Bulan Juli 2025

 Selasa, 01 Juli 2025

Hari ini penulis kembali menjalani rutinitas kedinasan di kantor, namun seperti biasa, tidak ada hari yang benar-benar “biasa” bagi seorang pengawas madrasah. Pagi dimulai dengan menyelesaikan e-kin yang berkaitan dengan usulan kenaikan pangkat sendiri. Proses ini memang administratif, namun memiliki makna strategis dalam mendukung profesionalisme pengawas. Setiap berkas yang tersusun rapi bukan hanya angka kredit semata, tetapi juga cerminan dedikasi dan perjalanan panjang seorang pendidik dalam mengabdi.

Ada satu hal yang menarik terjadi hari ini. Melalui pesan WhatsApp, penulis menerima permintaan resmi dari Kepala MAS Yati untuk menjadi narasumber pada kegiatan lokakarya guru yang bertemakan Kurikulum Berbasis Cinta. Tema ini menyentuh dan menggugah. Penulis merasa terhormat diminta berbagi pandangan tentang bagaimana kurikulum bisa dikembangkan bukan sekadar sebagai dokumen akademik, tetapi juga sebagai wahana menumbuhkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap potensi peserta didik. Penulis mengiyakan dengan antusias, dan langsung mulai menyusun kerangka materi. Insya Allah, tanggal 9 Juli nanti akan menjadi momen untuk menebar semangat baru dalam dunia pendidikan madrasah.

Di penghujung hari, saat menyeduh secangkir kopi hangat di ruang kerja, penulis merenung sejenak: betapa profesi pengawas, meski sering tak terlihat dalam sorotan, sesungguhnya adalah peran strategis dalam mengorkestrasi ekosistem pendidikan. Ia bukan hanya mengawasi, tapi juga menginspirasi, mendampingi, dan memberi makna. Catatan ini menjadi pengingat bahwa setiap hari, betapapun tampaknya “biasa”, selalu menyimpan pelajaran dan keberkahan jika dijalani dengan penuh kesadaran dan cinta.

Rabu, 02 Juli 2025

Hari ini, penulis kembali menjalankan aktivitas kedinasan di kantor. Meski tidak ada agenda kunjungan lapangan, hari ini diisi dengan pekerjaan administrasi yang tampaknya sederhana namun sangat penting bagi kelangsungan sistem kepengawasan madrasah. Sejak pagi, penulis memusatkan perhatian untuk menyelesaikan sejumlah dokumen rutin, mulai dari laporan monitoring sebelumnya, pembaruan data madrasah binaan, hingga menata ulang arsip-arsip digital dalam sistem penyimpanan internal.

Kegiatan ini memberi waktu yang cukup bagi penulis untuk menengok kembali dokumen-dokumen kerja sebelumnya. Dalam proses ini, penulis menemukan sejumlah catatan hasil supervisi yang layak dikembangkan menjadi rekomendasi sistematis bagi perbaikan mutu di beberapa madrasah swasta. Tindakan-tindakan administratif seperti ini, seringkali dianggap sebagai hal teknis yang membosankan, namun sesungguhnya merupakan fondasi dari pengambilan kebijakan yang akurat dan berorientasi pada kebutuhan nyata di lapangan.

Di sela-sela menyusun administrasi, penulis juga sempat mengakses kembali beberapa hasil supervisi literasi numerasi madrasah dari semester lalu. Penulis mencatat bahwa ada pola tertentu dalam kelemahan perencanaan pembelajaran di madrasah-madrasah tersebut, khususnya dalam hal diferensiasi strategi pembelajaran untuk siswa berkemampuan rendah. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang akan dikemas dalam laporan pembinaan bulan Juli.

Pada siang hari, penulis juga menyempatkan menanggapi beberapa pesan dari guru dan kepala madrasah yang masuk melalui WhatsApp. Sebagian besar berkaitan dengan kesiapan awal tahun pelajaran. Beberapa kepala madrasah menyampaikan tantangan baru dalam menyiapkan materi orientasi yang sesuai dengan prinsip moderasi beragama dan penguatan karakter. Penulis memberi beberapa saran praktis yang bisa langsung diimplementasikan, sambil merencanakan penyusunan panduan ringkas yang bisa digunakan oleh seluruh madrasah binaan.

Menjelang sore, penulis menyelesaikan input data rekapitulasi kegiatan pengawasan bulan Juni ke dalam sistem pelaporan e-Kinerja. Meskipun ini adalah kewajiban administratif, penulis mencoba menjalaninya dengan kesadaran bahwa pelaporan yang rapi dan akurat adalah bentuk pertanggungjawaban moral atas setiap langkah pelayanan yang telah diberikan kepada satuan pendidikan.

Hari ini tidak diwarnai dengan pertemuan tatap muka atau kegiatan yang tampak dinamis di lapangan, namun justru menjadi momen untuk “mengatur ulang napas”, menata dokumen, merefleksikan hasil-hasil supervisi sebelumnya, serta menyusun rencana yang lebih strategis ke depan. Bekerja dari balik meja kadang memberi waktu untuk berpikir lebih dalam, menyusun ulang arah langkah, dan menyiapkan amunisi pembinaan yang lebih bermakna di masa mendatang.

Penulis menyadari bahwa sebagai pengawas, tidak semua hari harus diwarnai mobilitas tinggi. Ada saat-saat yang diperlukan untuk berhenti sejenak, bukan untuk beristirahat dari pekerjaan, melainkan untuk memperkuat dasar dan memperhalus arah. Itulah yang hari ini dilakukan. Semoga dengan pengelolaan administrasi yang tertata baik, tugas pembinaan, pendampingan, dan supervisi madrasah bisa semakin efektif dan terarah.

Kamis, 03 Juli 2025

Hari ini penulis kembali melaksanakan aktivitas kedinasan dari kantor. Meskipun tidak ada jadwal turun langsung ke lapangan, suasana kerja tetap dinamis dengan berbagai informasi yang mengalir, baik dari dokumen administratif maupun diskusi informal melalui media daring.

Sejak pagi, penulis melanjutkan pengelolaan data hasil pembinaan semester lalu, serta melakukan penyesuaian format laporan kinerja bulanan agar selaras dengan sistem pelaporan e-Kinerja yang semakin ketat dari sisi struktur dan bukti dukung. Aktivitas ini tampak administratif, namun sangat penting untuk menjaga akuntabilitas proses pembinaan yang dilakukan.

Penulis juga menerima sambungan telepon dari salah seorang Kepala RA di wilayah Kabupaten Agam. Dalam percakapan yang penuh semangat itu, beliau menyampaikan permintaan agar penulis bersedia memberikan penguatan dan motivasi kepada guru-guru RA se-Kabupaten Agam terkait pentingnya mengikuti kegiatan webinar pendidikan anak usia dini yang akan segera diselenggarakan secara nasional. Permintaan ini lahir dari keprihatinan atas masih rendahnya partisipasi guru RA dalam pengembangan kompetensi daring.

Penulis merespons permintaan ini dengan antusias dan berkomitmen untuk menyusun materi singkat yang menggugah serta mendampingi para guru RA dalam memahami manfaat mengikuti forum ilmiah semacam ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, partisipasi guru dalam webinar bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan bagian dari pembentukan budaya belajar sepanjang hayat. Rencananya, pesan penguatan ini akan disampaikan dalam bentuk video pendek serta pesan tertulis yang akan dikirimkan melalui WA group IGRA.

Di tengah kegiatan, salah satu hal menarik dan cukup menyita perhatian hari ini datang dari grup WhatsApp pengawas. Sebuah regulasi baru beredar dan langsung menarik diskusi kolektif: Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 tentang Beban Kerja Guru. Peraturan ini merupakan bagian dari lanjutan reformasi sistem pendidikan nasional.

Bagi penulis, munculnya regulasi ini adalah sebuah panggilan untuk bersiap—bukan hanya memahami isinya secara teknis, tetapi juga menyiapkan strategi pendampingan terhadap guru dan kepala madrasah yang seringkali mengalami kebingungan dalam tahap transisi kebijakan. Beberapa poin awal yang sempat dibaca dalam dokumen tersebut menunjukkan adanya penyegaran pemahaman tentang kegiatan yang masuk kategori beban kerja, termasuk aspek pengembangan diri dan publikasi ilmiah.

Melihat situasi ini, penulis mulai menyusun daftar pertanyaan dan catatan penting yang nantinya akan dijadikan bahan diskusi pada forum koordinasi pengawas berikutnya. Selain itu, penulis juga memikirkan kemungkinan menyusun ringkasan sederhana atau infografis ringan untuk memudahkan para kepala madrasah dan guru dalam memahami inti regulasi ini.

Informasi baru ini juga memunculkan kebutuhan akan pemutakhiran perangkat supervisi dan indikator pembinaan. Penulis mencatat bahwa perlu dilakukan pembaruan terhadap format supervisi pembelajaran dan pelaporan beban kerja guru, agar tetap relevan dengan aturan baru. Rencananya, minggu depan akan dimulai proses penyesuaian awal melalui lokakarya internal tim pengawas.

Menjelang sore, waktu digunakan untuk membaca ulang dokumen regulasi yang diterima pagi tadi sambil membuat draf resume awal yang rencananya akan dibagikan kepada madrasah binaan. Penulis meyakini bahwa keberhasilan implementasi kebijakan tidak hanya ditentukan oleh substansi aturan, tetapi juga oleh kemampuan aktor pendidikan dalam memahami dan menerapkannya secara cerdas dan kontekstual.

Hari ini ditutup dengan sebuah kesadaran bahwa meski hanya di kantor, peran pengawas tidak terbatas pada ruang fisik. Tugas pengawas adalah merespons setiap perubahan dengan cermat, menjadi jembatan antara regulasi dan realitas, serta menjadi teman dialog yang bijak bagi para pendidik di lapangan.

 

Jum’at, 04 Juli 2025

Hari ini penulis melaksanakan tugas dari kantor dengan fokus utama mempersiapkan bahan presentasi untuk kegiatan penting yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan, yaitu sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta dan pelatihan Penyusunan Modul Ajar dan Media Pembelajaran Digital di MAS YATI Kamang Mudiak.

Pagi hari diawali dengan membuka kembali sejumlah referensi kebijakan kurikulum nasional terbaru, termasuk dokumen internal yang mendasari pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta. Penulis berusaha memastikan bahwa materi yang disusun tidak hanya padat secara konsep, tetapi juga mudah dipahami, aplikatif, dan menyentuh kebutuhan riil guru-guru di madrasah. Fokus utama dari kurikulum ini adalah menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap potensi anak sebagai inti dari proses pembelajaran. Kurikulum ini bukan hanya soal “apa yang diajarkan”, tetapi lebih dalam lagi: bagaimana guru mencintai pekerjaannya, mencintai muridnya, dan mencintai proses belajar itu sendiri.

Dalam proses penyusunan materi, penulis juga mengintegrasikan konten terkait penyusunan modul ajar yang adaptif, kontekstual, dan terintegrasi dengan media digital. Hal ini mengingat pentingnya digitalisasi pembelajaran di era pasca-pandemi, serta kebutuhan madrasah untuk memperkaya pengalaman belajar siswa dengan teknologi yang relevan dan bermakna.

Penulis menggunakan waktu hari ini untuk menyusun slide presentasi, menyusun alur diskusi interaktif, dan menyiapkan contoh-contoh modul ajar yang akan digunakan sebagai studi kasus dalam sesi pelatihan nanti. Selain itu, dilakukan pula pengecekan terhadap kesiapan media visual, narasi pendukung, dan struktur logika presentasi agar mampu membangun pemahaman bertahap bagi peserta pelatihan.

Dalam penyusunan ini, penulis juga menyisipkan strategi dialogis dan pendekatan Socratic teaching yang akan digunakan untuk menghidupkan sesi pelatihan. Pendekatan ini dipilih agar guru-guru peserta kegiatan tidak sekadar menjadi pendengar pasif, melainkan terlibat aktif dalam mengeksplorasi makna kurikulum dan merumuskan modul pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan nilai-nilai keislaman.

Meskipun hari ini tidak ada kegiatan lapangan, penulis merasakan betapa pentingnya momen persiapan ini. Menyusun materi bukanlah kegiatan teknis semata, tetapi bagian dari tanggung jawab intelektual dan spiritual sebagai pengawas untuk memastikan bahwa pesan perubahan dapat tersampaikan dengan tepat dan menyentuh hati para guru.

Catatan hari ini ditutup dengan perasaan syukur. Dalam heningnya ruang kerja, penulis merenungi bahwa mendampingi guru bukan hanya soal membina dari luar, tetapi juga menyiapkan bahan yang membangkitkan semangat mereka dari dalam. Dengan penuh harapan, penulis menanti kegiatan tanggal 9 Juli di MAS YATI sebagai momentum strategis untuk menyalakan kembali api cinta guru dalam mengajar dan belajar.

 

Sabtu, 05 Juli 2025

Hari ini penulis kembali melanjutkan aktivitas penyusunan materi presentasi yang telah dimulai sejak kemarin, sebagai bagian dari persiapan untuk kegiatan penting di MAS YATI Kamang Mudiak. Kegiatan ini akan memuat dua pokok bahasan utama, yaitu Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pelatihan Penyusunan Modul Ajar serta Media Pembelajaran Digital.

Fokus hari ini adalah memperdalam dan menyempurnakan materi yang sudah dirancang sebelumnya, baik dari sisi konten, pendekatan penyampaian, maupun alur diskusi interaktif yang akan diterapkan saat pelatihan berlangsung. Penulis berupaya memadukan antara kekuatan konsep dan kedalaman nilai, agar para guru yang hadir nanti tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mengalami transmisi gagasan yang menyentuh aspek afektif mereka sebagai pendidik.

Untuk bagian Kurikulum Berbasis Cinta, penulis menambahkan komponen reflektif berupa kutipan-kutipan inspiratif dari tokoh pendidikan dan nilai-nilai keislaman yang selaras dengan prinsip kasih sayang dalam proses belajar-mengajar. Selain itu, dimasukkan pula contoh konkret penerapan nilai cinta dalam RPP dan modul ajar, seperti strategi guru dalam menciptakan kelas yang menyenangkan, dialogis, dan memanusiakan siswa.

Sementara pada bagian Penyusunan Modul Ajar dan Media Pembelajaran Digital, penulis memperkuat aspek praktis dengan menghadirkan template modul ajar yang responsif terhadap karakteristik siswa madrasah. Penulis juga menambahkan tutorial visual tentang penggunaan platform digital sederhana yang bisa diakses guru secara mandiri, seperti Canva Edu, Wordwall, dan Liveworksheet, agar pelatihan nanti tidak hanya bersifat teoritis, tetapi benar-benar menggerakkan praktik lapangan.

Penulis menyusun pula simulasi kasus dan skenario diskusi kelompok agar pelatihan tidak monoton. Misalnya, peserta akan diminta mengidentifikasi nilai-nilai cinta dalam cuplikan kegiatan pembelajaran, lalu merancang kembali modul ajar berbasis tematik yang mengandung nilai empati, tanggung jawab, dan kemandirian.

Hari ini juga digunakan untuk meninjau ulang desain presentasi dari aspek visual dan naratif, memastikan bahwa slide yang digunakan tidak terlalu padat tulisan, tetapi kuat secara grafis dan mampu menggugah minat audiens. Penulis menyisipkan animasi ringan dan flow chart yang menjelaskan bagaimana kurikulum dan modul ajar saling terkait dalam kerangka berpikir holistik.

Dalam proses ini, penulis semakin menyadari bahwa merancang pelatihan bukan sekadar menyusun materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang akan dialami oleh para peserta. Oleh karena itu, penulis berusaha menjaga keseimbangan antara kedalaman konsep dan kesederhanaan penyampaian, antara inspirasi dan instruksi, antara harapan dan implementasi.

Menjelang sore, draf akhir materi disimpan dan dicadangkan ke beberapa penyimpanan digital untuk keamanan data. Penulis menutup hari ini dengan keyakinan bahwa segala persiapan yang telah dilakukan insya Allah akan menjadi ikhtiar terbaik dalam mendukung para guru madrasah untuk menjadi pribadi yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dengan cinta dan teknologi.

Senin, 07 Juli 2025

Hari ini adalah hari dengan angka istimewa: 07-07, sebuah tanggal cantik yang tidak hanya menyenangkan secara estetika, tetapi juga menjadi penanda dimulainya dinamika baru menjelang Tahun Pelajaran 2025–2026. Pada hari yang bermakna ini, penulis melaksanakan tugas di kantor dan mengikuti rapat koordinasi pengawas madrasah bersama Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam.

Rapat tersebut difokuskan pada pembahasan strategis mengenai persiapan awal tahun pelajaran 2025–2026, yang akan segera dimulai dalam waktu dekat. Beberapa agenda penting mengemuka dalam forum tersebut dan perlu menjadi perhatian seluruh jajaran pengawas dan pemangku kepentingan madrasah.

Pada pertemuan ini, disampaikan kabar menggembirakan mengenai terbitnya izin operasional tiga madrasah baru di Kabupaten Agam, yakni:

-          RA Miftahul Irsyad di Kecamatan Baso,

-          MTsS Al Bukhari di Sungai Pua, dan

-          MA Khazinatul Asrar Ampek Angkek

Kehadiran madrasah baru ini tentu menjadi harapan baru bagi masyarakat dalam memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas. Namun, ini sekaligus menjadi tantangan baru bagi para pengawas dalam hal pembinaan dan pendampingan sejak awal berdirinya.

Selanjutnya, rapat juga membahas tentang penyesuaian beban tugas pengawas madrasah. Hal ini terkait dengan kondisi salah seorang rekan pengawas yang sedang mengalami gangguan kesehatan, sehingga terjadi redistribusi wilayah dan tanggung jawab pembinaan agar pelayanan kepada madrasah tetap berjalan optimal. Dalam semangat solidaritas dan profesionalisme, seluruh pengawas diharapkan dapat saling menopang dalam menjalankan tugas-tugas lapangan maupun administratif. Adapun MTs yang diredistribusikan ke penulis adalah MTsN 4, MTsN 9, MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah dan MTsS Muhammadiyah Manggopoh. Sedangkan MTsN 11 dan MTsN 12 serta MTsS-MAS Muhammadiyah Lawang Tigo Balai diserahkan kepada pengawas lainnya.

Topik lain yang mengemuka adalah mengenai validasi KSP (Kurikulum Satuan Pendidikan) yang saat ini tengah berlangsung dan harus sudah selesai dalam pekan ini oleh madrasah, serta proses pendampingan EDM (Evaluasi Diri Madrasah) dan e-RKAM (Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah berbasis digital) menjelan akhir tahun ini. Penekanan diberikan pada pentingnya keakuratan data, ketepatan waktu pelaporan, dan penguatan fungsi pembimbingan pengawas dalam proses ini, agar madrasah benar-benar menjalani tahapan tersebut secara substansial, bukan sekadar formalitas.

Isu lain yang cukup krusial dan menjadi perhatian serius adalah terkait data guru PPPK yang tidak memenuhi kesesuaian antara SK pengangkatan, ijazah, dan sertifikasi. Berdasarkan regulasi terbaru, ketidaksesuaian ini berdampak pada tidak layaknya mereka menerima tunjangan profesi guru. Oleh karena itu, pengawas diharapkan memberikan penjelasan yang tepat kepada madrasah, serta mendorong guru-guru terkait untuk melakukan langkah administratif yang diperlukan.

Selain itu, dibahas juga agenda PKKM (Penilaian Kinerja Kepala Madrasah) yang akan mulai dilaksanakan pada bulan September 2025. Teknis pelaksanaan PKKM akan mengalami sejumlah perbaikan, termasuk penyederhanaan instrumen, pelibatan lebih aktif pengawas dalam fase refleksi kepala madrasah, serta peningkatan kualitas umpan balik dalam proses pembinaan berkelanjutan. Bapak Kakankemenag meminta agar kepala madrasah yang belum mengikuti PKKM tahun 2024 agar menjadi prioritas ditahun ini. Sedangkan untuk kepala madrasah swasta yang berstatus PNS, tetap akan dilakukan penilaian oleh pengawas pembinanya. Semua kegiatan PKKM akan dikeluarkan SK-nya dalam waktu dekat ini.

Salah satu keputusan penting dalam rapat hari ini adalah pemberlakuan sistem 5 hari kerja bagi pengawas madrasah yang akan dimulai efektif per 1 Agustus 2025. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan keseimbangan beban kerja, namun juga menuntut penyesuaian ritme dalam perencanaan kegiatan lapangan, pengisian laporan, dan pelayanan terhadap madrasah binaan.

Penulis mencatat bahwa rapat hari ini merupakan ruang dialog yang sangat produktif—tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memperkuat koordinasi dan menyamakan persepsi antar-stakeholder di lingkungan Kementerian Agama. Dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, berbagai masukan dari pengawas disambut dengan baik oleh pimpinan, sehingga diharapkan proses implementasi kebijakan ke depan dapat berjalan lebih adaptif dan solutif.

Pada siang harinya, penulis didatangi oleh Kepala MIN 7 Agam Ibu Fildayeni, S.Pd. yang minta validasi KOM. Setelah penulis membaca dengan seksama kemudian memberikan catatan-catatan perbaikan untuk makin disempurnakan supaya isi dokumen KOM bisa divalidasi dan diserahkan ke Kantor Kemenag Agam.

Sebagai catatan penutup, hari ini menjadi gambaran bahwa awal tahun pelajaran adalah saat yang paling strategis untuk membangun pondasi koordinasi yang kuat. Tanggal 07-07 ini seolah memberi pesan simbolik: dua pihak (pengawas dan madrasah) harus bersinergi secara harmonis, dua arah komunikasi harus dijaga, dan dua langkah harus dijalankan bersama: perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang bermutu.

Foto rapat koordinasi pengawas dengan Kasi Penmad

Selasa, 08 Juli 2025

Hari ini penulis kembali menjalankan aktivitas dari kantor dengan mengikuti dua fokus kegiatan yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan pendidikan digital dan penguatan tata kelola madrasah. Suasana kerja hari ini mencerminkan bagaimana peran pengawas madrasah terus berevolusi, bukan hanya mengelola aspek administratif, tetapi juga aktif menjelajahi wacana baru dalam dunia pendidikan masa depan.

Kegiatan pagi diawali dengan mengikuti webinar nasional melalui Zoom Meeting yang mengusung tema: “Menyiapkan Pendidik Siap Digital: Konsep dan Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Menuju Pendidikan Masa Depan.”

Webinar ini menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi teknologi pendidikan Bapak Catur Yoga Meningtyas, dan pengembang kurikulum KKA Puskurjar BSKAP Bapak Taufik Damarjati. Penulis mencermati dengan antusias bagaimana kecakapan digital, literasi kecerdasan buatan (AI), serta pemrograman atau coding mulai didekati secara lebih sistematis dalam kerangka pengembangan kompetensi guru. Pesan utama dari diskusi ini adalah bahwa pendidik saat ini tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi pembelajar teknologi yang terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Materi tentang AI dalam pendidikan memberi banyak perspektif baru, terutama bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menganalisis data belajar siswa, menyusun pembelajaran adaptif, hingga memfasilitasi asesmen formatif berbasis teknologi. Bagi pengawas madrasah, hal ini menjadi penting untuk mulai memetakan kesiapan guru-guru binaan dalam merespons arah kebijakan transformasi digital yang akan makin intensif di tahun-tahun mendatang.

Usai mengikuti webinar, penulis melanjutkan kegiatan siang hari dengan menyusun formulir monitoring dan evaluasi (monev) untuk dua keperluan penting. Yang pertama adalah form monev validasi Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Form ini dirancang untuk memudahkan pengawas dalam mengidentifikasi kesesuaian antara struktur kurikulum satuan pendidikan dengan arah kebijakan nasional terbaru, serta mengintegrasikan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendalam dan karakteristik lokalitas madrasah.

Yang kedua adalah form monev kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) tahun 2025. Form ini disusun dengan prinsip akuntabilitas, fleksibilitas, dan tetap menjunjung tinggi asas humanistik dalam orientasi peserta didik baru. Penulis memastikan bahwa instrumen ini tidak hanya menekankan aspek kepatuhan administratif, tetapi juga memuat indikator yang menilai sejauh mana kegiatan MATSAMA mampu mengenalkan budaya madrasah secara menyenangkan dan edukatif. Penulis juga membuat form monev ini untuk Google Form dengan link pada :

Kedua formulir tersebut disiapkan sebagai bagian dari dukungan pengawasan aktif terhadap kelangsungan tahun pelajaran baru yang lebih tertib, terukur, dan bermakna. Dalam menyusunnya, penulis mengintegrasikan komponen evaluatif seperti keterlibatan siswa, nilai-nilai moderasi beragama, pemanfaatan teknologi, dan ketersambungan dengan program madrasah digital.

Melalui kegiatan hari ini, penulis menyadari betapa cepatnya perubahan dunia pendidikan, khususnya terkait integrasi teknologi dan tuntutan pengembangan SDM guru. Maka, peran pengawas tidak lagi hanya bersifat evaluatif, tetapi juga inspiratif dan proaktif dalam membimbing madrasah dan pendidik agar mampu tumbuh dan beradaptasi di tengah realitas digital yang terus berkembang.

Hari ini ditutup dengan catatan penting: bahwa pengawas juga harus menjadi bagian dari generasi pembelajar digital, agar dapat memfasilitasi perubahan bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat keteladanan. Transformasi pendidikan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan semangat belajar bersama di antara para pemangku kepentingan pendidikan.

Foto kegiatan zoom meeting

Rabu, 09 Juli 2025

Hari ini penulis melaksanakan tugas lapangan dalam bentuk kegiatan pembinaan dan pelatihan di lingkungan MTsS–MAS YATI Kamang Mudiak, sebuah lembaga pendidikan Islam terpadu yang tumbuh dari semangat pesantren, madrasah, dan pendidikan umum. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan kurikulum dan peningkatan mutu guru madrasah, yang bertujuan untuk menanamkan pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi, reflektif, dan kontekstual di lingkungan satuan pendidikan Islam.
Adapun topik utama yang disampaikan dalam kegiatan hari ini meliputi dua tema besar, yaitu:
1. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, dan
2. Penyusunan Modul Ajar serta Media Pembelajaran Digital berbasis Kurikulum Merdeka.
Acara dimulai sejak pukul 08.30 WIB dengan sambutan hangat dari pimpinan pondok pesantren dan kepala madrasah. Penulis merasakan antusiasme yang kuat dari seluruh peserta, yang terdiri dari unsur pimpinan pondok, kepala MTsS dan MAS YATI, para guru, serta pembina asrama, yang tampak hadir tidak hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai pembelajar yang terbuka terhadap gagasan baru.
Pada sesi pertama, penulis menyampaikan materi mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, sebuah pendekatan yang menempatkan kasih sayang, kepekaan, dan relasi yang sehat antara guru dan siswa sebagai fondasi utama pendidikan. Dalam paparan ini, ditekankan bahwa esensi pendidikan bukan hanya mengisi otak siswa dengan pengetahuan, tetapi lebih dalam dari itu—membangun karakter dengan cinta, memperlakukan siswa sebagai manusia utuh, dan menjadikan proses pembelajaran sebagai ruang tumbuh yang menggembirakan. Konsep ini dilengkapi dengan inspirasi dari teori kurikulum humanistik dan nilai-nilai Islam tentang pengasuhan ruhani.
Peserta diajak berdialog secara terbuka dalam suasana yang santai namun reflektif. Banyak guru mengungkapkan bahwa mereka selama ini kerap terjebak dalam rutinitas administrasi dan target akademik, sehingga melupakan dimensi emosional dalam relasi belajar. Materi ini menjadi semacam oase yang menyegarkan cara pandang mereka terhadap pendidikan.
Sesi kedua berfokus pada penyusunan modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan pemanfaatan media pembelajaran digital. Penulis menekankan bahwa pembelajaran yang relevan di masa kini harus mampu menyentuh konteks dunia nyata siswa dan memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bijak. Peserta diperkenalkan pada prinsip penyusunan modul ajar yang fleksibel, berbasis profil pelajar Pancasila, serta mengandung nilai eksplorasi, elaborasi, dan refleksi mendalam.
Selain itu, disampaikan pula demonstrasi singkat tentang penggunaan media digital interaktif, seperti Canva Edu, Wordwall, Liveworksheets, serta platform pembelajaran berbasis LMS sederhana. Peserta sangat antusias mencoba langsung perangkat ini melalui simulasi penyusunan LKPD digital dan penyajian materi tematik. Selain itu juga penulis memperkenalkan pemanfaatan ChatGPT dan Suno serta Riffusion.
Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 14.30 WIB dalam suasana yang penuh energi positif. Diskusi-diskusi kecil terus berlangsung bahkan saat istirahat dan penutupan. Hal ini menunjukkan bahwa semangat belajar guru-guru di madrasah ini begitu besar, terlebih ketika materi yang disampaikan menyentuh sisi personal dan profesional mereka sekaligus.

Selain itu, pada hari ini penulis juga melakukan kegiatan validasi Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) milik MTsN 12 Agam. Proses validasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun oleh madrasah telah sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, memperhatikan kebutuhan peserta didik, karakteristik satuan pendidikan, dan arah kebijakan nasional Kementerian Agama. Validasi ini juga menjadi ruang diskusi terbuka antara pengawas dan tim penyusun kurikulum madrasah untuk menyempurnakan dokumen KOM agar lebih kontekstual, aplikatif, dan menyentuh dimensi pembelajaran holistik yang menumbuhkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh.
Sebagai penutup, penulis merasa bersyukur telah diberi ruang untuk berbagi dan berdialog dengan komunitas pendidik yang terbuka dan bersemangat seperti di MTsS–MAS YATI Kamang Mudiak ini. Harapannya, nilai-nilai kurikulum berbasis cinta dan pemanfaatan teknologi pembelajaran yang diperkenalkan hari ini dapat benar-benar menjadi praktik nyata di ruang-ruang kelas mereka—bukan sekadar pengetahuan, tetapi menjadi budaya kerja dan jiwa dalam mengajar.

 

Foto kegiatan MTsS-MAS YATI Kamang Mudiak

Foto kegiatan validasi KOM MTsN 12 Agam

Kamis, 10 Juli 2025

Hari ini penulis melaksanakan tugas dari kantor dengan fokus pada aktivitas strategis yang mendukung keberlangsungan dan mutu layanan pendidikan madrasah. Tugas-tugas yang dilakukan bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan bagian dari siklus pengawasan berbasis pembinaan yang bersifat antisipatif dan solutif.

Kegiatan diawali dengan penyusunan laporan kegiatan pengawasan yang telah dilakukan selama sepekan terakhir. Laporan ini tidak hanya merekam aktivitas, tetapi juga mencatat dinamika yang terjadi di lapangan, termasuk masukan dari guru, kepala madrasah, dan pengelola lembaga, sebagai bahan refleksi untuk perbaikan berkelanjutan.

Setelah itu, penulis melanjutkan dengan menyusun perencanaan program pengawasan dan pembinaan madrasah untuk periode awal tahun pelajaran 2025/2026. Perencanaan ini meliputi jadwal pendampingan kurikulum, monitoring MATSAMA, supervisi akademik awal semester, serta pembekalan awal tahun bagi guru dan kepala madrasah yang membutuhkan penguatan kompetensi. Penyusunan program dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata di lapangan serta sinkronisasi dengan agenda seksi Penmad dan Kankemenag.

Salah satu kegiatan utama hari ini adalah menyiapkan materi presentasi pendampingan akreditasi madrasah. Tahun ini, terdapat dua madrasah di Kabupaten Agam yang dijadwalkan akan menjalani proses akreditasi oleh BAN-PDM, yaitu:

1.      MTsS Ampek Koto Palembayan, dan

2.      MTsS Khazinatul Asrar Ampek Angkek.

Penulis menyusun slide presentasi untuk pembekalan tim madrasah, yang berisi poin-poin kunci mengenai interpretasi dokumen Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP 2024), strategi menyiapkan bukti dukung yang valid, serta simulasi pengisian sistem Sispena yang kini semakin mengedepankan pendekatan penjaminan mutu internal. Penekanan khusus diberikan pada pentingnya kolaborasi antar warga madrasah, serta kemampuan tim untuk menyajikan praktik-praktik baik yang dilakukan selama ini dalam narasi mutu yang utuh dan bermakna.

Dalam proses penyusunan bahan ini, penulis juga melakukan review terhadap hasil akreditasi terakhir dari kedua madrasah, guna melihat poin-poin yang perlu diperbaiki serta area keunggulan yang dapat diperkuat. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pendampingan yang tidak hanya teknis, tetapi juga strategis dan mendalam.

Melalui kegiatan hari ini, penulis kembali menyadari bahwa salah satu peran penting pengawas adalah menjadi mitra berpikir dan mitra tumbuh bagi madrasah. Di tengah tantangan administratif yang cukup kompleks, pengawas perlu hadir sebagai pengarah yang mencerahkan, bukan sekadar pengevaluasi.

Dengan semangat ini, penulis menutup hari kerja dengan rasa optimis bahwa madrasah-madrasah binaan akan mampu melewati proses akreditasi dengan baik, bukan sekadar memperoleh nilai, tetapi betul-betul memperkuat ekosistem mutu yang berkelanjutan.

Jum’at, 11 Juli 2025

Hari ini penulis kembali menjalankan aktivitas dari kantor. Suasana hari Jumat yang tenang dan penuh makna menjadi latar yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan administratif yang sempat tertunda dari hari sebelumnya. Pekerjaan administratif bukan semata soal menata dokumen atau menyusun laporan, melainkan bagian dari ritme sunyi seorang pengawas: menyimak detil-detil kecil agar madrasah yang dibina dapat terus bergerak dengan tertib, lurus arah, dan terukur capaian.

Sejumlah berkas dan rancangan dokumen kegiatan ditata ulang, disempurnakan, dan disiapkan untuk pelaksanaan program berikutnya. Penulis memanfaatkan waktu ini untuk merapikan rencana pendampingan akreditasi madrasah, evaluasi implementasi kurikulum, serta pengecekan kembali instrumen monitoring kegiatan awal tahun pelajaran yang akan segera dimulai.

Di sela-sela aktivitas kantor, penulis juga menyempatkan diri untuk menyusun naskah khutbah Jum’at, sebuah aktivitas rutin namun penuh perenungan. Bagi penulis, khutbah bukan hanya bentuk dakwah formal di mimbar, melainkan ekspresi kegelisahan sosial dan harapan moral yang ingin disampaikan kepada umat. Khutbah kali ini dirancang dengan tema spiritualitas kerja—sebuah pengingat bahwa setiap amal, sekecil apa pun, bernilai ketika dilandasi dengan niat tulus dan tanggung jawab.

Menjelang siang, Kepala MTsS Lawang Tigo Balai, menelepon penulis untuk melakukan konsultasi terkait Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Dalam dialog yang hangat namun serius, kami membahas penyesuaian struktur kurikulum sesuai dengan karakteristik madrasah yang berbasis pesantren tersebut, serta bagaimana menyusun visi pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai khas Islam dan kebutuhan komunitas lokal.

Diskusi ini mengalir pada persoalan praktis seperti pemetaan mata pelajaran, integrasi proyek penguatan profil pelajar Pancasila, hingga teknis penulisan dokumen kurikulum. Penulis memandang konsultasi seperti ini sebagai ruang tumbuh bersama, di mana pengawas tidak hanya memberi arahan, tapi juga mendengarkan, memfasilitasi, dan meneguhkan kepala madrasah agar mantap dalam mengambil keputusan strategis bagi lembaganya.

Hari ini ditutup dengan catatan kecil namun bermakna: bahwa pekerjaan sebagai pengawas bukan selalu tentang “berjalan dari madrasah ke madrasah”, tetapi juga tentang hadir secara utuh bagi madrasah, kapan pun mereka membutuhkan. Kadang itu terjadi bukan di forum resmi, tapi dalam obrolan konsultatif yang sederhana—dan justru di situlah letak kedalaman peran pengawas sebagai pendamping pendidikan umat.

Sabtu, 12 Juli 2025

Ada hari-hari di mana pekerjaan pengawas madrasah tidak terikat pada dinding ruang kantor, tapi juga tidak sepenuhnya berada di lapangan yang bising dan berdebu. Hari ini adalah satu di antaranya. Penulis melaksanakan tugas di luar kantor, namun sebagian besar waktunya terisi oleh aktivitas mendengar—bukan dalam arti pasif, tapi mendengar yang penuh intensi: menyimak materi pelatihan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang dilaksanakan di Aula SIT Al Madaniy Lubuk Basung.

Materi pelatihan yang disampaikan ada 2 judul : 1) Mengapa KKA? Memantapkan Peran guru dalam Pembelajaran KKA, 2) Etika dan Risiko Kecerdasan Artifisial. Ada pemaparan menarik tentang pentingnya penguasaan KKA ini di era digital, pergeseran paradigma dari kurikulum berbasis konten menuju kurikulum berbasis kompetensi, serta refleksi tentang perlunya nilai-nilai spiritual dalam pendidikan masa depan—semuanya menguatkan kembali visi Kurikulum Berbasis Cinta yang selama ini penulis gaungkan di lingkungan madrasah binaan.

Ada kalanya hari kerja berjalan tak seperti rencana. Penulis memulai hari ini dengan semangat menyambut kunjungan dari salah seorang wakil kepala madrasah yang telah mengonfirmasi ingin melakukan konsultasi dan validasi dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Namun, sebagaimana biasa dalam dinamika tugas lapangan, tidak semua janji pertemuan berjalan sesuai skenario. Sampai menjelang siang, tamu yang ditunggu ternyata tidak kunjung datang—dan melalui pesan singkat, akhirnya dikabarkan bahwa kunjungan tersebut ditunda karena adanya urusan mendadak di lembaganya.

Meski sempat mengecewakan, namun tidak ada waktu yang benar-benar sia-sia bagi seorang pengawas madrasah. Penulis segera mengalihkan fokus untuk melanjutkan aktivitas lain yang tak kalah penting: memeriksa seluruh persiapan untuk kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) hari pertama masuk sekolah yang akan dimulai pada Senin mendatang.

Sejumlah dokumen diperiksa kembali—mulai dari instrumen monev pembukaan tahun ajaran, daftar madrasah target monev, hingga catatan-catatan teknis pelaksanaan MATSAMA dan kesiapan pelaksanaan pembelajaran. Penulis juga mengecek ulang perangkat observasi yang akan digunakan untuk melihat kesiapan ruang kelas, jadwal pelajaran, kesiapan guru, dan berbagai indikator lain yang menjadi perhatian dalam hari-hari awal pelaksanaan tahun pelajaran 2025/2026.

Hari ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada pertemuan atau diskusi panjang, tidak pula riuh suara guru atau kepala madrasah yang biasa mewarnai aktivitas lapangan. Namun dalam kesunyian itu, penulis justru mendapatkan waktu yang tenang untuk melakukan refleksi, menyusun ulang rencana, dan memastikan bahwa langkah awal pendidikan di semester baru nanti benar-benar dapat berjalan baik, tertata, dan bermakna.

Pengawasan yang efektif tidak selalu berbentuk kegiatan yang tampak sibuk atau penuh interaksi. Ada waktunya pengawasan hadir dalam bentuk kesiapsiagaan, ketelitian, dan perencanaan diam-diam yang matang. Justru di hari-hari seperti ini, kualitas pengawasan diuji: mampukah pengawas tetap bekerja dengan komitmen penuh, meskipun tanpa sorotan langsung dari orang lain.

Dengan menyelesaikan segala bentuk kesiapan hari ini, penulis berharap dapat menjalani hari Senin nanti dengan lebih mantap. Sebab hari pertama sekolah bukan sekadar seremonial, melainkan momentum krusial yang menentukan irama dan semangat belajar sepanjang semester.

Senin, 14 Juli 2025

Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2025/2026 di seluruh madrasah. Di hari yang istimewa ini, seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama mulai menyambut kembali para peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan untuk memasuki lembaran baru perjalanan belajar. Tak hanya itu, kegiatan MATSAMA (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah) juga resmi dimulai di seluruh madrasah, menjadi gerbang pengenalan lingkungan belajar bagi siswa-siswi baru di jenjang RA, MI, MTs, dan MA.

Sebagai pengawas madrasah, penulis telah merencanakan sejak jauh hari untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) secara langsung ke beberapa madrasah binaan yang secara geografis mudah dijangkau. Hujan lebat yang mengguyur sejak pagi hari sempat membuat sebagian besar wilayah Kabupaten Agam dilanda cuaca kurang bersahabat. Beberapa akses jalan menjadi licin dan tergenang, sehingga menyebabkan jadwal monev sempat tertunda. Namun demikian, setelah cuaca mereda menjelang siang, penulis akhirnya tetap dapat melakukan monev ke dua madrasah negeri, yaitu MTsN 4 Agam dan MTsN 9 Agam.

Foto Pembinaan Guru dan Monitoring ke MTsN 9 Agam

Di kedua madrasah tersebut, penulis melakukan peninjauan langsung terhadap pelaksanaan MATSAMA, menyapa peserta didik baru, serta berinteraksi dengan panitia pelaksana dan kepala madrasah. Secara umum, kegiatan MATSAMA di kedua satuan pendidikan ini berjalan lancar, tertib, dan penuh semangat. Siswa-siswi baru tampak antusias mengikuti kegiatan perkenalan, materi motivasi, dan pengenalan tata tertib madrasah.

Selain meninjau pelaksanaan MATSAMA, penulis juga menyempatkan diri untuk melakukan pembinaan singkat kepada para guru dan tenaga kependidikan, khususnya mengenai pentingnya menjaga motivasi dan kedisiplinan kehadiran di awal tahun pelajaran. Dalam pembinaan tersebut, penulis memperkenalkan kembali pemanfaatan aplikasi PUSAKA sebagai instrumen pencatat kehadiran digital dan penguat budaya kerja yang akuntabel. Beberapa guru menyampaikan masukan terkait kendala teknis yang dihadapi, dan penulis memberikan arahan singkat serta akan menindaklanjuti dalam bentuk pelatihan teknis lanjutan bila diperlukan.

Kondisi cuaca yang tak menentu tidak menyurutkan semangat pengawasan. Di sela-sela mobilitas dan waktu yang tersisa, penulis juga mengikuti pembukaan MATSAMA secara nasional yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Kementerian Agama. Dalam sambutannya, Bapak Menteri Agama menekankan pentingnya membentuk karakter siswa sejak dini, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, serta menciptakan madrasah sebagai ruang yang ramah, menyenangkan, dan sarat kasih sayang.

Siaran ini memberi arah dan inspirasi baru bagi para pengelola pendidikan madrasah di seluruh Indonesia. Penulis mencatat dengan seksama berbagai pokok pikiran penting dari arahan Menteri, yang nantinya akan dijadikan bagian dari bahan pembinaan dan refleksi bersama para kepala madrasah di wilayah binaan.

Sebagai bentuk pengawasan partisipatif, penulis juga menyebarkan tautan Google Form berisi lembar monitoring pelaksanaan MATSAMA ke seluruh kepala madrasah binaan. Formulir ini dirancang untuk menjaring laporan mandiri dari satuan pendidikan mengenai:

-          pelaksanaan hari pertama sekolah,

-          susunan acara MATSAMA,

-          kehadiran siswa dan guru,

-          kesiapan fasilitas madrasah,

-          serta dokumentasi kegiatan hari pertama.

Respons dari kepala-kepala madrasah cukup cepat. Beberapa laporan awal mulai masuk pada siang hari, menandakan bahwa sebagian besar madrasah sudah siap menyambut tahun ajaran baru dengan antusias dan semangat.

Dengan demikian, hari ini menjadi perpaduan antara gerak adaptif dan kerja lapangan, antara ruang digital dan sentuhan langsung. Ini membuktikan bahwa fungsi pengawasan dapat berjalan fleksibel sesuai dinamika di lapangan, tanpa kehilangan arah dan kualitas.

Hari pertama tahun pelajaran baru ini ditutup dengan catatan: meski diguyur hujan dan sempat terkendala mobilitas, pengawasan tetap berjalan, semangat madrasah tetap menyala, dan peran pengawas tetap hadir sebagai penyangga mutu pendidikan. Dan di sanalah letak makna sesungguhnya dari profesi ini—menjaga nyala semangat madrasah tetap hidup, dalam segala situasi.

Selasa, 15 Juli 2025

Hari ini merupakan hari yang padat namun penuh makna dalam menjalankan tugas kepengawasan. Sejak pagi, penulis menghadiri rapat dinas pengawas madrasah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Kegiatan ini bertempat di Gedung Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) yang berlokasi di Belakang Balok, Kota Bukittinggi.

Dalam rapat dinas tersebut, beberapa agenda strategis dibahas secara komprehensif. Yang pertama adalah penyerahan Surat Keputusan (SK) Pembagian Beban Tugas Pengawas Madrasah Tahun 2025, yang menandai dimulainya implementasi tugas-tugas pengawasan untuk periode tahun ajaran baru. Penyerahan SK ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi penegasan atas peran pengawas dalam memastikan mutu pendidikan madrasah berjalan sesuai arah kebijakan Kementerian Agama.

Agenda berikutnya dalam rapat adalah pembinaan terhadap kepala-kepala madrasah yang baru saja memperoleh izin operasional penyelenggaraan madrasah, serta madrasah-madrasah yang direncanakan akan menjalani proses akreditasi oleh BAN-PDM pada tahun 2025 ini. Dalam forum ini, penulis turut mencermati dan mencatat berbagai pesan penting dari pimpinan terkait peningkatan tata kelola, kesiapan perangkat kurikulum, kelengkapan sarana-prasarana, serta pentingnya akuntabilitas laporan kelembagaan. Forum ini menjadi sangat penting karena membekali para kepala madrasah baru dengan pemahaman dasar sekaligus standar mutu yang harus dicapai.

 

Foto kegiatan rapat dinas di PLHUT

Usai kegiatan rapat dinas, pada siang harinya, penulis melanjutkan kegiatan dengan menghadiri sosialisasi pekerjaan konstruksi gedung ruang kelas baru di MIN 7 Agam, yang berlokasi di Matur. Pembangunan ruang kelas tersebut dibiayai melalui Skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran 2025.

Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat beserta tim teknis, yang memberikan penjelasan mengenai proses, target waktu pelaksanaan, serta aspek transparansi penggunaan dana publik. Turut hadir pula tokoh masyarakat dari Nagari Lawang dan Nagari Tigo Balai, perangkat Kecamatan Matur, dan unsur Komite Madrasah.

Foto kegiatan di MIN 7 Agam

Dalam kesempatan ini, penulis menyaksikan bagaimana proses kolaboratif antara pemerintah, satuan pendidikan, dan masyarakat setempat dijalin dengan semangat sinergis. Proyek pembangunan ruang kelas ini tidak sekadar pembangunan fisik, melainkan juga menjadi simbol komitmen negara dalam meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan madrasah, khususnya di wilayah-wilayah pinggiran.

Hari ini ditutup dengan refleksi bahwa pengawasan pendidikan tidak hanya menyentuh aspek dokumen dan supervisi instruksional, tetapi juga menjangkau aspek koordinatif dan strategis, termasuk mendorong kelancaran pembangunan fisik, pembinaan kelembagaan, serta penguatan tata kelola madrasah yang baru tumbuh. Penulis meyakini bahwa hanya dengan kerja kolaboratif antara pemangku kebijakan, satuan pendidikan, dan masyarakat, kualitas madrasah akan terus bertumbuh dan mengakar kuat di tengah perubahan zaman.

Rabu, 16 Juli 2025

Hari ini, penulis menjalani aktivitas sepenuhnya dari ruang kerja kantor. Tak ada perjalanan ke madrasah maupun rapat lapangan, namun pekerjaan administratif yang dikerjakan justru tidak kalah penting dalam mendukung keberlangsungan tugas fungsional sebagai pengawas madrasah.

Fokus utama hari ini adalah menyelesaikan perbaikan dokumen usulan kenaikan pangkat, dari IV.a ke IV.b, yang merupakan bagian dari pengembangan karir jabatan fungsional pengawas. Proses pengusulan ini menuntut ketelitian dalam menyusun bukti fisik, rekam jejak kegiatan, dan kelengkapan administrasi lainnya sesuai dengan peraturan terbaru yang berlaku. Di balik aktivitas ini tersimpan pula proses refleksi panjang tentang bagaimana setiap aktivitas pembinaan, supervisi, monev, hingga kontribusi dalam pengembangan pendidikan madrasah selama beberapa tahun terakhir dirumuskan secara sistematis dalam bentuk angka kredit dan dokumen pendukung.

Selain itu, penulis juga melakukan validasi kurikulum madrasah. Hari ini, yang menjadi fokus adalah MTsN 13 Agam dan MIN 2 Agam, madrasah binaan yang sedang dalam proses penyempurnaan dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Peninjauan dilakukan terhadap kelengkapan dokumen perangkat pembelajaran, keterkaitan antara visi-misi madrasah dengan profil lulusan, struktur kurikulum, serta integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam tema-tema pembelajaran. Penulis memberikan catatan-catatan kecil untuk perbaikan, terutama dalam penyelarasan antara analisis kebutuhan madrasah dengan pengembangan program intra, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Foto kegiatan validasi kurikulum MTsN 13 Agam

Kegiatan administratif seperti hari ini menjadi pengingat bahwa pengawasan madrasah bukan semata kegiatan turun lapangan, tetapi juga kerja-kerja dokumentatif yang menjadi fondasi keberlangsungan profesionalitas dan akuntabilitas jabatan. Dari balik meja kerja, tetap bisa lahir keputusan-keputusan penting, baik untuk pengembangan karier pribadi sebagai ASN, maupun untuk memastikan mutu pendidikan madrasah tetap berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan.

Meski terkesan sunyi dan penuh tumpukan berkas, hari ini tetap menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan, konsistensi, dan kualitas kinerja. Sebab dalam dunia pendidikan, perubahan besar kerap lahir dari proses-proses yang sunyi namun bermakna—dan hari ini adalah salah satunya.

Kamis, 17 Juli 2025

Hari ini, penulis melanjutkan rangkaian kegiatan monitoring dan pembinaan pasca libur semester dengan mengunjungi dua madrasah swasta yang berada dalam wilayah binaan, yakni MTsS Muhammadiyah Manggopoh dan MTsS Muhammadiyah Kampuang Tangah. Kunjungan ini merupakan bagian dari misi pengawasan akademik dan manajerial, sekaligus ajang memperkuat komunikasi, memberikan motivasi, serta menyampaikan gagasan-gagasan pengembangan yang relevan dengan tantangan pendidikan madrasah hari ini.

Pada kesempatan ini, penulis berkesempatan untuk melakukan monitoring proses pembelajaran di kelas, berdialog langsung dengan guru-guru, dan melakukan diskusi reflektif bersama kepala madrasah mengenai arah dan strategi peningkatan mutu pembelajaran. Dalam sesi pembinaan, penulis menyampaikan materi bertajuk "Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendekatan Deep Learning: Menuju Transformasi Pembelajaran Bermakna di Madrasah." Materi ini disampaikan dengan pendekatan humanis, kontekstual, dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya menghadirkan nilai cinta dalam setiap proses pembelajaran.

Penulis menekankan bahwa kurikulum berbasis cinta bukanlah slogan kosong, tetapi sebuah paradigma yang memandang peserta didik bukan sekadar objek transfer ilmu, melainkan insan yang tumbuh dengan emosi, akal, dan hati. Dengan menghadirkan pendekatan deep learning, guru tidak lagi hanya mengajar agar siswa paham, tetapi mengajar agar siswa merasakan makna, membangun keterkaitan, dan menginternalisasi nilai-nilai kehidupan dalam pembelajaran.

Tak hanya berhenti pada pembelajaran, pembinaan ini juga menyentuh ranah citra kelembagaan. Dalam sesi penutupan, penulis menyampaikan sebuah refleksi penting yang sering terabaikan, yakni peran guru dan tenaga kependidikan sebagai duta informasi madrasah. Ditekankan bahwa setiap insan madrasah sejatinya adalah seorang humas (hubungan masyarakat). Artinya, semua pihak bertanggung jawab untuk menyampaikan kepada dunia luar apa saja kegiatan positif yang berlangsung di madrasah.

Penulis menyampaikan gagasan sederhana namun kuat:

“Mungkin menurut kita, suatu kegiatan yang kita lakukan hari ini tampak biasa saja. Tapi bagi orang lain, itu luar biasa dan menginspirasi. Karena itu, jangan ragu untuk mengekspos kegiatan madrasah, sekecil apa pun, melalui akun media sosial pribadi maupun akun resmi madrasah.”

Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari para guru. Sebagian mengaku selama ini merasa sungkan untuk membagikan aktivitas madrasah mereka karena takut dianggap pamer atau berlebihan. Padahal, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, media sosial bukan sekadar ajang eksistensi, tetapi sarana membangun narasi positif, membentuk persepsi publik, dan menjadi jendela inspirasi bagi banyak pihak.

Penulis memberi tantangan madrasah-madrasah binaan untuk menetapkan target satu unggahan positif setiap hari, entah berupa foto kegiatan, video pendek, atau catatan reflektif, baik di akun resmi maupun pribadi para guru. Langkah kecil ini diyakini akan berdampak besar dalam jangka panjang. Sebab, perubahan besar tidak lahir dari gebrakan sesaat, tetapi dari konsistensi menghadirkan cerita-cerita kecil yang membangun kesadaran publik.

Penutup dari pembinaan hari ini diwarnai dengan doa dan harapan:

“Jumlah kita hari ini mungkin masih sedikit. Tapi jika semangat terus dijaga, karya terus dibagi, dan wajah madrasah terus dikenalkan secara positif, maka insya Allah suatu saat jumlah kita akan membludak. Bukan karena kebetulan, tetapi karena kita bekerja dengan cinta dan menginspirasi dengan cahaya.”

Hari ini bukan sekadar hari kunjungan, tetapi hari menyalakan bara semangat, memperkuat kepercayaan diri para guru, dan mengingatkan bahwa siapa pun kita, punya peran dalam membangun citra dan masa depan madrasah. Karena madrasah bukan hanya tempat belajar, tapi rumah peradaban.

Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Manggopoh

 

Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Kampuang Tangah

 

Jum’at, 18 Juli 2025

Hari ini penulis kembali beraktivitas di kantor, menyelesaikan beberapa agenda penting yang memadukan aspek pengembangan profesional, tata kelola akademik, serta dakwah spiritual. Sejak pagi, penulis mengikuti Zoom Meeting Pokjawas Provinsi Sumatera Barat, yang diselenggarakan sebagai bagian dari program penguatan kapasitas pengawas madrasah. Tema yang diangkat kali ini sangat kontekstual dan strategis, yakni: “Pendampingan Pengawas Madrasah dalam Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Madrasah.”

Materi disampaikan langsung oleh Ketua Pokjawasmad Provinsi Sumbar, Dr. Rasman, M.Ag, yang secara lugas dan bernas menegaskan bahwa penyusunan renstra bukanlah sekadar kewajiban administratif, melainkan merupakan instrumen manajemen perubahan yang menentukan arah perkembangan madrasah selama lima tahun ke depan. Pengawas sebagai pendamping profesional harus memahami substansi, mekanisme, dan teknik fasilitasi agar madrasah binaan mampu menyusun Renstra yang realistis, partisipatif, dan berbasis data.

Pertemuan daring ini membuka ruang diskusi aktif, memperkaya perspektif para pengawas dari berbagai kabupaten/kota di Sumbar. Penulis mencatat bahwa keberhasilan Renstra sangat ditentukan oleh sejauh mana kepala madrasah memahami konteks internal dan eksternal madrasah mereka sendiri, serta mampu merumuskannya dalam bentuk program strategis yang terukur dan berorientasi jangka panjang.

Foto kegiatan zoom meeting pokjawasmadprov Sumbar

Usai kegiatan daring tersebut, penulis melanjutkan agenda hari ini dengan melakukan validasi dan pengesahan dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) MTsN 13 Agam. Dokumen yang sebelumnya telah direvisi oleh tim madrasah, kini telah melalui proses penyempurnaan substansi. Penulis memberikan apresiasi atas komitmen kepala madrasah dan tim kurikulum yang telah bekerja cermat dan terbuka terhadap masukan. Validasi ini bukan hanya proses administratif, tetapi juga momentum untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun benar-benar kontekstual, memuat penguatan nilai-nilai karakter, dan selaras dengan arah kebijakan nasional serta kebutuhan lokal.

Foto pengesahan KOM MTsN 13 Agam

Menjelang siang, penulis mulai bersiap untuk menunaikan tugas khutbah Jumat di Masjid Syuhada, Lapau Talang. Momentum ini menjadi bagian dari pengabdian dalam ranah sosial dan keagamaan. Dalam khutbah kali ini, penulis mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas kehidupan remaja dan masyarakat digital saat ini, yaitu: “Bahaya Membanggakan dan Mempertontonkan Dosa: Perspektif Islam dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental.”

Isi khutbah ini disusun dengan mengacu pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, serta ditautkan dengan realitas kontemporer. Penulis menyampaikan bahwa dalam Islam, dosa adalah sesuatu yang seharusnya disesali dan ditutupi, bukan dipamerkan. Namun kini, banyak fenomena sosial di mana orang justru merasa bangga ketika menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, di media sosial, perilaku menyimpang justru sering menjadi konten yang viral dan ditonton jutaan kali.

Dari perspektif psikologis dan kesehatan mental, penulis menegaskan bahwa kebiasaan membanggakan dosa akan menumpulkan rasa malu, mematikan sensitivitas hati, dan dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kegelisahan batin, kecemasan sosial, serta penurunan harga diri. Ini karena manusia secara fitrah diciptakan untuk mencintai kebaikan dan merasa bersalah saat berbuat buruk. Ketika naluri ini ditekan dan dibalikkan, maka kerusakan psikologis menjadi tak terelakkan.

Penulis mengajak jamaah untuk merenungi sabda Nabi Muhammad :
"Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang secara terang-terangan menampakkan dosa. Termasuk menampakkan dosa adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, lalu pagi harinya ia berkata: 'Semalam aku melakukan ini dan itu', padahal Allah telah menutupinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Khutbah ditutup dengan seruan agar setiap individu menjaga kehormatan diri, menguatkan rasa malu, dan senantiasa memohon ampunan serta bimbingan dari Allah SWT. Penulis juga menyisipkan ajakan kepada para orang tua dan pendidik agar membekali anak-anak dengan pemahaman akhlak dan etika digital, serta memperkuat ketahanan psikososial mereka di tengah banjir informasi yang tak terbendung.

Dengan demikian, hari ini tidak hanya menjadi hari menyelesaikan tanggung jawab teknis, tetapi juga hari untuk merenungi kembali jati diri sebagai pendidik dan dai, yang bertugas tidak hanya mengurus dokumen dan rapat, tetapi juga menyalakan lentera akal dan menyentuh ruang hati umat. Semoga setiap langkah kecil ini menjadi bagian dari jalan panjang perbaikan, untuk madrasah yang bermutu, masyarakat yang bermartabat, dan pribadi-pribadi yang terjaga dari kerusakan moral zaman.

Sabtu, 19 Juli 2025

Pada hari Sabtu ini, penulis melaksanakan kegiatan kunjungan kerja ke tiga madrasah, yakni MAN 4 Agam, MTsS–MAS MTI Bayur, dan MAN 1 Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan awal tahun pelajaran 2025/2026, sekaligus sebagai upaya pembinaan untuk memperkuat kesiapan madrasah dalam mengawali proses pembelajaran.

Kunjungan pertama dilakukan ke MAN 4 Agam. Penulis disambut langsung oleh Kepala Madrasah, Bapak Ilham Mizoni, S.Pd., dan sempat berdiskusi secara santai namun berbobot mengenai berbagai hal terkait kesiapan madrasah, tantangan yang dihadapi, dan strategi pembelajaran di tahun ajaran yang baru. Setelah itu, penulis meminta waktu untuk bertemu dengan majelis guru. Dalam pertemuan tersebut, penulis menyampaikan pencerahan tentang pentingnya growth mindset bagi para guru, terutama dalam menghadapi perubahan-perubahan cepat dalam dunia pendidikan. Guru didorong untuk tidak terjebak pada zona nyaman, tetapi terbuka pada pembaruan dan inovasi. Penulis juga menekankan pentingnya peranan humas madrasah dalam mempublikasikan setiap kegiatan positif, sekecil apa pun, agar madrasah semakin dikenal masyarakat luas. Di akhir kunjungan, penulis juga melakukan pemeriksaan terhadap dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) dan memberikan dorongan untuk segera menyempurnakannya.

Kegiatan di MAN 4 Agam

Selanjutnya, penulis menuju MTsS–MAS MTI Bayur untuk melakukan validasi dokumen KOM. Di madrasah ini, penulis berdiskusi dengan kepala madrasah, wakil kepala, serta pengurus yayasan terkait rencana pengembangan kelembagaan dan penguatan tata kelola madrasah. Diskusi berlangsung dengan suasana penuh semangat, mencerminkan adanya komitmen bersama untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan.

Kegiatan di MTsS-MAS MTI Bayur

Kunjungan terakhir dilakukan ke MAN 1 Agam. Disambut dengan hangat oleh kepala madrasah Zulfahmi, S.Pd. didampingi oleh wakil bidang kurikulum. Setelah cukup panjang berdiskusi, dilanjutkan dengan pertemuan bersama majelis guru. Penulis kembali memberikan pembinaan tentang pentingnya mentalitas bertumbuh (growth mindset), serta menekankan urgensi membangun citra positif madrasah melalui peran aktif humas dan media sosial. Pemeriksaan terhadap kesiapan dokumen KOM juga menjadi bagian penting dari kunjungan ini.

Foto kegiatan di MAN 1 Agam

Secara umum, kegiatan hari ini berlangsung dengan lancar dan disambut baik oleh pihak madrasah. Semangat para kepala dan guru dalam menyambut tahun ajaran baru terlihat jelas, dan diharapkan pembinaan ini bisa menjadi penyemangat awal yang berdampak positif terhadap kinerja madrasah ke depan.

Ahad, 20 Juli 2025

Hari Ahad, 20 Juli 2025, meskipun merupakan hari libur nasional, penulis tetap melaksanakan tugas pembinaan kepada madrasah binaan sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di lingkungan madrasah. Pada hari tersebut, penulis mendapat kepercayaan menjadi narasumber dalam kegiatan lokakarya guru MTsN 4 Agam yang diselenggarakan di Hotel Sakura Syari’ah Lubuk Basung.

Tema yang diangkat dalam lokakarya ini adalah “Pengembangan Pembelajaran Berbasis Teknologi”, sebuah topik yang sangat relevan dengan tantangan pembelajaran abad ke-21 dan kebutuhan peserta didik generasi Z dan Alpha yang saat ini mendominasi ruang kelas. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan suasana santai namun tetap fokus. Penulis memulai penyampaian materi dengan membangun keakraban melalui ice breaking ringan dan ajakan refleksi, sehingga guru-guru peserta lokakarya merasa terlibat secara emosional dan intelektual.

Dalam pemaparan materi, penulis menekankan bahwa dunia pendidikan terus berubah dengan sangat cepat, baik dari sisi kurikulum, metode, hingga karakter peserta didik. Perubahan yang cepat ini seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi guru, terutama jika tidak disertai dengan kesiapan mental dan kompetensi yang memadai. Oleh karena itu, guru perlu memiliki growth mindset, yakni pola pikir yang terbuka dan siap berkembang dalam menghadapi perubahan, bukan sekadar bertahan dengan kebiasaan lama.

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diperkenalkan bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai alat bantu yang mampu mempermudah guru dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Penulis memberikan contoh konkret bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, khususnya dalam konteks perencanaan pembelajaran mendalam (deep learning).

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah saat penulis memperkenalkan praktik pembuatan aplikasi sederhana berbasis web yang dapat digunakan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih interaktif dan terdokumentasi dengan baik. Peserta diajak langsung untuk mempraktikkan pembuatan aplikasi tersebut menggunakan perangkat masing-masing, baik melalui laptop maupun ponsel pintar. Suasana kelas menjadi sangat hidup—diskusi berkembang secara alami, pertanyaan-pertanyaan mengalir, dan beberapa guru bahkan berhasil menyelesaikan rancangan awal aplikasi mereka sendiri.

Durasi kegiatan yang semula dirancang selama satu jam akhirnya diperpanjang menjadi dua jam, atas permintaan peserta sendiri. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat menyentuh kebutuhan riil guru-guru di lapangan. Banyak guru menyampaikan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dan bersemangat untuk mulai mencoba hal-hal baru dalam pembelajaran mereka.

Menutup kegiatan, penulis menyampaikan bahwa pembelajaran yang baik seharusnya memiliki tiga sifat utama: bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Ketika guru menikmati proses belajar, maka ia akan mampu menciptakan suasana kelas yang membuat siswa larut dalam pengalaman belajar tanpa merasa terpaksa. Itulah pembelajaran yang sesungguhnya: bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi membangun ikatan emosional, mental, dan spiritual antara guru, siswa, dan materi pembelajaran.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, penulis mencatat beberapa hal penting untuk ditindaklanjuti. Pertama, madrasah dapat mengembangkan komunitas belajar internal untuk melanjutkan praktik penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Kedua, perlu ada pelatihan lanjutan agar guru dapat mengembangkan aplikasi yang lebih kompleks. Ketiga, penting untuk mendokumentasikan inovasi pembelajaran guru agar dapat dibagikan ke madrasah lain sebagai bagian dari gerakan berbagi praktik baik.

Secara umum, kegiatan ini memberikan gambaran nyata bahwa transformasi pembelajaran di madrasah sangat mungkin dilakukan, dimulai dari guru-guru yang memiliki kemauan untuk berubah dan didukung oleh kepemimpinan madrasah yang progresif. Pengawas madrasah memiliki peran strategis dalam menginspirasi, memfasilitasi, dan mendampingi proses perubahan tersebut, bukan sekadar sebagai evaluator administratif, tetapi juga sebagai mitra pertumbuhan profesional bagi seluruh warga madrasah.

Foto kegiatan MTsN 9 Agam

Senin, 21 Juli 2025

Hari Senin, 21 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan mengikuti apel pagi bersama seluruh ASN dan pegawai di lingkungan kantor. Apel pagi yang rutin dilaksanakan setiap awal pekan ini menjadi momen penting untuk mempererat kedisiplinan, kebersamaan, serta menyerap arahan dan informasi strategis dari pimpinan untuk mendukung kinerja ke depan. Pada apel kali ini, selain pesan moral tentang integritas, disampaikan pula penekanan pentingnya penguatan layanan publik berbasis data dan teknologi.

Usai mengikuti apel, penulis memanfaatkan waktu di kantor untuk meningkatkan kapasitas diri, khususnya dalam memahami lebih dalam tentang pembelajaran mendalam atau deep learning, yang saat ini menjadi salah satu fokus pengembangan kurikulum nasional. Sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman konsep ini, penulis mengikuti tayangan video YouTube yang menampilkan pemaparan dari Prof. Yuli Rahmawati, Ph.D, salah seorang pakar pendidikan dan anggota tim pengembang Pembelajaran Mendalam dari Kemendikbudristek.

Video tersebut membahas secara komprehensif bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran mendalam dapat diimplementasikan di kelas untuk menghasilkan proses belajar yang bermakna dan membentuk karakter murid secara utuh. Disampaikan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya menekankan pada penguasaan konten akademik, tetapi juga integrasi dimensi personal, sosial, dan transformatif dalam pembelajaran. Dalam paparannya, Prof. Yuli menekankan pentingnya pertanyaan reflektif, proyek pembelajaran lintas disiplin, serta pentingnya keterlibatan emosional siswa dalam proses belajar.

Sambil menyimak video, penulis juga membaca dan mencermati kembali naskah akademik Pembelajaran Mendalam yang menjadi landasan teoritis kebijakan ini. Beberapa poin penting yang menjadi perhatian penulis adalah perlunya pergeseran peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pengalaman belajar, serta urgensi kolaborasi antarguru dalam menyusun modul ajar berbasis proyek.

Aktivitas ini merupakan bagian dari langkah penguatan kapasitas diri sebagai pengawas madrasah agar mampu mendampingi para guru dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam di kelas, khususnya dalam konteks madrasah yang tengah melakukan adaptasi kurikulum merdeka.

Penulis meyakini bahwa pemahaman konseptual yang baik harus diikuti dengan kemampuan untuk mentransformasikannya dalam praktik pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan karakteristik madrasah. Oleh karena itu, kegiatan peningkatan wawasan semacam ini menjadi bagian penting dari tugas pengawas untuk terus belajar, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, serta memberikan pembinaan yang relevan, inspiratif, dan berdampak nyata di lapangan.

Selasa, 22 Juli 2025

Pada hari Selasa, tanggal 22 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan monitoring dan pembinaan madrasah di wilayah Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari rutinitas pembinaan yang berkelanjutan guna memastikan mutu pendidikan madrasah terus berkembang sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Agama.

Kunjungan pertama dilakukan ke RA dan MI Ummi Aliftha yang berlokasi di Bawan. Penulis disambut dengan hangat oleh jajaran pimpinan lembaga, yaitu pengurus yayasan, Kepala RA Ibu Septina Suryati, S.Pd., dan Kepala MI Ibu Rita, S.Pd. Suasana penyambutan yang ramah mencerminkan semangat kolaboratif antara pihak madrasah dengan pengawas dalam membangun kualitas pendidikan.

Foto kegiatan di RA-MI Ummi Aliftha Bawan

Selama di RA dan MI Ummi Aliftha, penulis melakukan observasi langsung proses pembelajaran, termasuk suasana kelas, interaksi antara guru dan murid, serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Sambil melakukan peninjauan, penulis berdialog secara intensif dengan pimpinan dan guru madrasah mengenai strategi pengembangan mutu, mulai dari perencanaan program kerja, peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan peran lembaga dalam menumbuhkan karakter keislaman dan literasi dasar pada peserta didik usia dini.

Setelah kegiatan tersebut, penulis melanjutkan kunjungan ke MTsS Bawan, yang juga berada di kawasan yang sama. Di madrasah ini, penulis disambut oleh Kepala Madrasah, Ibu Nurnajmi, M.Pd., beserta jajaran pendidik dan tenaga kependidikan. Kunjungan ini ditujukan untuk memperkuat pembinaan dan memberikan motivasi dalam menyongsong tahun pelajaran baru.

Pada kesempatan tersebut, penulis mengadakan pembinaan langsung kepada seluruh majelis guru dan tenaga kependidikan MTsS Bawan. Dalam pembinaan ini, penulis menyampaikan pentingnya membangun kultur sekolah yang positif dan inovatif, khususnya dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Penulis menekankan urgensi membangun kesadaran kolektif untuk melakukan perbaikan berkelanjutan melalui prinsip growth mindset, kerja tim, serta kepemimpinan pembelajaran yang transformatif. Guru didorong untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang berorientasi pada siswa, kolaboratif, dan terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.

Foto kegiatan di MTsS Bawan

Selain itu, penulis juga menyampaikan pentingnya peran pengelolaan administrasi dan dokumen madrasah, termasuk kelengkapan Kurikulum Operasional Madrasah (KOM), pelaksanaan supervisi akademik internal, dan pendokumentasian kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari pemenuhan standar akreditasi dan pembuktian kinerja kelembagaan.

Antusiasme dan keterbukaan para guru dalam sesi pembinaan menunjukkan komitmen mereka untuk terus belajar dan berinovasi. Suasana diskusi berlangsung dinamis dan reflektif, yang memperkuat harapan bahwa MTsS Bawan akan terus tumbuh menjadi madrasah yang unggul secara akademik dan berkarakter.

Kegiatan monitoring dan pembinaan pada hari ini berjalan dengan baik dan penuh makna. Semoga semangat peningkatan mutu pendidikan yang ditanamkan dalam setiap kunjungan ini dapat menginspirasi perubahan positif di setiap satuan pendidikan madrasah binaan.

Rabu, 23 Juli 2025

Pada hari Rabu, tanggal 23 Juli 2025, penulis selaku pengawas madrasah melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan di dua satuan pendidikan di Kecamatan Ampek Nagari, yaitu MTsS Muhammadiyah Sitalang dan MTsN 13 Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pengawasan akademik dan manajerial yang bertujuan untuk memastikan implementasi kurikulum berjalan sesuai arah kebijakan serta mendorong peningkatan mutu madrasah secara menyeluruh.

Kunjungan pertama dilakukan ke MTsS Muhammadiyah Sitalang. Di madrasah ini, penulis hadir dalam rangka melakukan bimbingan teknis penyusunan dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) untuk Tahun Pelajaran 2025/2026. Penulis disambut langsung oleh Ketua Yayasan, Kepala Madrasah, dan Wakil Kepala Madrasah, yang bersama-sama mengikuti proses diskusi dan revisi dokumen kurikulum. Penulis menekankan pentingnya keterpaduan antara visi yayasan dan arah kebijakan kurikulum nasional yang berbasis pada karakter, kebutuhan lokal, serta perkembangan zaman.

Diskusi berlangsung aktif, dengan berbagai pertanyaan dan usulan disampaikan oleh tim pengelola madrasah. Penulis memberikan arahan agar struktur kurikulum madrasah memuat integrasi nilai-nilai Islam, pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, serta penguatan karakter dan literasi numerasi. Penulis juga menyampaikan bahwa keterlibatan seluruh pemangku kepentingan madrasah dalam penyusunan kurikulum menjadi syarat penting agar dokumen KOM bukan hanya formalitas administratif, tetapi benar-benar menjadi rujukan implementasi nyata di kelas.

Dalam kunjungan ini, penulis juga memberikan motivasi dan apresiasi khusus atas peningkatan jumlah peserta didik baru di MTsS Muhammadiyah Sitalang yang mencapai hampir 200% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap madrasah ini semakin kuat. Penulis menilai bahwa hal ini merupakan hasil dari kerja keras kolektif seluruh unsur madrasah, mulai dari guru, kepala madrasah, pengelola yayasan hingga partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan ini perlu dijadikan motivasi untuk terus memperbaiki layanan pendidikan dan mutu pembelajaran.

Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Sitalang

Setelah menyelesaikan kegiatan di MTsS Muhammadiyah Sitalang, penulis melanjutkan perjalanan menuju MTsN 13 Agam yang lokasinya berada sejalur dan relatif dekat. Di MTsN 13 Agam, penulis disambut dengan hangat oleh Ibu Kaur Tata Usaha, beberapa staf, serta majelis guru yang saat itu sedang berada di madrasah. Suasana penyambutan yang ramah mencerminkan sinergi dan semangat kerja sama yang baik antara madrasah dan pengawas.

Pada kunjungan ini, penulis melakukan pembinaan internal kepada para guru, dengan fokus pada penguatan etos kerja dan manajemen waktu guru. Penulis mengingatkan bahwa menjadi guru tidak cukup hanya sekadar hadir mengajar, tetapi lebih dari itu, guru harus memiliki visi hidup yang jelas sebagai pendidik. Dalam arahannya, penulis mengajak guru untuk menjaga batas antara urusan rumah tangga dan tanggung jawab profesional di madrasah agar tidak terjadi tumpang tindih yang mengganggu efektivitas kerja.

Pembinaan juga menekankan pentingnya refleksi diri secara berkala, baik dalam aspek personal maupun profesional. Refleksi ini dibutuhkan agar guru dapat terus berkembang, mengevaluasi kekurangan, dan memperbaiki strategi dalam membimbing peserta didik, terutama dalam menghadapi tantangan generasi saat ini yang penuh dinamika. Penulis mengajak para guru untuk tidak berhenti belajar, terbuka terhadap masukan, serta aktif membangun komunitas belajar di lingkungan madrasah.

Secara umum, seluruh rangkaian kegiatan monitoring dan pembinaan pada hari ini berjalan lancar dan produktif. Madrasah yang dikunjungi menunjukkan semangat untuk terus memperbaiki kualitas layanan pendidikan dan memperkuat tata kelola kelembagaan. Diharapkan hasil dari kegiatan ini dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan madrasah, baik dari sisi kurikulum, pengelolaan, maupun kultur pembelajaran.

Foto kegiatan di MTsN 13 Agam

Kamis, 24 Juli 2025

Pada hari Kamis, tanggal 24 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan kedinasan di kantor dalam rangka mengikuti dan menyukseskan kegiatan webinar tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Pokjawasmad Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan webinar ini mengangkat tema penting dan aktual, yakni “Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah”, dengan narasumber utama Ibu Dr. Nur Lutfiah Herinintyas, salah seorang anggota Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Webinar ini diikuti oleh para pengawas madrasah se-Sumatera Barat dan berlangsung secara daring melalui media Zoom Meeting. Penulis mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir dengan penuh perhatian. Materi yang disampaikan sangat relevan dan inspiratif, terutama dalam konteks transformasi pendidikan madrasah yang kini tengah didorong untuk berfokus pada pengembangan karakter dan pembentukan profil pelajar Pancasila yang utuh.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan secara komprehensif konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik peserta didik secara utuh dan integratif. Pembelajaran mendalam menurut beliau harus dirancang sedemikian rupa agar membentuk kesadaran diri siswa, memperkuat keterampilan reflektif, serta mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata secara kontekstual dan bermakna.

Selanjutnya, konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang juga dibahas dalam sesi tersebut menggarisbawahi pentingnya membangun suasana pembelajaran yang penuh kasih sayang, empatik, serta menjunjung tinggi kemanusiaan peserta didik. Madrasah harus menjadi ruang yang hangat, inklusif, dan mampu merespon kebutuhan belajar siswa dengan pendekatan yang lebih personal dan humanistik.

Penulis mencatat bahwa tema ini sangat beririsan dengan arah pengembangan madrasah di wilayah binaan penulis, khususnya dalam membangun budaya pembelajaran yang holistik, bernilai, dan berorientasi pada pengembangan karakter Islam rahmatan lil ‘alamin. Oleh karena itu, penulis berkomitmen untuk terus mensosialisasikan pendekatan-pendekatan pembelajaran tersebut dalam setiap sesi pembinaan dengan guru dan kepala madrasah.

Setelah kegiatan webinar berakhir, penulis melanjutkan kegiatan di kantor dengan menyelesaikan administrasi pasca-webinar, khususnya terkait dengan pembuatan dan distribusi e-sertifikat untuk para peserta. Proses ini dilakukan dengan cermat agar setiap peserta memperoleh bukti partisipasi yang sah dan sesuai data.

Pembuatan e-sertifikat ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan teknis terhadap kegiatan penguatan kompetensi pengawas madrasah yang diselenggarakan secara kolektif di tingkat provinsi. Penulis menyadari bahwa penguatan profesionalitas pengawas tidak hanya terletak pada sisi substansi keilmuan, tetapi juga dalam kemampuan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berbasis TIK secara efisien dan akuntabel.

Secara keseluruhan, kegiatan hari ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan wawasan penulis dalam menyikapi dinamika kebijakan kurikulum nasional, sekaligus memperkuat komitmen terhadap transformasi pembelajaran yang lebih bermakna, adaptif, dan berpusat pada peserta didik.

Foto kegiatan webinar melalui Zoom

Jum’at, 25 Juli 2025

Pada hari ini, Jumat tanggal 25 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan dinas di kantor dengan fokus pada penyelesaian pekerjaan administratif dan penguatan aspek keagamaan. Adapun kegiatan utama yang dilakukan adalah tindak lanjut dari pelaksanaan webinar Pokjawasmad Provinsi Sumatera Barat yang telah diselenggarakan pada tanggal 24 Juli 2025 dengan tema Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah.

Penulis memusatkan kegiatan pada desain dan finalisasi e-sertifikat peserta webinar, khususnya sertifikat utama yang diperuntukkan untuk ditandatangani oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Sertifikat ini dirancang secara profesional dengan memperhatikan kelengkapan elemen-elemen identitas, estetika visual, dan akurasi data peserta serta penyelenggara.

Selain itu, penulis juga melakukan tindak lanjut untuk peserta webinar pada tanggal 18 Juli 2025 yang belum mendapatkan sertifikat karena keterlambatan data masuk. Sertifikat tersebut berhasil disusun dan disesuaikan dengan format umum yang telah digunakan dalam webinar sebelumnya, agar tetap terstandar dan seragam dengan sertifikat peserta lainnya.

Disela-sela aktivitas administratif, penulis juga memanfaatkan waktu dengan menyiapkan materi khutbah Jumat yang akan disampaikan di salah satu masjid di wilayah binaan. Persiapan ini merupakan bagian dari penguatan nilai-nilai spiritual dan keteladanan sosial yang menjadi bagian integral dari tugas pengawas madrasah sebagai figur publik yang juga memiliki tanggung jawab moral dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Penulis menyusun materi khutbah yang aktual dan relevan, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip dakwah yang menyejukkan, mencerahkan, serta mampu menggerakkan kesadaran umat. Persiapan ini dilakukan melalui proses telaah teks-teks keislaman klasik dan kontemporer, sehingga materi khutbah memiliki kedalaman makna dan konteks yang kuat.

Keseluruhan kegiatan hari ini berjalan dengan lancar dan produktif. Penulis menilai bahwa penyelesaian pekerjaan administratif pasca-webinar serta persiapan khutbah Jumat merupakan bentuk tanggung jawab profesional yang saling melengkapi antara penguatan kapasitas kelembagaan dan penguatan nilai-nilai spiritual di masyarakat.

Sabtu, 26 Juli 2025

Pada hari Sabtu ini, tanggal 26 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan dari rumah karena kondisi kesehatan yang sedang kurang optimal. Flu cukup berat yang dialami penulis sejak malam sebelumnya menyebabkan fisik tidak memungkinkan untuk melaksanakan kunjungan langsung ke madrasah. Meskipun demikian, semangat untuk tetap menjalankan tugas sebagai pengawas madrasah tidak surut, dengan tetap melaksanakan beberapa kegiatan penting secara daring dan melalui jalur komunikasi tidak langsung.

Salah satu kegiatan utama yang penulis lakukan adalah komunikasi dan koordinasi kepengawasan dengan pengurus Kelompok Kepala Madrasah Kecamatan Palembayan. Hal ini berkenaan dengan informasi yang penulis terima bahwa telah dilaksanakan kegiatan pembinaan guru tentang Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta pada tanggal 24 Juli 2025 di wilayah tersebut, tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya kepada penulis selaku pengawas pembina madrasah di wilayah Kecamatan Palembayan.

Menanggapi hal tersebut, penulis memberikan nasihat dan pengarahan melalui pesan WhatsApp kepada pengurus Kelompok Kerja Kepala Madrasah (K3M) setempat, dengan pendekatan yang komunikatif, membangun, dan penuh kehangatan. Penulis menegaskan bahwa koordinasi adalah hal yang sangat penting dalam pelaksanaan setiap kegiatan madrasah, agar pembinaan dapat berlangsung sinergis dan akuntabel. Penulis juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif kegiatan yang dilakukan, namun diiringi dengan harapan agar ke depan terjalin komunikasi yang lebih baik lagi.

Selain itu, penulis juga memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan administratif berupa pembuatan sertifikat webinar Pokjawas Provinsi Sumatera Barat yang diselenggarakan pada tanggal 18 Juli 2025. Sertifikat ini merupakan bagian dari layanan administrasi lanjutan bagi peserta yang belum sempat terdata sebelumnya. Penulis menyusun dan mendesain sertifikat dengan tetap mempertahankan unsur profesionalisme, estetika, dan validitas identitas peserta.

Kegiatan hari ini walaupun dilakukan dari rumah, tetap berkontribusi terhadap keberlangsungan sistem kepengawasan yang adaptif. Penulis menyadari bahwa tugas pengawas tidak selalu menuntut kehadiran fisik, tetapi lebih pada kepekaan, konsistensi, dan komitmen untuk memastikan bahwa setiap proses di madrasah berjalan sesuai arah kebijakan yang ditetapkan.

Senin, 28 Juli 2025

Pada hari Senin, 28 Juli 2025, penulis memulai kegiatan dengan mengikuti apel pagi rutin di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam bersama seluruh ASN dan pegawai. Kegiatan apel dipimpin langsung oleh Kepala Kantor, Bapak Thomas Pebria, yang bertindak sebagai pembina apel.

Dalam arahannya, Bapak Kepala Kantor menekankan pentingnya disiplin kerja sebagai bentuk profesionalisme ASN, dengan kehadiran dalam apel pagi dijadikan indikator awal dalam pembentukan budaya kerja disiplin. Selain itu, beliau juga menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab ASN terhadap jabatan, termasuk kesiapan untuk menghadapi rotasi atau pergeseran jabatan yang merupakan bagian dari dinamika birokrasi. Menurut beliau, ASN tidak boleh terlena dalam zona nyaman, karena setiap jabatan adalah amanah yang harus diterima dengan kesiapan dan keikhlasan.

Foto kegiatan apel pagi di halaman kantor

Setelah apel pagi, penulis memiliki agenda untuk melaksanakan monitoring pelaksanaan gladi bersih ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) tingkat Madrasah Aliyah di sejumlah madrasah yang telah dijadwalkan, yakni MAN 4 Agam, MA MTI Bayur, MAN 1 Agam, dan MAS Hamka. Namun demikian, pada pukul 09.00 WIB penulis telah memiliki agenda mendesak berupa pertemuan dengan Direktur PDAM Tirta Antokan, guna membicarakan persoalan teknis terkait aliran air yang masuk ke lingkungan yayasan pendidikan tempat penulis turut aktif dalam pembinaan.

Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan monitoring gladi bersih ANBK secara langsung ditunda. Namun sebagai bentuk tanggung jawab pengawasan terhadap pelaksanaan gladi bersih ANBK, penulis tetap melakukan koordinasi aktif melalui komunikasi telepon langsung kepada kepala-kepala madrasah yang menjadi target monitoring. Dari hasil komunikasi tersebut, diperoleh informasi bahwa seluruh madrasah yang dijadwalkan melaksanakan gladi bersih ANBK pada hari ini dapat melaksanakannya dengan lancar dan tanpa kendala teknis yang berarti. Hal ini menunjukkan kesiapan teknis dan manajerial masing-masing satuan pendidikan dalam menyelenggarakan asesmen nasional secara digital.

Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAN 4 Agam

Foto kegiatan gladi bersih

Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAS MTI Bayur

Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAS Prof. Dr. Hamka Maninjau

Selanjutnya, penulis juga melanjutkan kegiatan kepengawasan dalam bentuk validasi dokumen kurikulum Madrasah Tsanawiyah Swasta Muhammadiyah Kampuang Tangah. Proses validasi dilakukan secara teliti dengan memeriksa kesesuaian struktur kurikulum dengan KMA 347 Tahun 2022, integrasi muatan lokal serta penyesuaian terhadap pendekatan pembelajaran terkini, termasuk pembelajaran mendalam dan penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, meskipun terdapat penyesuaian agenda karena situasi yang tak terhindarkan, seluruh kegiatan pengawasan yang direncanakan tetap dapat dilaksanakan secara adaptif dan bertanggung jawab. Komunikasi yang efektif serta pemanfaatan media teknologi menjadi solusi dalam menjaga kesinambungan pembinaan madrasah secara berkelanjutan.

Selasa, 29 Juli 2025

Pada hari Selasa, tanggal 29 Juli 2025, penulis menjalankan kegiatan kepengawasan dari kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam, dengan fokus utama pada proses administrasi kurikulum serta persiapan materi pembinaan guru.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah validasi dan pengesahan dokumen kurikulum dari dua satuan pendidikan, yaitu MIN 6 Agam dan MTsS–MAS MTI Bayur. Proses validasi dilakukan secara cermat dan sistematis, meliputi pemeriksaan kelengkapan struktur kurikulum, keterpaduan antar komponen, pemenuhan standar isi sesuai dengan KMA 183 dan KMA 347, serta kejelasan arah pembelajaran yang memuat integrasi nilai-nilai karakter dan potensi lokal. Selain itu, perhatian khusus juga diberikan terhadap strategi penguatan kurikulum melalui pendekatan deep learning, pembelajaran berdiferensiasi, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran sesuai arah kebijakan transformasi pendidikan nasional dan madrasah.

Setelah proses validasi dan pengesahan kurikulum selesai, penulis melanjutkan kegiatan dengan menyusun materi pembinaan guru Bahasa Arab yang akan disampaikan dalam acara pembukaan MGMP Bahasa Arab se-Kabupaten Agam, yang direncanakan akan berlangsung pada Senin, 4 Agustus 2025. Materi yang sedang dipersiapkan berfokus pada Kurikulum Berbasis Cinta, yang merupakan pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang, keteladanan, dan relasi positif dalam proses belajar mengajar. Materi tersebut juga mengaitkan konsep kurikulum cinta dengan pengembangan kompetensi guru Bahasa Arab dalam membangun suasana pembelajaran yang komunikatif, bermakna, serta mendorong motivasi intrinsik peserta didik.

Dalam menyusun materi tersebut, penulis juga mengadaptasi pendekatan humanistik, transformatif, dan kontekstual, agar mudah diterima dan diaplikasikan oleh para guru, terutama dalam membumikan semangat pembelajaran Bahasa Arab yang tidak hanya sebatas penguasaan linguistik, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritual dan peradaban Islam.

Seluruh rangkaian kegiatan pada hari ini menunjukkan bahwa meskipun tidak melakukan kunjungan langsung ke madrasah, kegiatan kepengawasan substansial tetap berjalan dengan baik melalui penjaminan mutu dokumen kurikulum dan dukungan terhadap pengembangan profesional guru.

Foto validasi kurikulum MIN 6 Agam bersama kepala madrasah, Bapak Koesnindarto

Pada siang harinya, pukul 13.00 WIB, penulis mengikuti kegiatan webinar nasional yang diselenggarakan oleh Pokjawasmad Nasional, dengan tema yang sangat kontekstual dan penting, yaitu "Konsep dan Implementasi Ekoteologi dalam Pendidikan Madrasah". Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan kapasitas pengawas madrasah secara nasional, terutama dalam merespons isu-isu strategis global melalui lensa keislaman dan keilmuan yang aplikatif.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten dan berpengaruh dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer. Narasumber pertama adalah Prof. Dr. Hj. Nur Afiyah Febriani, M.A., seorang akademisi dan pemikir pendidikan Islam yang banyak meneliti isu-isu ekologis dalam perspektif Al-Qur'an dan nilai-nilai transendental. Narasumber kedua adalah Dr. Irfan Amali, M.Pd., seorang pendidik dan praktisi kurikulum yang mengkhususkan diri pada integrasi nilai-nilai ekologis dalam pembelajaran di madrasah dan sekolah Islam.

Dalam pemaparannya, kedua narasumber menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan sebuah pendekatan teologis-kosmologis yang bertujuan menumbuhkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai ilahiyah. Pendidikan berbasis ekoteologi mendorong peserta didik dan pendidik untuk memahami alam sebagai ciptaan Allah yang memiliki nilai spiritual dan harus dijaga keseimbangannya sebagai amanah. Dalam konteks madrasah, pendekatan ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran, pembiasaan adiwiyata madrasah, pengelolaan lingkungan, serta penguatan karakter religius dan tanggung jawab sosial.

Para peserta webinar juga diajak untuk merefleksikan relasi manusia dengan lingkungan dalam kerangka tauhid, dimana kerusakan alam dianggap sebagai bentuk ketidakadilan ekologis yang ditolak oleh nilai-nilai Islam. Dalam konteks pendidikan, hal ini menuntut adanya pengembangan kurikulum yang menyatu antara iman, ilmu, dan amal, serta menekankan sikap peduli lingkungan dalam keseharian warga madrasah.

Sebagai pengawas madrasah, penulis memandang bahwa konsep ekoteologi dalam pendidikan madrasah adalah sebuah terobosan penting yang patut mendapatkan perhatian dalam pengembangan kebijakan, supervisi kurikulum, serta pembinaan kepala madrasah dan guru. Nilai-nilai ini dapat memperkaya pendekatan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Berbasis Cinta yang telah dikembangkan, karena menempatkan aspek kasih sayang terhadap alam sebagai bagian dari ekspresi keimanan dan akhlak mulia.

Kegiatan webinar ini juga menjadi ruang diskusi yang hidup, ditandai dengan adanya sesi tanya-jawab yang menggali implementasi nyata di madrasah, termasuk contoh praktik baik dalam pengelolaan lingkungan madrasah, pembuatan kurikulum ekopedagogik, dan revitalisasi kegiatan kokurikuler serta ekstrakurikuler berbasis kepedulian lingkungan.

Dengan mengikuti webinar ini, penulis merasa mendapatkan perspektif baru dan inspiratif yang sangat relevan untuk diterapkan dalam pembinaan madrasah binaan, serta memperkuat narasi pengembangan madrasah yang holistik, spiritual, ekologis, dan berwawasan masa depan.

Foto kegiatan Zoom Meeting

Rabu, 30 Juli 2025

Pada hari ini, Rabu tanggal 30 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan dari kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam dalam rangka pelaksanaan tugas rutin sebagai pengawas madrasah tingkat Madrasah Aliyah dan RA-MI di lingkungan Kabupaten Agam.

Fokus kegiatan pada hari ini terbagi ke dalam dua agenda utama. Pertama, penulis mempersiapkan bahan materi yang akan disampaikan dalam acara pertemuan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Agam, yang dijadwalkan akan berlangsung pada hari Kamis, 31 Juli 2025 mendatang. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas guru RA dalam menyongsong pembelajaran yang lebih bermakna dan penuh cinta bagi anak usia dini.

Dalam mempersiapkan materi tersebut, penulis menyusun pokok-pokok pemikiran yang mencakup:

-          Urgensi penguatan karakter spiritual dan sosial dalam pembelajaran RA,

-          Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai dasar pedagogik pada pendidikan anak usia dini, serta

-          Pentingnya inovasi pembelajaran berbasis nilai dan kasih sayang yang dikemas dalam suasana bermain, menyenangkan, dan memerdekakan potensi anak.

Penulis juga menyesuaikan materi dengan konteks terkini serta kebutuhan lapangan yang dihadapi guru-guru RA, agar lebih aplikatif dan membumi. Persiapan materi ini dilengkapi dengan contoh-contoh praktik baik dari RA binaan serta ilustrasi konkret dalam bentuk tayangan atau gambar, untuk membantu guru lebih mudah memahami dan mengimplementasikan di lapangan.

Kedua, penulis juga melaksanakan validasi dokumen kurikulum MTsS Adat dan Syara’ Matur, sebuah madrasah yang mengusung pendekatan kultural-religius dalam sistem pendidikannya. Proses validasi dilakukan secara teliti, mencakup pengecekan terhadap struktur kurikulum, kesesuaian kalender pendidikan, program tahunan dan semester, program supervisi pembelajaran, serta perangkat pendukung lainnya.

Dalam proses validasi ini, penulis memberikan catatan-catatan perbaikan dan penguatan terutama pada aspek integrasi nilai-nilai lokal "Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah" ke dalam pembelajaran, agar lebih hidup dan tidak hanya menjadi slogan. Penulis juga menyarankan adanya penambahan muatan lokal dalam bentuk kegiatan kokurikuler yang menumbuhkan rasa cinta terhadap kearifan lokal serta menjembatani antara agama dan budaya dalam konteks pendidikan madrasah.

Dengan selesainya kedua agenda tersebut, penulis berharap hasil pekerjaan hari ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan madrasah, baik pada jenjang RA maupun MTs. Persiapan materi untuk IGRA juga menjadi bentuk nyata keterlibatan pengawas madrasah dalam mendukung pengembangan profesionalisme guru pada pendidikan anak usia dini sebagai pondasi utama pembangunan karakter generasi madani di Kabupaten Agam.

Foto validasi kurikulum MTsS Adat dan Syara’ Matur

Kamis, 31 Juli 2025

Pada hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025, saya melaksanakan tiga kegiatan penting dalam rangka pelaksanaan tugas sebagai Pengawas Madrasah di wilayah Kabupaten Agam. Kegiatan pertama adalah validasi kurikulum MTsS Bawan, kegiatan kedua adalah menghadiri rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Agam. Sedangkan kegiatan ketiga adalah validasi kurikulum MTsS Gumarang.

Di pagi hari, saya dijadwalkan untuk melakukan kegiatan validasi dokumen kurikulum MTsS Bawan. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kepala Madrasah, Ibu Nur Najmi, M.Pd. Proses validasi mencakup telaah menyeluruh terhadap struktur kurikulum, pemetaan kompetensi inti dan kompetensi dasar, integrasi nilai-nilai moderasi beragama, serta penyesuaian terhadap kebijakan terbaru dari Kementerian Agama, khususnya KMA Nomor 450 Tahun 2024. Kami juga melakukan diskusi mendalam terkait penguatan muatan lokal, pengembangan karakter, dan penyisipan nilai-nilai kearifan lokal dalam kegiatan pembelajaran dan kokurikuler. Beberapa catatan dan saran revisi telah disepakati untuk penyempurnaan dokumen. Kepala madrasah menyambut baik setiap masukan dan menyatakan komitmennya untuk segera menyempurnakan dokumen agar dapat disahkan secara resmi dalam waktu dekat.

Foto kegiatan validasi kurikulum MTsS Bawan

Selepas kegiatan tersebut, pada siang harinya saya menghadiri undangan rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh IGRA Kabupaten Agam. Acara ini dihadiri oleh para kepala RA se-Kabupaten Agam dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Saya hadir bersama rekan sesama pengawas, Bapak Afrilen, M.Pd. Kehadiran kami bertujuan memberikan dukungan moral dan penguatan kepada para kepala RA sebagai garda terdepan pendidikan anak usia dini berbasis keagamaan.

Dalam sesi pengarahan, saya menyampaikan pentingnya menanamkan nilai keikhlasan dalam setiap langkah pengabdian sebagai guru RA. Tidak dapat dipungkiri, banyak tantangan dan keterbatasan yang dihadapi dalam mengelola RA, mulai dari sumber daya yang terbatas, sarana yang belum memadai, hingga dinamika masyarakat yang berubah-ubah. Namun, saya tegaskan bahwa ikhlas adalah fondasi utama yang menenangkan hati. Jika hati tenang, maka jalan keluar akan lebih mudah ditemukan. Keikhlasan dalam mendidik bukan sekadar sikap spiritual, melainkan energi batin yang akan memudahkan langkah dan menyinari perjalanan mendidik generasi masa depan.

Selain itu, saya juga mengajak para kepala RA untuk tidak pernah berhenti belajar. Tantangan guru di era sekarang semakin kompleks, terlebih pada jenjang usia dini yang memerlukan pendekatan multidisipliner: spiritual, psikologis, pedagogis, dan sosial. Saya sampaikan bahwa Allah telah menjanjikan dalam Surah Al-Insyirah bahwa "sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." Kuncinya adalah pada keyakinan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Guru RA harus mampu menjadi pembelajar sejati agar dapat terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik yang mendidik dengan cinta dan nilai-nilai keagamaan.

Antusiasme peserta dalam rapat koordinasi ini sangat tinggi. Banyak kepala RA yang secara aktif berbagi pengalaman, menyampaikan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, sekaligus menggambarkan semangat untuk terus maju meski dalam keterbatasan. Saya melihat bahwa forum seperti ini sangat strategis untuk memperkuat sinergi dan solidaritas antar RA. IGRA memiliki potensi besar menjadi ruang kolaboratif yang menguatkan profesionalisme guru RA sekaligus menjadi ruang spiritualitas kolektif yang mengakar.

Foto kegiatan bersama IGRA Kabupaten Agam

Selesai menghadiri rapat IGRA, saya melanjutkan kegiatan dengan validasi kurikulum MTsS Gumarang. Dalam kegiatan ini, saya melakukan telaah dokumen kurikulum secara rinci untuk memastikan kesesuaian dengan ketentuan yang berlaku, mengidentifikasi potensi pengembangan pembelajaran berbasis projek, dan memberikan masukan terkait penguatan profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin. Pihak madrasah menyambut baik arahan yang diberikan dan berkomitmen untuk melakukan penyempurnaan agar kurikulum dapat disahkan tepat waktu.

Foto kegiatan validasi kurikulum MTsS Gumarang

Melalui kegiatan hari ini, saya mendapatkan kesan bahwa proses validasi kurikulum dan pembinaan guru tidak hanya soal kelengkapan administratif, tetapi lebih dari itu adalah proses pembentukan visi, karakter, dan semangat pengabdian. Setiap dokumen kurikulum yang divalidasi seharusnya mencerminkan semangat pembelajaran yang manusiawi, kontekstual, dan berbasis nilai. Demikian pula, setiap sesi pembinaan guru, sekecil apapun, harus menjadi wahana menyalakan api semangat dan menyiram jiwa dengan nilai keikhlasan dan kesungguhan.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan hari ini, saya akan:

-    Mendampingi MTsS Bawan dan MTsS Gumarang dalam proses finalisasi revisi dokumen kurikulum hingga dapat disahkan secara resmi.

-    Menyusun dan mempersiapkan materi lanjutan untuk kegiatan pembinaan RA, termasuk menyusun modul pembelajaran anak usia dini berbasis Kurikulum Cinta dan pendekatan spiritual-humanistik.

-    Menguatkan sinergi dengan IGRA sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan bermartabat.

Semoga setiap langkah yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam perbaikan mutu pendidikan madrasah di Kabupaten Agam, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siswa Malas Belajar karena TikTokers Lebih Kaya? Ini Cara Membalik Logikanya

Dulu, ruang kelas sekolah dasar kita sering kali dipenuhi oleh satu narasi seragam dari para guru: “Kalian harus belajar yang rajin, Nak. Se...