Selasa, 01 Juli 2025
Hari ini penulis kembali menjalani rutinitas kedinasan di kantor, namun
seperti biasa, tidak ada hari yang benar-benar “biasa” bagi seorang pengawas
madrasah. Pagi dimulai dengan menyelesaikan e-kin yang berkaitan dengan usulan
kenaikan pangkat sendiri. Proses ini memang administratif, namun memiliki makna
strategis dalam mendukung profesionalisme pengawas. Setiap berkas yang tersusun
rapi bukan hanya angka kredit semata, tetapi juga cerminan dedikasi dan
perjalanan panjang seorang pendidik dalam mengabdi.
Ada satu hal yang menarik terjadi hari ini. Melalui pesan WhatsApp,
penulis menerima permintaan resmi dari Kepala MAS Yati untuk menjadi narasumber
pada kegiatan lokakarya guru yang bertemakan Kurikulum Berbasis Cinta. Tema ini menyentuh dan menggugah.
Penulis merasa terhormat diminta berbagi pandangan tentang bagaimana kurikulum
bisa dikembangkan bukan sekadar sebagai dokumen akademik, tetapi juga sebagai
wahana menumbuhkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap
potensi peserta didik. Penulis mengiyakan dengan antusias, dan langsung mulai
menyusun kerangka materi. Insya Allah, tanggal 9 Juli nanti akan menjadi momen
untuk menebar semangat baru dalam dunia pendidikan madrasah.
Di penghujung hari, saat menyeduh secangkir kopi hangat di ruang kerja,
penulis merenung sejenak: betapa profesi pengawas, meski sering tak terlihat
dalam sorotan, sesungguhnya adalah peran strategis dalam mengorkestrasi
ekosistem pendidikan. Ia bukan hanya mengawasi, tapi juga menginspirasi,
mendampingi, dan memberi makna. Catatan ini menjadi pengingat bahwa setiap
hari, betapapun tampaknya “biasa”, selalu menyimpan pelajaran dan keberkahan
jika dijalani dengan penuh kesadaran dan cinta.
Rabu, 02 Juli 2025
Hari ini, penulis kembali menjalankan aktivitas kedinasan di kantor.
Meski tidak ada agenda kunjungan lapangan, hari ini diisi dengan pekerjaan
administrasi yang tampaknya sederhana namun sangat penting bagi kelangsungan
sistem kepengawasan madrasah. Sejak pagi, penulis memusatkan perhatian untuk
menyelesaikan sejumlah dokumen rutin, mulai dari laporan monitoring sebelumnya,
pembaruan data madrasah binaan, hingga menata ulang arsip-arsip digital dalam
sistem penyimpanan internal.
Kegiatan ini memberi waktu yang cukup bagi penulis untuk menengok
kembali dokumen-dokumen kerja sebelumnya. Dalam proses ini, penulis menemukan
sejumlah catatan hasil supervisi yang layak dikembangkan menjadi rekomendasi
sistematis bagi perbaikan mutu di beberapa madrasah swasta. Tindakan-tindakan
administratif seperti ini, seringkali dianggap sebagai hal teknis yang
membosankan, namun sesungguhnya merupakan fondasi dari pengambilan kebijakan
yang akurat dan berorientasi pada kebutuhan nyata di lapangan.
Di sela-sela menyusun administrasi, penulis juga sempat mengakses
kembali beberapa hasil supervisi literasi numerasi madrasah dari semester lalu.
Penulis mencatat bahwa ada pola tertentu dalam kelemahan perencanaan
pembelajaran di madrasah-madrasah tersebut, khususnya dalam hal diferensiasi
strategi pembelajaran untuk siswa berkemampuan rendah. Hal ini menjadi bahan
evaluasi yang akan dikemas dalam laporan pembinaan bulan Juli.
Pada siang hari, penulis juga menyempatkan menanggapi beberapa pesan
dari guru dan kepala madrasah yang masuk melalui WhatsApp. Sebagian besar
berkaitan dengan kesiapan awal tahun pelajaran. Beberapa kepala madrasah
menyampaikan tantangan baru dalam menyiapkan materi orientasi yang sesuai
dengan prinsip moderasi beragama dan penguatan karakter. Penulis memberi
beberapa saran praktis yang bisa langsung diimplementasikan, sambil
merencanakan penyusunan panduan ringkas yang bisa digunakan oleh seluruh
madrasah binaan.
Menjelang sore, penulis menyelesaikan input data rekapitulasi kegiatan
pengawasan bulan Juni ke dalam sistem pelaporan e-Kinerja. Meskipun ini adalah
kewajiban administratif, penulis mencoba menjalaninya dengan kesadaran bahwa
pelaporan yang rapi dan akurat adalah bentuk pertanggungjawaban moral atas
setiap langkah pelayanan yang telah diberikan kepada satuan pendidikan.
Hari ini tidak diwarnai dengan pertemuan tatap muka atau kegiatan yang
tampak dinamis di lapangan, namun justru menjadi momen untuk “mengatur ulang
napas”, menata dokumen, merefleksikan hasil-hasil supervisi sebelumnya, serta
menyusun rencana yang lebih strategis ke depan. Bekerja dari balik meja kadang
memberi waktu untuk berpikir lebih dalam, menyusun ulang arah langkah, dan
menyiapkan amunisi pembinaan yang lebih bermakna di masa mendatang.
Penulis menyadari bahwa sebagai pengawas, tidak semua hari harus
diwarnai mobilitas tinggi. Ada saat-saat yang diperlukan untuk berhenti
sejenak, bukan untuk beristirahat dari pekerjaan, melainkan untuk memperkuat
dasar dan memperhalus arah. Itulah yang hari ini dilakukan. Semoga dengan
pengelolaan administrasi yang tertata baik, tugas pembinaan, pendampingan, dan
supervisi madrasah bisa semakin efektif dan terarah.
Kamis, 03 Juli 2025
Hari ini penulis kembali melaksanakan aktivitas kedinasan dari kantor.
Meskipun tidak ada jadwal turun langsung ke lapangan, suasana kerja tetap
dinamis dengan berbagai informasi yang mengalir, baik dari dokumen
administratif maupun diskusi informal melalui media daring.
Sejak pagi, penulis melanjutkan pengelolaan data hasil pembinaan
semester lalu, serta melakukan penyesuaian format laporan kinerja bulanan agar
selaras dengan sistem pelaporan e-Kinerja yang semakin ketat dari sisi struktur
dan bukti dukung. Aktivitas ini tampak administratif, namun sangat penting
untuk menjaga akuntabilitas proses pembinaan yang dilakukan.
Penulis juga menerima sambungan telepon dari salah seorang Kepala RA di
wilayah Kabupaten Agam. Dalam percakapan yang penuh semangat itu, beliau
menyampaikan permintaan agar penulis bersedia memberikan penguatan dan motivasi kepada guru-guru RA
se-Kabupaten Agam terkait pentingnya mengikuti kegiatan webinar pendidikan anak usia dini
yang akan segera diselenggarakan secara nasional. Permintaan ini lahir dari
keprihatinan atas masih rendahnya partisipasi guru RA dalam pengembangan
kompetensi daring.
Penulis merespons permintaan ini dengan antusias dan berkomitmen untuk
menyusun materi singkat yang menggugah serta mendampingi para guru RA dalam
memahami manfaat mengikuti forum ilmiah semacam ini. Di tengah derasnya arus
informasi digital, partisipasi guru dalam webinar bukan sekadar pelengkap
administrasi, melainkan bagian dari pembentukan budaya belajar sepanjang hayat.
Rencananya, pesan penguatan ini akan disampaikan dalam bentuk video pendek
serta pesan tertulis yang akan dikirimkan melalui WA group IGRA.
Di tengah kegiatan, salah satu hal menarik dan cukup menyita perhatian
hari ini datang dari grup WhatsApp pengawas. Sebuah regulasi baru beredar dan
langsung menarik diskusi kolektif: Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025
tentang Beban Kerja Guru. Peraturan ini merupakan bagian dari lanjutan
reformasi sistem pendidikan nasional.
Bagi penulis, munculnya regulasi ini adalah sebuah panggilan untuk
bersiap—bukan hanya memahami isinya secara teknis, tetapi juga menyiapkan
strategi pendampingan terhadap guru dan kepala madrasah yang seringkali
mengalami kebingungan dalam tahap transisi kebijakan. Beberapa poin awal yang
sempat dibaca dalam dokumen tersebut menunjukkan adanya penyegaran pemahaman tentang
kegiatan yang masuk kategori beban kerja, termasuk aspek pengembangan diri dan
publikasi ilmiah.
Melihat situasi ini, penulis mulai menyusun daftar pertanyaan dan
catatan penting yang nantinya akan dijadikan bahan diskusi pada forum
koordinasi pengawas berikutnya. Selain itu, penulis juga memikirkan kemungkinan
menyusun ringkasan sederhana atau infografis ringan untuk memudahkan para
kepala madrasah dan guru dalam memahami inti regulasi ini.
Informasi baru ini juga memunculkan kebutuhan akan pemutakhiran
perangkat supervisi dan indikator pembinaan. Penulis mencatat bahwa perlu
dilakukan pembaruan terhadap format supervisi pembelajaran dan pelaporan beban
kerja guru, agar tetap relevan dengan aturan baru. Rencananya, minggu depan
akan dimulai proses penyesuaian awal melalui lokakarya internal tim pengawas.
Menjelang sore, waktu digunakan untuk membaca ulang dokumen regulasi
yang diterima pagi tadi sambil membuat draf resume awal yang rencananya akan
dibagikan kepada madrasah binaan. Penulis meyakini bahwa keberhasilan
implementasi kebijakan tidak hanya ditentukan oleh substansi aturan, tetapi
juga oleh kemampuan aktor pendidikan dalam memahami dan menerapkannya secara
cerdas dan kontekstual.
Hari ini ditutup dengan sebuah kesadaran bahwa meski hanya di kantor,
peran pengawas tidak terbatas pada ruang fisik. Tugas pengawas adalah merespons
setiap perubahan dengan cermat, menjadi jembatan antara regulasi dan realitas,
serta menjadi teman dialog yang bijak bagi para pendidik di lapangan.
Jum’at, 04 Juli 2025
Hari ini penulis melaksanakan tugas dari kantor dengan fokus utama
mempersiapkan bahan presentasi untuk kegiatan penting yang akan dilaksanakan
beberapa hari ke depan, yaitu sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta dan
pelatihan Penyusunan Modul Ajar dan Media Pembelajaran Digital di MAS YATI
Kamang Mudiak.
Pagi hari diawali dengan membuka kembali sejumlah referensi kebijakan
kurikulum nasional terbaru, termasuk dokumen internal yang mendasari
pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta. Penulis berusaha memastikan bahwa materi
yang disusun tidak hanya padat secara konsep, tetapi juga mudah dipahami,
aplikatif, dan menyentuh kebutuhan riil guru-guru di madrasah. Fokus utama dari
kurikulum ini adalah menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan
terhadap potensi anak sebagai inti dari proses pembelajaran. Kurikulum ini
bukan hanya soal “apa yang diajarkan”, tetapi lebih dalam lagi: bagaimana guru
mencintai pekerjaannya, mencintai muridnya, dan mencintai proses belajar itu
sendiri.
Dalam proses penyusunan materi, penulis juga mengintegrasikan konten
terkait penyusunan modul ajar yang adaptif, kontekstual, dan terintegrasi
dengan media digital. Hal ini mengingat pentingnya digitalisasi pembelajaran di
era pasca-pandemi, serta kebutuhan madrasah untuk memperkaya pengalaman belajar
siswa dengan teknologi yang relevan dan bermakna.
Penulis menggunakan waktu hari ini untuk menyusun slide presentasi,
menyusun alur diskusi interaktif, dan menyiapkan contoh-contoh modul ajar yang
akan digunakan sebagai studi kasus dalam sesi pelatihan nanti. Selain itu,
dilakukan pula pengecekan terhadap kesiapan media visual, narasi pendukung, dan
struktur logika presentasi agar mampu membangun pemahaman bertahap bagi peserta
pelatihan.
Dalam penyusunan ini, penulis juga menyisipkan strategi dialogis dan
pendekatan Socratic teaching yang akan digunakan untuk menghidupkan sesi
pelatihan. Pendekatan ini dipilih agar guru-guru peserta kegiatan tidak sekadar
menjadi pendengar pasif, melainkan terlibat aktif dalam mengeksplorasi makna
kurikulum dan merumuskan modul pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
siswa dan nilai-nilai keislaman.
Meskipun hari ini tidak ada kegiatan lapangan, penulis merasakan betapa
pentingnya momen persiapan ini. Menyusun materi bukanlah kegiatan teknis
semata, tetapi bagian dari tanggung jawab intelektual dan spiritual sebagai
pengawas untuk memastikan bahwa pesan perubahan dapat tersampaikan dengan tepat
dan menyentuh hati para guru.
Catatan hari ini ditutup dengan perasaan syukur. Dalam heningnya ruang
kerja, penulis merenungi bahwa mendampingi guru bukan hanya soal membina dari
luar, tetapi juga menyiapkan bahan yang membangkitkan semangat mereka dari
dalam. Dengan penuh harapan, penulis menanti kegiatan tanggal 9 Juli di MAS
YATI sebagai momentum strategis untuk menyalakan kembali api cinta guru dalam
mengajar dan belajar.
Sabtu, 05 Juli 2025
Hari ini penulis kembali melanjutkan aktivitas penyusunan materi
presentasi yang telah dimulai sejak kemarin, sebagai bagian dari persiapan
untuk kegiatan penting di MAS YATI Kamang Mudiak. Kegiatan ini akan memuat dua
pokok bahasan utama, yaitu Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pelatihan
Penyusunan Modul Ajar serta Media Pembelajaran Digital.
Fokus hari ini adalah memperdalam dan menyempurnakan materi yang sudah
dirancang sebelumnya, baik dari sisi konten, pendekatan penyampaian, maupun
alur diskusi interaktif yang akan diterapkan saat pelatihan berlangsung.
Penulis berupaya memadukan antara kekuatan konsep dan kedalaman nilai, agar
para guru yang hadir nanti tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga
mengalami transmisi gagasan yang menyentuh aspek afektif mereka sebagai
pendidik.
Untuk bagian Kurikulum Berbasis Cinta, penulis menambahkan komponen
reflektif berupa kutipan-kutipan inspiratif dari tokoh pendidikan dan
nilai-nilai keislaman yang selaras dengan prinsip kasih sayang dalam proses
belajar-mengajar. Selain itu, dimasukkan pula contoh konkret penerapan nilai
cinta dalam RPP dan modul ajar, seperti strategi guru dalam menciptakan kelas
yang menyenangkan, dialogis, dan memanusiakan siswa.
Sementara pada bagian Penyusunan Modul Ajar dan Media Pembelajaran Digital,
penulis memperkuat aspek praktis dengan menghadirkan template modul ajar yang
responsif terhadap karakteristik siswa madrasah. Penulis juga menambahkan
tutorial visual tentang penggunaan platform digital sederhana yang bisa diakses
guru secara mandiri, seperti Canva Edu, Wordwall, dan Liveworksheet, agar
pelatihan nanti tidak hanya bersifat teoritis, tetapi benar-benar menggerakkan
praktik lapangan.
Penulis menyusun pula simulasi kasus dan skenario diskusi kelompok agar
pelatihan tidak monoton. Misalnya, peserta akan diminta mengidentifikasi
nilai-nilai cinta dalam cuplikan kegiatan pembelajaran, lalu merancang kembali
modul ajar berbasis tematik yang mengandung nilai empati, tanggung jawab, dan
kemandirian.
Hari ini juga digunakan untuk meninjau ulang desain presentasi dari
aspek visual dan naratif, memastikan bahwa slide yang digunakan tidak terlalu
padat tulisan, tetapi kuat secara grafis dan mampu menggugah minat audiens.
Penulis menyisipkan animasi ringan dan flow chart yang menjelaskan bagaimana
kurikulum dan modul ajar saling terkait dalam kerangka berpikir holistik.
Dalam proses ini, penulis semakin menyadari bahwa merancang pelatihan
bukan sekadar menyusun materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang
akan dialami oleh para peserta. Oleh karena itu, penulis berusaha menjaga
keseimbangan antara kedalaman konsep dan kesederhanaan penyampaian, antara
inspirasi dan instruksi, antara harapan dan implementasi.
Menjelang sore, draf akhir materi disimpan dan dicadangkan ke beberapa
penyimpanan digital untuk keamanan data. Penulis menutup hari ini dengan
keyakinan bahwa segala persiapan yang telah dilakukan insya Allah akan menjadi
ikhtiar terbaik dalam mendukung para guru madrasah untuk menjadi pribadi yang
bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dengan cinta dan teknologi.
Senin, 07 Juli 2025
Hari ini adalah hari dengan angka istimewa: 07-07, sebuah tanggal
cantik yang tidak hanya menyenangkan secara estetika, tetapi juga menjadi
penanda dimulainya dinamika baru menjelang Tahun Pelajaran 2025–2026. Pada hari
yang bermakna ini, penulis melaksanakan tugas di kantor dan mengikuti rapat
koordinasi pengawas madrasah bersama Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) dan
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam.
Rapat tersebut difokuskan pada pembahasan strategis mengenai persiapan
awal tahun pelajaran 2025–2026, yang akan segera dimulai dalam waktu dekat.
Beberapa agenda penting mengemuka dalam forum tersebut dan perlu menjadi
perhatian seluruh jajaran pengawas dan pemangku kepentingan madrasah.
Pada pertemuan ini, disampaikan kabar menggembirakan mengenai terbitnya
izin operasional tiga madrasah baru di Kabupaten Agam, yakni:
-
RA Miftahul Irsyad di Kecamatan
Baso,
-
MTsS Al Bukhari di Sungai Pua, dan
-
MA Khazinatul Asrar Ampek Angkek
Kehadiran madrasah baru ini tentu menjadi harapan baru bagi masyarakat
dalam memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas. Namun, ini sekaligus
menjadi tantangan baru bagi para pengawas dalam hal pembinaan dan pendampingan
sejak awal berdirinya.
Selanjutnya, rapat juga membahas tentang penyesuaian beban tugas
pengawas madrasah. Hal ini terkait dengan kondisi salah seorang rekan pengawas
yang sedang mengalami gangguan kesehatan, sehingga terjadi redistribusi wilayah
dan tanggung jawab pembinaan agar pelayanan kepada madrasah tetap berjalan
optimal. Dalam semangat solidaritas dan profesionalisme, seluruh pengawas
diharapkan dapat saling menopang dalam menjalankan tugas-tugas lapangan maupun
administratif. Adapun MTs yang diredistribusikan ke penulis adalah MTsN 4, MTsN
9, MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah dan MTsS Muhammadiyah Manggopoh. Sedangkan
MTsN 11 dan MTsN 12 serta MTsS-MAS Muhammadiyah Lawang Tigo Balai diserahkan
kepada pengawas lainnya.
Topik lain yang mengemuka adalah mengenai validasi KSP (Kurikulum
Satuan Pendidikan) yang saat ini tengah berlangsung dan harus sudah selesai
dalam pekan ini oleh madrasah, serta proses pendampingan EDM (Evaluasi Diri
Madrasah) dan e-RKAM (Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah berbasis digital)
menjelan akhir tahun ini. Penekanan diberikan pada pentingnya keakuratan data,
ketepatan waktu pelaporan, dan penguatan fungsi pembimbingan pengawas dalam
proses ini, agar madrasah benar-benar menjalani tahapan tersebut secara
substansial, bukan sekadar formalitas.
Isu lain yang cukup krusial dan menjadi perhatian serius adalah terkait
data guru PPPK yang tidak memenuhi kesesuaian antara SK pengangkatan, ijazah,
dan sertifikasi. Berdasarkan regulasi terbaru, ketidaksesuaian ini berdampak
pada tidak layaknya mereka menerima tunjangan profesi guru. Oleh karena itu,
pengawas diharapkan memberikan penjelasan yang tepat kepada madrasah, serta
mendorong guru-guru terkait untuk melakukan langkah administratif yang
diperlukan.
Selain itu, dibahas juga agenda PKKM (Penilaian Kinerja Kepala
Madrasah) yang akan mulai dilaksanakan pada bulan September 2025. Teknis
pelaksanaan PKKM akan mengalami sejumlah perbaikan, termasuk penyederhanaan
instrumen, pelibatan lebih aktif pengawas dalam fase refleksi kepala madrasah,
serta peningkatan kualitas umpan balik dalam proses pembinaan berkelanjutan.
Bapak Kakankemenag meminta agar kepala madrasah yang belum mengikuti PKKM tahun
2024 agar menjadi prioritas ditahun ini. Sedangkan untuk kepala madrasah swasta
yang berstatus PNS, tetap akan dilakukan penilaian oleh pengawas pembinanya.
Semua kegiatan PKKM akan dikeluarkan SK-nya dalam waktu dekat ini.
Salah satu keputusan penting dalam rapat hari ini adalah pemberlakuan
sistem 5 hari kerja bagi pengawas madrasah yang akan dimulai efektif per 1
Agustus 2025. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
keseimbangan beban kerja, namun juga menuntut penyesuaian ritme dalam
perencanaan kegiatan lapangan, pengisian laporan, dan pelayanan terhadap
madrasah binaan.
Penulis mencatat bahwa rapat hari ini merupakan ruang dialog yang
sangat produktif—tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memperkuat
koordinasi dan menyamakan persepsi antar-stakeholder di lingkungan Kementerian
Agama. Dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, berbagai masukan dari
pengawas disambut dengan baik oleh pimpinan, sehingga diharapkan proses
implementasi kebijakan ke depan dapat berjalan lebih adaptif dan solutif.
Pada siang harinya, penulis didatangi oleh Kepala MIN 7 Agam Ibu
Fildayeni, S.Pd. yang minta validasi KOM. Setelah penulis membaca dengan
seksama kemudian memberikan catatan-catatan perbaikan untuk makin disempurnakan
supaya isi dokumen KOM bisa divalidasi dan diserahkan ke Kantor Kemenag Agam.
Sebagai catatan penutup, hari ini menjadi gambaran bahwa awal tahun
pelajaran adalah saat yang paling strategis untuk membangun pondasi koordinasi
yang kuat. Tanggal 07-07 ini seolah memberi pesan simbolik: dua pihak (pengawas
dan madrasah) harus bersinergi secara harmonis, dua arah komunikasi harus
dijaga, dan dua langkah harus dijalankan bersama: perencanaan yang matang dan
pelaksanaan yang bermutu.


Foto rapat koordinasi pengawas dengan Kasi Penmad
Selasa, 08 Juli 2025
Hari ini penulis kembali menjalankan aktivitas dari kantor dengan
mengikuti dua fokus kegiatan yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan
pendidikan digital dan penguatan tata kelola madrasah. Suasana kerja hari ini
mencerminkan bagaimana peran pengawas madrasah terus berevolusi, bukan hanya
mengelola aspek administratif, tetapi juga aktif menjelajahi wacana baru dalam
dunia pendidikan masa depan.
Kegiatan pagi diawali dengan mengikuti webinar nasional melalui Zoom
Meeting yang mengusung tema: “Menyiapkan Pendidik Siap Digital: Konsep dan
Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Menuju Pendidikan Masa
Depan.”
Webinar ini menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi teknologi
pendidikan Bapak Catur Yoga Meningtyas, dan pengembang kurikulum KKA Puskurjar
BSKAP Bapak Taufik Damarjati. Penulis mencermati dengan antusias bagaimana
kecakapan digital, literasi kecerdasan buatan (AI), serta pemrograman atau
coding mulai didekati secara lebih sistematis dalam kerangka pengembangan
kompetensi guru. Pesan utama dari diskusi ini adalah bahwa pendidik saat ini
tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi pembelajar teknologi
yang terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Materi tentang AI dalam pendidikan memberi banyak perspektif baru,
terutama bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk
menganalisis data belajar siswa, menyusun pembelajaran adaptif, hingga
memfasilitasi asesmen formatif berbasis teknologi. Bagi pengawas madrasah, hal
ini menjadi penting untuk mulai memetakan kesiapan guru-guru binaan dalam
merespons arah kebijakan transformasi digital yang akan makin intensif di
tahun-tahun mendatang.
Usai mengikuti webinar, penulis melanjutkan kegiatan siang hari dengan
menyusun formulir monitoring dan evaluasi (monev) untuk dua keperluan penting.
Yang pertama adalah form monev validasi Kurikulum Operasional Madrasah (KOM).
Form ini dirancang untuk memudahkan pengawas dalam mengidentifikasi kesesuaian
antara struktur kurikulum satuan pendidikan dengan arah kebijakan nasional
terbaru, serta mengintegrasikan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendalam dan
karakteristik lokalitas madrasah.
Yang kedua adalah form monev kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah
(MATSAMA) tahun 2025. Form ini disusun dengan prinsip akuntabilitas,
fleksibilitas, dan tetap menjunjung tinggi asas humanistik dalam orientasi
peserta didik baru. Penulis memastikan bahwa instrumen ini tidak hanya
menekankan aspek kepatuhan administratif, tetapi juga memuat indikator yang
menilai sejauh mana kegiatan MATSAMA mampu mengenalkan budaya madrasah secara
menyenangkan dan edukatif. Penulis juga membuat form monev ini untuk Google
Form dengan link pada :
Kedua formulir tersebut disiapkan sebagai bagian dari dukungan
pengawasan aktif terhadap kelangsungan tahun pelajaran baru yang lebih tertib,
terukur, dan bermakna. Dalam menyusunnya, penulis mengintegrasikan komponen
evaluatif seperti keterlibatan siswa, nilai-nilai moderasi beragama,
pemanfaatan teknologi, dan ketersambungan dengan program madrasah digital.
Melalui kegiatan hari ini, penulis menyadari betapa cepatnya perubahan
dunia pendidikan, khususnya terkait integrasi teknologi dan tuntutan
pengembangan SDM guru. Maka, peran pengawas tidak lagi hanya bersifat
evaluatif, tetapi juga inspiratif dan proaktif dalam membimbing madrasah dan
pendidik agar mampu tumbuh dan beradaptasi di tengah realitas digital yang
terus berkembang.
Hari ini ditutup dengan catatan penting: bahwa pengawas juga harus
menjadi bagian dari generasi pembelajar digital, agar dapat memfasilitasi
perubahan bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat keteladanan. Transformasi
pendidikan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga
membutuhkan semangat belajar bersama di antara para pemangku kepentingan
pendidikan.


Foto kegiatan zoom meeting
Rabu, 09 Juli 2025
Hari ini penulis melaksanakan tugas lapangan dalam bentuk kegiatan
pembinaan dan pelatihan di lingkungan MTsS–MAS YATI Kamang Mudiak, sebuah
lembaga pendidikan Islam terpadu yang tumbuh dari semangat pesantren, madrasah,
dan pendidikan umum. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan
kurikulum dan peningkatan mutu guru madrasah, yang bertujuan untuk menanamkan
pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi, reflektif, dan kontekstual di
lingkungan satuan pendidikan Islam.
Adapun topik utama yang disampaikan dalam kegiatan hari ini meliputi dua tema
besar, yaitu:
1. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, dan
2. Penyusunan Modul Ajar serta Media Pembelajaran Digital berbasis Kurikulum
Merdeka.
Acara dimulai sejak pukul 08.30 WIB dengan sambutan hangat dari pimpinan pondok
pesantren dan kepala madrasah. Penulis merasakan antusiasme yang kuat dari
seluruh peserta, yang terdiri dari unsur pimpinan pondok, kepala MTsS dan MAS
YATI, para guru, serta pembina asrama, yang tampak hadir tidak hanya sebagai
peserta kegiatan, tetapi juga sebagai pembelajar yang terbuka terhadap gagasan
baru.
Pada sesi pertama, penulis menyampaikan materi mengenai Kurikulum Berbasis
Cinta, sebuah pendekatan yang menempatkan kasih sayang, kepekaan, dan relasi
yang sehat antara guru dan siswa sebagai fondasi utama pendidikan. Dalam
paparan ini, ditekankan bahwa esensi pendidikan bukan hanya mengisi otak siswa
dengan pengetahuan, tetapi lebih dalam dari itu—membangun karakter dengan
cinta, memperlakukan siswa sebagai manusia utuh, dan menjadikan proses
pembelajaran sebagai ruang tumbuh yang menggembirakan. Konsep ini dilengkapi
dengan inspirasi dari teori kurikulum humanistik dan nilai-nilai Islam tentang
pengasuhan ruhani.
Peserta diajak berdialog secara terbuka dalam suasana yang santai namun
reflektif. Banyak guru mengungkapkan bahwa mereka selama ini kerap terjebak
dalam rutinitas administrasi dan target akademik, sehingga melupakan dimensi
emosional dalam relasi belajar. Materi ini menjadi semacam oase yang menyegarkan
cara pandang mereka terhadap pendidikan.
Sesi kedua berfokus pada penyusunan modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan
pemanfaatan media pembelajaran digital. Penulis menekankan bahwa pembelajaran
yang relevan di masa kini harus mampu menyentuh konteks dunia nyata siswa dan
memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bijak. Peserta diperkenalkan pada
prinsip penyusunan modul ajar yang fleksibel, berbasis profil pelajar
Pancasila, serta mengandung nilai eksplorasi, elaborasi, dan refleksi mendalam.
Selain itu, disampaikan pula demonstrasi singkat tentang penggunaan media
digital interaktif, seperti Canva Edu, Wordwall, Liveworksheets, serta platform
pembelajaran berbasis LMS sederhana. Peserta sangat antusias mencoba langsung
perangkat ini melalui simulasi penyusunan LKPD digital dan penyajian materi
tematik. Selain itu juga penulis memperkenalkan pemanfaatan ChatGPT dan Suno
serta Riffusion.
Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 14.30 WIB dalam suasana yang penuh energi
positif. Diskusi-diskusi kecil terus berlangsung bahkan saat istirahat dan
penutupan. Hal ini menunjukkan bahwa semangat belajar guru-guru di madrasah ini
begitu besar, terlebih ketika materi yang disampaikan menyentuh sisi personal
dan profesional mereka sekaligus.
Selain itu, pada hari ini penulis juga melakukan kegiatan validasi
Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) milik MTsN 12 Agam. Proses validasi ini
dilakukan untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun oleh madrasah telah
sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, memperhatikan kebutuhan
peserta didik, karakteristik satuan pendidikan, dan arah kebijakan nasional
Kementerian Agama. Validasi ini juga menjadi ruang diskusi terbuka antara
pengawas dan tim penyusun kurikulum madrasah untuk menyempurnakan dokumen KOM
agar lebih kontekstual, aplikatif, dan menyentuh dimensi pembelajaran holistik
yang menumbuhkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh.
Sebagai penutup, penulis merasa bersyukur telah diberi ruang untuk berbagi dan
berdialog dengan komunitas pendidik yang terbuka dan bersemangat seperti di
MTsS–MAS YATI Kamang Mudiak ini. Harapannya, nilai-nilai kurikulum berbasis
cinta dan pemanfaatan teknologi pembelajaran yang diperkenalkan hari ini dapat
benar-benar menjadi praktik nyata di ruang-ruang kelas mereka—bukan sekadar
pengetahuan, tetapi menjadi budaya kerja dan jiwa dalam mengajar.

Foto kegiatan MTsS-MAS YATI Kamang Mudiak

Foto kegiatan validasi KOM MTsN 12 Agam
Kamis, 10 Juli 2025
Hari ini penulis melaksanakan tugas dari kantor dengan fokus pada
aktivitas strategis yang mendukung keberlangsungan dan mutu layanan pendidikan
madrasah. Tugas-tugas yang dilakukan bukan sekadar rutinitas administratif,
melainkan bagian dari siklus pengawasan berbasis pembinaan yang bersifat
antisipatif dan solutif.
Kegiatan diawali dengan penyusunan laporan kegiatan pengawasan yang
telah dilakukan selama sepekan terakhir. Laporan ini tidak hanya merekam
aktivitas, tetapi juga mencatat dinamika yang terjadi di lapangan, termasuk
masukan dari guru, kepala madrasah, dan pengelola lembaga, sebagai bahan
refleksi untuk perbaikan berkelanjutan.
Setelah itu, penulis melanjutkan dengan menyusun perencanaan program
pengawasan dan pembinaan madrasah untuk periode awal tahun pelajaran 2025/2026.
Perencanaan ini meliputi jadwal pendampingan kurikulum, monitoring MATSAMA,
supervisi akademik awal semester, serta pembekalan awal tahun bagi guru dan
kepala madrasah yang membutuhkan penguatan kompetensi. Penyusunan program
dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata di lapangan serta
sinkronisasi dengan agenda seksi Penmad dan Kankemenag.
Salah satu kegiatan utama hari ini adalah menyiapkan materi presentasi
pendampingan akreditasi madrasah. Tahun ini, terdapat dua madrasah di Kabupaten
Agam yang dijadwalkan akan menjalani proses akreditasi oleh BAN-PDM, yaitu:
1.
MTsS Ampek Koto Palembayan, dan
2.
MTsS Khazinatul Asrar Ampek
Angkek.
Penulis menyusun slide presentasi untuk pembekalan tim madrasah, yang
berisi poin-poin kunci mengenai interpretasi dokumen Instrumen Akreditasi
Satuan Pendidikan (IASP 2024), strategi menyiapkan bukti dukung yang valid,
serta simulasi pengisian sistem Sispena yang kini semakin mengedepankan
pendekatan penjaminan mutu internal. Penekanan khusus diberikan pada pentingnya
kolaborasi antar warga madrasah, serta kemampuan tim untuk menyajikan
praktik-praktik baik yang dilakukan selama ini dalam narasi mutu yang utuh dan
bermakna.
Dalam proses penyusunan bahan ini, penulis juga melakukan review
terhadap hasil akreditasi terakhir dari kedua madrasah, guna melihat poin-poin
yang perlu diperbaiki serta area keunggulan yang dapat diperkuat. Kegiatan ini
menjadi bentuk nyata pendampingan yang tidak hanya teknis, tetapi juga
strategis dan mendalam.
Melalui kegiatan hari ini, penulis kembali menyadari bahwa salah satu
peran penting pengawas adalah menjadi mitra berpikir dan mitra tumbuh bagi
madrasah. Di tengah tantangan administratif yang cukup kompleks, pengawas perlu
hadir sebagai pengarah yang mencerahkan, bukan sekadar pengevaluasi.
Dengan semangat ini, penulis menutup hari kerja dengan rasa optimis
bahwa madrasah-madrasah binaan akan mampu melewati proses akreditasi dengan
baik, bukan sekadar memperoleh nilai, tetapi betul-betul memperkuat ekosistem
mutu yang berkelanjutan.
Jum’at, 11 Juli 2025
Hari ini penulis kembali menjalankan aktivitas dari kantor. Suasana
hari Jumat yang tenang dan penuh makna menjadi latar yang tepat untuk
menyelesaikan pekerjaan administratif yang sempat tertunda dari hari
sebelumnya. Pekerjaan administratif bukan semata soal menata dokumen atau
menyusun laporan, melainkan bagian dari ritme sunyi seorang pengawas: menyimak
detil-detil kecil agar madrasah yang dibina dapat terus bergerak dengan tertib,
lurus arah, dan terukur capaian.
Sejumlah berkas dan rancangan dokumen kegiatan ditata ulang,
disempurnakan, dan disiapkan untuk pelaksanaan program berikutnya. Penulis
memanfaatkan waktu ini untuk merapikan rencana pendampingan akreditasi
madrasah, evaluasi implementasi kurikulum, serta pengecekan kembali instrumen
monitoring kegiatan awal tahun pelajaran yang akan segera dimulai.
Di sela-sela aktivitas kantor, penulis juga menyempatkan diri untuk
menyusun naskah khutbah Jum’at, sebuah aktivitas rutin namun penuh perenungan.
Bagi penulis, khutbah bukan hanya bentuk dakwah formal di mimbar, melainkan
ekspresi kegelisahan sosial dan harapan moral yang ingin disampaikan kepada
umat. Khutbah kali ini dirancang dengan tema spiritualitas kerja—sebuah
pengingat bahwa setiap amal, sekecil apa pun, bernilai ketika dilandasi dengan
niat tulus dan tanggung jawab.
Menjelang siang, Kepala MTsS Lawang Tigo Balai, menelepon penulis untuk
melakukan konsultasi terkait Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Dalam dialog
yang hangat namun serius, kami membahas penyesuaian struktur kurikulum sesuai
dengan karakteristik madrasah yang berbasis pesantren tersebut, serta bagaimana
menyusun visi pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai khas Islam dan
kebutuhan komunitas lokal.
Diskusi ini mengalir pada persoalan praktis seperti pemetaan mata
pelajaran, integrasi proyek penguatan profil pelajar Pancasila, hingga teknis
penulisan dokumen kurikulum. Penulis memandang konsultasi seperti ini sebagai
ruang tumbuh bersama, di mana pengawas tidak hanya memberi arahan, tapi juga
mendengarkan, memfasilitasi, dan meneguhkan kepala madrasah agar mantap dalam
mengambil keputusan strategis bagi lembaganya.
Hari ini ditutup dengan catatan kecil namun bermakna: bahwa pekerjaan
sebagai pengawas bukan selalu tentang “berjalan dari madrasah ke madrasah”,
tetapi juga tentang hadir secara utuh bagi madrasah, kapan pun mereka
membutuhkan. Kadang itu terjadi bukan di forum resmi, tapi dalam obrolan
konsultatif yang sederhana—dan justru di situlah letak kedalaman peran pengawas
sebagai pendamping pendidikan umat.
Sabtu, 12 Juli 2025
Ada hari-hari di mana pekerjaan pengawas madrasah tidak terikat pada
dinding ruang kantor, tapi juga tidak sepenuhnya berada di lapangan yang bising
dan berdebu. Hari ini adalah satu di antaranya. Penulis melaksanakan tugas di
luar kantor, namun sebagian besar waktunya terisi oleh aktivitas
mendengar—bukan dalam arti pasif, tapi mendengar yang penuh intensi: menyimak materi
pelatihan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang dilaksanakan
di Aula SIT Al Madaniy Lubuk Basung.
Materi pelatihan yang disampaikan ada 2 judul : 1) Mengapa KKA?
Memantapkan Peran guru dalam Pembelajaran KKA, 2) Etika dan Risiko Kecerdasan
Artifisial. Ada pemaparan menarik tentang pentingnya penguasaan KKA ini di era
digital, pergeseran paradigma dari kurikulum berbasis konten menuju kurikulum
berbasis kompetensi, serta refleksi tentang perlunya nilai-nilai spiritual
dalam pendidikan masa depan—semuanya menguatkan kembali visi Kurikulum Berbasis
Cinta yang selama ini penulis gaungkan di lingkungan madrasah binaan.
Ada kalanya hari kerja berjalan tak seperti rencana. Penulis memulai
hari ini dengan semangat menyambut kunjungan dari salah seorang wakil kepala
madrasah yang telah mengonfirmasi ingin melakukan konsultasi dan validasi
dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Namun, sebagaimana biasa dalam
dinamika tugas lapangan, tidak semua janji pertemuan berjalan sesuai skenario.
Sampai menjelang siang, tamu yang ditunggu ternyata tidak kunjung datang—dan
melalui pesan singkat, akhirnya dikabarkan bahwa kunjungan tersebut ditunda
karena adanya urusan mendadak di lembaganya.
Meski sempat mengecewakan, namun tidak ada waktu yang benar-benar
sia-sia bagi seorang pengawas madrasah. Penulis segera mengalihkan fokus untuk
melanjutkan aktivitas lain yang tak kalah penting: memeriksa seluruh persiapan
untuk kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) hari pertama masuk sekolah yang
akan dimulai pada Senin mendatang.
Sejumlah dokumen diperiksa kembali—mulai dari instrumen monev pembukaan
tahun ajaran, daftar madrasah target monev, hingga catatan-catatan teknis
pelaksanaan MATSAMA dan kesiapan pelaksanaan pembelajaran. Penulis juga
mengecek ulang perangkat observasi yang akan digunakan untuk melihat kesiapan
ruang kelas, jadwal pelajaran, kesiapan guru, dan berbagai indikator lain yang
menjadi perhatian dalam hari-hari awal pelaksanaan tahun pelajaran 2025/2026.
Hari ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada pertemuan atau
diskusi panjang, tidak pula riuh suara guru atau kepala madrasah yang biasa
mewarnai aktivitas lapangan. Namun dalam kesunyian itu, penulis justru
mendapatkan waktu yang tenang untuk melakukan refleksi, menyusun ulang rencana,
dan memastikan bahwa langkah awal pendidikan di semester baru nanti benar-benar
dapat berjalan baik, tertata, dan bermakna.
Pengawasan yang efektif tidak selalu berbentuk kegiatan yang tampak
sibuk atau penuh interaksi. Ada waktunya pengawasan hadir dalam bentuk
kesiapsiagaan, ketelitian, dan perencanaan diam-diam yang matang. Justru di
hari-hari seperti ini, kualitas pengawasan diuji: mampukah pengawas tetap
bekerja dengan komitmen penuh, meskipun tanpa sorotan langsung dari orang lain.
Dengan
menyelesaikan segala bentuk kesiapan hari ini, penulis berharap dapat menjalani
hari Senin nanti dengan lebih mantap. Sebab hari pertama sekolah bukan sekadar
seremonial, melainkan momentum krusial yang menentukan irama dan semangat
belajar sepanjang semester.
Senin, 14 Juli 2025
Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2025/2026
di seluruh madrasah. Di hari yang istimewa ini, seluruh satuan pendidikan di
bawah naungan Kementerian Agama mulai menyambut kembali para peserta didik,
guru, dan tenaga kependidikan untuk memasuki lembaran baru perjalanan belajar.
Tak hanya itu, kegiatan MATSAMA (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah) juga resmi dimulai
di seluruh madrasah, menjadi gerbang pengenalan lingkungan belajar bagi
siswa-siswi baru di jenjang RA, MI, MTs, dan MA.
Sebagai pengawas madrasah, penulis telah merencanakan sejak jauh hari
untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) secara langsung ke beberapa
madrasah binaan yang secara geografis mudah dijangkau. Hujan lebat yang
mengguyur sejak pagi hari sempat membuat sebagian besar wilayah Kabupaten Agam
dilanda cuaca kurang bersahabat. Beberapa akses jalan menjadi licin dan
tergenang, sehingga menyebabkan jadwal monev sempat tertunda. Namun demikian,
setelah cuaca mereda menjelang siang, penulis akhirnya tetap dapat melakukan
monev ke dua madrasah negeri, yaitu MTsN 4 Agam dan MTsN 9 Agam.

Foto Pembinaan Guru dan
Monitoring ke MTsN 9 Agam
Di kedua madrasah tersebut, penulis melakukan peninjauan langsung
terhadap pelaksanaan MATSAMA, menyapa peserta didik baru, serta berinteraksi
dengan panitia pelaksana dan kepala madrasah. Secara umum, kegiatan MATSAMA di
kedua satuan pendidikan ini berjalan lancar, tertib, dan penuh semangat.
Siswa-siswi baru tampak antusias mengikuti kegiatan perkenalan, materi
motivasi, dan pengenalan tata tertib madrasah.
Selain meninjau pelaksanaan MATSAMA, penulis juga menyempatkan diri
untuk melakukan pembinaan singkat kepada para guru dan tenaga kependidikan,
khususnya mengenai pentingnya menjaga motivasi dan kedisiplinan kehadiran di
awal tahun pelajaran. Dalam pembinaan tersebut, penulis memperkenalkan kembali
pemanfaatan aplikasi PUSAKA sebagai instrumen pencatat kehadiran digital dan
penguat budaya kerja yang akuntabel. Beberapa guru menyampaikan masukan terkait
kendala teknis yang dihadapi, dan penulis memberikan arahan singkat serta akan
menindaklanjuti dalam bentuk pelatihan teknis lanjutan bila diperlukan.
Kondisi cuaca yang tak menentu tidak menyurutkan semangat pengawasan.
Di sela-sela mobilitas dan waktu yang tersisa, penulis juga mengikuti pembukaan
MATSAMA secara nasional yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi
Kementerian Agama. Dalam sambutannya, Bapak Menteri Agama menekankan pentingnya
membentuk karakter siswa sejak dini, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama,
serta menciptakan madrasah sebagai ruang yang ramah, menyenangkan, dan sarat
kasih sayang.
Siaran ini memberi arah dan inspirasi baru bagi para pengelola
pendidikan madrasah di seluruh Indonesia. Penulis mencatat dengan seksama
berbagai pokok pikiran penting dari arahan Menteri, yang nantinya akan
dijadikan bagian dari bahan pembinaan dan refleksi bersama para kepala madrasah
di wilayah binaan.
Sebagai bentuk pengawasan partisipatif, penulis juga menyebarkan tautan
Google Form berisi lembar monitoring pelaksanaan MATSAMA ke seluruh kepala
madrasah binaan. Formulir ini dirancang untuk menjaring laporan mandiri dari
satuan pendidikan mengenai:
-
pelaksanaan hari pertama sekolah,
-
susunan acara MATSAMA,
-
kehadiran siswa dan guru,
-
kesiapan fasilitas madrasah,
-
serta dokumentasi kegiatan hari
pertama.
Respons dari kepala-kepala madrasah cukup cepat. Beberapa laporan awal
mulai masuk pada siang hari, menandakan bahwa sebagian besar madrasah sudah
siap menyambut tahun ajaran baru dengan antusias dan semangat.
Dengan demikian, hari ini menjadi perpaduan antara gerak adaptif dan
kerja lapangan, antara ruang digital dan sentuhan langsung. Ini membuktikan
bahwa fungsi pengawasan dapat berjalan fleksibel sesuai dinamika di lapangan,
tanpa kehilangan arah dan kualitas.
Hari pertama tahun pelajaran baru ini ditutup dengan catatan: meski
diguyur hujan dan sempat terkendala mobilitas, pengawasan tetap berjalan,
semangat madrasah tetap menyala, dan peran pengawas tetap hadir sebagai
penyangga mutu pendidikan. Dan di sanalah letak makna sesungguhnya dari profesi
ini—menjaga nyala semangat madrasah tetap hidup, dalam segala situasi.
Selasa, 15 Juli 2025
Hari ini merupakan hari yang padat namun penuh makna dalam menjalankan
tugas kepengawasan. Sejak pagi, penulis menghadiri rapat dinas pengawas
madrasah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam.
Kegiatan ini bertempat di Gedung Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT)
yang berlokasi di Belakang Balok, Kota Bukittinggi.
Dalam rapat dinas tersebut, beberapa agenda strategis dibahas secara
komprehensif. Yang pertama adalah penyerahan Surat Keputusan (SK) Pembagian
Beban Tugas Pengawas Madrasah Tahun 2025, yang menandai dimulainya implementasi
tugas-tugas pengawasan untuk periode tahun ajaran baru. Penyerahan SK ini tidak
hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi penegasan atas peran pengawas
dalam memastikan mutu pendidikan madrasah berjalan sesuai arah kebijakan
Kementerian Agama.
Agenda berikutnya dalam rapat adalah pembinaan terhadap kepala-kepala madrasah
yang baru saja memperoleh izin operasional penyelenggaraan madrasah, serta
madrasah-madrasah yang direncanakan akan menjalani proses akreditasi oleh
BAN-PDM pada tahun 2025 ini. Dalam forum ini, penulis turut mencermati dan
mencatat berbagai pesan penting dari pimpinan terkait peningkatan tata kelola,
kesiapan perangkat kurikulum, kelengkapan sarana-prasarana, serta pentingnya
akuntabilitas laporan kelembagaan. Forum ini menjadi sangat penting karena
membekali para kepala madrasah baru dengan pemahaman dasar sekaligus standar
mutu yang harus dicapai.



Foto kegiatan rapat dinas di PLHUT
Usai kegiatan rapat dinas, pada siang harinya, penulis melanjutkan
kegiatan dengan menghadiri sosialisasi pekerjaan konstruksi gedung ruang kelas
baru di MIN 7 Agam, yang berlokasi di Matur. Pembangunan ruang kelas tersebut
dibiayai melalui Skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Tahun Anggaran
2025.
Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan
Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat beserta tim teknis, yang
memberikan penjelasan mengenai proses, target waktu pelaksanaan, serta aspek
transparansi penggunaan dana publik. Turut hadir pula tokoh masyarakat dari
Nagari Lawang dan Nagari Tigo Balai, perangkat Kecamatan Matur, dan unsur
Komite Madrasah.


Foto kegiatan di MIN 7 Agam
Dalam kesempatan ini, penulis menyaksikan bagaimana proses kolaboratif
antara pemerintah, satuan pendidikan, dan masyarakat setempat dijalin dengan semangat
sinergis. Proyek pembangunan ruang kelas ini tidak sekadar pembangunan fisik,
melainkan juga menjadi simbol komitmen negara dalam meningkatkan kualitas dan
aksesibilitas pendidikan madrasah, khususnya di wilayah-wilayah pinggiran.
Hari ini ditutup dengan refleksi bahwa pengawasan pendidikan tidak
hanya menyentuh aspek dokumen dan supervisi instruksional, tetapi juga
menjangkau aspek koordinatif dan strategis, termasuk mendorong kelancaran
pembangunan fisik, pembinaan kelembagaan, serta penguatan tata kelola madrasah
yang baru tumbuh. Penulis meyakini bahwa hanya dengan kerja kolaboratif antara
pemangku kebijakan, satuan pendidikan, dan masyarakat, kualitas madrasah akan
terus bertumbuh dan mengakar kuat di tengah perubahan zaman.
Rabu, 16 Juli 2025
Hari ini, penulis menjalani aktivitas sepenuhnya dari ruang kerja
kantor. Tak ada perjalanan ke madrasah maupun rapat lapangan, namun pekerjaan
administratif yang dikerjakan justru tidak kalah penting dalam mendukung
keberlangsungan tugas fungsional sebagai pengawas madrasah.
Fokus utama hari ini adalah menyelesaikan perbaikan dokumen usulan
kenaikan pangkat, dari IV.a ke IV.b, yang merupakan bagian dari pengembangan
karir jabatan fungsional pengawas. Proses pengusulan ini menuntut ketelitian
dalam menyusun bukti fisik, rekam jejak kegiatan, dan kelengkapan administrasi
lainnya sesuai dengan peraturan terbaru yang berlaku. Di balik aktivitas ini
tersimpan pula proses refleksi panjang tentang bagaimana setiap aktivitas
pembinaan, supervisi, monev, hingga kontribusi dalam pengembangan pendidikan
madrasah selama beberapa tahun terakhir dirumuskan secara sistematis dalam
bentuk angka kredit dan dokumen pendukung.
Selain itu, penulis juga melakukan validasi kurikulum madrasah. Hari
ini, yang menjadi fokus adalah MTsN 13 Agam dan MIN 2 Agam, madrasah binaan
yang sedang dalam proses penyempurnaan dokumen Kurikulum Operasional Madrasah
(KOM). Peninjauan dilakukan terhadap kelengkapan dokumen perangkat
pembelajaran, keterkaitan antara visi-misi madrasah dengan profil lulusan,
struktur kurikulum, serta integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam
tema-tema pembelajaran. Penulis memberikan catatan-catatan kecil untuk
perbaikan, terutama dalam penyelarasan antara analisis kebutuhan madrasah
dengan pengembangan program intra, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.


Foto kegiatan validasi kurikulum MTsN 13 Agam
Kegiatan administratif seperti hari ini menjadi pengingat bahwa
pengawasan madrasah bukan semata kegiatan turun lapangan, tetapi juga
kerja-kerja dokumentatif yang menjadi fondasi keberlangsungan profesionalitas
dan akuntabilitas jabatan. Dari balik meja kerja, tetap bisa lahir
keputusan-keputusan penting, baik untuk pengembangan karier pribadi sebagai
ASN, maupun untuk memastikan mutu pendidikan madrasah tetap berjalan sesuai
arah yang telah ditetapkan.
Meski terkesan sunyi dan penuh tumpukan berkas, hari ini tetap menjadi
bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan, konsistensi, dan kualitas kinerja.
Sebab dalam dunia pendidikan, perubahan besar kerap lahir dari proses-proses
yang sunyi namun bermakna—dan hari ini adalah salah satunya.
Kamis, 17 Juli 2025
Hari ini, penulis melanjutkan rangkaian kegiatan
monitoring dan pembinaan pasca libur semester dengan mengunjungi dua madrasah
swasta yang berada dalam wilayah binaan, yakni MTsS Muhammadiyah Manggopoh dan
MTsS Muhammadiyah Kampuang Tangah. Kunjungan ini merupakan bagian dari misi
pengawasan akademik dan manajerial, sekaligus ajang memperkuat komunikasi,
memberikan motivasi, serta menyampaikan gagasan-gagasan pengembangan yang
relevan dengan tantangan pendidikan madrasah hari ini.
Pada kesempatan ini, penulis berkesempatan untuk
melakukan monitoring proses pembelajaran di kelas, berdialog langsung dengan
guru-guru, dan melakukan diskusi reflektif bersama kepala madrasah mengenai
arah dan strategi peningkatan mutu pembelajaran. Dalam sesi pembinaan, penulis
menyampaikan materi bertajuk "Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendekatan Deep
Learning: Menuju Transformasi Pembelajaran Bermakna di Madrasah." Materi
ini disampaikan dengan pendekatan humanis, kontekstual, dan membangkitkan
kesadaran akan pentingnya menghadirkan nilai cinta dalam setiap proses
pembelajaran.
Penulis menekankan bahwa kurikulum berbasis cinta
bukanlah slogan kosong, tetapi sebuah paradigma yang memandang peserta didik
bukan sekadar objek transfer ilmu, melainkan insan yang tumbuh dengan emosi, akal,
dan hati. Dengan menghadirkan pendekatan deep learning, guru tidak lagi hanya
mengajar agar siswa paham, tetapi mengajar agar siswa merasakan makna,
membangun keterkaitan, dan menginternalisasi nilai-nilai kehidupan dalam
pembelajaran.
Tak hanya berhenti pada pembelajaran, pembinaan ini juga
menyentuh ranah citra kelembagaan. Dalam sesi penutupan, penulis menyampaikan
sebuah refleksi penting yang sering terabaikan, yakni peran guru dan tenaga
kependidikan sebagai duta informasi madrasah. Ditekankan bahwa setiap insan
madrasah sejatinya adalah seorang humas (hubungan masyarakat). Artinya, semua
pihak bertanggung jawab untuk menyampaikan kepada dunia luar apa saja kegiatan
positif yang berlangsung di madrasah.
Penulis menyampaikan gagasan sederhana namun kuat:
“Mungkin menurut kita, suatu kegiatan yang kita lakukan
hari ini tampak biasa saja. Tapi bagi orang lain, itu luar biasa dan
menginspirasi. Karena itu, jangan ragu untuk mengekspos kegiatan madrasah,
sekecil apa pun, melalui akun media sosial pribadi maupun akun resmi madrasah.”
Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari para guru.
Sebagian mengaku selama ini merasa sungkan untuk membagikan aktivitas madrasah
mereka karena takut dianggap pamer atau berlebihan. Padahal, di era keterbukaan
informasi seperti sekarang, media sosial bukan sekadar ajang eksistensi, tetapi
sarana membangun narasi positif, membentuk persepsi publik, dan menjadi jendela
inspirasi bagi banyak pihak.
Penulis memberi tantangan madrasah-madrasah binaan untuk menetapkan target satu unggahan
positif setiap hari, entah berupa foto kegiatan, video pendek, atau catatan
reflektif, baik di akun resmi maupun pribadi para guru. Langkah kecil ini
diyakini akan berdampak besar dalam jangka panjang. Sebab, perubahan besar
tidak lahir dari gebrakan sesaat, tetapi dari konsistensi menghadirkan
cerita-cerita kecil yang membangun kesadaran publik.
Penutup dari pembinaan hari ini diwarnai dengan doa dan
harapan:
“Jumlah kita hari ini mungkin masih sedikit. Tapi jika
semangat terus dijaga, karya terus dibagi, dan wajah madrasah terus dikenalkan
secara positif, maka insya Allah suatu saat jumlah kita akan membludak.
Bukan karena kebetulan, tetapi karena kita bekerja dengan cinta dan
menginspirasi dengan cahaya.”
Hari ini bukan sekadar hari kunjungan, tetapi hari
menyalakan bara semangat, memperkuat kepercayaan diri para guru, dan
mengingatkan bahwa siapa pun kita, punya peran dalam membangun citra dan masa
depan madrasah. Karena madrasah bukan hanya tempat belajar, tapi rumah
peradaban.


Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Manggopoh


Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Kampuang Tangah
Jum’at, 18 Juli 2025
Hari ini penulis kembali beraktivitas di kantor,
menyelesaikan beberapa agenda penting yang memadukan aspek pengembangan
profesional, tata kelola akademik, serta dakwah spiritual. Sejak pagi, penulis
mengikuti Zoom Meeting Pokjawas Provinsi Sumatera Barat, yang diselenggarakan
sebagai bagian dari program penguatan kapasitas pengawas madrasah. Tema yang
diangkat kali ini sangat kontekstual dan strategis, yakni: “Pendampingan
Pengawas Madrasah dalam Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Madrasah.”
Materi disampaikan langsung oleh Ketua Pokjawasmad
Provinsi Sumbar, Dr. Rasman, M.Ag, yang secara lugas dan bernas menegaskan
bahwa penyusunan renstra bukanlah sekadar kewajiban administratif, melainkan
merupakan instrumen manajemen perubahan yang menentukan arah perkembangan
madrasah selama lima tahun ke depan. Pengawas sebagai pendamping profesional
harus memahami substansi, mekanisme, dan teknik fasilitasi agar madrasah binaan
mampu menyusun Renstra yang realistis, partisipatif, dan berbasis data.
Pertemuan daring ini membuka ruang diskusi aktif,
memperkaya perspektif para pengawas dari berbagai kabupaten/kota di Sumbar.
Penulis mencatat bahwa keberhasilan Renstra sangat ditentukan oleh sejauh mana
kepala madrasah memahami konteks internal dan eksternal madrasah mereka
sendiri, serta mampu merumuskannya dalam bentuk program strategis yang terukur
dan berorientasi jangka panjang.

Foto kegiatan zoom meeting
pokjawasmadprov Sumbar
Usai kegiatan daring tersebut, penulis melanjutkan agenda
hari ini dengan melakukan validasi dan pengesahan dokumen Kurikulum Operasional
Madrasah (KOM) MTsN 13 Agam. Dokumen yang sebelumnya telah direvisi oleh tim
madrasah, kini telah melalui proses penyempurnaan substansi. Penulis memberikan
apresiasi atas komitmen kepala madrasah dan tim kurikulum yang telah bekerja
cermat dan terbuka terhadap masukan. Validasi ini bukan hanya proses
administratif, tetapi juga momentum untuk memastikan bahwa kurikulum yang
disusun benar-benar kontekstual, memuat penguatan nilai-nilai karakter, dan
selaras dengan arah kebijakan nasional serta kebutuhan lokal.

Foto pengesahan KOM MTsN 13 Agam
Menjelang siang, penulis mulai bersiap untuk menunaikan
tugas khutbah Jumat di Masjid Syuhada, Lapau Talang. Momentum ini menjadi
bagian dari pengabdian dalam ranah sosial dan keagamaan. Dalam khutbah kali
ini, penulis mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas kehidupan
remaja dan masyarakat digital saat ini, yaitu: “Bahaya Membanggakan dan
Mempertontonkan Dosa: Perspektif Islam dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental.”
Isi khutbah ini disusun dengan mengacu pada dalil-dalil
Al-Qur’an dan hadis, serta ditautkan dengan realitas kontemporer. Penulis
menyampaikan bahwa dalam Islam, dosa adalah sesuatu yang seharusnya disesali
dan ditutupi, bukan dipamerkan. Namun kini, banyak fenomena sosial di mana
orang justru merasa bangga ketika menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan
ajaran agama. Bahkan, di media sosial, perilaku menyimpang justru sering
menjadi konten yang viral dan ditonton jutaan kali.
Dari perspektif psikologis dan kesehatan mental, penulis
menegaskan bahwa kebiasaan membanggakan dosa akan menumpulkan rasa malu,
mematikan sensitivitas hati, dan dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan
kegelisahan batin, kecemasan sosial, serta penurunan harga diri. Ini karena
manusia secara fitrah diciptakan untuk mencintai kebaikan dan merasa bersalah
saat berbuat buruk. Ketika naluri ini ditekan dan dibalikkan, maka kerusakan
psikologis menjadi tak terelakkan.
Penulis mengajak jamaah untuk merenungi sabda Nabi
Muhammad ﷺ:
"Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang secara
terang-terangan menampakkan dosa. Termasuk menampakkan dosa adalah ketika
seseorang melakukan dosa di malam hari, lalu pagi harinya ia berkata: 'Semalam
aku melakukan ini dan itu', padahal Allah telah menutupinya." (HR. Bukhari
dan Muslim)
Khutbah ditutup dengan seruan agar setiap individu
menjaga kehormatan diri, menguatkan rasa malu, dan senantiasa memohon ampunan
serta bimbingan dari Allah SWT. Penulis juga menyisipkan ajakan kepada para orang
tua dan pendidik agar membekali anak-anak dengan pemahaman akhlak dan etika
digital, serta memperkuat ketahanan psikososial mereka di tengah banjir
informasi yang tak terbendung.
Dengan demikian, hari ini tidak hanya menjadi hari
menyelesaikan tanggung jawab teknis, tetapi juga hari untuk merenungi kembali
jati diri sebagai pendidik dan dai, yang bertugas tidak hanya mengurus dokumen
dan rapat, tetapi juga menyalakan lentera akal dan menyentuh ruang hati umat.
Semoga setiap langkah kecil ini menjadi bagian dari jalan panjang perbaikan,
untuk madrasah yang bermutu, masyarakat yang bermartabat, dan pribadi-pribadi
yang terjaga dari kerusakan moral zaman.
Sabtu, 19 Juli 2025
Pada hari Sabtu ini, penulis melaksanakan kegiatan
kunjungan kerja ke tiga madrasah, yakni MAN 4 Agam, MTsS–MAS MTI Bayur, dan MAN
1 Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan awal tahun pelajaran
2025/2026, sekaligus sebagai upaya pembinaan untuk memperkuat kesiapan madrasah
dalam mengawali proses pembelajaran.
Kunjungan pertama dilakukan ke MAN 4 Agam. Penulis
disambut langsung oleh Kepala Madrasah, Bapak Ilham Mizoni, S.Pd., dan sempat
berdiskusi secara santai namun berbobot mengenai berbagai hal terkait kesiapan
madrasah, tantangan yang dihadapi, dan strategi pembelajaran di tahun ajaran
yang baru. Setelah itu, penulis meminta waktu untuk bertemu dengan majelis
guru. Dalam pertemuan tersebut, penulis menyampaikan pencerahan tentang
pentingnya growth mindset bagi para guru, terutama dalam menghadapi perubahan-perubahan
cepat dalam dunia pendidikan. Guru didorong untuk tidak terjebak pada zona
nyaman, tetapi terbuka pada pembaruan dan inovasi. Penulis juga menekankan
pentingnya peranan humas madrasah dalam mempublikasikan setiap kegiatan
positif, sekecil apa pun, agar madrasah semakin dikenal masyarakat luas. Di
akhir kunjungan, penulis juga melakukan pemeriksaan terhadap dokumen Kurikulum
Operasional Madrasah (KOM) dan memberikan dorongan untuk segera
menyempurnakannya.


Kegiatan di MAN 4 Agam
Selanjutnya, penulis menuju MTsS–MAS MTI Bayur untuk
melakukan validasi dokumen KOM. Di madrasah ini, penulis berdiskusi dengan
kepala madrasah, wakil kepala, serta pengurus yayasan terkait rencana
pengembangan kelembagaan dan penguatan tata kelola madrasah. Diskusi
berlangsung dengan suasana penuh semangat, mencerminkan adanya komitmen bersama
untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan.

Kegiatan di MTsS-MAS MTI Bayur
Kunjungan terakhir dilakukan ke MAN 1 Agam. Disambut
dengan hangat oleh kepala madrasah Zulfahmi, S.Pd. didampingi oleh wakil bidang
kurikulum. Setelah cukup panjang berdiskusi, dilanjutkan dengan pertemuan
bersama majelis guru. Penulis kembali memberikan pembinaan tentang pentingnya
mentalitas bertumbuh (growth mindset), serta menekankan urgensi membangun citra
positif madrasah melalui peran aktif humas dan media sosial. Pemeriksaan
terhadap kesiapan dokumen KOM juga menjadi bagian penting dari kunjungan ini.


Foto kegiatan di MAN 1 Agam
Secara umum, kegiatan hari ini berlangsung dengan lancar
dan disambut baik oleh pihak madrasah. Semangat para kepala dan guru dalam
menyambut tahun ajaran baru terlihat jelas, dan diharapkan pembinaan ini bisa
menjadi penyemangat awal yang berdampak positif terhadap kinerja madrasah ke
depan.
Ahad, 20 Juli 2025
Hari Ahad, 20 Juli 2025, meskipun merupakan hari libur
nasional, penulis tetap melaksanakan tugas pembinaan kepada madrasah binaan
sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di
lingkungan madrasah. Pada hari tersebut, penulis mendapat kepercayaan menjadi
narasumber dalam kegiatan lokakarya guru MTsN 4 Agam yang diselenggarakan di
Hotel Sakura Syari’ah Lubuk Basung.
Tema yang diangkat dalam lokakarya ini adalah
“Pengembangan Pembelajaran Berbasis Teknologi”, sebuah topik yang sangat
relevan dengan tantangan pembelajaran abad ke-21 dan kebutuhan peserta didik
generasi Z dan Alpha yang saat ini mendominasi ruang kelas. Kegiatan dimulai
pada pukul 09.00 WIB dengan suasana santai namun tetap fokus. Penulis memulai
penyampaian materi dengan membangun keakraban melalui ice breaking ringan dan ajakan
refleksi, sehingga guru-guru peserta lokakarya merasa terlibat secara emosional
dan intelektual.
Dalam pemaparan materi, penulis menekankan bahwa dunia
pendidikan terus berubah dengan sangat cepat, baik dari sisi kurikulum, metode,
hingga karakter peserta didik. Perubahan yang cepat ini seringkali menjadi
tantangan tersendiri bagi guru, terutama jika tidak disertai dengan kesiapan
mental dan kompetensi yang memadai. Oleh karena itu, guru perlu memiliki growth
mindset, yakni pola pikir yang terbuka dan siap berkembang dalam menghadapi
perubahan, bukan sekadar bertahan dengan kebiasaan lama.
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diperkenalkan
bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai alat bantu yang mampu
mempermudah guru dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
Penulis memberikan contoh konkret bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan dalam
penyusunan perangkat pembelajaran, khususnya dalam konteks perencanaan
pembelajaran mendalam (deep learning).
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta
adalah saat penulis memperkenalkan praktik pembuatan aplikasi sederhana
berbasis web yang dapat digunakan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih
interaktif dan terdokumentasi dengan baik. Peserta diajak langsung untuk mempraktikkan
pembuatan aplikasi tersebut menggunakan perangkat masing-masing, baik melalui
laptop maupun ponsel pintar. Suasana kelas menjadi sangat hidup—diskusi
berkembang secara alami, pertanyaan-pertanyaan mengalir, dan beberapa guru
bahkan berhasil menyelesaikan rancangan awal aplikasi mereka sendiri.
Durasi kegiatan yang semula dirancang selama satu jam
akhirnya diperpanjang menjadi dua jam, atas permintaan peserta sendiri.
Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat
menyentuh kebutuhan riil guru-guru di lapangan. Banyak guru menyampaikan bahwa
mereka merasa lebih percaya diri dan bersemangat untuk mulai mencoba hal-hal
baru dalam pembelajaran mereka.
Menutup kegiatan, penulis menyampaikan bahwa pembelajaran
yang baik seharusnya memiliki tiga sifat utama: bermakna, berkesadaran, dan
menggembirakan. Ketika guru menikmati proses belajar, maka ia akan mampu
menciptakan suasana kelas yang membuat siswa larut dalam pengalaman belajar
tanpa merasa terpaksa. Itulah pembelajaran yang sesungguhnya: bukan sekadar
menyampaikan materi, tetapi membangun ikatan emosional, mental, dan spiritual
antara guru, siswa, dan materi pembelajaran.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, penulis mencatat
beberapa hal penting untuk ditindaklanjuti. Pertama, madrasah dapat
mengembangkan komunitas belajar internal untuk melanjutkan praktik penggunaan
teknologi dalam pembelajaran. Kedua, perlu ada pelatihan lanjutan agar guru
dapat mengembangkan aplikasi yang lebih kompleks. Ketiga, penting untuk
mendokumentasikan inovasi pembelajaran guru agar dapat dibagikan ke madrasah
lain sebagai bagian dari gerakan berbagi praktik baik.
Secara umum, kegiatan ini memberikan gambaran nyata bahwa
transformasi pembelajaran di madrasah sangat mungkin dilakukan, dimulai dari
guru-guru yang memiliki kemauan untuk berubah dan didukung oleh kepemimpinan
madrasah yang progresif. Pengawas madrasah memiliki peran strategis dalam
menginspirasi, memfasilitasi, dan mendampingi proses perubahan tersebut, bukan
sekadar sebagai evaluator administratif, tetapi juga sebagai mitra pertumbuhan
profesional bagi seluruh warga madrasah.



Foto kegiatan MTsN 9 Agam
Senin, 21 Juli 2025
Hari Senin, 21 Juli 2025, penulis melaksanakan kegiatan
di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Kegiatan dimulai sejak
pagi hari dengan mengikuti apel pagi bersama seluruh ASN dan pegawai di
lingkungan kantor. Apel pagi yang rutin dilaksanakan setiap awal pekan ini
menjadi momen penting untuk mempererat kedisiplinan, kebersamaan, serta
menyerap arahan dan informasi strategis dari pimpinan untuk mendukung kinerja
ke depan. Pada apel kali ini, selain pesan moral tentang integritas, disampaikan
pula penekanan pentingnya penguatan layanan publik berbasis data dan teknologi.
Usai mengikuti apel, penulis memanfaatkan waktu di kantor
untuk meningkatkan kapasitas diri, khususnya dalam memahami lebih dalam tentang
pembelajaran mendalam atau deep learning, yang saat ini menjadi salah satu
fokus pengembangan kurikulum nasional. Sebagai bagian dari upaya memperkuat
pemahaman konsep ini, penulis mengikuti tayangan video YouTube yang menampilkan
pemaparan dari Prof. Yuli Rahmawati, Ph.D, salah seorang pakar pendidikan dan
anggota tim pengembang Pembelajaran Mendalam dari Kemendikbudristek.
Video tersebut membahas secara komprehensif bagaimana
prinsip-prinsip pembelajaran mendalam dapat diimplementasikan di kelas untuk
menghasilkan proses belajar yang bermakna dan membentuk karakter murid secara
utuh. Disampaikan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya menekankan pada
penguasaan konten akademik, tetapi juga integrasi dimensi personal, sosial, dan
transformatif dalam pembelajaran. Dalam paparannya, Prof. Yuli menekankan
pentingnya pertanyaan reflektif, proyek pembelajaran lintas disiplin, serta
pentingnya keterlibatan emosional siswa dalam proses belajar.
Sambil menyimak video, penulis juga membaca dan
mencermati kembali naskah akademik Pembelajaran Mendalam yang menjadi landasan
teoritis kebijakan ini. Beberapa poin penting yang menjadi perhatian penulis
adalah perlunya pergeseran peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi
fasilitator pengalaman belajar, serta urgensi kolaborasi antarguru dalam
menyusun modul ajar berbasis proyek.
Aktivitas ini merupakan bagian dari langkah penguatan
kapasitas diri sebagai pengawas madrasah agar mampu mendampingi para guru dalam
mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam di kelas, khususnya
dalam konteks madrasah yang tengah melakukan adaptasi kurikulum merdeka.
Penulis meyakini bahwa pemahaman konseptual yang baik
harus diikuti dengan kemampuan untuk mentransformasikannya dalam praktik
pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan karakteristik madrasah. Oleh
karena itu, kegiatan peningkatan wawasan semacam ini menjadi bagian penting
dari tugas pengawas untuk terus belajar, menyesuaikan diri dengan perkembangan
zaman, serta memberikan pembinaan yang relevan, inspiratif, dan berdampak nyata
di lapangan.
Selasa, 22 Juli 2025
Pada hari Selasa, tanggal 22 Juli 2025, penulis
melaksanakan kegiatan monitoring dan pembinaan madrasah di wilayah Kecamatan
Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari rutinitas
pembinaan yang berkelanjutan guna memastikan mutu pendidikan madrasah terus
berkembang sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Agama.
Kunjungan pertama dilakukan ke RA dan MI Ummi Aliftha
yang berlokasi di Bawan. Penulis disambut dengan hangat oleh jajaran pimpinan
lembaga, yaitu pengurus yayasan, Kepala RA Ibu Septina Suryati, S.Pd., dan
Kepala MI Ibu Rita, S.Pd. Suasana penyambutan yang ramah mencerminkan semangat
kolaboratif antara pihak madrasah dengan pengawas dalam membangun kualitas
pendidikan.


Foto kegiatan di RA-MI Ummi Aliftha Bawan
Selama di RA dan MI Ummi Aliftha, penulis melakukan
observasi langsung proses pembelajaran, termasuk suasana kelas, interaksi
antara guru dan murid, serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
Sambil melakukan peninjauan, penulis berdialog secara intensif dengan pimpinan
dan guru madrasah mengenai strategi pengembangan mutu, mulai dari perencanaan
program kerja, peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan peran lembaga
dalam menumbuhkan karakter keislaman dan literasi dasar pada peserta didik usia
dini.
Setelah kegiatan tersebut, penulis melanjutkan kunjungan
ke MTsS Bawan, yang juga berada di kawasan yang sama. Di madrasah ini, penulis
disambut oleh Kepala Madrasah, Ibu Nurnajmi, M.Pd., beserta jajaran pendidik
dan tenaga kependidikan. Kunjungan ini ditujukan untuk memperkuat pembinaan dan
memberikan motivasi dalam menyongsong tahun pelajaran baru.
Pada kesempatan tersebut, penulis mengadakan pembinaan
langsung kepada seluruh majelis guru dan tenaga kependidikan MTsS Bawan. Dalam
pembinaan ini, penulis menyampaikan pentingnya membangun kultur sekolah yang
positif dan inovatif, khususnya dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.
Penulis menekankan urgensi membangun kesadaran kolektif untuk melakukan
perbaikan berkelanjutan melalui prinsip growth mindset, kerja tim, serta
kepemimpinan pembelajaran yang transformatif. Guru didorong untuk mengembangkan
praktik pembelajaran yang berorientasi pada siswa, kolaboratif, dan
terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.



Foto kegiatan di MTsS Bawan
Selain itu, penulis juga menyampaikan pentingnya peran
pengelolaan administrasi dan dokumen madrasah, termasuk kelengkapan Kurikulum
Operasional Madrasah (KOM), pelaksanaan supervisi akademik internal, dan
pendokumentasian kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari pemenuhan standar
akreditasi dan pembuktian kinerja kelembagaan.
Antusiasme dan keterbukaan para guru dalam sesi pembinaan
menunjukkan komitmen mereka untuk terus belajar dan berinovasi. Suasana diskusi
berlangsung dinamis dan reflektif, yang memperkuat harapan bahwa MTsS Bawan
akan terus tumbuh menjadi madrasah yang unggul secara akademik dan berkarakter.
Kegiatan monitoring dan pembinaan pada hari ini berjalan
dengan baik dan penuh makna. Semoga semangat peningkatan mutu pendidikan yang
ditanamkan dalam setiap kunjungan ini dapat menginspirasi perubahan positif di
setiap satuan pendidikan madrasah binaan.
Rabu, 23 Juli 2025
Pada hari Rabu, tanggal 23 Juli 2025, penulis selaku
pengawas madrasah melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan di dua satuan
pendidikan di Kecamatan Ampek Nagari, yaitu MTsS Muhammadiyah Sitalang dan MTsN
13 Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pengawasan
akademik dan manajerial yang bertujuan untuk memastikan implementasi kurikulum
berjalan sesuai arah kebijakan serta mendorong peningkatan mutu madrasah secara
menyeluruh.
Kunjungan pertama dilakukan ke MTsS Muhammadiyah
Sitalang. Di madrasah ini, penulis hadir dalam rangka melakukan bimbingan
teknis penyusunan dokumen Kurikulum Operasional Madrasah (KOM) untuk Tahun
Pelajaran 2025/2026. Penulis disambut langsung oleh Ketua Yayasan, Kepala
Madrasah, dan Wakil Kepala Madrasah, yang bersama-sama mengikuti proses diskusi
dan revisi dokumen kurikulum. Penulis menekankan pentingnya keterpaduan antara
visi yayasan dan arah kebijakan kurikulum nasional yang berbasis pada karakter,
kebutuhan lokal, serta perkembangan zaman.
Diskusi berlangsung aktif, dengan berbagai pertanyaan dan
usulan disampaikan oleh tim pengelola madrasah. Penulis memberikan arahan agar
struktur kurikulum madrasah memuat integrasi nilai-nilai Islam, pendekatan
pembelajaran berdiferensiasi, serta penguatan karakter dan literasi numerasi.
Penulis juga menyampaikan bahwa keterlibatan seluruh pemangku kepentingan
madrasah dalam penyusunan kurikulum menjadi syarat penting agar dokumen KOM
bukan hanya formalitas administratif, tetapi benar-benar menjadi rujukan
implementasi nyata di kelas.
Dalam kunjungan ini, penulis juga memberikan motivasi dan
apresiasi khusus atas peningkatan jumlah peserta didik baru di MTsS
Muhammadiyah Sitalang yang mencapai hampir 200% dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap madrasah ini
semakin kuat. Penulis menilai bahwa hal ini merupakan hasil dari kerja keras
kolektif seluruh unsur madrasah, mulai dari guru, kepala madrasah, pengelola
yayasan hingga partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan ini perlu
dijadikan motivasi untuk terus memperbaiki layanan pendidikan dan mutu
pembelajaran.



Foto kegiatan di MTsS
Muhammadiyah Sitalang
Setelah menyelesaikan kegiatan di MTsS Muhammadiyah
Sitalang, penulis melanjutkan perjalanan menuju MTsN 13 Agam yang lokasinya
berada sejalur dan relatif dekat. Di MTsN 13 Agam, penulis disambut dengan
hangat oleh Ibu Kaur Tata Usaha, beberapa staf, serta majelis guru yang saat
itu sedang berada di madrasah. Suasana penyambutan yang ramah mencerminkan
sinergi dan semangat kerja sama yang baik antara madrasah dan pengawas.
Pada kunjungan ini, penulis melakukan pembinaan internal
kepada para guru, dengan fokus pada penguatan etos kerja dan manajemen waktu
guru. Penulis mengingatkan bahwa menjadi guru tidak cukup hanya sekadar hadir
mengajar, tetapi lebih dari itu, guru harus memiliki visi hidup yang jelas
sebagai pendidik. Dalam arahannya, penulis mengajak guru untuk menjaga batas
antara urusan rumah tangga dan tanggung jawab profesional di madrasah agar
tidak terjadi tumpang tindih yang mengganggu efektivitas kerja.
Pembinaan juga menekankan pentingnya refleksi diri secara
berkala, baik dalam aspek personal maupun profesional. Refleksi ini dibutuhkan
agar guru dapat terus berkembang, mengevaluasi kekurangan, dan memperbaiki strategi
dalam membimbing peserta didik, terutama dalam menghadapi tantangan generasi
saat ini yang penuh dinamika. Penulis mengajak para guru untuk tidak berhenti
belajar, terbuka terhadap masukan, serta aktif membangun komunitas belajar di
lingkungan madrasah.
Secara umum, seluruh rangkaian kegiatan monitoring dan
pembinaan pada hari ini berjalan lancar dan produktif. Madrasah yang dikunjungi
menunjukkan semangat untuk terus memperbaiki kualitas layanan pendidikan dan
memperkuat tata kelola kelembagaan. Diharapkan hasil dari kegiatan ini dapat
memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan madrasah, baik
dari sisi kurikulum, pengelolaan, maupun kultur pembelajaran.



Foto kegiatan di MTsN 13 Agam
Kamis, 24 Juli 2025
Pada hari Kamis, tanggal 24 Juli 2025, penulis melaksanakan
kegiatan kedinasan di kantor dalam rangka mengikuti dan menyukseskan kegiatan
webinar tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Pokjawasmad Provinsi
Sumatera Barat. Kegiatan webinar ini mengangkat tema penting dan aktual, yakni
“Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah”,
dengan narasumber utama Ibu Dr. Nur Lutfiah Herinintyas, salah seorang anggota
Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset,
dan Teknologi Republik Indonesia.
Webinar ini diikuti oleh para pengawas madrasah
se-Sumatera Barat dan berlangsung secara daring melalui media Zoom Meeting.
Penulis mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir dengan penuh
perhatian. Materi yang disampaikan sangat relevan dan inspiratif, terutama
dalam konteks transformasi pendidikan madrasah yang kini tengah didorong untuk
berfokus pada pengembangan karakter dan pembentukan profil pelajar Pancasila
yang utuh.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan secara
komprehensif konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tidak hanya
menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik peserta didik
secara utuh dan integratif. Pembelajaran mendalam menurut beliau harus
dirancang sedemikian rupa agar membentuk kesadaran diri siswa, memperkuat
keterampilan reflektif, serta mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata
secara kontekstual dan bermakna.
Selanjutnya, konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang juga
dibahas dalam sesi tersebut menggarisbawahi pentingnya membangun suasana
pembelajaran yang penuh kasih sayang, empatik, serta menjunjung tinggi
kemanusiaan peserta didik. Madrasah harus menjadi ruang yang hangat, inklusif,
dan mampu merespon kebutuhan belajar siswa dengan pendekatan yang lebih
personal dan humanistik.
Penulis mencatat bahwa tema ini sangat beririsan dengan
arah pengembangan madrasah di wilayah binaan penulis, khususnya dalam membangun
budaya pembelajaran yang holistik, bernilai, dan berorientasi pada pengembangan
karakter Islam rahmatan lil ‘alamin. Oleh karena itu, penulis berkomitmen untuk
terus mensosialisasikan pendekatan-pendekatan pembelajaran tersebut dalam
setiap sesi pembinaan dengan guru dan kepala madrasah.
Setelah kegiatan webinar berakhir, penulis melanjutkan
kegiatan di kantor dengan menyelesaikan administrasi pasca-webinar, khususnya
terkait dengan pembuatan dan distribusi e-sertifikat untuk para peserta. Proses
ini dilakukan dengan cermat agar setiap peserta memperoleh bukti partisipasi
yang sah dan sesuai data.
Pembuatan e-sertifikat ini sekaligus menjadi bagian dari
dukungan teknis terhadap kegiatan penguatan kompetensi pengawas madrasah yang
diselenggarakan secara kolektif di tingkat provinsi. Penulis menyadari bahwa
penguatan profesionalitas pengawas tidak hanya terletak pada sisi substansi
keilmuan, tetapi juga dalam kemampuan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
berbasis TIK secara efisien dan akuntabel.
Secara keseluruhan, kegiatan hari ini memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan wawasan penulis dalam menyikapi
dinamika kebijakan kurikulum nasional, sekaligus memperkuat komitmen terhadap
transformasi pembelajaran yang lebih bermakna, adaptif, dan berpusat pada
peserta didik.

Foto kegiatan webinar melalui Zoom
Jum’at, 25 Juli 2025
Pada hari ini, Jumat tanggal 25 Juli 2025, penulis
melaksanakan kegiatan dinas di kantor dengan fokus pada penyelesaian pekerjaan
administratif dan penguatan aspek keagamaan. Adapun kegiatan utama yang
dilakukan adalah tindak lanjut dari pelaksanaan webinar Pokjawasmad Provinsi
Sumatera Barat yang telah diselenggarakan pada tanggal 24 Juli 2025 dengan tema
Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah.
Penulis memusatkan kegiatan pada desain dan finalisasi
e-sertifikat peserta webinar, khususnya sertifikat utama yang diperuntukkan
untuk ditandatangani oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian
Agama Provinsi Sumatera Barat. Sertifikat ini dirancang secara profesional
dengan memperhatikan kelengkapan elemen-elemen identitas, estetika visual, dan
akurasi data peserta serta penyelenggara.
Selain itu, penulis juga melakukan tindak lanjut untuk
peserta webinar pada tanggal 18 Juli 2025 yang belum mendapatkan sertifikat
karena keterlambatan data masuk. Sertifikat tersebut berhasil disusun dan
disesuaikan dengan format umum yang telah digunakan dalam webinar sebelumnya,
agar tetap terstandar dan seragam dengan sertifikat peserta lainnya.
Disela-sela aktivitas administratif, penulis juga
memanfaatkan waktu dengan menyiapkan materi khutbah Jumat yang akan disampaikan
di salah satu masjid di wilayah binaan. Persiapan ini merupakan bagian dari
penguatan nilai-nilai spiritual dan keteladanan sosial yang menjadi bagian
integral dari tugas pengawas madrasah sebagai figur publik yang juga memiliki
tanggung jawab moral dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Penulis menyusun materi khutbah yang aktual dan relevan,
dengan tetap menjunjung tinggi prinsip dakwah yang menyejukkan, mencerahkan,
serta mampu menggerakkan kesadaran umat. Persiapan ini dilakukan melalui proses
telaah teks-teks keislaman klasik dan kontemporer, sehingga materi khutbah
memiliki kedalaman makna dan konteks yang kuat.
Keseluruhan kegiatan hari ini berjalan dengan lancar dan
produktif. Penulis menilai bahwa penyelesaian pekerjaan administratif
pasca-webinar serta persiapan khutbah Jumat merupakan bentuk tanggung jawab
profesional yang saling melengkapi antara penguatan kapasitas kelembagaan dan
penguatan nilai-nilai spiritual di masyarakat.
Sabtu, 26 Juli 2025
Pada hari Sabtu ini, tanggal 26 Juli 2025, penulis
melaksanakan kegiatan dari rumah karena kondisi kesehatan yang sedang kurang
optimal. Flu cukup berat yang dialami penulis sejak malam sebelumnya
menyebabkan fisik tidak memungkinkan untuk melaksanakan kunjungan langsung ke
madrasah. Meskipun demikian, semangat untuk tetap menjalankan tugas sebagai
pengawas madrasah tidak surut, dengan tetap melaksanakan beberapa kegiatan
penting secara daring dan melalui jalur komunikasi tidak langsung.
Salah satu kegiatan utama yang penulis lakukan adalah
komunikasi dan koordinasi kepengawasan dengan pengurus Kelompok Kepala Madrasah
Kecamatan Palembayan. Hal ini berkenaan dengan informasi yang penulis terima
bahwa telah dilaksanakan kegiatan pembinaan guru tentang Implementasi Deep
Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta pada tanggal 24 Juli 2025 di wilayah
tersebut, tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya kepada penulis selaku pengawas
pembina madrasah di wilayah Kecamatan Palembayan.
Menanggapi hal tersebut, penulis memberikan nasihat dan
pengarahan melalui pesan WhatsApp kepada pengurus Kelompok Kerja Kepala
Madrasah (K3M) setempat, dengan pendekatan yang komunikatif, membangun, dan
penuh kehangatan. Penulis menegaskan bahwa koordinasi adalah hal yang sangat
penting dalam pelaksanaan setiap kegiatan madrasah, agar pembinaan dapat
berlangsung sinergis dan akuntabel. Penulis juga menyampaikan apresiasi atas
inisiatif kegiatan yang dilakukan, namun diiringi dengan harapan agar ke depan
terjalin komunikasi yang lebih baik lagi.
Selain itu, penulis juga memanfaatkan waktu untuk
menyelesaikan pekerjaan administratif berupa pembuatan sertifikat webinar
Pokjawas Provinsi Sumatera Barat yang diselenggarakan pada tanggal 18 Juli
2025. Sertifikat ini merupakan bagian dari layanan administrasi lanjutan bagi
peserta yang belum sempat terdata sebelumnya. Penulis menyusun dan mendesain
sertifikat dengan tetap mempertahankan unsur profesionalisme, estetika, dan
validitas identitas peserta.
Kegiatan hari ini walaupun dilakukan dari rumah, tetap
berkontribusi terhadap keberlangsungan sistem kepengawasan yang adaptif.
Penulis menyadari bahwa tugas pengawas tidak selalu menuntut kehadiran fisik,
tetapi lebih pada kepekaan, konsistensi, dan komitmen untuk memastikan bahwa
setiap proses di madrasah berjalan sesuai arah kebijakan yang ditetapkan.
Senin, 28 Juli 2025
Pada hari Senin, 28 Juli 2025, penulis memulai kegiatan
dengan mengikuti apel pagi rutin di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Agam bersama seluruh ASN dan pegawai. Kegiatan apel dipimpin langsung oleh
Kepala Kantor, Bapak Thomas Pebria, yang bertindak sebagai pembina apel.
Dalam arahannya, Bapak Kepala Kantor menekankan
pentingnya disiplin kerja sebagai bentuk profesionalisme ASN, dengan kehadiran
dalam apel pagi dijadikan indikator awal dalam pembentukan budaya kerja
disiplin. Selain itu, beliau juga menyampaikan pesan penting mengenai tanggung
jawab ASN terhadap jabatan, termasuk kesiapan untuk menghadapi rotasi atau
pergeseran jabatan yang merupakan bagian dari dinamika birokrasi. Menurut
beliau, ASN tidak boleh terlena dalam zona nyaman, karena setiap jabatan adalah
amanah yang harus diterima dengan kesiapan dan keikhlasan.


Foto kegiatan apel pagi di halaman kantor
Setelah apel pagi, penulis memiliki agenda untuk
melaksanakan monitoring pelaksanaan gladi bersih ANBK
(Asesmen Nasional Berbasis Komputer) tingkat Madrasah Aliyah di sejumlah
madrasah yang telah dijadwalkan, yakni MAN 4 Agam, MA MTI Bayur, MAN 1 Agam,
dan MAS Hamka. Namun demikian, pada pukul 09.00 WIB penulis telah memiliki
agenda mendesak berupa pertemuan dengan Direktur PDAM Tirta Antokan, guna
membicarakan persoalan teknis terkait aliran air yang masuk ke lingkungan
yayasan pendidikan tempat penulis turut aktif dalam pembinaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan monitoring gladi bersih ANBK secara langsung ditunda. Namun sebagai bentuk
tanggung jawab pengawasan terhadap pelaksanaan gladi
bersih ANBK, penulis tetap melakukan koordinasi aktif melalui
komunikasi telepon langsung kepada kepala-kepala madrasah yang menjadi target
monitoring. Dari hasil komunikasi tersebut, diperoleh informasi bahwa seluruh
madrasah yang dijadwalkan melaksanakan gladi bersih ANBK
pada hari ini dapat melaksanakannya dengan lancar dan tanpa kendala teknis yang
berarti. Hal ini menunjukkan kesiapan teknis dan manajerial masing-masing
satuan pendidikan dalam menyelenggarakan asesmen nasional secara digital.


Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAN 4 Agam



Foto kegiatan gladi bersih


Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAS MTI Bayur


Foto kegiatan gladi bersih ANBK di MAS Prof. Dr. Hamka
Maninjau
Selanjutnya, penulis juga melanjutkan kegiatan
kepengawasan dalam bentuk validasi dokumen kurikulum Madrasah Tsanawiyah Swasta
Muhammadiyah Kampuang Tangah. Proses validasi dilakukan secara teliti dengan
memeriksa kesesuaian struktur kurikulum dengan KMA 347 Tahun 2022, integrasi
muatan lokal serta penyesuaian terhadap pendekatan pembelajaran terkini,
termasuk pembelajaran mendalam dan penguatan pendidikan karakter berbasis
nilai-nilai keislaman.
Dengan demikian, meskipun terdapat penyesuaian agenda
karena situasi yang tak terhindarkan, seluruh kegiatan pengawasan yang
direncanakan tetap dapat dilaksanakan secara adaptif dan bertanggung jawab.
Komunikasi yang efektif serta pemanfaatan media teknologi menjadi solusi dalam
menjaga kesinambungan pembinaan madrasah secara berkelanjutan.
Selasa, 29 Juli 2025
Pada hari Selasa, tanggal 29 Juli 2025, penulis
menjalankan kegiatan kepengawasan dari kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam,
dengan fokus utama pada proses administrasi kurikulum serta persiapan materi
pembinaan guru.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah validasi dan
pengesahan dokumen kurikulum dari dua satuan pendidikan, yaitu MIN 6 Agam dan
MTsS–MAS MTI Bayur. Proses validasi dilakukan secara cermat dan sistematis,
meliputi pemeriksaan kelengkapan struktur kurikulum, keterpaduan antar
komponen, pemenuhan standar isi sesuai dengan KMA 183 dan KMA 347, serta kejelasan
arah pembelajaran yang memuat integrasi nilai-nilai karakter dan potensi lokal.
Selain itu, perhatian khusus juga diberikan terhadap strategi penguatan
kurikulum melalui pendekatan deep learning, pembelajaran berdiferensiasi, dan
integrasi teknologi dalam pembelajaran sesuai arah kebijakan transformasi
pendidikan nasional dan madrasah.
Setelah proses validasi dan pengesahan kurikulum selesai,
penulis melanjutkan kegiatan dengan menyusun materi pembinaan guru Bahasa Arab
yang akan disampaikan dalam acara pembukaan MGMP Bahasa Arab se-Kabupaten Agam,
yang direncanakan akan berlangsung pada Senin, 4 Agustus 2025. Materi yang
sedang dipersiapkan berfokus pada Kurikulum Berbasis Cinta, yang merupakan
pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang, keteladanan, dan relasi positif
dalam proses belajar mengajar. Materi tersebut juga mengaitkan konsep kurikulum
cinta dengan pengembangan kompetensi guru Bahasa Arab dalam membangun suasana
pembelajaran yang komunikatif, bermakna, serta mendorong motivasi intrinsik
peserta didik.
Dalam menyusun materi tersebut, penulis juga mengadaptasi
pendekatan humanistik, transformatif, dan kontekstual, agar mudah diterima dan
diaplikasikan oleh para guru, terutama dalam membumikan semangat pembelajaran
Bahasa Arab yang tidak hanya sebatas penguasaan linguistik, tetapi juga sarat
dengan nilai-nilai spiritual dan peradaban Islam.
Seluruh rangkaian kegiatan pada hari ini menunjukkan
bahwa meskipun tidak melakukan kunjungan langsung ke madrasah, kegiatan
kepengawasan substansial tetap berjalan dengan baik melalui penjaminan mutu
dokumen kurikulum dan dukungan terhadap pengembangan profesional guru.

Foto validasi kurikulum MIN 6 Agam bersama kepala madrasah,
Bapak Koesnindarto
Pada siang harinya, pukul 13.00 WIB, penulis mengikuti
kegiatan webinar nasional yang diselenggarakan oleh Pokjawasmad Nasional,
dengan tema yang sangat kontekstual dan penting, yaitu "Konsep dan
Implementasi Ekoteologi dalam Pendidikan Madrasah". Kegiatan ini merupakan
bagian dari rangkaian penguatan kapasitas pengawas madrasah secara nasional,
terutama dalam merespons isu-isu strategis global melalui lensa keislaman dan
keilmuan yang aplikatif.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten dan
berpengaruh dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer. Narasumber
pertama adalah Prof. Dr. Hj. Nur Afiyah Febriani, M.A., seorang akademisi dan
pemikir pendidikan Islam yang banyak meneliti isu-isu ekologis dalam perspektif
Al-Qur'an dan nilai-nilai transendental. Narasumber kedua adalah Dr. Irfan
Amali, M.Pd., seorang pendidik dan praktisi kurikulum yang mengkhususkan diri
pada integrasi nilai-nilai ekologis dalam pembelajaran di madrasah dan sekolah
Islam.
Dalam pemaparannya, kedua narasumber menjelaskan bahwa
ekoteologi merupakan sebuah pendekatan teologis-kosmologis yang bertujuan
menumbuhkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai ilahiyah. Pendidikan
berbasis ekoteologi mendorong peserta didik dan pendidik untuk memahami alam
sebagai ciptaan Allah yang memiliki nilai spiritual dan harus dijaga
keseimbangannya sebagai amanah. Dalam konteks madrasah, pendekatan ini dapat
diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran, pembiasaan adiwiyata madrasah,
pengelolaan lingkungan, serta penguatan karakter religius dan tanggung jawab
sosial.
Para peserta webinar juga diajak untuk merefleksikan
relasi manusia dengan lingkungan dalam kerangka tauhid, dimana kerusakan alam
dianggap sebagai bentuk ketidakadilan ekologis yang ditolak oleh nilai-nilai
Islam. Dalam konteks pendidikan, hal ini menuntut adanya pengembangan kurikulum
yang menyatu antara iman, ilmu, dan amal, serta menekankan sikap peduli
lingkungan dalam keseharian warga madrasah.
Sebagai pengawas madrasah, penulis memandang bahwa konsep
ekoteologi dalam pendidikan madrasah adalah sebuah terobosan penting yang patut
mendapatkan perhatian dalam pengembangan kebijakan, supervisi kurikulum, serta
pembinaan kepala madrasah dan guru. Nilai-nilai ini dapat memperkaya pendekatan
Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Berbasis Cinta yang telah dikembangkan, karena
menempatkan aspek kasih sayang terhadap alam sebagai bagian dari ekspresi
keimanan dan akhlak mulia.
Kegiatan webinar ini juga menjadi ruang diskusi yang
hidup, ditandai dengan adanya sesi tanya-jawab yang menggali implementasi nyata
di madrasah, termasuk contoh praktik baik dalam pengelolaan lingkungan
madrasah, pembuatan kurikulum ekopedagogik, dan revitalisasi kegiatan kokurikuler
serta ekstrakurikuler berbasis kepedulian lingkungan.
Dengan mengikuti webinar ini, penulis merasa mendapatkan
perspektif baru dan inspiratif yang sangat relevan untuk diterapkan dalam
pembinaan madrasah binaan, serta memperkuat narasi pengembangan madrasah yang
holistik, spiritual, ekologis, dan berwawasan masa depan.

Foto kegiatan Zoom Meeting
Rabu, 30 Juli 2025
Pada hari ini, Rabu tanggal 30 Juli 2025, penulis
melaksanakan kegiatan dari kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam dalam rangka
pelaksanaan tugas rutin sebagai pengawas madrasah tingkat Madrasah Aliyah dan
RA-MI di lingkungan Kabupaten Agam.
Fokus kegiatan pada hari ini terbagi ke dalam dua agenda
utama. Pertama, penulis mempersiapkan bahan materi yang akan disampaikan dalam
acara pertemuan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Agam, yang
dijadwalkan akan berlangsung pada hari Kamis, 31 Juli 2025 mendatang. Kegiatan
ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas guru RA dalam menyongsong
pembelajaran yang lebih bermakna dan penuh cinta bagi anak usia dini.
Dalam mempersiapkan materi tersebut, penulis menyusun
pokok-pokok pemikiran yang mencakup:
-
Urgensi
penguatan karakter spiritual dan sosial dalam pembelajaran RA,
-
Pendekatan
Kurikulum Berbasis Cinta sebagai dasar pedagogik pada pendidikan anak usia
dini, serta
-
Pentingnya
inovasi pembelajaran berbasis nilai dan kasih sayang yang dikemas dalam suasana
bermain, menyenangkan, dan memerdekakan potensi anak.
Penulis juga menyesuaikan materi dengan konteks terkini
serta kebutuhan lapangan yang dihadapi guru-guru RA, agar lebih aplikatif dan
membumi. Persiapan materi ini dilengkapi dengan contoh-contoh praktik baik dari
RA binaan serta ilustrasi konkret dalam bentuk tayangan atau gambar, untuk
membantu guru lebih mudah memahami dan mengimplementasikan di lapangan.
Kedua, penulis juga melaksanakan validasi dokumen
kurikulum MTsS Adat dan Syara’ Matur, sebuah madrasah yang mengusung pendekatan
kultural-religius dalam sistem pendidikannya. Proses validasi dilakukan secara
teliti, mencakup pengecekan terhadap struktur kurikulum, kesesuaian kalender
pendidikan, program tahunan dan semester, program supervisi pembelajaran, serta
perangkat pendukung lainnya.
Dalam proses validasi ini, penulis memberikan
catatan-catatan perbaikan dan penguatan terutama pada aspek integrasi
nilai-nilai lokal "Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah" ke
dalam pembelajaran, agar lebih hidup dan tidak hanya menjadi slogan. Penulis
juga menyarankan adanya penambahan muatan lokal dalam bentuk kegiatan
kokurikuler yang menumbuhkan rasa cinta terhadap kearifan lokal serta
menjembatani antara agama dan budaya dalam konteks pendidikan madrasah.
Dengan selesainya kedua agenda tersebut, penulis berharap
hasil pekerjaan hari ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan
kualitas pendidikan madrasah, baik pada jenjang RA maupun MTs. Persiapan materi
untuk IGRA juga menjadi bentuk nyata keterlibatan pengawas madrasah dalam
mendukung pengembangan profesionalisme guru pada pendidikan anak usia dini
sebagai pondasi utama pembangunan karakter generasi madani di Kabupaten Agam.

Foto validasi kurikulum MTsS Adat dan Syara’ Matur
Kamis, 31 Juli 2025
Pada hari ini, Kamis tanggal 31 Juli 2025, saya
melaksanakan tiga kegiatan
penting dalam rangka pelaksanaan tugas sebagai Pengawas Madrasah di wilayah
Kabupaten Agam. Kegiatan pertama adalah validasi kurikulum MTsS Bawan, kegiatan kedua adalah menghadiri rapat koordinasi yang
diselenggarakan oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Agam. Sedangkan kegiatan ketiga adalah validasi kurikulum MTsS Gumarang.
Di pagi hari, saya dijadwalkan untuk melakukan kegiatan
validasi dokumen kurikulum MTsS Bawan. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kepala
Madrasah, Ibu Nur Najmi, M.Pd. Proses validasi mencakup telaah menyeluruh
terhadap struktur kurikulum, pemetaan kompetensi inti dan kompetensi dasar,
integrasi nilai-nilai moderasi beragama, serta penyesuaian terhadap kebijakan
terbaru dari Kementerian Agama, khususnya KMA Nomor 450 Tahun 2024. Kami juga
melakukan diskusi mendalam terkait penguatan muatan lokal, pengembangan
karakter, dan penyisipan nilai-nilai kearifan lokal dalam kegiatan pembelajaran
dan kokurikuler. Beberapa catatan dan saran revisi telah disepakati untuk
penyempurnaan dokumen. Kepala madrasah menyambut baik setiap masukan dan
menyatakan komitmennya untuk segera menyempurnakan dokumen agar dapat disahkan
secara resmi dalam waktu dekat.

Foto kegiatan validasi kurikulum MTsS Bawan
Selepas kegiatan tersebut, pada siang harinya saya
menghadiri undangan rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh IGRA Kabupaten
Agam. Acara ini dihadiri oleh para kepala RA se-Kabupaten Agam dan berlangsung
dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Saya hadir bersama rekan sesama
pengawas, Bapak Afrilen, M.Pd. Kehadiran kami bertujuan memberikan dukungan
moral dan penguatan kepada para kepala RA sebagai garda terdepan pendidikan
anak usia dini berbasis keagamaan.
Dalam sesi pengarahan, saya menyampaikan pentingnya
menanamkan nilai keikhlasan dalam setiap langkah pengabdian sebagai guru RA.
Tidak dapat dipungkiri, banyak tantangan dan keterbatasan yang dihadapi dalam
mengelola RA, mulai dari sumber daya yang terbatas, sarana yang belum memadai,
hingga dinamika masyarakat yang berubah-ubah. Namun, saya tegaskan bahwa ikhlas
adalah fondasi utama yang menenangkan hati. Jika hati tenang, maka jalan keluar
akan lebih mudah ditemukan. Keikhlasan dalam mendidik bukan sekadar sikap spiritual,
melainkan energi batin yang akan memudahkan langkah dan menyinari perjalanan
mendidik generasi masa depan.
Selain itu, saya juga mengajak para kepala RA untuk tidak
pernah berhenti belajar. Tantangan guru di era sekarang semakin kompleks,
terlebih pada jenjang usia dini yang memerlukan pendekatan multidisipliner:
spiritual, psikologis, pedagogis, dan sosial. Saya sampaikan bahwa Allah telah
menjanjikan dalam Surah Al-Insyirah bahwa "sesungguhnya bersama kesulitan
itu ada kemudahan." Kuncinya adalah pada keyakinan, kesabaran, dan kemauan
untuk terus belajar. Guru RA harus mampu menjadi pembelajar sejati agar dapat
terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri
sebagai pendidik yang mendidik dengan cinta dan nilai-nilai keagamaan.
Antusiasme peserta dalam rapat koordinasi ini sangat
tinggi. Banyak kepala RA yang secara aktif berbagi pengalaman, menyampaikan
tantangan yang mereka hadapi di lapangan, sekaligus menggambarkan semangat
untuk terus maju meski dalam keterbatasan. Saya melihat bahwa forum seperti ini
sangat strategis untuk memperkuat sinergi dan solidaritas antar RA. IGRA
memiliki potensi besar menjadi ruang kolaboratif yang menguatkan
profesionalisme guru RA sekaligus menjadi ruang spiritualitas kolektif yang
mengakar.


Foto kegiatan bersama IGRA Kabupaten Agam
Selesai menghadiri rapat IGRA, saya melanjutkan kegiatan
dengan validasi kurikulum MTsS Gumarang. Dalam kegiatan ini,
saya melakukan telaah dokumen kurikulum secara rinci untuk memastikan
kesesuaian dengan ketentuan yang berlaku, mengidentifikasi potensi pengembangan
pembelajaran berbasis projek, dan memberikan masukan terkait penguatan profil
Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin. Pihak madrasah menyambut
baik arahan yang diberikan dan berkomitmen untuk melakukan penyempurnaan agar
kurikulum dapat disahkan tepat waktu.

Foto kegiatan validasi kurikulum MTsS Gumarang
Melalui kegiatan hari ini, saya mendapatkan kesan bahwa
proses validasi kurikulum dan pembinaan guru tidak hanya soal kelengkapan
administratif, tetapi lebih dari itu adalah proses pembentukan visi, karakter, dan
semangat pengabdian. Setiap dokumen kurikulum yang divalidasi seharusnya
mencerminkan semangat pembelajaran yang manusiawi, kontekstual, dan berbasis
nilai. Demikian pula, setiap sesi pembinaan guru, sekecil apapun, harus menjadi
wahana menyalakan api semangat dan menyiram jiwa dengan nilai keikhlasan dan
kesungguhan.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan hari ini, saya akan:
- Mendampingi
MTsS Bawan dan MTsS Gumarang dalam proses
finalisasi revisi dokumen kurikulum hingga dapat disahkan secara resmi.
- Menyusun
dan mempersiapkan materi lanjutan untuk kegiatan pembinaan RA, termasuk
menyusun modul pembelajaran anak usia dini berbasis Kurikulum Cinta dan
pendekatan spiritual-humanistik.
- Menguatkan
sinergi dengan IGRA sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem
pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan bermartabat.
Semoga setiap langkah yang dilakukan hari ini menjadi
bagian dari kontribusi nyata dalam perbaikan mutu pendidikan madrasah di
Kabupaten Agam, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar