Rabu, 01 Oktober 2025
Hari ini bangsa kita
memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Seperti ASN lainnya, saya turut hadir mengikuti upacara bendera di lapangan kantor bupati. Suasana khidmat terasa
ketika para peserta upacara berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi,
mengingatkan kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Momen ini selalu menjadi pengingat bahwa tugas kami
sebagai abdi negara tidak hanya melaksanakan rutinitas pekerjaan, tetapi juga menjaga
dan menegakkan nilai persatuan, keadilan, dan kebersamaan.
Selesai upacara, saya
bersiap untuk memenuhi janji berkunjung ke MTsS
Ampek Koto Palembayan yang sedang bersiap menghadapi akreditasi. Niatnya
saya berangkat lebih cepat, namun ada halangan yang membuat saya baru bisa
meluncur sekitar pukul 10.00 WIB. Perjalanan ke Palembayan bukanlah jarak yang
dekat, memakan waktu sekitar dua jam. Saat sampai di kawasan Bawan, saya sempat
berpikir apakah akan melanjutkan perjalanan. Saya pun berhenti sejenak dan
berkomunikasi dengan Kepala Madrasah, Ibu
Yona. Dari pembicaraan itu, saya mendapat informasi bahwa guru-guru tidak
bisa menunggu lama karena mereka juga mengajar di tempat lain. Akhirnya, konsultasi akreditasi dilakukan melalui
telepon saja, agar tetap efisien tanpa mengganggu aktivitas guru.
Sebagai alternatif
kegiatan lapangan, saya memutar arah menuju RA dan MI Ummi Aliftha Bawan. Di sana, saya berdiskusi dengan
Kepala Madrasah, Ibu Septi, mengenai
perkembangan pembelajaran, jumlah murid, serta rencana pengembangan madrasah ke
depan. Saya turut menyampaikan gagasan sederhana namun relevan: memanfaatkan media sosial seperti TikTok sebagai
peluang tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Dengan konten yang
positif dan edukatif, platform ini dapat menjadi media dakwah, promosi
madrasah, sekaligus sumber penghasilan tambahan.
Hari ini memberi
pelajaran berharga: kadang rencana tidak berjalan seperti yang diinginkan,
tetapi selalu ada jalan lain yang bisa dimanfaatkan untuk memberi makna dan
manfaat. Sebab sejatinya, keberadaan seorang pengawas bukan sekadar hadir di
tempat, tetapi bagaimana mampu memberi dukungan, inspirasi, dan solusi di
setiap kesempatan.
Foto bersama sebelum upacara bendera dan kunjugan ke RA dan MI
Ummi Aliftha Bawan
Kamis, 02 Oktober 2025
Hari ini saya memenuhi
undangan dari Kasi Penmad Kemenag Agam untuk menghadiri kegiatan Olimpiade
Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Sumatera Barat yang dilaksanakan di
MTI Candung. Suasana kegiatan sangat semarak, para peserta tampak bersemangat
menampilkan kemampuan terbaiknya, sementara para guru pendamping memberi
dukungan penuh. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan monitoring
sekaligus memberikan motivasi, agar kompetisi ini tidak hanya sekadar ajang lomba,
tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk melatih percaya diri,
mengasah nalar kritis, serta memperkuat identitas sebagai pelajar madrasah yang
unggul.
Usai kegiatan OMI, saya
menyempatkan diri untuk singgah ke MTsS Khazinatul Asrar. Madrasah ini sedang
bersiap menghadapi visitasi akreditasi. Walaupun bukan termasuk madrasah binaan
saya secara langsung—karena berada dalam binaan rekan pengawas, Bapak
Afrilen—saya merasa terpanggil untuk ikut memberikan dukungan. Kehadiran saya
disambut hangat oleh kepala madrasah dan guru-guru. Kami berdiskusi mengenai
dokumen akreditasi, kesiapan sarana prasarana, serta strategi menghadapi asesor
nantinya.
Mendampingi madrasah
dalam persiapan akreditasi selalu menghadirkan kebanggaan tersendiri. Saya
melihat wajah-wajah penuh optimisme dari guru dan tenaga kependidikan,
seakan-akan mereka yakin bahwa jerih payah selama ini akan membuahkan hasil
terbaik. Dukungan kecil dari seorang pengawas, meski hanya berupa masukan
teknis dan dorongan moral, bisa menjadi energi besar bagi madrasah. Hari ini
kembali menegaskan bagi saya bahwa tugas pengawas tidak sekadar membina
binaannya sendiri, tetapi juga saling menopang di antara rekan seprofesi demi
tercapainya mutu pendidikan madrasah secara menyeluruh.
Foto kegiatan OMI Tingkat Propinsi Sumatera Barat di MTI Candung
Foto pendampingan persiapan akreditasi di MTsS Khazinatul Asrar
Ampek Angkek
Jum’at, 03 Oktober 2025
Pagi ini saya memulai
kegiatan dengan melakukan pendampingan persiapan visitasi akreditasi di MIS Hayatul
Mubarak Lubuk Basung, yang merupakan madrasah binaan rekan pengawas lainnya
yaitu Bapak Afrilen yang berhalangan hadir dan telah dikomunikasikan
sebelumnya. Dalam sesi bersama kepala madrasah dan guru-guru, saya tidak hanya
menekankan aspek teknis terkait dokumen, instrumen, dan tata cara visitasi,
tetapi juga memberikan motivasi agar mereka menjalani proses ini dengan hati
yang lapang. Saya sampaikan bahwa akreditasi jangan pernah dipandang sebagai
vonis atau penghakiman, melainkan sebagai sebuah check up kesehatan bagi
madrasah. Dengan akreditasi, kita bisa mengetahui apakah madrasah benar-benar
sehat atau masih ada bagian yang perlu diobati dan diperbaiki. Cara pandang
seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat guru untuk menjadikan akreditasi
sebagai momentum perbaikan berkelanjutan.
Menjelang siang, saya
mendapatkan amanah untuk menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Ruhama Ampu,
Lubuk Basung. Dalam khutbah, saya mengingatkan jamaah tentang pentingnya
menjaga hati dari rasa sombong dan bangga dengan dosa, karena hal itu dapat
merusak mental dan spiritual kita. Kehadiran di mimbar Jum’at selalu menjadi
kesempatan berharga untuk berbagi pencerahan, tidak hanya bagi orang lain
tetapi juga sebagai pengingat diri.
Usai ibadah Jum’at, saya
menghadiri undangan kenduri doa bersama masyarakat setempat, sebuah tradisi
yang penuh makna kebersamaan dan kekhidmatan. Setelah itu, saya kembali ke
kantor untuk melanjutkan berbagai pekerjaan administratif. Hari ini memberi pelajaran
penting: keseimbangan antara mendampingi madrasah, mengisi ruang spiritual
masyarakat, dan melaksanakan tugas administrasi adalah wujud nyata dari peran
pengawas yang tidak hanya bekerja pada ranah teknis, tetapi juga hadir memberi
inspirasi.
Foto pendampingan persiapan visitasi akreditasi di MIS Hayatul
Mubarak Lubuk Basung
Senin, 06 Oktober 2025
Pagi ini saya memulai kegiatan
dengan mengikuti apel pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam.
Seperti biasa, suasana apel penuh semangat dan kekompakan. Momen apel tidak
hanya menjadi rutinitas kedisiplinan, tetapi juga menjadi ruang refleksi
tentang pentingnya memulai pekerjaan dengan niat tulus dan penuh tanggung
jawab.
Usai apel, saya menerima kunjungan
Wakil Kepala MTsS Ampek Koto Palembayan yang datang untuk meminta pengesahan
dokumen kurikulum madrasah. Dalam pertemuan itu, saya menanyakan sejauh mana
kesiapan madrasah menghadapi visitasi akreditasi yang dijadwalkan pada tanggal
10–11 Oktober 2025 mendatang. Dari dialog yang berlangsung hangat dan terbuka,
saya melihat kesungguhan tim madrasah dalam menyiapkan instrumen dan eviden,
meskipun tetap ada beberapa hal yang perlu disempurnakan. Saya berpesan agar
seluruh tim bekerja dengan semangat kebersamaan, bukan karena ingin mendapatkan
nilai tinggi, tetapi karena ingin menghadirkan pelayanan pendidikan terbaik
bagi peserta didik.
Menjelang siang, saya mengikuti
rapat daring pengurus Pokjawas Provinsi Sumatera Barat, membahas topik penting
mengenai supervisi pembelajaran dan penilaian kinerja kepala madrasah (PKKM).
Rapat ini memberikan banyak pencerahan. Dari paparan Kabid Penmad Kanwil
Kemenag Sumbar, disampaikan bahwa masih ditemukan banyak kepala madrasah yang
belum melaksanakan supervisi pembelajaran sebagaimana mestinya, padahal ini merupakan
salah satu tugas pokok mereka. Karena itu, para pengawas diharapkan lebih aktif
mengawal proses supervisi di madrasah masing-masing agar kegiatan pembelajaran
benar-benar terpantau dan dapat dievaluasi dengan objektif.
Selain itu, dibahas pula rencana
peningkatan kualitas pelaksanaan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM)
sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat mutu pendidikan
madrasah. Saya mencatat beberapa poin penting yang akan saya tindak lanjuti di
lapangan, terutama tentang bagaimana supervisi bisa diarahkan tidak hanya untuk
menilai, tetapi juga untuk membimbing dan memotivasi guru serta kepala madrasah
dalam berinovasi.
Hari ini memberikan kesan mendalam
bahwa pengawasan bukan hanya tugas administratif, tetapi merupakan upaya
berkelanjutan untuk memastikan roda pendidikan madrasah berjalan dengan arah
yang benar—didorong oleh cinta, profesionalitas, dan keinginan kuat untuk terus
memperbaiki diri.
Selasa, 07 Oktober 2025
Hari ini saya menjalankan tugas
kepengawasan dengan mendampingi kegiatan visitasi akreditasi madrasah di MIS
Plus Hayatul Mubarak Lubuk Basung, yang merupakan hari pertama dari rangkaian
visitasi oleh tim asesor BAN-PDM Provinsi Sumatera Barat. Sejak pagi, suasana
madrasah tampak hidup dan penuh semangat. Guru-guru bersiap dengan dokumen
eviden, sementara siswa-siswi tampak antusias menyambut tamu penting yang
datang menilai kualitas lembaga tempat mereka menimba ilmu.
Dua orang asesor yang hadir, Bapak
Adri Nofrianto, M.Pd., M.Sc. dan Ibu Ferlina, S.Pd., disambut secara resmi
dalam acara pembukaan yang juga dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Agam, Dr. H. Thomas Febria, S.Ag., M.A.. Dalam sambutannya, beliau
menekankan bahwa akreditasi bukanlah ajang mencari nilai, tetapi momentum untuk
mengukur sejauh mana madrasah telah berkembang dan bagaimana semangat seluruh
warga madrasah untuk terus memperbaiki diri.
Usai acara pembukaan, saya
mendampingi Bapak Kakankemenag melakukan monitoring ke beberapa RA di sekitar
Lubuk Basung, yaitu RA Al Mubarak, RA Perwanida, dan RA Nurul Walad. Kunjungan
ini menjadi bagian dari perhatian Kemenag terhadap pendidikan anak usia dini di
bawah binaan madrasah, sebab pembentukan karakter dan spiritualitas anak
dimulai dari usia dini. Dalam setiap kunjungan, kami berdialog hangat dengan
kepala RA dan guru-guru tentang tantangan yang mereka hadapi serta upaya untuk
meningkatkan mutu layanan pendidikan di lembaga masing-masing.
Menjelang siang, saya kembali ke MIS
Plus Hayatul Mubarak untuk mendampingi proses visitasi yang berlangsung hingga
sore hari. Tahapan kegiatan berjalan sesuai agenda: observasi kelas oleh
asesor, wawancara dengan wali murid, guru, dan kepala madrasah, serta telaah
dokumen mutu. Saya menyaksikan sendiri bagaimana guru-guru berusaha menampilkan
praktik terbaik dalam pembelajaran, sementara kepala madrasah dengan penuh
keyakinan menjelaskan visi dan program kerja madrasah.
Dari proses yang saya amati,
akreditasi ini tidak hanya menjadi alat ukur administratif, tetapi juga
momentum refleksi bagi seluruh warga madrasah. Saya melihat semangat belajar,
kebersamaan, dan optimisme yang kuat dari seluruh unsur madrasah. Hari ini
kembali menegaskan keyakinan saya bahwa pengawas tidak hanya berperan sebagai
pengontrol kebijakan, tetapi juga sebagai pendamping, penyemangat, dan jembatan
perubahan menuju madrasah yang lebih unggul dan berdaya saing.
Rabu, 08 Oktober 2025
Hari ini saya kembali menjalankan
tugas pendampingan visitasi akreditasi di MIS Plus Hayatul Mubarak Lubuk
Basung, yang memasuki hari kedua sekaligus hari terakhir kegiatan asesor dari
BAN-PDM. Sejak pagi, suasana madrasah sudah terasa hangat dan penuh keseriusan.
Para guru tampak menyiapkan dokumen pelengkap yang belum sempat diverifikasi
pada hari sebelumnya. Kepala madrasah bersama tim akreditasi internal juga
berkoordinasi memastikan seluruh aspek yang dinilai siap ditinjau.
Agenda visitasi hari ini difokuskan
pada wawancara mendalam dengan berbagai unsur madrasah. Dua asesor, Bapak Adri
Nofrianto dan Ibu Ferlina, melakukan sesi dialog yang penuh makna dengan kepala
madrasah, guru, siswa, komite, dan pihak yayasan. Dari setiap sesi wawancara,
tergambar dengan jelas bagaimana semangat kebersamaan dan rasa memiliki
terhadap madrasah begitu kuat. Para guru dengan jujur menyampaikan dinamika
pembelajaran sehari-hari, siswa berbagi pengalaman tentang kenyamanan belajar
di madrasah, sementara pihak komite dan yayasan memberikan dukungan moral serta
komitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan madrasah.
Selain wawancara, kegiatan juga
mencakup telaah dokumen akreditasi, mencermati berbagai eviden yang menunjukkan
capaian mutu dalam delapan standar pendidikan. Saya melihat bagaimana para guru
berusaha menjelaskan dengan rinci setiap eviden yang mereka susun, bukan
sekadar memenuhi indikator, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab profesional
terhadap mutu pendidikan yang mereka jalankan.
Menjelang sore, kegiatan visitasi
ditutup dengan sesi refleksi dari para asesor. Dalam penyampaian mereka, para
asesor memberikan apresiasi atas kekompakan tim madrasah dan menekankan
pentingnya guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memperkuat
profesionalitas dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Akreditasi bukan
sekadar penilaian administratif, tetapi proses pembelajaran kolektif yang
menumbuhkan budaya mutu di lingkungan madrasah.
Atas permintaan pihak madrasah dan
asesor, saya berkesempatan untuk menutup kegiatan secara resmi. Dalam sambutan
penutupan, saya menyampaikan rasa syukur atas semangat seluruh warga madrasah
serta menegaskan bahwa hasil akreditasi hanyalah konsekuensi, sementara
semangat memperbaiki diri harus menjadi budaya yang berkelanjutan. Saya juga
berpesan agar pasca-visitasi, madrasah segera menindaklanjuti saran asesor
dengan aksi nyata dalam perbaikan manajemen dan pembelajaran.
Usai acara penutupan, saya kembali
ke kantor menjelang sore untuk menyusun laporan kegiatan pendampingan
akreditasi. Sambil menuliskan laporan tersebut, saya merefleksikan betapa
akreditasi sejatinya adalah cermin perjalanan madrasah, bukan tentang nilai
semata, tetapi tentang tekad untuk tumbuh, berbenah, dan melangkah menuju
madrasah yang unggul dalam mutu dan karakter.
Kamis, 09 Oktober 2025
Hari ini saya mengikuti Zoom Meeting
Sosialisasi Keputusan Dirjen Pendis Nomor 3601 Tahun 2024 tentang Petunjuk
Teknis Komite Madrasah, yang diselenggarakan oleh Subdit KSKK Madrasah Kemenag
RI untuk wilayah zona bagian barat. Kegiatan ini berlangsung secara
hybrid—offline di Palembang dan online melalui Zoom—dan saya hadir sebagai
perwakilan Pokjawas Provinsi Sumatera Barat.
Acara dimulai dengan sambutan dari
Direktorat KSKK Madrasah, yang menegaskan bahwa komite madrasah bukan sekadar
lembaga formal pendamping kepala madrasah, tetapi merupakan mitra strategis
dalam membangun tata kelola madrasah yang partisipatif, transparan, dan
akuntabel. Regulasi baru ini memberikan arah pembenahan agar peran komite tidak
lagi hanya bersifat administratif, tetapi turut memperkuat fungsi pengawasan
dan pemberdayaan masyarakat.
Sesi materi disampaikan oleh narasumber
dari Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Selatan serta perwakilan dari Subdit KSKK
Madrasah. Narasumber Ombudsman menyoroti pentingnya akuntabilitas publik dan
pencegahan maladministrasi dalam pengelolaan dana partisipasi masyarakat,
sementara narasumber KSKK menjelaskan aspek teknis penerapan juknis baru,
termasuk pembentukan, peran, dan mekanisme kerja komite madrasah yang sesuai
prinsip good governance.
Sebagai pengawas madrasah, saya
mencermati betul penekanan pentingnya kemitraan berbasis kepercayaan dan
transparansi antara kepala madrasah, guru, dan komite. Rasa cinta terhadap
madrasah harus menjadi fondasi kerja sama, bukan sekadar formalitas
administratif. Saya menilai sosialisasi ini sangat relevan dengan realitas di
lapangan, di mana pengawas perlu memastikan komite berfungsi aktif dan menjadi
bagian dari ekosistem pendidikan yang sehat.
Di sela-sela waktu istirahat
kegiatan Zoom tersebut, saya juga melakukan komunikasi melalui panggilan video
WhatsApp dengan kepala dan guru MTsS Ampek Koto Palembayan. Tujuan saya adalah
memastikan kesiapan madrasah dalam menghadapi visitasi akreditasi yang
dijadwalkan esok hari. Saya sengaja menggunakan video call agar bisa melihat
langsung kondisi madrasah dan kesiapan dokumen yang telah mereka siapkan.
Meskipun tidak dapat hadir langsung
ke lokasi karena jarak tempuh yang mencapai dua jam perjalanan, komunikasi
visual ini membantu saya memastikan semua berjalan sesuai rencana. Saya
memberikan beberapa masukan teknis terakhir serta motivasi agar mereka menghadapi
proses akreditasi dengan tenang dan penuh keyakinan. Akreditasi bukan sekadar
penilaian, tetapi momentum belajar bersama untuk memperbaiki mutu pendidikan
madrasah.
Hari ini saya menutup aktivitas
dengan rasa syukur. Di tengah padatnya agenda nasional dan koordinasi lokal,
saya menyadari bahwa esensi dari pengawasan bukan hanya kehadiran fisik, tetapi
kehadiran makna dan kepedulian. Pengawas sejati adalah mereka yang mampu hadir
dengan perhatian dan arahan, meski jarak memisahkan langkah, namun tidak pernah
memisahkan tanggung jawab.
Jum’at, 10 Oktober 2025
Hari ini, penulis melaksanakan tugas
pendampingan visitasi akreditasi di MTsS Ampek Koto Palembayan, sebuah madrasah
yang sedang berproses membangun budaya mutu dengan semangat kolaborasi dan pengabdian.
Kegiatan dimulai dengan pembukaan visitasi akreditasi yang penulis buka secara
resmi mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Turut hadir
dalam acara ini Camat Palembayan, Wali Nagari Ampek Koto, Kepala KUA
Palembayan, Kepala Jorong, pengurus yayasan, tokoh masyarakat, dan orang tua
murid, yang semuanya hadir dengan wajah penuh harap agar madrasah di daerah
mereka semakin maju.
Dalam sambutan mewakili
Kakankemenag, penulis menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran beliau serta
rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah menaruh perhatian besar
terhadap kemajuan pendidikan Islam di Palembayan. Penulis menegaskan bahwa
akreditasi bukanlah bentuk penilaian yang menakutkan, melainkan kesempatan
untuk melihat madrasah secara jujur dan objektif, seperti seorang pasien yang
datang ke dokter untuk memeriksa kesehatannya. Dengan demikian, akreditasi
harus dimaknai sebagai proses pembelajaran kelembagaan untuk memperbaiki mutu
dan layanan pendidikan agar semakin sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Kegiatan visitasi hari pertama ini
berjalan dengan lancar dan penuh kehangatan. Dua asesor yang hadir, Bapak
Rosyid Mahmudi dan Bapak Dodi Nofri Yoladi, memberikan bimbingan dan arahan
yang inspiratif. Dalam pengantarnya, Bapak Dodi menyampaikan tiga kunci
kemajuan madrasah:
1) Kepemimpinan yang
dipercaya masyarakat, kepala madrasah yang berkarakter kuat dan berintegritas
akan menjadi figur teladan dan penggerak.
2) Komitmen seluruh warga
madrasah dan stakeholder, setiap unsur
harus memiliki semangat yang sama dalam membangun.
3) Keikhlasan beramal,
karena madrasah sejatinya tumbuh bukan dari modal besar, melainkan dari
keikhlasan para pejuangnya.
Sepanjang kegiatan, penulis
mendampingi proses wawancara dan observasi kelas yang dilakukan oleh asesor.
Para guru, komite, dan orang tua tampak antusias dan kooperatif dalam
memberikan informasi. Namun di sela-sela kegiatan tersebut, penulis memberikan
satu penekanan khusus yang menjadi refleksi pembinaan: pentingnya kebiasaan
guru untuk melakukan refleksi diri setelah melaksanakan tugas.
Penulis menyampaikan bahwa seorang
guru yang baik bukan hanya yang mengajar dengan semangat, tetapi juga yang mau
merenung dan menilai kembali proses mengajarnya sendiri. Refleksi adalah
jantung dari pengembangan profesional guru. Melalui refleksi, guru bisa
menyadari apa yang sudah berjalan baik, apa yang perlu diperbaiki, dan
bagaimana pengalaman hari ini bisa menjadi pelajaran untuk esok. Penulis juga
berbagi pengalaman pribadi bahwa kebiasaan menulis refleksi telah menjadi
bagian penting dalam menjalankan tugas kepengawasan selama ini, bukan hanya
sebagai dokumentasi formal, melainkan sebagai alat belajar diri untuk menjadi
lebih baik dari waktu ke waktu.
Pesan ini disambut baik oleh kepala
dan guru madrasah. Seorang guru bahkan menyampaikan kelemahannya karena belum
terlatih dalam melakukan refleksi. Penulis menegaskan bahwa kualitas guru dan
madrasah akan tumbuh bukan semata karena banyaknya kegiatan, tetapi karena
setiap kegiatan dihayati dan direfleksikan. Dengan cara itu, setiap langkah
akan menjadi lebih bermakna. Ini menjadi ide untuk melatih guru bagaimana cara
melakukan refleksi dan menuliskannya secara baik.
Hari ini, kegiatan di MTsS Ampek
Koto Palembayan tidak hanya menjadi agenda akreditasi semata, tetapi juga
momentum pembelajaran bersama. Di balik tumpukan dokumen dan instrumen, ada
semangat untuk terus tumbuh, memperbaiki diri, dan memaknai setiap proses
dengan cinta dan kesadaran. Sebuah madrasah yang reflektif adalah madrasah yang
hidup, dan di situlah sesungguhnya mutu pendidikan bermula.
Foto kegiatan pendampingan visitasi
akreditasi MTsS Ampek Koto Palembayan
Pagi ini, suasana kantor Kementerian
Agama Kabupaten Agam terasa dinamis seperti biasa di awal pekan. Saya mengikuti
apel pagi bersama seluruh pegawai di halaman kantor. Bertindak sebagai pembina
apel adalah Kasubag Tata Usaha, Bapak Pebri Doni, M.A.. Dalam arahannya, beliau
menekankan pentingnya disiplin, sinergi, dan tanggung jawab moral sebagai ASN
Kementerian Agama. Menurut beliau, kedisiplinan bukan hanya soal hadir tepat
waktu, tetapi bagaimana setiap ASN mampu menghadirkan niat dan semangat tulus
dalam melayani umat serta memberikan dampak positif bagi lembaga.
Beliau juga menegaskan pentingnya
kebersamaan dan koordinasi antarbidang, karena keberhasilan program kerja
Kemenag tidak akan pernah lahir dari kerja individu, melainkan dari semangat
kolaborasi yang saling menguatkan. Pesan itu saya renungkan dalam konteks peran
saya sebagai pengawas madrasah—bahwa membina madrasah juga berarti menumbuhkan
budaya kerja kolektif, saling mendukung antara kepala madrasah, guru, dan
tenaga kependidikan demi kemajuan bersama.
Usai apel, saya kembali ke ruang
kerja untuk melanjutkan beberapa pekerjaan penting. Di antaranya, saya
menyiapkan beberapa video pendek (VT) yang akan ditayangkan di TikTok saya
(tiktok.com/@dedi.efendi.ok) dan media sosial lainnya, berisi informasi ringan
dan edukatif tentang Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) serta BKN Pedia,
yakni seri informasi populer yang menjelaskan hal-hal penting seputar
kepegawaian dan ASN. Tujuannya sederhana: agar informasi yang penting tidak
hanya berhenti di meja kerja pegawai, tetapi bisa menjangkau khalayak luas
dengan cara yang lebih menarik, inspiratif, dan mudah dipahami.
Membuat VT seperti ini bukan sekadar
upaya publikasi, tetapi juga bentuk transformasi peran pengawas di era digital.
Bahwa pembinaan dan edukasi kini bisa dilakukan lintas ruang, lintas waktu,
bahkan lintas media. Sebab dunia pendidikan hari ini tidak lagi hanya terjadi
di ruang kelas, tetapi juga di layar ponsel yang diakses oleh ribuan mata. Di
situlah tugas pengawas turut berevolusi—dari sekadar membimbing di lapangan,
menjadi agen literasi digital yang menyebarkan semangat belajar dan informasi
positif bagi ekosistem pendidikan madrasah.
Selasa, 14 Oktober 2025
Pagi ini, saya mengikuti kegiatan
Zoom Meeting Sosialisasi Anti Narkoba di Lingkungan Madrasah se-Sumatera Barat
yang diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi
Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari edaran resmi Kabid
Penmad, H. Hendri Pani Dias, yang menginstruksikan seluruh pengawas, kepala
madrasah, serta pejabat struktural bidang pendidikan untuk ikut serta secara daring.
Kegiatan dimulai tepat pukul 09.00
WIB dan dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Barat, yang dalam
sambutannya menekankan bahwa perang terhadap narkoba adalah bagian dari jihad
moral di dunia pendidikan. Madrasah, katanya, tidak hanya berperan mencerdaskan
kehidupan bangsa, tetapi juga menjadi benteng moral yang melindungi generasi
muda dari kehancuran akibat narkotika dan zat adiktif lainnya. Dalam pandangan
beliau, narkoba bukan sekadar masalah kesehatan atau hukum, tetapi krisis
kemanusiaan yang dapat merusak masa depan generasi penerus bangsa.
Sesi berikutnya diisi oleh
narasumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Barat, yang
memaparkan kondisi terkini penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Data yang
disampaikan cukup mengkhawatirkan—tren penggunaan zat terlarang kini mulai
menyasar usia pelajar, bahkan dengan modus penyamaran baru yang sering kali
tidak disadari oleh guru dan orang tua. Narasumber menegaskan perlunya
kolaborasi antara sekolah, madrasah, dan orang tua untuk melakukan deteksi
dini, pengawasan perilaku siswa, serta pembinaan karakter yang kuat berbasis
spiritualitas dan cinta.
Sebagai pengawas madrasah, saya
mencatat beberapa poin penting yang dapat diterapkan dalam konteks pembinaan
madrasah binaan, antara lain:
- Integrasi
edukasi anti narkoba dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler,
seperti penyuluhan rutin, lomba kreativitas siswa bertema hidup sehat,
serta kampanye digital.
- Penguatan
keteladanan guru dan kepala madrasah sebagai role model yang menginspirasi
gaya hidup positif dan produktif.
- Kolaborasi
dengan instansi terkait, seperti BNN, Polres, dan Puskesmas setempat untuk
memperluas jaringan pembinaan dan sosialisasi.
Selama kegiatan berlangsung, suasana
terasa hidup dan interaktif. Banyak kepala madrasah yang aktif bertanya tentang
upaya pencegahan dan langkah hukum yang bisa dilakukan apabila terjadi indikasi
penyalahgunaan di lingkungan sekolah.
Kegiatan hari ini tidak hanya
membuka wawasan tentang bahaya narkoba, tetapi juga menyadarkan bahwa
pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menyelamatkan jiwa manusia. Sebab
tugas madrasah bukan hanya mendidik agar siswa cerdas secara intelektual,
tetapi juga menuntun mereka agar tetap waras secara moral dan spiritual.
Selesai kegiatan, saya menutup hari
dengan membuat catatan refleksi dan menyusun rencana tindak lanjut pembinaan
madrasah binaan dalam bentuk “Gerakan Madrasah Bersih Narkoba (MBN)” sebagai
aksi nyata dari hasil sosialisasi hari ini.
Foto
kegiatan zoom meeting Sosialisasi Anti Narkoba
Rabu, 15 Oktober 2025
Hari ini merupakan hari Rabu yang
penuh makna dan keseimbangan antara menjaga kesehatan pribadi, mengasah
kompetensi digital, dan mempererat silaturahmi kemanusiaan di lingkungan kerja.
Pagi hari, sebagaimana agenda rutin setiap minggu, saya memulai aktivitas
dengan semangat baru. Hari Rabu di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Agam
dikenal sebagai hari olahraga ASN, sebuah kebijakan yang bertujuan menumbuhkan
budaya hidup sehat dan menurunkan risiko penyakit akibat rutinitas kerja yang
cenderung statis.
Usai melakukan presensi melalui
aplikasi PUSAKA, saya melanjutkan kegiatan ke laboratorium kesehatan untuk
melakukan pemeriksaan kondisi tubuh. Pemeriksaan ini meliputi cek kolesterol,
gula darah puasa, serta analisis kesehatan umum lainnya. Beberapa waktu
terakhir saya memang merasa perlu untuk lebih memperhatikan kesehatan, sebab
padatnya aktivitas di lapangan sebagai pengawas madrasah sering kali membuat
waktu istirahat dan pola makan menjadi tidak teratur. Pemeriksaan ini saya
pandang bukan sekadar rutinitas medis, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga
amanah tubuh yang diberikan Allah agar tetap bugar dalam menjalankan tugas.
Setelah pemeriksaan selesai, saya
kembali ke kantor untuk mengikuti Zoom Meeting nasional bertema “AI untuk ASN
Indonesia: Menguasai Copilot dan Teknik Prompting” yang diselenggarakan oleh
ElevAIte for Civil Servants. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui
platform Microsoft Teams dan diikuti oleh ribuan ASN dari berbagai instansi di
seluruh Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, para
narasumber menjelaskan bagaimana AI, khususnya Copilot dan ChatGPT, dapat
dioptimalkan untuk meningkatkan efisiensi kerja ASN. Konsep prompting yaitu
seni memberi instruksi kepada AI agar menghasilkan keluaran yang relevan dan
bermakna, menjadi salah satu fokus utama pelatihan. Saya mengikuti sesi ini
dengan penuh antusias karena isinya sangat relevan dengan pekerjaan saya
sebagai pengawas madrasah, terutama dalam penyusunan laporan, analisis data
supervisi, dan perancangan instrumen digital pembinaan madrasah.
Dari kegiatan ini, saya menyimpulkan
bahwa AI tidak dimaksudkan menggantikan manusia, tetapi memperluas
kapasitasnya. ASN masa depan tidak hanya dituntut untuk bekerja keras, tetapi
juga bekerja cerdas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Saya
membayangkan ke depan, sistem kepengawasan madrasah bisa bertransformasi
menjadi ekosistem digital yang cerdas, di mana pengawas, kepala madrasah, dan
guru saling terhubung melalui platform data terpadu yang mampu menganalisis
perkembangan mutu pendidikan secara otomatis.
Silaturahmi dan Empati di Tengah
Aktivitas
Menjelang siang, selepas kegiatan
daring tersebut, saya bersama rombongan pegawai Kementerian Agama Kabupaten Agam
yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Agam, Dr. H. Thomas Febria,
S.Ag., M.A., Kasubag TU, Bapak Pebri Doni, M.A., dan Kasi Bimas Islam, Bapak
Kamiri, S.Ag., M.A., melaksanakan kunjungan sosial ke RSUD Lubuk Basung.
Foto
membezuk Pak Masnur di RSUD Lubuk Basung
Kami menjenguk dua rekan sejawat
yang tengah dirawat di rumah sakit. Yang pertama adalah Bapak Masnur, pengawas
PAI yang baru saja menjalani operasi hernia. Beliau tampak masih dalam masa
pemulihan, namun tetap menyambut kami dengan senyum yang hangat dan penuh
semangat. Dalam kesempatan itu, Kakankemenag memberikan nasihat agar beliau
beristirahat dengan cukup, tidak terlalu memikirkan pekerjaan, dan fokus pada
proses penyembuhan. Saya pribadi merasa terharu melihat keteguhan beliau, seorang
senior yang tetap bersemangat mengabdi meski sedang diuji oleh sakit.
Selanjutnya, kami juga menjenguk Ibu
Wirdaningsih, salah satu guru MTsN 4 Agam yang dirawat karena sakit typus.
Beliau terlihat masih lemah, namun senang dengan kedatangan kami. Kami
mendoakan agar Allah segera memulihkan kesehatannya dan memberikan kekuatan
untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Kegiatan menjenguk rekan kerja yang
sakit ini terasa sangat manusiawi dan bermakna, bukan sekadar rutinitas sosial,
tetapi bentuk nyata dari solidaritas dan empati antarpegawai.
Foto
membezuk Bu Wirdaningsih di RSUD Lubuk Basung
Dalam perjalanan pulang dari rumah
sakit, saya merenung bahwa kekuatan sebuah lembaga tidak hanya terletak pada
sistem dan regulasi, tetapi juga pada hubungan kemanusiaan yang hangat di
antara orang-orang di dalamnya. Ketika satu orang sakit, seluruh tim merasa
kehilangan; ketika satu orang sembuh, semua ikut bersyukur. Itulah makna sejati
dari bekerja dalam ekosistem yang berlandaskan spiritualitas dan rasa kebersamaan.
Refleksi Hari Ini
Hari ini saya belajar tentang
keseimbangan: antara menjaga diri dan melayani sesama, antara belajar teknologi
dan menumbuhkan empati, antara berpikir digital dan bertindak humanis.
Pemeriksaan kesehatan mengingatkan saya akan pentingnya kesadaran diri.
Pelatihan AI membuka mata akan luasnya cakrawala teknologi. Dan kunjungan ke
rumah sakit menyentuh hati bahwa kita semua hanyalah manusia yang saling
membutuhkan.
Sebagai pengawas madrasah, saya
merasa panggilan tugas bukan hanya mengawasi dokumen dan kurikulum, tetapi juga
menghidupkan nilai kemanusiaan dan spiritualitas di lingkungan kerja. Pengawas
yang baik bukan hanya berpikir dengan logika, tetapi juga bekerja dengan hati.
Hari ini, Rabu 15 Oktober 2025,
menjadi momentum indah untuk meneguhkan prinsip itu bahwa kemajuan teknologi
tanpa nilai kemanusiaan adalah kering, dan empati tanpa pengetahuan adalah
lumpuh. Maka keduanya harus berjalan seimbang agar madrasah, dan kita semua yang
mengabdi di dalamnya, terus bergerak menuju kemajuan yang berkeadaban.
Kamis, 16 Oktober 2025
Hari ini, Kamis 16 Oktober 2025,
saya menjalani hari dengan ritme yang lebih tenang dari biasanya. Kondisi tubuh
yang tidak sepenuhnya fit membuat saya memilih untuk berkegiatan di kantor
saja, sambil menata kembali keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan
kebutuhan menjaga kesehatan diri. Pagi hari saya memulai aktivitas seperti
biasa, melapor kehadiran melalui aplikasi PUSAKA, kemudian duduk di ruang kerja
dengan suasana yang lebih reflektif dari biasanya.
Sehari sebelumnya saya telah
menjalani pemeriksaan kesehatan di laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium
rumah sakit yang saya terima pagi ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan saya
memang perlu perhatian serius. Hasil menunjukkan bahwa tekanan darah (tensi)
saya berada di atas batas normal, begitu pula dengan kadar kolesterol total dan
LDL (Low Density Lipoprotein) yang cukup tinggi. Dokter menyarankan untuk
mengurangi konsumsi makanan berlemak, memperbanyak sayuran, berolahraga ringan
secara rutin, dan istirahat yang cukup.
Saya juga diresepkan obat penurun
tensi dan kolesterol yang harus diminum secara teratur. Ketika membaca hasil
tersebut, hati saya tertegun. Selama ini saya begitu sibuk berpindah dari satu
madrasah ke madrasah lainnya, membina guru, mendampingi kegiatan, menghadiri
undangan, dan menyusun berbagai laporan. Namun dalam kesibukan itu, saya
menyadari betapa sedikit waktu yang saya sisihkan untuk memperhatikan diri
sendiri. Hari ini menjadi peringatan kecil yang sangat berarti — bahwa
pengabdian tidak boleh mengabaikan kesehatan, sebab tubuh yang sehat adalah
syarat utama agar pengabdian tetap bernilai.
Mengisi Waktu dengan Belajar Mandiri
Meskipun tidak turun ke lapangan,
saya tetap memanfaatkan waktu di kantor dengan sebaik-baiknya. Hari ini saya
mengikuti Pelatihan Belajar Mandiri “AI Generatif untuk ASN” melalui platform
BKN Pedia di tautan https://bknpedia.bkn.go.id/. Program ini merupakan inisiatif
dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang bertujuan meningkatkan kompetensi ASN
di bidang teknologi kecerdasan buatan, agar aparatur negara mampu beradaptasi
dengan era digital yang berkembang pesat.
Materi pelatihan ini sangat menarik.
Saya mempelajari konsep dasar AI generatif, termasuk bagaimana teknologi
seperti ChatGPT, Copilot, Gemini, dan Claude dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan efektivitas pekerjaan ASN. Modul juga membahas etika penggunaan
AI, pengelolaan data pribadi, dan tantangan moral di era digitalisasi
birokrasi.
Bagi saya, pelatihan ini bukan
sekadar menambah wawasan, tetapi juga memantik kesadaran baru tentang
pentingnya literasi digital bagi pengawas madrasah. Di tengah arus perubahan
teknologi yang begitu cepat, pengawas tidak bisa lagi hanya berperan sebagai
pengontrol administratif, tetapi juga harus menjadi mentor inovasi bagi kepala
dan guru madrasah. Dengan AI, pengawas dapat membantu guru menyusun perangkat
ajar, menganalisis capaian pembelajaran, bahkan merancang evaluasi yang lebih
adaptif dan berbasis data.
Selama mengikuti pelatihan mandiri
ini, saya juga merenungkan bahwa AI bukan ancaman bagi profesi ASN, melainkan
alat bantu yang dapat memperluas daya pikir manusia. Yang diperlukan adalah
kemampuan memanfaatkan teknologi dengan bijak dan beretika. Sebuah kalimat yang
saya catat dari pelatihan hari ini begitu berkesan:
“AI tidak menggantikan ASN, tetapi
ASN yang tidak belajar AI akan tergantikan oleh mereka yang mau belajar.”
Kalimat itu terasa seperti dorongan
halus untuk terus belajar di tengah keterbatasan fisik hari ini. Meski tubuh
terasa lemah, pikiran harus tetap bergerak maju.
Menjaga Tali Silaturahmi dan Empati
Menjelang sore, setelah
menyelesaikan modul pelatihan, saya menyempatkan diri untuk menjenguk rekan
sejawat, Bapak Masnur, pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) yang sedang
dirawat di RSUD Lubuk Basung pasca operasi hernia. Kunjungan ini saya lakukan
mewakili rekan-rekan pengawas lainnya yang kebetulan sedang bertugas di
lapangan.
Foto
ketika membezuk rekan sejawat yang sakit di RSUD Lubuk Basung
Saya membawa sedikit buah tangan dan
doa tulus agar beliau segera pulih. Di ruang perawatan, beliau tampak mulai membaik
meskipun masih dalam masa pemulihan. Kami berbincang sebentar tentang
kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan. Dalam percakapan singkat itu, beliau
sempat berkata,
“Kadang kita terlalu sibuk urusan
orang lain, sampai lupa memperhatikan diri sendiri.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti
cermin yang memantulkan kembali kesadaran saya hari ini. Ada pelajaran berharga
di dalamnya, bahwa pengabdian tanpa kendali bisa menjadi bumerang bagi diri
sendiri. Seorang pengawas yang ingin terus membimbing dan menginspirasi harus
terlebih dahulu mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan
pribadi.
Refleksi Hari Ini
Hari ini saya menyadari betapa
pentingnya memperlambat langkah sesekali untuk menata ulang arah. Tubuh yang
sehat, pikiran yang jernih, dan hati yang ikhlas adalah fondasi bagi setiap
bentuk pengabdian. Mungkin inilah cara Allah mengingatkan saya untuk tidak
terlalu tenggelam dalam kesibukan dunia kerja.
Mengikuti pelatihan AI generatif di
tengah kondisi fisik yang menurun memberi saya semangat baru, bahwa proses
belajar tidak harus menunggu waktu yang ideal. Justru dalam kondisi yang lemah,
belajar menjadi bentuk ibadah yang paling jujur, karena dilakukan bukan untuk
prestise, melainkan untuk memperbaiki diri.
Menjelang malam, ketika menutup
laptop dan merapikan meja kerja, saya merasa tenang. Hari ini tidak penuh
dengan aktivitas lapangan atau rapat besar, tetapi penuh dengan makna
introspektif: tentang batas, kesadaran, dan komitmen untuk terus menjadi insan
pembelajar.
Semoga kesehatan segera pulih,
semangat tetap terjaga, dan langkah pengabdian di madrasah terus berlanjut
dengan hati yang lebih tenang dan tubuh yang lebih sehat.
Jum’at, 17 Oktober 2025
Hari ini, Jum’at 17 Oktober 2025,
saya menjalani hari dengan ritme yang cukup padat, namun tetap dalam suasana
yang menenangkan. Sejak pagi saya sudah bersiap ke kantor, melanjutkan
aktivitas belajar mandiri “AI Generatif untuk ASN” di platform BKN Pedia,
sebuah program yang menurut saya sangat strategis dalam mempersiapkan aparatur
sipil negara untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman digital dan kecerdasan
buatan yang kian pesat.
Materi pelatihan yang saya pelajari
hari ini mencakup beberapa topik lanjutan seperti etika penggunaan AI di
lingkungan pemerintahan, manajemen data dan keamanan informasi, serta strategi
implementasi AI dalam pelayanan publik. Setiap modul dirancang untuk memberi
pemahaman mendalam tentang bagaimana aparatur negara bisa menggunakan teknologi
AI untuk meningkatkan kualitas kerja, bukan hanya secara efisien tetapi juga
dengan cara yang lebih inovatif dan berintegritas.
Saya semakin memahami bahwa pengawas
madrasah di era baru ini tidak bisa lagi bekerja dengan paradigma lama.
Pengawasan tidak hanya berbicara tentang administrasi dan supervisi pembelajaran,
tetapi juga tentang bagaimana membantu kepala dan guru madrasah
mengintegrasikan teknologi secara etis dan efektif ke dalam proses
pembelajaran.
Melalui pelatihan ini, saya banyak
merenung: bagaimana teknologi bisa menjadi mitra spiritual dalam pendidikan.
Artinya, teknologi digunakan bukan untuk menggantikan peran guru atau pengawas,
tetapi untuk memperluas jangkauan cinta, pengetahuan, dan keteladanan dalam
proses pendidikan itu sendiri. Karena pada dasarnya, AI yang paling hebat
adalah hati manusia yang tercerahkan.
Mengisi Hari Jum’at dengan Khutbah
dan Renungan
Menjelang siang, saya meninggalkan
kantor untuk melaksanakan tugas lain yang juga saya pandang sangat mulia, yakni
menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Baitul Makmur, Manggopoh. Sejak dulu, saya
selalu merasa bahwa mimbar masjid adalah ruang dakwah yang paling jujur, tempat
setiap kata yang keluar bukan sekadar informasi, tapi juga energi ruhani yang
menembus hati.
Tema khutbah yang saya bawakan hari
ini adalah “Mewaspadai matinya hati di tengah kesibukan duniawi” — sebuah tema
yang saya susun sendiri, terinspirasi dari hasil refleksi pribadi. Saya
berbicara kepada jamaah tentang pentingnya mewaspadai matinya hati di tengah
kesibukan kita dalam urusan dunia, karena sering kali manusia sibuk mencari
penghidupan tapi lupa dengan yang memberikan kehidupan.
Saya mengutip firman Allah dalam
surah Al-Hadid ayat 16:
“Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang beriman untuk tunduk hatinya mengingat Allah?”
Ayat ini saya hubungkan dengan
fenomena dunia modern yang serba cepat, di mana manusia cenderung lupa untuk
berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi dirinya. Saya mengajak jamaah
untuk kembali menata hati, memperbaiki hati, dan menjadikan setiap aktivitas,
sekecil apa pun, sebagai bagian dari ibadah.
Khatib bukan sekadar menyampaikan
teks, tetapi menghidupkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam
khutbah itu, saya merasakan keheningan yang berbeda, jamaah mendengarkan dengan
khusyuk, sebagian mengangguk pelan seolah mengiyakan setiap makna yang
tersampaikan. Ketika khutbah usai dan shalat ditunaikan, saya merasa bukan
hanya jamaah yang mendapatkan ketenangan, tapi juga diri saya sendiri.
Kembali ke Kantor dan Melanjutkan
Pengabdian
Usai shalat Jum’at, saya kembali ke
kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk. Saya membuka kembali
laptop, menyelesaikan beberapa modul pelatihan AI generatif, sekaligus menata
kembali catatan hasil refleksi pribadi yang saya tulis setiap kali selesai
belajar. Saya percaya bahwa belajar yang baik harus diakhiri dengan catatan
reflektif, sebab di situlah ilmu melekat menjadi hikmah.
Sore hari saya juga sempat
berdiskusi singkat dengan beberapa rekan di kantor mengenai potensi penggunaan
AI untuk membantu administrasi madrasah dan sistem supervisi digital. Banyak di
antara mereka yang tertarik, bahkan beberapa menyatakan ingin ikut mendaftar
pelatihan serupa di BKN Pedia. Saya merasa bahagia, sebab semangat belajar yang
menular adalah salah satu bentuk kepemimpinan tanpa jabatan, menginspirasi dengan
tindakan, bukan dengan perintah.
Refleksi Akhir Hari
Hari ini memberi saya dua pengalaman
yang berbeda namun saling melengkapi: belajar teknologi dan menyebarkan nilai
spiritual. Di satu sisi, saya belajar tentang kecerdasan buatan yang melampaui
batas fisik manusia; di sisi lain, saya berdiri di mimbar, berbicara tentang
kecerdasan hati yang menuntun manusia agar tidak kehilangan arah.
Keduanya ternyata tidak
bertentangan. Justru di sinilah letak keseimbangannya, iman tanpa ilmu akan pincang,
ilmu tanpa iman akan kehilangan arah. Dunia pendidikan madrasah harus berdiri
di atas dua kaki ini: kaki spiritual yang berakar pada nilai-nilai ilahiah, dan
kaki intelektual yang melangkah di atas landasan ilmu dan teknologi.
Menjelang sore, ketika matahari
mulai condong ke barat dan sinarnya menembus jendela ruang kerja, saya menutup
laptop dengan rasa syukur. Hari ini bukan hanya tentang menyelesaikan tugas
atau kewajiban, tapi tentang menyadari bahwa setiap aktivitas, baik belajar,
bekerja, maupun berdakwah, sejatinya adalah satu kesatuan amal yang bernilai di
sisi Allah.
Pekan ini, saya memutuskan untuk
lebih banyak berkegiatan di kantor. Keputusan ini bukan tanpa alasan; kondisi
fisik saya belum sepenuhnya pulih setelah hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan adanya beberapa indikasi yang perlu saya waspadai. Tensi darah yang
tinggi serta kadar kolestero, terutama LDL yang melampaui batas normal, menjadi
pengingat bahwa tubuh pun memiliki batas yang perlu dihormati. Saya mulai
menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara semangat bekerja dan
kesadaran untuk memberi waktu istirahat bagi diri sendiri.
Namun demikian, meskipun kondisi
tubuh belum optimal, semangat untuk terus berkarya dan berkontribusi tetap
tidak surut. Saya menyusun strategi agar aktivitas yang biasanya dilakukan ke
madrasah bisa dialihkan menjadi pekerjaan administratif, monitoring jarak jauh,
serta kegiatan peningkatan kapasitas diri yang tetap produktif namun tidak
terlalu menguras tenaga. Di sinilah saya menemukan makna sejati dari manajemen
energi—bukan sekadar bekerja keras, tetapi bekerja cerdas sesuai kondisi diri.
Foto
hasil cek laboratorium
Semoga Allah memberikan kesehatan,
kekuatan, dan kelapangan waktu agar saya terus dapat melangkah di jalan
pengabdian ini — mengabdi dengan cinta, bekerja dengan ilmu, dan berkhidmat
dengan hati yang ikhlas.
Senin, 20 Oktober 2025
Hari ini, Senin 20 Oktober 2025,
saya memulai aktivitas seperti biasa di kantor Kementerian Agama Kabupaten
Agam. Udara pagi terasa segar, langit cerah, dan semangat kerja para ASN tampak
mengalir kuat sejak apel pagi dimulai. Kegiatan apel berlangsung di halaman
kantor dengan penuh khidmat. Bapak Pebri Doni, M.A., selaku Kepala Subbagian
Tata Usaha, bertindak sebagai pembina apel. Dalam arahannya, beliau menekankan
pentingnya menjaga kedisiplinan dan semangat kerja di tengah dinamika tugas
yang semakin kompleks. Beliau juga mengingatkan agar seluruh pegawai senantiasa
meningkatkan kualitas pelayanan publik, baik kepada internal kementerian maupun
masyarakat luas.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut
para pejabat struktural, di antaranya Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad), Kasi
Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas), Kasi Pendidikan Agama Islam (PAI), Kasi PD
Pontren dan Penyelenggara Syari’ah. Suasana apel berlangsung tertib dan penuh
semangat kekeluargaan.
Bersamaan dengan kegiatan apel
tersebut, juga dimulai program orientasi bagi para Calon Pegawai Negeri Sipil
(CPNS) di lingkungan Kemenag Agam. Para CPNS tampak antusias mengikuti kegiatan
orientasi yang bertujuan memperkenalkan budaya kerja, nilai-nilai ASN
BerAKHLAK, serta semangat pelayanan moderasi beragama yang menjadi ciri khas
Kementerian Agama. Melihat semangat mereka, saya teringat masa awal pengabdian
dulu—masa ketika semangat dan idealisme masih menyala-nyala. Namun kini,
setelah puluhan tahun berkarier, saya memahami bahwa semangat itu harus terus
dirawat dengan kesadaran, ketulusan, dan keseimbangan antara kerja keras dan
menjaga kesehatan diri.
Keseimbangan antara Tugas dan
Kondisi Fisik
Beberapa hari terakhir, kondisi
fisik saya belum sepenuhnya pulih. Hasil pemeriksaan labor yang menunjukkan
kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi membuat saya harus lebih berhati-hati
dalam mengatur ritme kerja. Karena itu, hari ini saya memutuskan untuk tetap
berkegiatan di kantor saja, tidak melakukan kunjungan lapangan seperti
biasanya. Keputusan ini bukan tanda kemalasan, tetapi bentuk tanggung jawab
terhadap diri sendiri, sebuah langkah sadar untuk menjaga keberlanjutan
pengabdian dalam jangka panjang.
Saya tetap percaya bahwa
produktivitas tidak selalu diukur dari seberapa banyak tempat yang kita
datangi, tetapi seberapa dalam dampak yang kita hasilkan dari setiap kegiatan.
Maka, sambil menyesuaikan kondisi tubuh, saya memilih mengisi hari ini dengan aktivitas
belajar dan pengembangan kompetensi diri, terutama di bidang yang sedang
menjadi perhatian nasional: Artificial Intelligence (AI) untuk ASN.
Belajar Mandiri: AI Generatif untuk
ASN
Sejak pagi hingga siang, saya
melanjutkan program Belajar Mandiri AI Generatif untuk ASN melalui platform BKN
Pedia. Modul-modul yang disediakan benar-benar membuka cakrawala baru. Saya
mendalami bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mempercepat
proses kerja ASN, meningkatkan efisiensi layanan publik, serta mengembangkan
pola pikir inovatif yang selaras dengan perkembangan zaman.
Dalam pembelajaran ini, saya mulai
memahami konsep prompting efektif, etika penggunaan AI di sektor publik, serta
strategi memanfaatkan AI Generatif dalam bidang pendidikan dan kepengawasan
madrasah. Saya membayangkan bagaimana nantinya para guru dan kepala madrasah
dapat memanfaatkan teknologi ini untuk membuat bahan ajar interaktif, menyusun
laporan digital otomatis, bahkan menciptakan asesmen berbasis AI yang adaptif
dan kontekstual.
Sembari belajar, saya mencatat
gagasan-gagasan baru untuk disosialisasikan kepada madrasah binaan. Salah
satunya adalah ide untuk mengadakan pelatihan pengenalan AI bagi guru madrasah,
terutama dalam konteks pembelajaran berbasis proyek dan Kurikulum Berbasis
Cinta (KBC). Dengan AI, proses inovasi bisa menjadi lebih ringan dan
menyenangkan tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan yang menjadi ruh pendidikan
madrasah.
Konsultasi dan Pendampingan Daring
Menjelang siang, saya menerima pesan
dari Kepala MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah, yang menghubungi saya untuk
meminta instrumen Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM). Saya segera
menindaklanjuti dengan memberikan file instrumen sekaligus penjelasan terkait
penggunaan dan prinsip penilaiannya. Saya juga memberikan panduan singkat agar
dalam pelaksanaan PKKM nanti, madrasah benar-benar memahami esensi dari
penilaian tersebut, bahwa PKKM bukan sekadar pemenuhan administratif, tetapi
sarana refleksi kepala madrasah dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan,
inovasi, dan pelayanan pendidikan.
Saya juga menyampaikan kepada kepala
madrasah tersebut bahwa instrumen yang digunakan masih merujuk pada SK Dirjen
Pendis No. 1111 Tahun 2019, sembari menunggu juknis terbaru yang sedang dalam
proses revisi untuk menyesuaikan dengan perubahan paradigma pendidikan seperti
Kurikulum Merdeka, Deep Learning, dan Digitalisasi Madrasah. Dalam dialog itu,
saya menegaskan pentingnya memahami roh dari setiap instrumen, bukan hanya
formatnya. Karena sejatinya, pengawasan dan penilaian adalah cermin, bukan palu
penghakiman.
Refleksi: Tentang Makna Ketekunan
dan Keterbatasan
Menjelang sore, saya duduk sejenak
di ruang kerja, menatap berkas dan layar komputer yang masih menyala. Saya
merenungi perjalanan hari ini, meski tanpa perjalanan jauh, tetap sarat makna.
Terkadang, Allah mengajarkan ketekunan bukan melalui kesibukan, tetapi melalui
keterbatasan. Dalam kondisi tubuh yang belum sepenuhnya sehat, saya justru
diberi waktu untuk berhenti sejenak, menata ritme hidup, dan memperdalam
wawasan.
Saya merasa bahwa menjadi ASN,
apalagi pengawas madrasah, bukan hanya tentang menyelesaikan tugas
administrasi, tapi juga menjadi teladan dalam mengelola keseimbangan antara
kerja, keluarga, dan kesehatan. Dalam kesunyian ruang kerja kantor hari ini,
saya merasakan ketenangan batin yang jarang saya dapatkan di tengah rutinitas
padat ke lapangan.
Menutup hari ini, saya menulis
sebuah catatan kecil di jurnal pribadi:
“Kadang Allah tidak memerintahkan
kita berlari, tapi hanya ingin kita berhenti sebentar agar bisa kembali
berjalan dengan lebih kuat dan lebih sadar arah.”
Semoga esok hari saya diberi
kesehatan dan kekuatan yang lebih baik, agar bisa kembali berkiprah secara
optimal mendampingi madrasah-madrasah binaan menuju madrasah yang unggul,
inklusif, dan penuh cinta.
Selasa, 21 Oktober 2025
Hari ini, Selasa 21 Oktober 2025,
penulis memulai aktivitas pagi dengan rutinitas biasa, yaitu mengisi absensi
kehadiran melalui aplikasi Pusaka Kemenag RI. Meskipun aktivitas ini tampak
sederhana, namun bagi saya, hal itu merupakan bentuk komitmen dan disiplin ASN
yang harus selalu dijaga. Kedisiplinan menjadi pintu awal dari segala bentuk
profesionalitas.
Setelah itu, saya bersiap menuju
MTsN 9 Agam, tempat dilaksanakannya kegiatan Pembinaan Siswa dalam Peningkatan
Pemahaman Moderasi Beragama, sebuah program yang sangat penting dalam konteks
penguatan karakter generasi muda madrasah. Saya hadir sebagai narasumber
bersama Kasubag Tata Usaha Kantor Kemenag Agam, mewakili unsur pengawas
madrasah yang turut berperan dalam pembinaan karakter spiritual dan sosial
peserta didik.
Setibanya di lokasi, saya disambut
hangat oleh kepala madrasah, guru-guru, serta para siswa yang telah menanti di
aula madrasah. Jumlah peserta yang hadir cukup besar, mencapai 244 orang siswa,
seluruhnya duduk rapi dan bersemangat mengikuti kegiatan yang diadakan oleh
madrasah ini. Saya menyadari bahwa di tengah derasnya arus informasi dan
gempuran ideologi ekstrem di dunia digital, pembinaan moderasi beragama bagi pelajar
menjadi semakin urgen.
Materi yang saya bawakan bertajuk
“Toleransi dalam Moderasi Beragama”. Saya mengawali sesi dengan menumbuhkan
kesadaran bahwa moderasi bukan sekadar jargon, melainkan gaya hidup keagamaan
yang menyejukkan. Saya mengajak para siswa merenung: bagaimana Islam yang
rahmatan lil ‘alamin itu semestinya hadir dalam keseharian mereka, baik di
lingkungan madrasah maupun masyarakat.
Foto
kegiatan moderasi beragama di MTsN 9 Agam
Agar penyampaian materi tidak
bersifat satu arah, saya menggunakan pendekatan interaktif. Saya memadukan
penyampaian konsep dengan aktivitas permainan edukatif (game) berupa teka-teki
logika yang dirancang untuk memancing nalar kritis siswa sekaligus menanamkan
nilai-nilai toleransi dan empati.
Contohnya, saya menyajikan satu
skenario sederhana:
“Jika kamu punya teman yang berbeda
keyakinan dan meminta tolong dalam hal kemanusiaan, apa yang sebaiknya kamu
lakukan?”
Pertanyaan ini membuka ruang dialog
yang menarik. Banyak siswa yang spontan menjawab dengan beragam alasan, namun
arah pembicaraan tetap saya bimbing agar mereka memahami esensi toleransi bukan
berarti kompromi dalam akidah, tetapi penghormatan terhadap martabat
kemanusiaan.
Dalam suasana yang hangat dan penuh
keakraban, saya sampaikan bahwa moderasi beragama bukan untuk melemahkan iman,
tetapi justru memperkuatnya dengan dasar cinta dan kebijaksanaan. Sebab iman
yang sejati tidak melahirkan kebencian, melainkan kasih dan kedamaian.
Saya melihat antusiasme luar biasa
dari para siswa. Banyak yang mengangkat tangan untuk bertanya, menanggapi,
bahkan berbagi pengalaman pribadi. Beberapa pertanyaan siswa menunjukkan
kedewasaan berpikir yang patut diapresiasi, seperti bagaimana menghadapi
perbedaan pandangan antar teman, atau bagaimana menghindari konflik di media
sosial yang kerap dipicu oleh isu keagamaan.
Saya merasa terharu dan optimis:
generasi muda madrasah ini memiliki potensi luar biasa untuk menjadi duta
moderasi di lingkungannya. Mereka hanya butuh ruang untuk tumbuh dan dibimbing
dengan pendekatan yang manusiawi dan menyenangkan.
Dalam refleksi singkat di akhir
kegiatan, saya mengajak para siswa untuk memaknai tiga pesan penting:
-
Toleransi adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dengan
menghormati perbedaan, kita menjaga persaudaraan dan keharmonisan bangsa.
-
Belajar berpikir kritis dan terbuka. Tidak semua yang viral
itu benar; gunakan akal sehat dan hati nurani dalam menilai informasi.
-
Menjadi pelajar madrasah berarti menjadi teladan. Baik di
sekolah, di rumah, maupun di dunia maya.
Saya menutup kegiatan dengan kalimat
yang saya yakini mengandung kekuatan spiritual dan moral:
“Madrasah tidak hanya tempat menimba
ilmu, tetapi tempat menumbuhkan cinta dan akhlak. Jadilah generasi yang membawa
cahaya, bukan bara perpecahan.”
Kegiatan ini diakhiri dengan doa
bersama yang dipimpin oleh salah seorang guru agama. Beberapa guru sempat
menyampaikan ucapan terima kasih karena pendekatan interaktif yang saya gunakan
dinilai mampu menghidupkan suasana dan menumbuhkan semangat baru di kalangan
siswa.
Menjelang siang, saya kembali ke
kantor untuk melanjutkan kegiatan yang tak kalah penting, yaitu menerima
pengurus RA Perwanida Lubuk Basung untuk pembicaraan tentang kelanjutan
pendidikan yang saat ini sedang terhenti karena banyak persoalan yang muncul
terkait dengan tempat. Dalam pertemuan itu, saya mengusulkan agar dibicarakan
secara internal dan intensif jika masih ingin melanjutkan RA tersebut. Nanti
jika sudah ada kesepakatan internal, maka persoalan ini akan ditindaklanjuti
dengan pertemuan bersama Kepala Kantor Kemenag Agam. Pertemuan ini juga sudah
saya laporkan kepada Kakankemenag dan mendapatkan apresiasi positif.
Foto
pertemuan dengan pengurus RA Perwanida Lubuk Basung
Setelah itu, saya melanjutkan
kegiatan mengikuti program Belajar Mandiri AI Generatif untuk ASN melalui
platform BKN Pedia. Program ini masih saya lanjutkan dari hari-hari sebelumnya,
sebagai bentuk pengembangan kompetensi diri di era digital.
Sambil menelaah modul tentang
penerapan AI dalam pelayanan publik dan manajemen pendidikan, saya membayangkan
integrasi kecerdasan buatan dalam dunia madrasah—misalnya, sistem penilaian
otomatis berbasis portofolio, analisis refleksi guru melalui natural language
processing, atau penggunaan chatbot edukatif untuk mendampingi siswa belajar.
Saya meyakini, AI bukan ancaman bagi
guru, tetapi mitra bagi yang mau belajar. Dalam catatan pribadi saya hari ini,
saya menuliskan refleksi kecil:
“Teknologi tanpa cinta akan
melahirkan kekeringan jiwa, tapi cinta tanpa pengetahuan akan kehilangan arah.
Madrasah masa depan harus menggabungkan keduanya.”
Hari ini menjadi salah satu hari
yang menyenangkan sekaligus bermakna. Di pagi hari saya berbagi nilai-nilai
moderasi dan toleransi kepada ratusan siswa madrasah, sementara siang hingga
sore saya memperdalam ilmu tentang AI generatif untuk memperkuat peran ASN di
era digital. Dua kegiatan yang tampak berbeda, namun sesungguhnya saling
berkelindan: satu menumbuhkan kearifan hati, yang lain memperkuat kecerdasan
intelektual.
Keduanya adalah bekal bagi insan
Kemenag untuk membangun peradaban pendidikan madrasah yang berbasis cinta,
berkeadaban, dan berdaya teknologi.
Rabu, 22
Oktober 2025
Hari ini, Rabu, 22 Oktober 2025,
merupakan Hari Santri Nasional, sebuah momentum bersejarah yang setiap tahun
diperingati untuk mengenang peran besar kaum santri dan pesantren dalam
perjuangan kemerdekaan serta pembangunan moral bangsa. Di berbagai daerah, gema
takbir, shalawat, dan semangat jihad intelektual para santri kembali
dikobarkan. Berdasarkan jadwal resmi, peringatan tingkat Kabupaten Agam
dilaksanakan melalui upacara bendera di Kecamatan Ampek Angkek yang dipimpin
langsung oleh Bupati Agam, Bapak Beni Warlis, selaku pembina upacara. Dalam
amanatnya, beliau membacakan pidato Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin
Umar, yang menegaskan pentingnya semangat kemandirian, nasionalisme, dan
pengabdian santri di era modern ini.
Namun, pada tahun ini saya tidak
dapat menghadiri upacara tersebut secara langsung karena kondisi kesehatan yang
belum sepenuhnya pulih pasca beberapa hari ke belakang mengalami tekanan darah
tinggi dan kolesterol yang meningkat. Perjalanan dari Lubuk Basung menuju
lokasi upacara yang memakan waktu sekitar dua jam tentu akan cukup melelahkan
dan berisiko bagi kondisi fisik saya. Meski demikian, semangat Hari Santri
tidak boleh padam. Maka saya memilih untuk tetap memperingatinya dengan cara
lain, mengunjungi salah satu pesantren tertua di Kabupaten Agam, yaitu MTI
Bayur di Kecamatan Tanjung Raya.
Setibanya di MTI Bayur, suasana
pesantren terasa begitu hidup. Para santri berpakaian rapi mengenakan sarung
dan peci, beberapa membawa kitab kuning di tangan, dan sebagian lainnya sedang
berlatih untuk mengikuti perlombaan dalam rangka Hari Santri. MTI Bayur adalah
salah satu pesantren bersejarah yang telah melahirkan banyak tokoh agama dan
cendekiawan di Agam. Di lingkungan pesantren ini, terdapat dua jenjang
pendidikan formal di bawah binaan saya sebagai pengawas, yakni Madrasah
Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Kunjungan saya disambut hangat oleh
pimpinan pesantren dan beberapa guru senior. Kami berdiskusi santai di serambi
madrasah tentang berbagai hal, mulai dari perkembangan pendidikan keagamaan,
tantangan digitalisasi di lingkungan pesantren, hingga peran santri dalam
membumikan nilai-nilai Islam yang ramah dan moderat. Dalam pertemuan tersebut,
saya menekankan pentingnya penguatan karakter spiritual dan sosial santri di
tengah arus globalisasi yang kadang mengikis nilai kesederhanaan dan
keikhlasan.
Saya menyampaikan kepada pimpinan
pesantren bahwa “santri hari ini harus bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tapi
juga tangguh menghadapi perubahan zaman. Paham kitab kuning, tapi juga paham
teknologi.”
Pesan ini saya sampaikan sebagai
refleksi terhadap arah pendidikan pesantren ke depan yang harus mampu
menyeimbangkan antara tradisi keilmuan klasik dan inovasi modern.
Kegiatan di pesantren semakin
semarak ketika berbagai perlombaan antar-santri dimulai. Ada lomba pidato
Bahasa Arab, qiraatul kutub, hadrah, dan nasyid. Saya sengaja menyempatkan diri
untuk menyaksikan sebagian perlombaan tersebut. Wajah-wajah santri tampak
antusias, penuh semangat dan percaya diri. Dari setiap untaian kata yang
keluar, tampak jelas bagaimana pembelajaran di pesantren telah membentuk
pribadi yang santun, cerdas, dan mencintai ilmu.
Foto
kegiatan hari santri di MTI Bayur
Saya merasa terharu melihat
bagaimana semangat perjuangan santri terus hidup di tengah modernitas yang
serba cepat ini. Bagi saya, pesantren seperti MTI Bayur bukan sekadar lembaga pendidikan,
melainkan penjaga peradaban Islam Nusantara, tempat lahirnya generasi yang
tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mendalam secara spiritual.
Dalam hati, saya mengucap syukur karena masih diberi kesempatan bersilaturahim
di tempat yang sarat nilai sejarah dan keilmuan ini.
Dalam perjalanan pulang menuju Lubuk
Basung, saya memutuskan untuk singgah di MAN 4 Agam, salah satu madrasah binaan
saya yang selama ini dikenal aktif berinovasi dalam pembelajaran. Di sana saya
bertemu dengan salah seorang wakil kepala madrasah, dan kami berdiskusi cukup
panjang mengenai tantangan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan
pembelajaran mendalam (deep learning).
Beliau mengungkapkan bahwa meskipun
guru-guru sudah berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih
reflektif dan berpusat pada siswa, masih terdapat beberapa kendala, antara lain
keterbatasan waktu, perbedaan persepsi antarguru dalam memahami konsep
“pembelajaran mendalam”, serta adaptasi teknologi yang belum merata.
Menanggapi hal itu, saya memberikan
motivasi bahwa transformasi pendidikan tidak terjadi seketika. Dibutuhkan
kesabaran, kolaborasi, dan komitmen untuk terus belajar. Saya juga menekankan
pentingnya membangun budaya refleksi guru, agar setiap proses pembelajaran dapat
dievaluasi dengan jujur dan diperbaiki secara berkelanjutan.
Selain itu, saya mendorong pihak
madrasah untuk menghidupkan kembali kegiatan riset siswa sebagai bagian dari
pembelajaran bermakna. Riset di madrasah bukan semata soal lomba, tetapi
tentang membentuk karakter ilmiah siswa, berpikir kritis, mencari solusi, dan
menumbuhkan rasa ingin tahu. Saya mengingatkan agar kegiatan riset tahun ini
dijadikan batu loncatan untuk mempersiapkan diri sejak dini menghadapi
Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tahun depan.
Foto
bersama wakil kepala MAN 4 Agam
Hari ini memberikan pelajaran
berharga bagi saya pribadi. Walaupun kondisi fisik belum sepenuhnya pulih,
semangat santri yang saya saksikan di MTI Bayur seperti menjadi vitamin rohani
tersendiri. Saya menyadari bahwa ruh perjuangan santri tidak hanya hidup di
masa lalu, tetapi terus menyala di hati generasi muda yang belajar di pesantren
dan madrasah hari ini.
Saya menuliskan refleksi kecil dalam
catatan pribadi sore ini:
“Santri sejati bukan hanya mereka
yang tinggal di pesantren, tetapi setiap insan yang menuntut ilmu dengan niat
lillahi ta’ala, berjuang dengan kesungguhan, dan mengabdi tanpa pamrih.”
Dengan hati yang kembali
bersemangat, saya pulang sambil membawa keyakinan bahwa pendidikan madrasah, dengan
seluruh nilai, cinta, dan perjuangannya, masih dan akan terus menjadi harapan
masa depan bangsa.
Kamis, 23
Oktober 2025
Hari ini, Kamis, 23 Oktober 2025,
saya melaksanakan kegiatan sepenuhnya di kantor. Selain kondisi kesehatan saya
yang memang belum sepenuhnya pulih, semenjak pagi suasana kantor cukup ramai
karena bertepatan dengan agenda nasional berupa pelantikan pengurus Korpri
Kementerian Agama se-Indonesia yang dilakukan secara daring. Namun, karena saya
tidak termasuk dalam struktur kepengurusan Korpri di lingkungan Kemenag
Kabupaten Agam, saya memilih memanfaatkan waktu untuk melanjutkan kegiatan
belajar mandiri AI Generatif untuk ASN melalui platform resmi BKN Pedia (https://bknpedia.bkn.go.id/).
Kegiatan belajar ini menjadi salah
satu prioritas pribadi saya dalam memperkuat kompetensi digital, terutama di
era birokrasi modern yang semakin menuntut penguasaan teknologi cerdas. Materi
dalam pelatihan ini cukup kompleks dan berlapis—mencakup pemahaman konsep dasar
AI generatif, praktik penggunaan prompt engineering, pemanfaatan AI untuk
pengambilan keputusan berbasis data, hingga simulasi penerapan dalam konteks
pekerjaan ASN. Dari total keseluruhan modul, hingga hari ini saya telah
menyelesaikan sekitar 74% progres pembelajaran, namun saya menyadari bahwa
tidak cukup hanya membaca atau menonton video pembelajaran. Setiap topik harus
dipraktikkan langsung, karena kunci memahami AI bukanlah pada teori, melainkan
pada eksperimen dan eksplorasi.
Foto
tangkapan layar platform BKN Pedia yang sedang diikuti
Sambil mempelajari modul-modul
tersebut, saya juga mencoba mengaitkan konsep AI generatif dengan tugas-tugas
pengawasan madrasah. Saya membayangkan betapa besar manfaatnya apabila
teknologi ini digunakan untuk menganalisis data hasil supervisi, menyusun
laporan otomatis, atau memetakan kebutuhan peningkatan mutu madrasah berbasis
data. Bahkan, dalam konteks pembinaan guru, AI bisa menjadi asisten reflektif
yang membantu guru memahami pola belajar siswa, mengembangkan bahan ajar
adaptif, dan memperkaya metode evaluasi pembelajaran.
Saya sempat menulis dalam catatan
kecil hari ini:
“AI bukan untuk menggantikan peran
guru atau pengawas, tapi untuk memperluas daya jangkau dan memperdalam cara
kita memahami manusia—baik siswa, guru, maupun diri sendiri.”
Refleksi ini muncul dari kesadaran
bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai yang sesungguhnya tetap berasal dari
manusia yang menggunakannya. AI yang tanpa etika dan tanpa hati justru bisa
membuat pendidikan kehilangan arah. Namun bila diintegrasikan dengan visi
kemanusiaan dan cinta seperti dalam konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), maka
teknologi justru bisa menjadi wasilah untuk memperkuat nilai-nilai spiritual
dan sosial di madrasah.
Hari ini memang tidak banyak
aktivitas luar kantor, namun kegiatan belajar mandiri ini terasa sangat
bermakna. Ada kepuasan tersendiri ketika memahami bagaimana logika algoritma
dapat dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Meski hanya duduk di depan
laptop, rasanya seperti sedang membuka jendela masa depan pendidikan madrasah.
Sore hari menjelang pulang, saya
menutup kegiatan dengan merekap progres pelatihan serta menandai beberapa
bagian modul yang perlu diulangi. Saya juga menyiapkan rencana untuk
menyelesaikan seluruh modul AI generatif pada akhir pekan ini, agar segera bisa
mengikuti ujian sertifikasi ASN AI Generatif di BKN Pedia.
Hari ini menjadi pengingat bahwa
belajar tidak selalu harus berada di ruang kelas atau forum besar. Kadang, di
balik kesunyian meja kerja, lahirlah pemahaman baru tentang bagaimana ilmu dan
teknologi dapat menjadi sarana ibadah. Dalam diam, saya belajar—bahwa menjadi
pengawas bukan hanya soal mengawasi orang lain, tetapi juga mengawasi diri
sendiri agar terus belajar, tumbuh, dan memberi manfaat bagi madrasah dan
bangsa.
Jum’at, 24
Oktober 2025
Hari ini, Jum’at, 24 Oktober 2025,
saya melaksanakan kegiatan sepenuhnya di kantor. Sejak pagi saya melanjutkan
fokus utama minggu ini, yaitu menyelesaikan program Belajar Mandiri AI
Generatif untuk ASN melalui platform BKN Pedia. Setelah beberapa hari
sebelumnya saya menuntaskan sekitar 72% dari total modul pelatihan, hari ini
saya bertekad menyelesaikannya secara penuh. Alhamdulillah, dengan konsistensi
belajar dan latihan praktik prompt engineering, akhirnya semua modul dapat saya
selesaikan dan saya memperoleh sertifikat resmi kelulusan pelatihan AI
Generatif untuk ASN. Sertifikat ini menjadi bentuk pengakuan bahwa ASN,
termasuk pengawas madrasah, kini dituntut tidak hanya cakap dalam manajerial
dan supervisi, tetapi juga melek teknologi dan adaptif terhadap perkembangan
kecerdasan buatan.
Foto
sertifikat belajar mandiri BKN Pedia
Kegiatan belajar ini memberikan
banyak inspirasi baru. Saya belajar bagaimana AI dapat menjadi alat bantu
reflektif bagi pengawas dalam menganalisis kinerja guru, mengolah data
supervisi, hingga merancang strategi pembinaan yang lebih efektif. Saya
teringat pesan dalam modul bahwa “AI bukan menggantikan profesionalitas
manusia, melainkan memperkuatnya dengan efisiensi dan ketepatan data.” Prinsip
ini sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning) yang selama ini saya tekuni: memanusiakan manusia
melalui kecerdasan, bukan menyingkirkan manusia dengan teknologi.
Menjelang siang, saya menerima
kunjungan Kepala MAN 4 Agam, Bapak Ilham Mizoni, yang datang membawa undangan
resmi untuk menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan asrama putra
MAN 4 Agam yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025. Dalam
perbincangan singkat kami, beliau menjelaskan bahwa pembangunan asrama ini
merupakan bentuk keseriusan madrasah dalam memperkuat sistem pendidikan
berasrama agar pembentukan karakter siswa lebih terintegrasi antara aspek
akademik, spiritual, dan sosial. Saya menyampaikan dukungan penuh atas langkah
tersebut, sebab keberadaan asrama bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan
wadah pembinaan karakter dan kemandirian santri madrasah.
Kunjungan kepala madrasah tersebut
juga menjadi kesempatan untuk berdiskusi ringan tentang implementasi kurikulum
merdeka, termasuk peran teknologi dalam mendukung proses pembelajaran
kolaboratif di lingkungan madrasah. Saya menekankan bahwa pembangunan fisik dan
pembangunan manusia harus berjalan seimbang; asrama megah akan bermakna jika di
dalamnya tumbuh generasi yang berjiwa besar, berpikir kritis, dan berhati cinta
kepada ilmu serta nilai-nilai keagamaan.
Hari Jum’at ini saya juga mendapat
amanah menyampaikan khutbah di Masjid Salman Balai Ahad Lubuk Basung. Topik
khutbah yang saya sampaikan tentang pentingnya bertaqwa dan langkah
menggapainya.
Selain kegiatan internal kantor dan
pertemuan dengan kepala madrasah, saya juga membantu seorang rekan pengawas
madrasah dari Medan, Sumatera Utara, yang menghubungi saya secara daring untuk
meminta bantuan penyusunan instrumen telaah modul ajar guru sesuai konteks
Kurikulum Merdeka serta contoh program kerja tahunan madrasah. Permintaan ini
menjadi bukti bahwa jaringan kolaboratif antar-pengawas lintas daerah kini
semakin terbuka berkat kemajuan teknologi digital. Saya merasa senang dapat
berbagi pengalaman dan keahlian dalam merancang instrumen supervisi berbasis
kebutuhan nyata guru di lapangan.
Tangkapan
layar instrumen telaah modul ajar dan contoh program kerja tahunan pengawas
Bagi saya, kolaborasi semacam ini
adalah wujud nyata semangat learning community antar ASN pendidik. Pengawas
tidak hanya berfungsi membina guru di wilayah kerjanya, tetapi juga menjadi
bagian dari komunitas nasional yang terus saling belajar, saling menguatkan,
dan berbagi inovasi untuk kemajuan pendidikan madrasah di Indonesia.
Menjelang sore, saya menutup
kegiatan dengan perasaan syukur. Hari ini terasa sangat produktif walau tanpa
banyak pergerakan fisik. Saya menulis catatan refleksi di akhir hari:
“Menjadi pengawas hari ini bukan
hanya soal hadir di madrasah, tapi hadir di ruang belajar digital, hadir di
kolaborasi lintas wilayah, dan hadir di hati guru yang ingin berkembang.”
Dengan semangat ini, saya berharap
pengalaman hari ini menjadi langkah kecil menuju transformasi pengawasan
madrasah berbasis teknologi dan nilai. Sebab di balik layar laptop yang
sederhana, sesungguhnya sedang tumbuh satu kesadaran baru: pengawas madrasah
harus menjadi jembatan antara kemanusiaan dan kemajuan digital.
Sabtu, 25
Oktober 2025
Pada hari ini, Sabtu, 25 Oktober
2025, meski bukan hari kerja, saya tetap melaksanakan tugas pengawas madrasah dengan
menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan Asrama Putra MAN 4 Agam.
Acara ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan kelembagaan madrasah,
menandai dimulainya babak baru bagi MAN 4 Agam dalam memperkuat pendidikan
berbasis asrama yang terintegrasi antara akademik, karakter, dan spiritualitas.
Hadir dalam kegiatan ini berbagai unsur pimpinan madrasah, komite, tokoh
masyarakat, serta tamu undangan dari lingkungan Kementerian Agama Kabupaten
Agam.
Dalam kesempatan tersebut, saya
menyaksikan bagaimana antusiasme warga madrasah begitu tinggi. Kepala MAN 4
Agam, Bapak Ilham Mizoni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembangunan
asrama ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan wujud komitmen untuk
mencetak generasi berdaya saing dan berakhlak mulia. Saya turut memberikan
apresiasi atas langkah visioner tersebut, sebab dalam konteks pendidikan
madrasah, asrama memiliki peran strategis sebagai laboratorium pembentukan
karakter dan pusat internalisasi nilai-nilai keislaman. Dengan sistem
berasrama, madrasah dapat menanamkan budaya disiplin, tanggung jawab, dan
kebersamaan sejak dini kepada peserta didik.
Foto
kegiatan peletakan batu pertama pembangunan asrama putra MAN 4 Agam
Selain menghadiri kegiatan tersebut,
saya juga memanfaatkan momen silaturrahim dengan beberapa guru MAN 4 Agam yang
hadir. Kami berdiskusi ringan mengenai tantangan pembelajaran saat ini,
terutama bagaimana mengintegrasikan teknologi dengan spiritualitas dalam
aktivitas pembelajaran sehari-hari. Saya kembali menekankan bahwa Kurikulum
Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) tidak dapat
berjalan optimal tanpa kehadiran guru yang reflektif dan berjiwa pendidik
sejati. Teknologi hanyalah alat; ruh pembelajaran tetap terletak pada cinta dan
ketulusan guru dalam membimbing peserta didiknya.
Ditengah berlangsungnya acara, saya
menerima panggilan telepon dari pengurus Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA)
Kabupaten Agam. Mereka memohon kesediaan saya untuk memberikan arahan pada
rapat koordinasi virtual melalui Zoom Meeting yang sedang membahas pembentukan
panitia pelaksana lomba IGRA tingkat Kabupaten Agam. Dengan penuh tanggung
jawab, saya menyempatkan waktu sejenak di sela-sela kegiatan untuk bergabung
dalam pertemuan daring tersebut.
Tangkapan
layar memberikan arahan pada zoom meeting IGRA Kab. Agam
Dalam arahan saya kepada pengurus
IGRA, saya menekankan pentingnya kolaborasi, inovasi, dan komunikasi yang
harmonis di antara seluruh pengurus agar kegiatan lomba nanti tidak hanya
menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah ekspresi dan aktualisasi kreativitas
guru-guru RA di Kabupaten Agam. Saya menegaskan bahwa kegiatan semacam ini
merupakan bentuk nyata implementasi KBC di tingkat pendidikan anak usia dini,
di mana cinta, ketulusan, dan kegembiraan harus menjadi ruh utama dalam setiap
aktivitas pembelajaran dan lomba yang diselenggarakan.
Saya juga mendorong agar panitia
lomba tidak sekadar mempersiapkan aspek teknis, tetapi juga membangun narasi
inspiratif di balik setiap cabang lomba — bahwa setiap permainan, lagu, tari,
atau karya seni anak-anak adalah ekspresi fitrah cinta dan imajinasi yang perlu
diapresiasi, bukan hanya dinilai. Arahan singkat ini saya sampaikan dengan nada
optimis, meneguhkan kembali semangat guru-guru RA bahwa mereka adalah garda
terdepan dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan akhlak mulia sejak usia
dini.
Usai acara di MAN 4 Agam dan rapat
daring bersama IGRA, saya menerima telepon dari Kaur Tata Usaha MTsN 13 Agam
yang meminta bantuan pembuatan instrumen supervisi guru Bimbingan dan Konseling
(BK). Saya menyambut baik permintaan tersebut dan berkomitmen untuk membantu
menyusunnya agar sesuai dengan prinsip supervisi modern yang menekankan pada
pengembangan profesional, refleksi diri, serta dukungan terhadap kesejahteraan
psikologis peserta didik.
Tangkapan
layar instrumen supervisi guru BK
Menjelang sore, saya pulang ke rumah
untuk menuliskan refleksi kegiatan hari ini. Saya menyadari bahwa dalam satu
hari, peran pengawas madrasah dapat berubah dengan cepat, dari menghadiri
kegiatan pembangunan infrastruktur pendidikan, memberikan arahan kepemimpinan
bagi guru, hingga membantu penyusunan perangkat supervisi profesional. Namun,
semuanya berpangkal pada satu niat: menguatkan ekosistem pendidikan madrasah
agar semakin adaptif, kolaboratif, dan berlandaskan cinta.
Saya menutup catatan hari ini dengan
kalimat reflektif:
“Menjadi pengawas bukan hanya
tentang hadir dalam setiap rapat dan upacara, tetapi hadir dalam denyut
kehidupan madrasah, di antara tawa anak-anak, semangat guru, dan harapan para
kepala madrasah. Karena di sanalah sesungguhnya pendidikan menemukan maknanya.”
Senin, 27
Oktober 2025
Hari ini, Senin, 27 Oktober 2025,
saya memulai awal pekan dengan penuh semangat di Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Agam. Seperti biasa, kegiatan pagi diawali dengan apel bersama yang
diikuti oleh seluruh pejabat dan pegawai kantor. Apel berlangsung dengan tertib
dan khidmat di halaman kantor. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad)
bertindak sebagai pembina apel, memberikan arahan penting tentang peningkatan
profesionalitas ASN, komitmen terhadap pelayanan publik yang humanis, serta
kesiapan madrasah menghadapi berbagai agenda besar pendidikan dalam waktu
dekat, termasuk Tes Kompetensi Akademik (TKA) bagi siswa Madrasah Aliyah.
Setelah apel selesai, saya
melanjutkan aktivitas di ruang kerja dengan fokus pada eksperimen pengembangan
aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung Penilaian
Kinerja Kepala Madrasah (PKKM). Selama ini, saya menyadari bahwa proses PKKM
sering kali memerlukan waktu dan tenaga yang besar, terutama dalam aspek
dokumentasi, penilaian, dan pelaporan. Karena itu, saya mencoba memanfaatkan AI
Generatif sebagai solusi inovatif untuk menyederhanakan proses tersebut.
Dalam proses pengembangan ini, saya
menggunakan beberapa platform AI, antara lain ChatGPT, Gemini, dan Copilot,
untuk mencari pendekatan terbaik dalam membangun sistem berbasis web. Dari
hasil eksplorasi, saya menemukan bahwa Gemini memberikan panduan yang cukup
detail dan sistematis dalam membangun aplikasi tanpa harus memiliki kemampuan
coding yang kompleks. Berdasarkan panduan yang saya pelajari, saya akhirnya
memutuskan untuk mengembangkan aplikasi menggunakan platform AppSheet, sebuah
layanan pengembangan aplikasi berbasis Google yang ramah pengguna dan sangat
mendukung integrasi data digital.
Langkah-langkah yang saya lakukan
meliputi:
-
Mendesain struktur database PKKM dalam Google Sheets yang
berisi indikator, bukti dukung, dan penilaian berbasis kriteria.
-
Mengonfigurasikan AppSheet agar mampu menarik data secara
otomatis dan menampilkan antarmuka sederhana yang bisa diakses oleh pengawas
maupun kepala madrasah.
-
Menguji fungsi interaktif seperti input data penilaian,
upload eviden digital, serta laporan hasil PKKM dalam bentuk dashboard.
Meskipun masih tahap awal, aplikasi
ini sudah mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Saya merasakan pengalaman
belajar yang sangat berharga karena berhasil menerapkan teknologi AI secara
langsung dalam konteks dunia pendidikan madrasah. Proses ini juga membuktikan
bahwa dengan kemauan dan panduan teknologi yang tepat, setiap ASN bisa menjadi
inovator, bahkan tanpa latar belakang teknis yang kuat dalam bidang
pemrograman.
Di sela-sela aktivitas pengembangan
aplikasi tersebut, saya juga melakukan komunikasi dengan beberapa kepala
Madrasah Aliyah (MA) binaan untuk meminta laporan situasi pelaksanaan gladi
TKA. Hal ini penting untuk memastikan kesiapan teknis dan mental madrasah
menjelang pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) pada tanggal 3 November
2025 mendatang. Berdasarkan laporan yang saya terima, sebagian besar madrasah
telah melakukan simulasi dan memastikan perangkat TIK serta jaringan internet
berfungsi dengan baik.
Foto
kegiatan gladi TKA di MA MTI Bayur
Foto kegiatan gladi TKA di MAN 1 Agam
Menjelang sore hari, saya menutup
kegiatan dengan menyusun refleksi pembelajaran pribadi. Saya menyadari bahwa
penerapan AI dalam bidang kepengawasan tidak hanya mempercepat pekerjaan,
tetapi juga mengubah paradigma kerja pengawas madrasah menjadi lebih adaptif
dan kreatif. Dari kegiatan hari ini, saya semakin yakin bahwa transformasi
digital bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata bagi ASN masa kini untuk
meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas layanan pendidikan madrasah.
Saya menutup catatan hari ini dengan
kalimat reflektif:
“AI bukan pengganti manusia, tapi
pelengkap bagi mereka yang mau terus belajar. Pengawas yang kreatif bukanlah
yang paling tahu segalanya, tetapi yang mau beradaptasi dengan perubahan zaman
untuk terus memberi makna pada tugasnya.”
Selasa, 28
Oktober 2025
Hari ini, Selasa, 28 Oktober 2025,
bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, menjadi momentum
reflektif bagi saya pribadi dan seluruh ASN di lingkungan Kementerian Agama
Kabupaten Agam. Semangat yang lahir dari Sumpah Pemuda tahun 1928 seakan
kembali bergema di dada para aparatur sipil negara yang pagi ini mengenakan
seragam Korpri dengan penuh kebanggaan. Bagi saya, hari ini bukan sekadar
upacara simbolik, tetapi ajakan untuk menghidupkan kembali nilai perjuangan,
persatuan, dan semangat kebangsaan melalui dunia pendidikan madrasah yang
berlandaskan nilai cinta dan moderasi.
Sejak pagi, hampir seluruh pegawai
dan guru madrasah tampak sibuk dengan ponsel dan laptop masing-masing. Rupanya
hal ini dipicu oleh surat edaran resmi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Agam yang memerintahkan seluruh ASN, pegawai, dan guru madrasah untuk
memperbarui foto profil di SIMSDM Kemenag dengan ketentuan berpakaian Pakaian
Sipil Lengkap (PSL).
Kebijakan ini bertujuan agar
database pegawai Kementerian Agama lebih rapi, formal, dan seragam, sekaligus
menunjukkan citra profesionalisme ASN di lingkungan Kemenag. Namun, karena
sebagian besar pegawai belum memiliki foto formal terbaru, muncullah inisiatif
kreatif: menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan foto profil yang
sesuai dengan ketentuan. Sejak pagi, ruang kerja di kantor terasa seperti
studio digital dadakan. Banyak yang memanfaatkan AI Gemini, ChatGPT Vision, dan
platform sejenis untuk membuat foto bergaya formal dengan hasil yang rapi dan
realistis.
Saya sendiri mengamati fenomena ini
dengan rasa takjub sekaligus kagum. Di satu sisi, ini menunjukkan kemampuan
adaptif ASN Kemenag terhadap teknologi baru, terutama teknologi AI yang kini
kian meresap dalam aktivitas keseharian birokrasi. Banyak pegawai yang
sebelumnya canggung terhadap teknologi digital kini justru belajar dengan cepat
— mulai dari mengatur pencahayaan foto, mengedit latar belakang, hingga mengunggah
hasil akhir ke sistem SIMSDM. Beberapa bahkan saling membantu, mengajari rekan
lain bagaimana mengoptimalkan hasil AI agar tampak natural dan proporsional.
Suasana kerja pun terasa akrab, penuh canda namun tetap produktif.
Bagi saya, fenomena hari ini
merupakan cerminan nyata bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan,
melainkan kebutuhan. Guru-guru dan ASN yang terbiasa berinovasi seperti ini
akan lebih siap menghadapi era digital yang terus berubah cepat. Kecerdasan
buatan kini bukan sekadar alat bantu, tetapi mitra kerja yang membantu
mempercepat dan mempermudah pekerjaan administratif, termasuk dalam hal-hal
sederhana seperti pembaruan data kepegawaian.
Sekitar jam 08.00 saya berangkat ke
MTsN 11 Agam Kecamatan Tanjung Raya dalam acara Pembinaan Siswa tentang
Moderasi Beragama. Acara ini diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Agam dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu Kasubag Tata Usaha
sebagai pemateri pertama dan saya sebagai narasumber kedua. Saya menyampaikan
materi “Toleransi sebagai Pilar Moderasi Beragama” dengan gaya interaktif agar
siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut terlibat aktif.
Melalui permainan sederhana dan
beberapa teka-teki logika, saya mengajak siswa untuk memahami bahwa perbedaan
adalah bagian alami dari kehidupan yang harus disikapi dengan bijak. Siswa
terlihat antusias, banyak yang bertanya, dan diskusi berlangsung hidup hingga
mendekati waktu Zuhur. Saya menutup sesi dengan pesan agar semangat toleransi
tidak hanya dihafalkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di
madrasah. Untuk liputan kegiatannya dapat dilihat pada : https://www.facebook.com/share/v/1Cwe4trzD2/
Foto
kegiatan di MTsN 11 Agam
Setelah kegiatan pembinaan tersebut,
saya menyempatkan diri melakukan monitoring pelaksanaan gladi Tes Kompetensi
Akademik (TKA) di MAN 4 Agam yang lokasinya bersebelahan dengan MTsN 11 Agam.
Monitoring ini penting untuk memastikan kesiapan teknis dan administratif
madrasah dalam menghadapi TKA yang dijadwalkan berlangsung awal November nanti.
Berdasarkan hasil pantauan, pelaksanaan gladi berjalan lancar. Tim teknis
bekerja dengan sigap memastikan komputer, jaringan, dan perangkat pendukung
dalam kondisi optimal. Saya memberikan apresiasi kepada kepala madrasah dan
seluruh panitia atas dedikasi mereka menyiapkan kegiatan ini dengan baik.
Foto
kegiatan monitoring gladi TKA di MAN 4 Agam
Siang harinya, setelah kembali ke
kantor, saya melanjutkan pekerjaan yang sejak beberapa hari ini masih saya
kembangkan, membangun aplikasi PKKM berbasis AI dan AppSheet. Proyek ini
merupakan inisiatif pribadi saya untuk mendigitalisasi proses penilaian kinerja
kepala madrasah agar lebih efisien, transparan, dan mudah digunakan. Saya masih
berkutat dengan bagian form dan relasi data yang cukup kompleks, sambil terus
mempelajari referensi teknis dari hasil panduan AI generatif yang saya gunakan
sebelumnya.
Walau pekerjaan ini menguras energi
dan pikiran, saya merasa termotivasi karena tahu bahwa hasil akhirnya akan
sangat membantu pengawas madrasah dan kepala madrasah di masa depan. Bagi saya,
teknologi bukan sekadar alat, melainkan bagian dari komitmen profesional untuk
mempercepat layanan dan inovasi di bidang pendidikan.
Hari ini saya menutup aktivitas
dengan rasa syukur. Di satu sisi, saya masih bisa berdiri di depan ratusan
siswa MTsN 11 Agam untuk menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama,
sementara di sisi lain saya berjuang menuntaskan inovasi teknologi yang dapat
memperkuat sistem kepengawasan madrasah. Dua dunia yang berbeda, humanistik dan
digital, bertemu dalam satu semangat: menjadikan madrasah pusat lahirnya insan
berkarakter, cerdas, dan berdaya adaptif menghadapi zaman.
Seperti semangat para pemuda 1928
yang bersatu melampaui perbedaan, demikian pula saya belajar untuk menyatukan
cinta, ilmu, dan teknologi dalam pengabdian di madrasah.
Rabu, 29
Oktober 2025
Hari ini, Rabu 29 Oktober 2025, saya
menjalani aktivitas kerja dari kantor seperti biasa. Sejak pagi suasana kantor
terasa cukup tenang, namun produktif. Saya memulai kegiatan dengan melanjutkan
pengembangan aplikasi Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) berbasis digital
yang sedang saya rancang menggunakan platform AppSheet. Aplikasi ini saya
bangun dengan tujuan utama untuk membantu para pengawas madrasah dalam
melakukan proses penilaian yang lebih cepat, efisien, serta terdokumentasi
secara rapi. Setiap hari saya mencoba menyempurnakan berbagai fitur baru,
terutama bagian formulir dinamis dan sistem rekapitulasi nilai otomatis yang
akan memudahkan proses evaluasi di akhir penilaian.
Saya menyadari bahwa pekerjaan ini
tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual. Sebab, sistem PKKM yang
baik bukan hanya berbicara tentang tampilan digitalnya, melainkan juga
bagaimana instrumen penilaian di dalamnya merefleksikan spirit peningkatan mutu
kepemimpinan kepala madrasah di era baru. Karena itu, sebelum menambahkan satu
fitur, saya selalu mempelajari kembali regulasi dan juknis PKKM agar semua
komponen sesuai dengan standar yang berlaku. Di sela-sela pengerjaan aplikasi,
saya juga mencoba memanfaatkan bantuan AI generatif untuk memberikan saran
terkait desain sistem dan penyusunan logika data. Kehadiran teknologi ini
benar-benar membantu mempercepat proses pembuatan tanpa harus memahami bahasa
pemrograman secara mendalam.
Sekitar pukul 08.30 WIB, saya
memutuskan untuk berolahraga ringan di GOR Lubuk Basung. Aktivitas ini sudah
menjadi kebiasaan harian saya dalam upaya menjaga kesehatan, apalagi setelah
beberapa waktu lalu hasil pemeriksaan labor menunjukkan kadar kolesterol dan
tensi yang cukup tinggi. Saya berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit
mengelilingi lintasan GOR sambil menikmati udara pagi yang segar. Kegiatan
sederhana ini terasa menyenangkan sekaligus menenangkan pikiran. Ritme langkah
kaki yang teratur membuat tubuh terasa lebih ringan, dan secara mental pun saya
merasa lebih segar ketika kembali ke kantor.
Olahraga pagi ini saya pandang bukan
sekadar rutinitas fisik, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan
antara kesehatan tubuh dan produktivitas kerja. Dalam pekerjaan yang menuntut
banyak waktu di depan layar komputer, aktivitas fisik seperti ini sangat
penting untuk menjaga vitalitas dan fokus.
Usai berolahraga dan membersihkan
diri, saya kembali ke kantor untuk mengikuti Zoom Meeting dari Pokjawasmad
Nasional yang mengadakan Sosialisasi Program Beasiswa Kementerian Agama RI.
Kegiatan daring ini dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan diikuti oleh para
pengawas madrasah dari berbagai provinsi di Indonesia.
Dalam pemaparannya, narasumber dari
Pokjawasmad Nasional menyampaikan informasi penting mengenai peluang beasiswa
yang disediakan Kemenag, baik untuk jenjang magister maupun doktoral, termasuk
juga program short course dan exchange program ke luar negeri. Program ini
bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas para pengawas madrasah
agar mampu beradaptasi dengan tuntutan pendidikan abad ke-21, yang menuntut
pengawas memiliki kemampuan analisis, riset, dan inovasi pendidikan yang
tinggi.
Dari sosialisasi itu saya mencatat
beberapa poin penting, di antaranya bahwa Kemenag sedang berupaya membangun
ekosistem pembinaan SDM madrasah berbasis merit dan prestasi. Beasiswa bukan
hanya sebagai penghargaan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk
memperkuat mutu kepengawasan. Para pengawas didorong agar tidak berhenti
belajar, sebab pengawas madrasah adalah agen perubahan mutu pendidikan di
lapangan.
Saya merasa kegiatan ini sangat
relevan dengan semangat pribadi saya selama ini yang ingin terus belajar dan
memperdalam integrasi antara teknologi dan supervisi madrasah. Informasi ini
akan saya teruskan juga kepada rekan-rekan pengawas lainnya agar mereka bisa
ikut berpartisipasi dalam program peningkatan kapasitas ini.
Siang harinya, setelah kegiatan Zoom
selesai, saya kembali melanjutkan pekerjaan di kantor. Fokus saya kembali pada
pengembangan aplikasi PKKM yang masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada
bagian laporan kinerja otomatis dan sistem autentikasi pengguna. Saya mencoba
menghubungkan hasil formulir ke database Google Sheet agar data penilaian dari
setiap kepala madrasah tersimpan secara otomatis dan aman.
Pekerjaan ini memakan waktu hingga
sore, namun terasa menyenangkan karena setiap kali menemukan solusi dari
kendala teknis, ada kepuasan tersendiri. Saya melihat proyek ini sebagai bentuk
kontribusi nyata saya sebagai pengawas yang tidak hanya melakukan pengawasan
administratif, tetapi juga menghadirkan inovasi digital untuk membantu
efektivitas kerja di madrasah.
Hari ini saya menutup kegiatan
dengan rasa syukur. Meskipun tidak ada aktivitas lapangan, namun seluruh
kegiatan berjalan produktif dan bermakna. Saya berhasil menjaga keseimbangan
antara kesehatan jasmani dan kemajuan pekerjaan, sekaligus menambah wawasan
baru melalui sosialisasi nasional. Saya yakin, dengan langkah kecil yang
konsisten seperti ini, berinovasi, belajar, dan menjaga kesehatan, akan membawa
dampak besar bagi peningkatan mutu pendidikan madrasah di masa depan.
Kamis, 30 Oktober
2025
Pagi ini, Kamis 30 Oktober 2025,
saya menerima amanah dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam untuk
menghadiri kegiatan Wisuda Tahfidz di MAN 1 Agam. Madrasah ini merupakan salah
satu madrasah binaan pengawasan saya yang selama ini cukup aktif dan
berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun keagamaan. Saya berangkat dari
kantor dengan penuh semangat, karena kegiatan semacam ini selalu menjadi momen
yang mengharukan sekaligus membanggakan, melihat generasi muda yang tumbuh dengan
semangat mencintai Al-Qur’an.
Setibanya di lokasi, saya disambut
hangat oleh Kepala MAN 1 Agam, Bapak Zulfahmi, S.Pd., yang juga merupakan
sahabat lama saya. Suasana madrasah pagi itu begitu meriah. Aula tempat acara
berlangsung telah dipenuhi oleh para tamu undangan: pengurus komite madrasah,
perwakilan dari KUA, Kapolsek setempat, tokoh masyarakat, para alumni, dan
tentu saja orang tua siswa yang tampak haru menyaksikan anak-anak mereka
mengenakan jubah wisuda tahfidz dengan wajah penuh cahaya.
Ketika prosesi wisuda dimulai,
suasana ruangan seolah berubah menjadi sangat sakral. Suara lantunan ayat-ayat
suci Al-Qur’an menggema lembut, dibacakan oleh para wisudawan yang telah
menamatkan hafalan dengan penuh penghayatan. Saya melihat beberapa orang tua tak
kuasa menahan air mata, mungkin antara bangga dan haru menyaksikan buah hati
mereka menapaki perjalanan spiritual yang luar biasa ini.
Dalam sambutan yang saya sampaikan
mewakili Kepala Kantor Kemenag, saya menekankan pentingnya menjaga semangat
cinta Al-Qur’an sepanjang hayat, bukan sekadar untuk acara simbolik wisuda,
melainkan menjadi bekal karakter dan moral di masa depan. Saya sampaikan juga
bahwa Kementerian Agama kini memberi perhatian besar kepada para penghafal
Al-Qur’an dengan memberikan berbagai kesempatan beasiswa, termasuk program LPDP
Tahfidz yang bisa diikuti oleh siswa madrasah yang memiliki hafalan minimal 10
juz.
Pesan ini saya tekankan agar para
siswa termotivasi untuk tidak berhenti di titik hafalan yang mereka capai hari
ini. Hafalan Al-Qur’an bukanlah garis akhir, melainkan perjalanan panjang
menuju kecintaan yang lebih dalam kepada Allah, sekaligus menjadi modal
spiritual dan intelektual untuk menapaki masa depan.
Dalam kesempatan itu, saya juga
menyinggung prestasi MAN 1 Agam yang membanggakan, karena madrasah ini berhasil
masuk dalam 30 besar nasional dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI)
2025 untuk bidang riset. Saya sampaikan apresiasi atas capaian luar biasa
tersebut, dan mengajak seluruh keluarga besar MAN 1 Agam untuk tidak berhenti
di sini. Saya mendorong agar seluruh komponen madrasah; guru, kepala, siswa,
dan komite, bersinergi mempersiapkan diri secara lebih matang untuk melangkah
ke tingkat nasional dengan semangat juara.
Saya tekankan bahwa prestasi dan
tahfidz tidak boleh dipandang sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai
dua sisi dari satu kesatuan: intelektualitas yang berdasar pada spiritualitas.
Madrasah yang unggul bukan hanya yang menghasilkan siswa cerdas secara
akademik, tetapi juga yang melahirkan insan yang berakhlak, berjiwa Qur’ani,
dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam bahasa yang sederhana saya
katakan, “Kita ingin madrasah melahirkan manusia yang cerdas pikirannya, karya
yang bermanfaat dan lembut hatinya.”
Usai acara wisuda, saya melanjutkan
diskusi panjang dengan Kepala MAN 1 Agam, Bapak Zulfahmi. Pembicaraan kami
mengalir dalam suasana akrab namun serius. Kami membahas berbagai hal strategis
tentang pengembangan mutu madrasah, mulai dari peningkatan kualitas guru,
penguatan karakter siswa, hingga pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan
manajemen madrasah.
Kami sepakat bahwa untuk mewujudkan
madrasah unggul di era deep learning dan kurikulum berbasis cinta (KBC),
dibutuhkan kolaborasi kuat antara pimpinan madrasah, guru, dan pengawas. Saya
menyarankan agar MAN 1 Agam terus mengembangkan learning ecosystem yang sehat, lingkungan belajar yang memberi ruang bagi
inovasi, eksplorasi, dan refleksi. Guru tidak boleh hanya menjadi pengajar,
tetapi juga pembelajar sepanjang hayat.
Saya juga menyinggung tentang
pentingnya refleksi berkala di kalangan guru dan siswa. Saya menganjurkan agar
setiap kegiatan pembelajaran diakhiri dengan refleksi singkat: apa yang telah
dipahami, apa yang dirasakan, dan apa yang ingin ditingkatkan. Dengan cara ini,
madrasah tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan
emosional dan spiritual.
Kegiatan hari ini benar-benar
memberi energi baru. Menyaksikan wajah-wajah cerah para penghafal Al-Qur’an dan
semangat guru serta kepala madrasah dalam memajukan lembaganya membuat saya
semakin yakin bahwa madrasah adalah pusat peradaban pendidikan yang sejati.
Dari panggung wisuda hingga ruang
diskusi kecil, semuanya mengajarkan saya satu hal penting: madrasah bukan
sekadar lembaga pendidikan, tetapi tempat di mana cinta, ilmu, dan iman bertemu
dalam satu nafas pengabdian.
Saya menutup hari ini dengan rasa
syukur mendalam, karena di tengah kesibukan dan tantangan, saya masih bisa
menyaksikan bukti nyata bahwa semangat Qur’ani masih menyala di hati para
generasi muda madrasah.
Foto
kegiatan di MAN 1 Agam
Jum’at, 31
Oktober 2025
Hari ini
merupakan hari Jumat terakhir di bulan Oktober 2025, sekaligus penutup dari
rangkaian aktivitas pembinaan, pendampingan, dan inovasi digital yang cukup
padat selama sebulan terakhir. Saya memulai kegiatan pagi ini seperti biasa
dengan bekerja di kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam, melanjutkan
pengembangan aplikasi digital PKKM (Penilaian Kinerja Kepala Madrasah) berbasis
AppSheet yang sudah beberapa waktu ini saya rancang. Aplikasi ini
merupakan inisiatif pribadi saya untuk membantu proses penilaian kinerja kepala
madrasah menjadi lebih efisien, transparan, dan terdokumentasi secara digital.
Sejak pagi,
saya fokus memperbaiki struktur data dan tampilan form penilaian, namun seperti
biasa, setiap inovasi teknologi membawa tantangan tersendiri. Beberapa kendala
teknis masih saya temui, terutama dalam proses integrasi antarform. Karena
tidak memiliki latar belakang coding yang kuat, saya kembali berdiskusi
dengan Gemini AI untuk mencari solusi langkah demi langkah. Panduan dari AI
tersebut cukup membantu, dan secara perlahan struktur aplikasi mulai tersusun
dengan lebih baik.
Di tengah
aktivitas itu, tiga orang CPNS guru TIK yang sedang orientasi di kantor berkunjung
ke ruangan saya. Melihat mereka, saya terpikir untuk berbagi pengalaman
sekaligus melibatkan mereka dalam proyek ini. Saya jelaskan visi aplikasi
digital PKKM yang sedang saya kembangkan, yaitu bagaimana teknologi bisa
membantu pengawas madrasah mengelola data penilaian kinerja kepala madrasah
dengan sistematis tanpa bergantung pada proses manual. Namun, dari hasil
diskusi, ternyata mereka juga masih awam dengan AppSheet. Momen ini saya
jadikan sebagai sarana pembelajaran bersama, bukan hanya soal teknologi, tetapi
juga tentang semangat inovasi dan adaptasi. Saya sampaikan bahwa penguasaan
teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkuat profesionalitas
dan efektivitas kerja aparatur pendidikan di era digital.
Diskusi
berlangsung cukup hangat. Walaupun aplikasi belum selesai sepenuhnya, hari ini
memberikan hasil nyata: tampilan antarmuka dasar sudah terbentuk, dan sistem
input data awal bisa berjalan dengan baik. Saya menutup sesi pengembangan hari
ini dengan perasaan puas dan termotivasi untuk menyempurnakannya di pekan
berikutnya.
Menjelang
siang, saya beranjak ke Masjid Raya Tiku untuk melaksanakan amanah sebagai
khatib Jumat. Tema khutbah yang saya sampaikan adalah “Mengatasi Masalah
Kesehatan Mental Melalui Pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.” Tema ini saya
pilih karena relevan dengan kondisi masyarakat modern, termasuk para ASN dan
guru madrasah, yang sering kali menghadapi tekanan pekerjaan, stres, bahkan
gejala kelelahan mental akibat tuntutan hidup dan perubahan zaman yang cepat.
Dalam
khutbah tersebut, saya memulai dengan menggugah kesadaran jamaah bahwa
kesehatan mental adalah bagian dari amanah menjaga jiwa (hifzh an-nafs)
yang merupakan salah satu dari maqashid al-syariah (tujuan-tujuan syariat).
Saya sampaikan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menjaga tubuh,
tetapi juga bagaimana menjaga pikiran dan hati agar tetap seimbang. Rasulullah
ﷺ telah mencontohkan cara menjaga ketenangan batin melalui dzikir, shalat
malam, sabar, dan syukur.
Saya juga
menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, karena di dalamnya
terdapat obat bagi hati dan penenang jiwa. Firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d
ayat 28 menjadi dasar utama khutbah:
“Ala
bidzikrillahi tathmainnul qulub” — “Hanya dengan mengingat Allah
hati menjadi tenang.”
Saya
mengajak jamaah untuk menjadikan membaca dan menghayati Al-Qur’an sebagai
terapi ruhani, bukan sekadar bacaan ritual, tetapi sebagai sumber kekuatan
mental. Banyak masalah kejiwaan yang muncul karena hati jauh dari dzikir dan
fikiran sibuk dengan urusan dunia tanpa jeda spiritual. Dengan menghidupkan
sunnah-sunnah Rasulullah, seperti menjaga wudhu, memperbanyak istighfar,
menjaga silaturrahim, dan menghindari prasangka buruk, seseorang akan memiliki
daya tahan spiritual (spiritual resilience) yang luar biasa dalam menghadapi
tekanan hidup.
Khutbah ini
saya akhiri dengan pesan bahwa mengobati jiwa tidak selalu harus dengan obat
kimia, tetapi dengan menghidupkan hati. Saya mengajak jamaah untuk memulai dari
hal kecil: menata niat, memperbaiki ibadah, menghindari keluh kesah, dan
memperbanyak syukur. Ketenangan hidup sejati bukan terletak pada banyaknya
harta atau pangkat, tetapi pada hati yang lapang karena senantiasa merasa cukup
dan dekat dengan Allah.
Setelah
shalat Jumat, saya kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan
administrasi dan melanjutkan eksperimen pada aplikasi PKKM digital. Hari ini
terasa begitu bermakna, bukan karena banyaknya kegiatan, tetapi karena adanya
perpaduan antara kerja intelektual dan kerja spiritual.
Pagi hingga
siang saya bergelut dengan teknologi dan inovasi digital, sementara menjelang
siang hingga sore saya berbagi nilai-nilai spiritual yang menyejukkan hati. Dua
dunia itu tampak berseberangan, tetapi sebenarnya saling melengkapi: teknologi
menata sistem, sementara iman menata hati.
Saya menutup
catatan harian ini dengan perasaan syukur. Hari ini saya belajar bahwa tugas
seorang pengawas madrasah tidak hanya mengawasi, menilai, dan membimbing,
tetapi juga menjadi penjaga keseimbangan antara akal dan qalbu. Sebab, tanpa
ketenangan batin, tidak akan ada kecerdasan yang benar-benar berfaedah.
Dan seperti
yang saya sampaikan dalam khutbah siang tadi, “Ketika hati kita tenang, maka
semua pekerjaan akan terasa ringan, dan setiap langkah menjadi ibadah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar