Dari percakapan hangat dengan guru-guru hingga eksplorasi teknologi untuk memajukan pendidikan, saya kembali disadarkan bahwa menjadi pengawas bukan hanya soal mengontrol, tetapi tentang mendampingi dan menyalakan kembali semangat cinta dalam dunia pendidikan.
Jum’at, 14 November 2025
Pada hari Jum’at, 14 November 2025,
kegiatan saya berlangsung di kantor sepanjang hari. Sejak pagi saya melanjutkan
kajian mandiri terhadap KMA 1503 Tahun 2025, terutama menelaah kembali
perubahan-perubahan yang berdampak pada implementasi pembelajaran dan
pengelolaan madrasah. Proses kajian saya lakukan dengan membaca dokumen asli,
membandingkan dengan regulasi sebelumnya, serta membuat catatan ringkas untuk memudahkan
penyusunan materi sosialisasi pada kesempatan berikutnya.
Menjelang waktu Zuhur, saya
mempersiapkan diri untuk pelaksanaan khutbah Jum’at. Tema khutbah yang
saya sampaikan adalah “Calon Penghuni Surga dan Neraka dalam Surah
An-Nazi’at”. Saya menguraikan karakter manusia yang digambarkan oleh Al
Qur’an, ciri-ciri hamba yang lurus dan tunduk kepada Allah, serta peringatan
tentang sifat sombong dan melampaui batas yang membawa kepada kebinasaan.
Jamaah terlihat menyimak dengan baik hingga akhir khutbah.
Setelah sholat Jum’at, saya kembali ke kantor untuk melanjutkan aktivitas hingga sore hari. Fokus saya tetap pada kajian regulasi dan penyusunan catatan pendukung untuk memudahkan pemahaman kepala dan guru madrasah terhadap arah kebijakan terbaru.
Senin, 17 November 2025
Hari Senin, 17 November 2025, saya
memulai tugas dengan mengikuti apel pagi di halaman Kantor Kemenag Agam bersama
puluhan pegawai lainnya. Apel dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag.
Beliau menyampaikan beberapa pesan penting yang perlu menjadi perhatian seluruh
pegawai, terutama terkait persiapan MTQ tingkat provinsi, serta
penekanan pada peningkatan kualitas pelayanan publik menjelang akhir
tahun anggaran.
Usai apel, saya menuju ruangan
kerja untuk mendalami regulasi baru yang baru saja diterbitkan oleh
Kemendikdasmen, yaitu Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 tentang Standar
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Selain Pendidik. Regulasi ini membawa
perubahan besar, khususnya terkait posisi dan fungsi pengawas sekolah. Tidak
mengherankan jika aturan baru ini langsung menjadi bahan perbincangan hangat di
berbagai grup WhatsApp para pengawas. Semua menanti kejelasan lanjutan berupa
aturan turunan yang dapat memberikan arahan teknis tentang bagaimana regulasi
tersebut akan diterapkan.
Di sela-sela kegiatan kajian
regulasi, saya juga memberikan pelayanan administrasi kepada guru yang datang
meminta tanda tangan penilaian SKP triwulan I tahun 2025, pada masa saya
menjabat sebagai Plt Kasi Penmad. Pelayanan ini saya selesaikan dengan
memastikan setiap dokumen sesuai ketentuan yang berlaku.
Seluruh rangkaian kegiatan hari ini menegaskan dinamika dunia kepengawasan yang terus bergerak, baik pada tataran kebijakan maupun teknis lapangan.
Selasa, 18 November 2025
Selasa, 18 November 2025, saya
memulai aktivitas dengan datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Setelah
mengisi presensi, saya langsung menuju GOR untuk berolahraga selama 30 menit.
Kegiatan ini saya manfaatkan untuk menjaga kebugaran fisik agar tetap siap
menjalani tugas-tugas kepengawasan yang sering menuntut mobilitas tinggi dan
konsentrasi panjang.
Usai berolahraga, saya kembali ke
kantor untuk melanjutkan kajian mandiri mengenai regulasi baru yang sudah saya
pelajari sejak kemarin. Saya berkomunikasi dengan beberapa rekan pengawas
melalui sambungan telepon untuk saling bertukar sudut pandang, terutama terkait
perubahan-perubahan penting dalam regulasi yang memengaruhi tugas pengawas
madrasah. Diskusi ini sangat membantu memperluas perspektif sekaligus
memperkuat pemahaman teknis.
Menjelang siang, saya mengikuti
kegiatan sosialisasi secara online dari Direktorat KSKK terkait KMA 1503
Tahun 2025. Sosialisasi ini memberikan penjelasan lebih komprehensif
tentang arah kebijakan kurikulum madrasah yang baru dan implikasinya bagi
madrasah serta pengawas. Materinya cukup padat dan menjadi dasar penting untuk
kerja-kerja pendampingan di madrasah ke depan.
Setelah pelaksanaan shalat Zuhur,
saya melaksanakan agenda koordinasi dengan Kepala Kantor Kemenag Agam untuk
membahas beberapa isu strategis. Pertama, mengenai musyawarah besar pengurus
Masjid Agung Nurul Falah yang sudah berlangsung dua pekan lalu. Saat ini
telah terbentuk tim formatur yang akan menentukan susunan pengurus baru.
Kakankemenag memberikan arahan agar dalam struktur kepengurusan nanti ada
perwakilan dari lingkungan Kantor Kemenag Agam.
Pembahasan berikutnya terkait
proses penegerian MTsS Bawan. Kakankemenag menyampaikan hasil
komunikasinya langsung di Kemenag Pusat saat berada di Banten untuk kegiatan
OMI. Dari sana diperoleh penjelasan bahwa pengajuan penegerian masih terkendala
pada salah satu syarat utama, yaitu jumlah peserta didik yang harus mencapai
minimal 168 orang. Hal ini menjadi catatan penting untuk dibahas dan
ditindaklanjuti bersama pihak madrasah dan yayasan.
Kegiatan hari ini menegaskan kembali bahwa tugas kepengawasan tidak hanya sebatas memantau pembelajaran, tetapi juga mencakup koordinasi strategis, pendalaman regulasi, dan penguatan kolaborasi untuk memastikan mutu madrasah terus meningkat.
Rabu, 19 November 2025
Rabu, 19 November 2025, saya
mengawali hari dengan menjadi narasumber pada acara Penguatan Moderasi
Beragama untuk Masyarakat yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Agam. Kegiatan ini dihadiri oleh Kasubag TU, Kasi Bimas, Kasi PDPP,
Ketua FKUB, para Kepala KUA, serta penyuluh agama se-Kabupaten Agam.
Saya menyampaikan materi berjudul “Merawat
Indonesia; Moderasi Beragama sebagai Nafas Bangsa”. Pada sesi ini, saya
menekankan bahwa moderasi beragama bukan konsep abstrak, melainkan pedoman
praktis untuk menjaga Indonesia tetap tegak sebagai rumah bersama. Saya
mengajak peserta melihat kembali akar kebhinekaan, menata cara pandang yang
seimbang dalam menjalani keberagaman, serta memperkuat cara beragama yang
menenangkan, mempersatukan dan menyejukkan.
Antusiasme peserta terlihat dari
keterlibatan mereka dalam diskusi. Banyak pertanyaan yang muncul terkait
dinamika lapangan, terutama bagaimana menerapkan nilai moderasi di tengah
masyarakat yang beragam karakter dan latar belakang.
Setelah sesi selesai, saya kembali
ke kantor untuk melanjutkan agenda berikutnya, yaitu mengikuti sosialisasi
KMA 1503 Tahun 2025 melalui kanal YouTube resmi Direktorat KSKK.
Sosialisasi hari ini memperkuat pemahaman saya tentang arah kebijakan baru
kurikulum madrasah, terutama penekanan pada pembelajaran mendalam, pendekatan
holistik dan penataan ulang struktur kurikulum.
Hari ini terasa padat tetapi bermakna. Kesempatan memberi materi untuk masyarakat dan memperdalam regulasi baru menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
Kamis, 20 November 2025
Kamis ini saya kembali menjalankan
tugas dari kantor karena agenda yang cukup padat dan berkaitan langsung dengan
isu strategis di dunia pendidikan madrasah. Sejak pagi, saya mengikuti siaran
ulang pembahasan Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 melalui kanal YouTube
Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia. Regulasi baru ini memunculkan banyak
diskusi dan kekhawatiran di kalangan pengawas. Melalui penjelasan narasumber,
saya mencoba menangkap arah kebijakan yang ingin dibangun, sekaligus melihat celah-celah
persoalan yang dikhawatirkan akan muncul di lapangan. Perubahan besar seperti
ini memang menuntut kehati-hatian serta kesiapan mental, sambil tetap menunggu
regulasi teknis yang dapat memperjelas implementasinya.
Menjelang siang, saya mengikuti rapat
dinas Panitia Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama yang dilaksanakan di
Aula Kantor Kemenag Agam. Rapat ini dihadiri oleh puluhan peserta. Terdiri dari
pegawai kantor, kepala madrasah, dan para pengawas lainnya. Kami membahas
pembagian tugas, penjadwalan rangkaian kegiatan, serta teknis pelaksanaan HAB.
Seluruh peserta sepakat untuk berkolaborasi secara optimal agar peringatan HAB
tahun ini berlangsung tertib, bermakna, dan mencerminkan semangat pengabdian
Kementerian Agama kepada masyarakat.
Di sela-sela agenda hari ini, saya
juga menandatangani dokumen e-Kinerja PNS atas nama Ramadhani, S.Pd.I
untuk periode Triwulan 1. Dokumen tersebut harus ditandatangani karena pada
periode itu saya masih bertugas sebagai Plt. Kasi Penmad. Penandatanganan ini
menjadi bagian dari tanggung jawab administratif yang tetap harus diselesaikan
dengan baik agar layanan dan hak pegawai tidak terhambat.
Hari ini menjadi rangkaian
aktivitas yang mempertegas pentingnya ketelitian memahami regulasi terbaru,
menjaga sinergi antarpegawai menjelang kegiatan besar HAB, serta menyelesaikan
tanggung jawab administratif yang melekat pada jabatan struktural maupun
fungsional. Semua ini berjalan beriringan sebagai bagian dari tugas pengawas
yang harus adaptif, responsif dan tetap fokus memberi manfaat bagi madrasah dan
masyarakat.
Jum’at, 21 November 2025
Hari Jumat ini saya memulai aktivitas di kantor dengan mengikuti kegiatan tahsinul Qur’an bersama seluruh pegawai. Dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Agam, kegiatan ini sudah menjadi rutinitas yang terus dijaga untuk menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an sekaligus memperbaiki kualitas bacaan. Dua orang pegawai yang memiliki kompetensi di bidang tilawah membimbing kami dengan sabar, suasananya hangat dan penuh keberkahan. Rutinitas seperti ini terasa sederhana, tetapi menjadi penguat ruhani yang penting dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan publik.
Setelah selesai, saya melanjutkan
pekerjaan di ruang kerja dengan membuat berbagai konten pendidikan yang
akan saya unggah ke media sosial. Konten-konten ini saya desain agar ringkas,
mudah dipahami, dan bermanfaat bagi guru serta kepala madrasah. Sambil bekerja,
saya juga membantu rekan pengawas lain yang membutuhkan bahan pembelajaran
mendalam. Karena banyak yang bertanya hal serupa, saya akhirnya membuat satu
tautan Linktree agar seluruh bahan dapat diakses secara lebih mudah dan
terstruktur.
Menjelang waktu salat Jumat, saya
menuju Masjid Syuhada Lapau Talang untuk menyampaikan khutbah Jumat yang
sudah dijadwalkan. Setelah melaksanakan khutbah dan salat Jumat berjamaah, saya
kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda. Fokus saya
adalah menyempurnakan konten-konten edukatif serta memperkaya isi Linktree agar
lebih lengkap dan bermanfaat bagi para pendidik yang membutuhkannya.
Sore harinya, saya mengikuti apel
sore bersama seluruh pegawai sebagai penutup aktivitas hari ini. Rutinitas
apel sore selalu menjadi momen untuk merapikan kembali komitmen, menyatukan
energi, dan memeriksa kesiapan menghadapi agenda pekan berikutnya. Hari ini
terasa padat namun produktif, penuh muatan spiritual, edukatif, dan
kolaboratif.
Senin, 24 November 2025
Saya mengikuti rapat koordinasi di Kanwil Kemenag Sumatera Barat sebagai anggota tim pengembang kurikulum. Rapat dipimpin langsung oleh Kabid Penmad, Bapak Hendri Pani Dias. Pembahasan cukup padat sampai menjelang siang. Fokusnya pada penyelarasan implementasi kurikulum baru seiring terbitnya KMA 1503 Tahun 2025. Hal-hal yang didiskusikan antara lain penguatan kegiatan kokurikuler, pembagian jam pelajaran, serta persiapan agenda sosialisasi ke seluruh madrasah.
Setelah rapat tersebut, saya mengikuti pembinaan ASN Kanwil Kemenag oleh Staf Khusus Menteri Agama, Bapak Gugum Gumilar, yang datang dari Jakarta. Materinya mengenai sikap moderasi beragama sebagai fondasi kerja pelayanan publik. Penekanan pada cara menjaga integritas, kehati-hatian dalam menyampaikan informasi, dan kedewasaan dalam bersikap dalam keragaman.
Sebelum kembali ke Agam, saya menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke ruangan Kabag TU, Bapak Edison. Kami berdiskusi mengenai perkembangan madrasah di berbagai daerah, termasuk tantangan implementasi kebijakan baru dan peluang penguatan kualitas kelembagaan di tahun mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar