Senin, 01 September 2025
Pada hari pertama
bulan September, hari Senin, 1 September 2025, penulis berkegiatan di kantor
dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Kementerian Agama Wilayah Sumatera
Barat mengeluarkan surat edaran mengenai sistem kerja work from anywhere
(WFA) sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi daerah yang mulai kurang
kondusif akibat gelombang demonstrasi masyarakat. Kebijakan ini juga berdampak
pada madrasah, di mana sebagian besar mengambil keputusan bijak untuk
mengarahkan siswa belajar dari rumah demi keselamatan dan ketertiban bersama.
Di sela aktivitas
kantor, penulis menerima kunjungan dari kepala MAN 4 Agam, kepala MIN 2 Agam,
serta staf Tata Usaha MAS PP Prof. Hamka. Mereka datang membawa urusan
administrasi madrasah yang perlu segera diselesaikan agar roda pendidikan tetap
berjalan lancar. Suasana diskusi berlangsung serius namun hangat, menunjukkan
komitmen bahwa apapun situasinya, tugas pendidikan tidak boleh terhenti.
Penulis juga
menyelesaikan laporan kinerja pribadi sebagai pengawas madrasah sebagai
persyaratan untuk pencairan TPG.
Hari ini mengajarkan
bahwa menjadi seorang pengawas madrasah bukan hanya sekadar memastikan
kurikulum terlaksana atau administrasi berjalan, tetapi juga menjadi garda
terdepan dalam menjaga stabilitas pendidikan di tengah dinamika sosial. Di saat
masyarakat dilanda keresahan, dunia pendidikan membutuhkan figur penenang,
pemberi arah, sekaligus penjaga semangat agar proses belajar tidak padam.
Sebagaimana amanat pendidikan itu sendiri: mencerdaskan kehidupan bangsa dalam
keadaan apapun. Situasi ini menjadi pengingat bahwa pengabdian di jalan
pendidikan adalah ibadah, dan justru pada saat-saat sulit, nilai keikhlasan dan
komitmen kita diuji.
Selasa, 02
September 2025
Hari ini menjadi
salah satu hari yang memperlihatkan wajah nyata dari tugas seorang pengawas
madrasah: hadir, melayani, dan menggerakkan. Pagi itu, saya menerima kedatangan
Kepala MTsS Tantaman, Ibu Karnawati, yang membawa dokumen S29a sekaligus
meminta validasi kurikulum madrasah. Proses yang tampak sederhana ini sejatinya
bukan sekadar tanda tangan administratif, melainkan bentuk tanggung jawab untuk
memastikan arah pendidikan di madrasah tetap terjaga dan berjalan sesuai
regulasi.
Tak lama kemudian,
guru dari MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah juga hadir dengan tujuan serupa.
Situasi ini mengingatkan saya bahwa keberadaan pengawas bukan hanya untuk memeriksa,
tetapi juga untuk menjembatani kebutuhan guru dan kepala madrasah dalam
mengelola administrasi agar mereka tetap bisa fokus pada tugas utamanya:
mendidik dan membimbing generasi muda.
Siang harinya, saya
menerima kunjungan Pak Ilham Mizoni, Kepala MAN 4 Agam sekaligus Ketua Kelompok
Kerja Kepala Madrasah Kabupaten Agam. Beliau datang membawa dokumen perbaikan
S29a. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan; kami berdiskusi tentang persiapan
Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat kabupaten, khususnya di bidang sains
dan riset. Dari percakapan itu, saya semakin yakin bahwa kolaborasi antara
pengawas dan kepala madrasah merupakan kunci dalam melahirkan program-program
unggulan yang berdampak nyata bagi siswa.
Di sela kesibukan
pelayanan administrasi, saya juga mengoordinasikan rencana pembinaan siswa dan
guru pendamping lomba riset OMI 2025. Pendaftaran tinggal lima hari lagi,
sehingga perlu strategi pembinaan yang terarah dan intensif. MTsN 9 Agam
menjadi tuan rumah kegiatan pada hari Rabu mendatang. Saya percaya, kompetisi
bukan hanya ajang mencari juara, tetapi sarana menumbuhkan keberanian siswa
untuk berpikir kritis, kreatif, dan percaya diri.
Hari ini menegaskan
bahwa tugas seorang pengawas tidak hanya berhenti di meja tanda tangan. Lebih
dari itu, pengawas adalah penggerak, motivator, dan fasilitator. Administrasi
memang penting untuk menjaga hak dan kewajiban para pendidik, tetapi
menghidupkan semangat riset dan budaya ilmiah di madrasah adalah langkah
strategis membangun masa depan. Dari ruang kantor hingga arena kompetisi,
semuanya bermuara pada satu cita-cita besar: menjadikan madrasah sebagai kawah
candradimuka lahirnya generasi unggul, berdaya saing, dan berakhlak mulia.
Rabu, 03 September
2025
Hari ini penulis
mendapatkan amanah menjadi narasumber sekaligus mendampingi kegiatan pembinaan
guru pembimbing dan siswa madrasah yang bersiap mengikuti Olimpiade Madrasah
Indonesia (OMI) 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di MTsN 9 Agam, diikuti oleh
perwakilan dari MTsN 4 Agam, MTsN 9 Agam, MTsN 13 Agam, MTsS Muhammadiyah
Kampuang Tangah, serta MTsS Adat dan Syarak Matur. Sejak pagi, suasana tampak
hidup; wajah-wajah penuh antusias siswa dan guru memenuhi ruangan, membawa
semangat baru untuk menapaki jalur riset.
Dalam kesempatan ini,
penulis menyampaikan materi tentang dasar-dasar riset di madrasah hingga teknis
penyusunan proposal penelitian. Pesan utama yang saya tekankan adalah bahwa
riset bukanlah sesuatu yang jauh dan rumit, tetapi bisa dimulai dari rasa ingin
tahu sederhana terhadap fenomena di sekitar. Dengan bimbingan yang tepat, rasa
ingin tahu itu bisa tumbuh menjadi gagasan ilmiah yang bernilai. Para siswa
terlihat bersemangat mencatat, sementara guru pembimbing menyimak dengan serius
agar bisa mendampingi anak-anak mereka lebih baik.
Kegiatan berlangsung
hingga siang hari, dan diakhiri dengan pengumpulan draft proposal riset yang
akan digunakan sebagai bahan pendaftaran secara online. Melihat tumpukan draft
proposal yang diserahkan, saya merasakan optimisme besar: bahwa
madrasah-madrasah ini siap melahirkan karya dan prestasi melalui riset. Lebih
dari sekadar kompetisi, OMI adalah ruang pembentukan karakter ilmiah,
keberanian berpikir kritis, serta keyakinan bahwa anak-anak madrasah pun mampu
berdiri sejajar dengan generasi manapun dalam percaturan ilmu pengetahuan.
Di sela kegiatan ini,
penulis juga berkesempatan bertemu langsung dengan Kepala MTsN 13 Agam, MTsN 9
Agam, dan MAN 1 Agam. Mereka datang dengan keperluan administratif, yaitu
meminta tanda tangan S29a sebagai syarat pencairan Tunjangan Profesi Guru
(TPG). Momen ini kembali menegaskan betapa peran pengawas mencakup dua sisi
yang sama penting: pelayanan administratif untuk kelancaran hak guru, serta
pembinaan akademik untuk peningkatan mutu madrasah.
Hari ini saya kembali
diingatkan, tugas pengawas bukan hanya mengawasi, melainkan menyalakan obor
semangat bagi guru dan siswa. Semoga api kecil yang dinyalakan hari ini, kelak
menyala besar menjadi cahaya yang menerangi nama madrasah di panggung nasional.
Foto
kegiatan pembinaan peserta lomba riset OMI 2025 tingkat MTs Kab. Agam
Kamis, 04
September 2025
Hari ini penulis
beraktivitas di kantor dengan agenda yang berlapis. Pagi hari dimulai dengan
mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengawas Sekolah
Indonesia. Materi yang dibahas begitu relevan dengan tantangan kekinian, yakni
peran pengawas sebagai pendamping sekolah dan pemanfaatan teknologi kecerdasan
buatan (AI) dalam menunjang tugas kepengawasan. Diskusi ini membuka cakrawala
baru bahwa tugas pengawas semakin menuntut adaptasi, bukan hanya pada regulasi
dan supervisi, tetapi juga pada inovasi berbasis teknologi.
Tak lama berselang,
penulis menerima kedatangan Kepala MTsS Bawan yang membawa dokumen S29a dan
SPTJM untuk ditandatangani. Proses sederhana ini mengingatkan kembali bahwa
administrasi adalah pondasi yang menopang kesejahteraan guru. Ketelitian dalam
urusan ini menjadi penting agar hak-hak guru tetap terjamin dan mereka bisa
fokus pada tugas utama mendidik.
Menjelang siang,
suasana kantor berubah khidmat dengan terselenggaranya istighotsah nasional
yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Pusat. Bertempat di Aula Kantor Kemenag
Agam, kegiatan ini diikuti oleh seluruh pimpinan kantor, para kepala madrasah,
kepala KUA, serta pengawas madrasah. Doa bersama ini dilaksanakan sebagai
ikhtiar spiritual memohon keselamatan bangsa. Momentum ini mengingatkan kita
bahwa di balik tugas-tugas administratif dan teknis, ada dimensi spiritual yang
menjadi ruh pengabdian seorang ASN Kemenag: bekerja adalah ibadah, dan doa adalah
senjata utama.
Selesai acara,
penulis kembali melanjutkan pelayanan dengan menerima kunjungan Kepala MIN 7
Agam. Beliau meminta tanda tangan S29a dan SPTJM, sekaligus berdiskusi mengenai
perkembangan guru di madrasahnya serta proyek pembangunan ruang kelas baru yang
dibiayai SBSN. Diskusi ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik dan penguatan
SDM harus berjalan beriringan agar madrasah benar-benar menjadi pusat
pendidikan yang layak dan unggul.
Hari ini menegaskan
bahwa tugas pengawas madrasah adalah perpaduan antara penguatan kapasitas
profesional, pelayanan administratif, dan doa spiritual. Ketiganya berpadu
dalam satu misi besar: menjaga mutu pendidikan, menyejahterakan guru, dan
mendoakan keselamatan bangsa.
Foto kegiatan
istighotsah di aula kantor Kemenag Agam
Senin, 08
September 2025
Hari ini penulis
beraktivitas di kantor, diawali dengan kegiatan apel pagi bersama seluruh
pegawai Kementerian Agama Kabupaten Agam. Bertindak sebagai pembina apel adalah
Kasi Penmad, yang dalam arahannya menyampaikan informasi penting mengenai
kegiatan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI). Pesan ini semakin menegaskan bahwa
OMI bukan hanya agenda kompetisi, tetapi juga momentum strategis untuk
mendorong budaya riset dan inovasi di lingkungan madrasah.
Usai apel, penulis
melanjutkan tugas dengan melayani konsultasi dari MTsN 13 Agam terkait proposal
riset yang akan diikutsertakan dalam lomba OMI. Diskusi berlangsung hangat;
guru pembimbing menunjukkan keseriusan menyusun ide yang kuat dan relevan. Bagi
saya, mendampingi penyusunan proposal bukan hanya soal memberi masukan teknis,
melainkan juga mengarahkan semangat agar riset dipandang sebagai jalan
ibadah—meneliti adalah bagian dari membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam
semesta.
Menjelang siang,
penulis memenuhi undangan pesta pernikahan keluarga salah seorang pegawai
kantor. Kehadiran di tengah acara kebahagiaan ini adalah bagian dari mempererat
tali silaturahmi dan menunjukkan kompetensi sosial sebagai seorang pengawas.
Kehangatan seperti ini sering menjadi perekat kebersamaan yang mendukung
suasana kerja yang sehat.
Selepas acara,
penulis kembali ke kantor dan menerima kedatangan Kepala MIN 6 Agam serta
seorang guru dari MTsS Muhammadiyah Salareh Aia. Mereka membawa dokumen S29a
untuk ditandatangani. Tugas ini, meski tampak sederhana, sesungguhnya merupakan
ikhtiar memastikan hak guru tetap berjalan dengan baik. Setiap tanda tangan
adalah bentuk tanggung jawab, bukan hanya pada administrasi, tetapi juga pada
keberlangsungan profesionalisme guru di madrasah.
Hari ini kembali
mengajarkan bahwa pengawas harus piawai memainkan banyak peran: fasilitator
riset, sahabat silaturahmi, hingga pelayan administrasi. Semua peran itu
berpadu dalam satu tujuan: menjaga mutu pendidikan madrasah dan membangun
semangat kolektif menuju kebaikan bersama.
Selasa, 09
September 2025
Hari ini penulis
memulai aktivitas seperti biasa dengan berangkat ke kantor dan melakukan
presensi melalui aplikasi PUSAKA. Namun, sebelum melanjutkan rutinitas, penulis
terlebih dahulu singgah ke Klinik Evasha untuk memeriksakan kesehatan. Beberapa
hari terakhir telinga terasa pengap, dan pemeriksaan hari ini menjadi langkah
untuk memastikan kondisi tetap prima. Di klinik, penulis mendapat pelayanan
yang baik, mulai dari pemeriksaan tensi hingga pembersihan telinga dengan cara
menyemprotkan cairan ke saluran telinga. Tindakan sederhana ini menjadi
pengingat bahwa menjaga kesehatan adalah bagian penting dari pengabdian, karena
fisik yang sehat akan menopang tugas kepengawasan yang tidak ringan.
Setelah urusan
kesehatan selesai, penulis melanjutkan perjalanan menuju MAN 4 Agam untuk
melakukan monitoring pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat
kabupaten untuk jenjang Madrasah Aliyah. Sesampai di lokasi, kegiatan pembukaan
tengah berlangsung secara daring, dibuka langsung oleh Bapak Kepala Kantor
Kemenag Kabupaten Agam dari MAN 3 Agam sebagai pusat kegiatan.
Madrasah-madrasah di wilayah Agam Barat, termasuk MAN 4 Agam, mengikuti acara
ini secara online. Suasana penuh semangat terlihat di wajah para siswa peserta
lomba, seolah-olah mereka sedang bersiap mengibarkan nama madrasah di panggung
yang lebih tinggi.
Siang harinya,
penulis melanjutkan perjalanan ke MTsN 4 Agam. Dalam perjalanan, penulis
berkesempatan mengantarkan Kepala Madrasah MTsN 4, Bapak Zulherman. Sesampai di
madrasah, penulis tidak hanya hadir secara formal, tetapi juga memanfaatkan
momen untuk memberikan penguatan kepada guru pembimbing lomba riset OMI. Pesan
utama yang disampaikan adalah agar mereka segera menyelesaikan pendaftaran
lomba yang tinggal tersisa satu hari. Dorongan ini penting agar kerja keras
para siswa tidak terhambat hanya karena keterlambatan administrasi.
Hari ini menjadi
cermin nyata bagaimana tugas pengawas madrasah selalu dinamis: dimulai dari
menjaga kesehatan pribadi, hadir dalam kegiatan besar tingkat kabupaten, hingga
memastikan hal-hal teknis di tingkat madrasah berjalan sesuai jadwal. Dari
setiap langkah, penulis menyadari bahwa menjadi pengawas berarti hadir bukan
hanya sebagai pengontrol, tetapi sebagai mitra, pengingat, dan penguat.
Foto
kegiatan pembukaan OMI 2025 tingkat Kabupaten Agam
Rabu, 10 September
2025
Hari ini adalah hari
yang istimewa: genap satu tahun sejak penulis dilantik sebagai pengawas
madrasah di Kabupaten Agam. Walaupun baru seumur jagung, perjalanan selama
setahun ini telah menghadirkan begitu banyak pengalaman berharga yang tidak
hanya memperkaya karir, tetapi juga menambah kedewasaan dalam memandang
kehidupan.
Sejak hari pertama
menerima amanah, langkah demi langkah membawa penulis berkeliling dari satu
madrasah ke madrasah lain, bertemu dengan kepala madrasah, guru, hingga siswa.
Setiap kunjungan adalah ruang belajar baru: bagaimana mendengarkan, memahami,
membimbing, dan mendorong mereka untuk selalu bergerak ke arah peningkatan mutu
pendidikan. Bukan sekadar supervisi, tetapi juga sebuah perjalanan kemanusiaan,
di mana pengawas belajar memaknai arti pengabdian, kesabaran, dan keikhlasan.
Satu tahun ini telah
membuktikan bahwa tugas pengawas bukanlah jabatan administratif semata. Ia
adalah panggilan jiwa untuk memastikan madrasah tetap hidup dengan ruh
keilmuan, semangat perubahan, dan atmosfer cinta. Membina kepala madrasah agar
visioner, menguatkan guru agar profesional, serta memotivasi siswa agar percaya
diri menjadi generasi unggul, adalah bentuk kontribusi kecil yang mudah-mudahan
memberi dampak besar.
Hari ini penulis
kembali merenungkan: perjalanan masih panjang, tantangan akan selalu ada. Namun
dengan niat tulus, semangat belajar, dan kerja kolaboratif, pengabdian ini akan
semakin bermakna.
Satu tahun perjalanan
sebagai pengawas madrasah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga.
Pelajaran terbesar yang saya rasakan adalah bahwa pengawasan sejati bukan hanya
tentang administrasi, tetapi tentang kemanusiaan.
Saya belajar bahwa
setiap kepala madrasah memiliki tantangan yang unik, setiap guru membawa cerita
perjuangan masing-masing, dan setiap siswa adalah harapan yang harus dijaga.
Dalam setiap pertemuan, saya menemukan bahwa tugas utama seorang pengawas adalah
menjadi pendengar yang baik, penasehat yang bijak, dan penyemangat yang tulus.
Saya juga menyadari
bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak akan pernah tercapai hanya dengan
instruksi atau aturan. Ia butuh sentuhan hati: memberi teladan keikhlasan,
menanamkan optimisme, serta membangun budaya kolaborasi. Dari situ saya paham,
pendidikan adalah tentang menyalakan cahaya, bukan sekadar mengisi bejana.
Mungkin capaian
setahun ini belum banyak, tetapi saya percaya setiap langkah kecil—mendampingi
guru menyusun kurikulum, memberi motivasi kepada siswa, atau sekadar
menandatangani dokumen—adalah bagian dari mozaik besar pengabdian. Semoga
langkah-langkah kecil ini kelak membentuk jalan panjang menuju madrasah yang
unggul, berdaya saing, dan tetap berakar pada cinta.
Kamis, 11
September 2025
Hari ini kembali
menjadi sebuah perjalanan yang mengingatkan saya betapa mulia amanah sebagai
seorang pengawas madrasah. Sejak pagi, langkah saya tertuju ke RA Habiburrahman
Gumarang, Kecamatan Palembayan, untuk menghadiri pertemuan dua bulanan Ikatan
Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Agam. Di tengah wajah-wajah semangat
para guru RA, saya dipercaya untuk menyampaikan materi tentang Pemanfaatan
Aplikasi Canva dalam Pembelajaran.
Dalam hati saya
tergerak, bahwa tugas ini bukan sekadar berbagi pengetahuan teknis, melainkan
mengajak para guru untuk berani membuka diri terhadap inovasi. Saya sampaikan
tentang Canva for Education—sebuah fasilitas luar biasa yang akan memperkaya
kreativitas dan memudahkan pekerjaan guru. Saya dorong mereka untuk berani
mencoba, karena di balik keterbatasan, teknologi menawarkan jalan baru untuk
menciptakan pembelajaran yang lebih hidup dan menyenangkan. Saya melihat mata
mereka berbinar, seolah menemukan energi baru untuk melangkah. Inilah kebahagiaan
yang hanya bisa dirasakan oleh seorang pendidik: ketika ilmu yang disampaikan
menyalakan semangat belajar orang lain.
Sepulang dari
kegiatan itu, saya kembali ke kantor. Di sana, para kepala madrasah binaan
datang dengan berbagai urusan administrasi—konsultasi kurikulum,
penandatanganan S29a, dan diskusi tentang kebutuhan madrasah. Walau terkesan
sederhana, saya menyadari bahwa pelayanan administratif ini sama pentingnya
dengan pembinaan akademik. Sebab di balik selembar dokumen ada harapan guru,
ada kesejahteraan keluarga, dan ada kelancaran perjalanan pendidikan madrasah.
Hari ini menegaskan
kembali keyakinan saya: pengawas bukan hanya pengendali, melainkan penggerak.
Dari forum IGRA hingga meja tanda tangan di kantor, semua adalah medan
pengabdian. Setiap detik yang saya jalani, selalu saya niatkan sebagai ibadah,
agar langkah kecil ini bisa ikut menyalakan cahaya bagi madrasah dan generasi
masa depan.
Foto
kegiatan IGRA Kab. Agam di RA Habiburrahman Gumarang Palembayan
Jum’at, 12
September 2025
Hari ini penulis
memulai aktivitas bukan di kantor, melainkan di Masjid Nurul Falah Lubuk
Basung. Berdasarkan undangan dari Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, seluruh ASN
di lingkungan Kantor Kementerian Agama Agam diminta menghadiri acara Tabligh
Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kehadiran ini bukan
sekadar memenuhi kewajiban kedinasan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk
memperkuat spiritualitas dan menyatukan hati bersama umat.
Acara yang
menghadirkan Syekh Bilal Al Habil dari Palestina ini berlangsung penuh khidmat.
Dalam tausiyahnya, beliau banyak mengisahkan kondisi terkini kaum muslimin di
Palestina, sebuah negeri yang setiap hari bergumul dengan luka, namun tetap
menyala dengan semangat iman. Dengan bahasa Indonesia beraksen Arab yang khas,
Syekh Bilal tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menggugah hati hadirin
agar semakin kuat dalam kepedulian dan doa bagi saudara-saudara kita di sana.
Tabligh akbar ini menjadi momentum yang meneguhkan, bahwa cinta Rasulullah
harus diwujudkan dalam solidaritas, keikhlasan, dan pengorbanan.
Selepas kegiatan
tersebut, penulis kembali ke kantor untuk melanjutkan aktivitas kepengawasan
sebagaimana biasanya. Diantaranya saya menerima kedatangan guru dari MTsS
Gumarang yang meminta tanda tangan validasi kurikulum madrasah sebelum
diserahkan ke kantor Kemenag. Suasana hati yang sebelumnya dipenuhi getaran
spiritual dari tabligh akbar, kini menjadi energi baru untuk bekerja lebih
ikhlas dan penuh makna. Aktivitas administratif, pelayanan konsultasi, hingga
pendampingan madrasah pun kembali dijalankan dengan kesadaran bahwa setiap
pekerjaan kecil, jika diniatkan karena Allah, adalah bagian dari amal besar
dalam membangun peradaban madrasah.
Senin, 15
September 2025
Hari ini penulis
memulai aktivitas dengan hadir di kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam.
Kegiatan diawali dengan apel pagi bersama seluruh pejabat dan staf kantor.
Bertindak sebagai pembina apel adalah Bapak Kamiri, Kasi Bimas Islam. Hadir
pula Kakankemenag, Kasubag TU, Kasi Penmad, penyelenggara zakat wakaf, para
kepala KUA, serta pengawas madrasah.
Dalam arahannya,
pembina apel menyampaikan beberapa poin penting, di antaranya tentang persiapan
kafilah MTQ Kabupaten Agam yang akan mengikuti lomba di tingkat Provinsi Sumatera
Barat. Beliau menjelaskan bahwa kafilah sudah melaksanakan training center
sebanyak tiga kali, dan berharap dukungan semua pihak agar para peserta dapat
tampil maksimal membawa nama baik daerah. Selain itu, beliau juga mengingatkan
seluruh ASN Kemenag untuk bekerja dengan sepenuh hati, melayani baik internal
Kemenag maupun masyarakat luas, karena pelayanan yang tulus merupakan bagian
dari pengabdian.
Usai apel pagi,
penulis menghadiri pembukaan lokakarya guru di MTsN 13 Agam, Batukambing,
Kecamatan Ampek Nagari. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kakankemenag, dan
dihadiri oleh Kasi Penmad, pengawas, kepala madrasah, Kaur TU, serta seluruh
majelis guru dan pegawai madrasah. Lokakarya ini menjadi momentum penting untuk
memperkuat kapasitas guru, meningkatkan pemahaman kurikulum, serta menumbuhkan
semangat kolaborasi di lingkungan madrasah.
Di sela kegiatan,
penulis juga melakukan peninjauan lapangan terkait kondisi fisik madrasah.
Beberapa hal yang ditinjau antara lain pembangunan ruang kelas baru yang
digagas dan dibiayai oleh komite madrasah, akses jalan lama menuju lokasi
madrasah, serta suasana tepi sungai di belakang madrasah. Peninjauan ini
memberi gambaran nyata tentang dukungan masyarakat terhadap perkembangan
madrasah sekaligus potensi lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber belajar.
Setelah dari MTsN 13
Agam, penulis mendampingi Kakankemenag melanjutkan agenda kunjungan ke MTsS
Muhammadiyah Sitalang. Di sana, Kakankemenag memberikan pembinaan langsung
kepada guru-guru terkait pentingnya integritas, kedisiplinan, serta kesiapan
dalam melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Penulis turut memberikan dukungan
dan masukan dalam rangka mendampingi upaya peningkatan mutu madrasah.
Menjelang akhir hari,
setelah kembali ke kantor, penulis menerima kedatangan guru dari MIN 2 Agam
yang membawa proposal program unggulan madrasah. Proposal tersebut berisi
rencana penguatan budaya lokal melalui program keminangkabauan, seperti pencak
silat, randai, tari gelombang, tambua, dan pasambahan. Guru tersebut
berkonsultasi sekaligus meminta tanda tangan pengesahan. Kehadiran program ini
tentu menjadi langkah positif dalam melestarikan tradisi Minangkabau sekaligus
menanamkan identitas kultural kepada peserta didik sejak dini.
Hari ini menegaskan
kembali bahwa tugas pengawas madrasah meliputi banyak aspek: mulai dari
pembinaan dan monitoring, meninjau kondisi fisik madrasah, mendampingi guru,
hingga mendukung program inovatif yang memperkaya karakter peserta didik. Semua
bermuara pada satu tujuan: menghadirkan madrasah yang unggul, berkarakter, dan
berakar kuat pada nilai budaya serta spiritualitas.
Foto
kegiatan pembukaa lokakarya guru MTsN 13 Agam
Foto
Bersama Kepala MTsN 13 Agam Meninjau Pembangunan Ruang Kelas Baru
Foto
Bersama kepala kantor kemenag agam dan majelis guru MTsS Muhammadiyah Sitalang
Selasa, 16
September 2025
Hari ini penulis
memusatkan kegiatan di MTsN 13 Agam sejak pagi hingga siang. Penulis
mendapatkan amanah untuk menyampaikan materi berjudul “Madrasah Berprestasi:
Sinergi Cinta, Inovasi, dan Teknologi.” Sesi ini diawali dengan refleksi
bersama guru-guru, menggali harapan dan mimpi mereka terhadap perkembangan
madrasah. Refleksi tersebut bukan hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga
memperlihatkan betapa kuatnya tekad para guru untuk menghadirkan pendidikan
terbaik bagi anak-anak didik mereka.
Dalam materi inti,
penulis menekankan tiga hal penting. Pertama, tentang cinta seorang guru kepada
profesinya, kepada murid-muridnya, dan kepada proses mendidik itu sendiri.
Cinta inilah yang menjadi energi utama dalam melahirkan dedikasi tanpa batas.
Kedua, inovasi yang lahir dari energi cinta, bahwa kreativitas seorang guru
tidak akan pernah kering jika ia berangkat dari hati yang tulus. Ketiga,
teknologi yang hadir sebagai sahabat, bukan pengganti. Teknologi hanyalah alat
untuk mewujudkan gagasan dan inovasi yang telah tumbuh dari jiwa pendidik.
Dengan sinergi cinta, inovasi, dan teknologi, madrasah diyakini akan melahirkan
prestasi yang berkelanjutan. Pada sesi terakhir, penulis menyampaikan
pemanfaatan teknologi AI di aplikasi Whatsapp untuk membantu kerja guru.
Setelah sesi
penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panjang bersama kepala
dan wakil kepala MTsS Muhammadiyah Sitalang. Percakapan mengalir serius dan
penuh semangat, membicarakan langkah-langkah konkret untuk memajukan madrasah.
Mulai dari strategi pembelajaran, penguatan peran guru, sampai upaya membangun
citra positif madrasah di tengah masyarakat. Diskusi ini menegaskan bahwa
kolaborasi dan komunikasi intensif antar pemangku kepentingan madrasah menjadi
kunci untuk membuka jalan perubahan.
Hari ini menjadi
catatan penting bahwa pembinaan madrasah bukan hanya sebatas memberikan materi,
tetapi juga menyalakan api semangat, menggugah kesadaran, dan menumbuhkan tekad
kolektif. Dengan cinta yang tulus, inovasi yang lahir dari hati, dan dukungan
teknologi yang tepat guna, madrasah dapat terus bergerak menuju prestasi dan
kemajuan.
Foto
menjadi narasumber di MTsN 13 Agam
Foto
penandatanganan kurikulum MTsS Muhammadiyah Sitalang sekaligus diskusi
Rabu, 17 September
205
Aktivitas penulis
pada hari ini dipusatkan di kantor. Pagi hari diawali dengan pengambilan
presensi melalui aplikasi PUSAKA sebagai bentuk kedisiplinan ASN. Setelah itu,
penulis melanjutkan pekerjaan rutin berupa penyusunan laporan kegiatan hari
sebelumnya, sekaligus mulai menyiapkan eviden untuk penilaian kinerja triwulan
III. Proses ini membutuhkan ketelitian karena setiap dokumen yang disusun akan
menjadi bukti nyata dari pelaksanaan tugas kepengawasan.
Di sela pekerjaan
administratif tersebut, penulis juga menerima kunjungan dari dua kepala
madrasah, yakni Kepala MTsS MTI Bayur dan Kepala MIN 6 Agam. Mereka datang
untuk mengurus tanda tangan SPTJM sebagai salah satu persyaratan pencairan TPG.
Pelayanan ini tidak hanya sebatas formalitas, melainkan juga wujud dukungan
agar hak guru dapat tersalurkan tepat waktu tanpa kendala administrasi.
Selain itu, penulis
melakukan komunikasi intensif dengan Kepala MAS Bawan. Dari laporan yang
diterima, terlihat adanya kemajuan pada kegiatan siswa yang diinisiasi langsung
oleh kepala madrasah. Hal ini menjadi poin positif yang menunjukkan geliat
inovasi di tingkat madrasah. Sebagai bentuk dukungan, penulis memberikan
penguatan dan motivasi agar inisiatif tersebut terus berkembang dan menjadi
contoh bagi madrasah lainnya. Bahkan, penulis telah merencanakan kunjungan
langsung ke MAS Bawan pada hari Kamis untuk melihat lebih dekat perkembangan
tersebut.
Hari ini menegaskan
kembali bahwa peran pengawas bukan hanya menandatangani dokumen administratif,
tetapi juga menjadi mitra strategis dalam mendorong tumbuhnya inovasi,
memberikan dukungan, dan menjaga semangat guru serta kepala madrasah agar terus
bergerak ke arah yang lebih baik.
Kamis, 18 September
2025
Hari ini penulis
memulai aktivitas dengan mengikuti kegiatan Zoom Meeting yang diadakan
Kementerian Agama Pusat tentang persiapan memasuki usia pensiun.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor Kemenag Agam bersama para pegawai
lainnya. Materi yang disampaikan memberi banyak pencerahan tentang bagaimana
memaknai masa pengabdian sebagai ASN sekaligus menyiapkan diri menghadapi fase
pensiun dengan penuh kesiapan, baik secara mental, spiritual, maupun finansial.
Pesan yang paling mengena adalah bahwa pensiun bukanlah akhir pengabdian,
tetapi transformasi menuju ladang amal dan kontribusi yang berbeda.
Usai kegiatan
tersebut, penulis menerima kedatangan Kepala MTsS Baringin Kecamata Palembayan
yang meminta tanda tangah berkas persyaratan pencairan TPG. Setelah itu penulis
melanjutkan agenda kunjungan ke MAS Bawan. Kunjungan ini sudah
direncanakan sebelumnya untuk menindaklanjuti komunikasi dengan kepala madrasah
mengenai berbagai kegiatan siswa yang mulai menunjukkan kemajuan. Kehadiran di
madrasah ini sekaligus menjadi bentuk penghargaan atas usaha dan kreativitas
yang telah digagas.
Di lokasi, penulis
disambut hangat oleh kepala madrasah beserta para guru. Diskusi yang terjalin
membahas bagaimana menjaga kesinambungan kegiatan positif siswa agar menjadi
budaya madrasah yang mengakar. Penulis memberikan dorongan bahwa inovasi yang
dilandasi cinta kepada profesi dan peserta didik akan melahirkan semangat
belajar yang tidak mudah padam. Bahkan, setiap langkah kecil, bila terus
dirawat, akan menjadi awal dari prestasi besar yang membanggakan. Pada
kesempatan tersebut, penulis memberikan masukan untuk mengadakan kegiatan
pelatihan menjadi konten kreator serta penggalangan dana untuk kemajuan
madrasah yang menyasar alumni, warga masyarakat di nagari dan perantauan,
perusahaan-perusahaan baik BUMN maupun swasta serta dana pokir anggota dewan.
Hari ini memberikan
dua pelajaran penting: pertama, bahwa setiap insan pendidik dan ASN harus siap
dengan siklus kehidupannya, termasuk masa pensiun, yang sejatinya adalah babak
baru pengabdian. Kedua, bahwa tugas pengawas adalah memastikan semangat
pembaruan di madrasah terus hidup, agar madrasah senantiasa tumbuh menjadi
pusat keilmuan, budaya, dan inspirasi.
Foto
kegiatan zoom meeting persiapan memasuki usia pension di aula kemenag
Foto
Bersama Kepala dan Majelis Guru di MAS Bawan
Jum’at, 19
September 2025
Hari Jumat ini saya
habiskan di kantor dengan agenda yang cukup padat. Pagi-pagi saya sudah mulai
mempersiapkan materi untuk lokakarya guru MTsS Adat dan Syara' yang akan
berlangsung besok di Matur. Ada perasaan antusias sekaligus tanggung jawab
besar, bagaimana menyampaikan materi yang tidak hanya informatif, tetapi juga
mampu menginspirasi para guru untuk terus berkembang.
Sambil menyusun slide
presentasi tentang growth mindset, pembelajaran mendalam dan kurikulum berbasis
cinta, saya memanfaatkan waktu dengan mendengarkan beberapa webinar melalui
channel YouTube. Sungguh menakjubkan bagaimana teknologi memungkinkan kita
untuk terus belajar dari berbagai sumber. Sebagai seorang yang hobi di bidang
teknologi dan pendidikan, momen-momen seperti ini selalu saya syukuri, bisa
belajar sambil bekerja.
Pukul 11.00, saya
harus meninggalkan kantor untuk perjalanan ke Bayur di Kecamatan Tanjung Raya.
Bapak Hasnan Akhyar, wakil kepala MAN 1 Agam, salah satu madrasah binaan saya telah
meminta saya untuk menjadi khatib di Masjid Raya setempat.
Perjalanan menuju
Bayur memberikan saya waktu untuk merenung. Hubungan yang terjalin dengan
kepala dan wakil kepala madrasah binaan bukan hanya sebatas profesional, tetapi
sudah seperti keluarga besar. Ketika Pak Hasnan meminta saya berkhutbah, saya
merasakan kepercayaan yang luar biasa. Ini bukan hanya tentang menyampaikan
pesan agama, tetapi juga kesempatan untuk berbagi nilai-nilai pendidikan Islam
yang dapat menginspirasi jamaah.
Saat berkhutbah, saya
melihat wajah-wajah jamaah yang khusyuk mendengarkan. Dalam khutbah, saya
menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan sebagai investasi terbaik
untuk masa depan. "Karena dalam hidup ini, kita tak berhenti didera
berbagai masalah, maka jangan pernah lupa berdo’a sebagaimana diajarkan Nabi
Muhammad SAW agar hati kita senantiasa tenang menyelesaikan masalah tersebut,"
kata saya sambil menatap beberapa wajah familiar, termasuk para guru dan orang
tua siswa yang saya kenal.
Setelah shalat Jumat,
saya kembali ke kantor dengan perasaan yang lebih tenang. Ada kepuasan batin
ketika bisa berkontribusi dalam dua peran sekaligus, sebagai pengawas madrasah
dan sebagai da'i yang menyebarkan nilai-nilai Islam.
Sore hari membawa
kejutan tersendiri. Kepala Kantor Kementerian Agama memberikan disposisi kepada
saya untuk mewakili beliau membuka acara lokakarya di MTsS Adat dan Syara'
besok. Ini adalah kepercayaan besar yang tidak saya anggap enteng. Sebagai yang
mewakili kepala kantor, saya harus memastikan pesan-pesan strategis
tersampaikan dengan baik kepada para guru.
Malam harinya, saya
menghabiskan waktu untuk mempersiapkan sambutan pembukaan. Saya ingin pesan
yang disampaikan tidak hanya formal, tetapi juga menyentuh hati para guru, tentang
pentingnya meningkatkan kompetensi dan memberikan pelayanan terbaik untuk siswa
dan orang tua.
Refleksi pribadi:
Hari ini mengingatkan saya bahwa peran sebagai pengawas madrasah bukan hanya
tentang supervisi akademik, tetapi juga tentang keteladanan dalam berbagai
aspek kehidupan. Dari kantor ke mimbar, dari supervisi ke da'wah, semuanya
adalah bagian dari amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Foto di
Masjid Raya Bayur setelah melaksanakan khutbah Jum’at
Sabtu, 20
September 2025
Pagi itu, langit
Matur tampak cerah ketika saya berangkat menuju MTsS Adat dan Syara'. Ada
perasaan campur aduk dalam hati, antara syukur karena dipercaya menjadi
narasumber dan tanggung jawab besar untuk berbagi yang terbaik kepada para
pendidik.
Tepat pukul 8 pagi,
kegiatan lokakarya dimulai dengan pembukaan formal. Saya mendapat amanah untuk
mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam membuka acara ini.
Ketika berdiri di depan para guru yang antusias, saya merasakan kehangatan yang
luar biasa. Mereka adalah garda terdepan dalam membangun masa depan anak-anak
bangsa.
Dalam sambutan
pembukaan, saya menyampaikan pesan yang datang dari lubuk hati terdalam:
"Bapak dan Ibu guru sekalian, kita harus terus belajar dan meningkatkan
kompetensi. Bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk memberikan pelayanan
terbaik kepada siswa-siswa dan orang tua yang telah mempercayakan amanah
pendidikan kepada kita."
Saya merasa bangga
ketika menyampaikan betapa madrasah kini dipandang masyarakat sebagai lembaga
pendidikan yang terpercaya. Ini adalah buah kerja keras kita semua—para
pengawas, kepala madrasah, guru, dan seluruh warga madrasah. Namun dengan
kepercayaan ini, tanggung jawab kita semakin besar untuk terus berbenah dan
meningkatkan kualitas.
Setelah pembukaan,
saya memulai sesi dengan menggali harapan para guru terhadap madrasah. Mata
mereka berbinar ketika menceritakan impian-impian besar untuk lembaga tempat
mereka mengabdi. Ada yang berharap madrasah menjadi pusat keunggulan, ada yang
ingin melihat siswanya berprestasi di kancah nasional, dan ada pula yang
bermimpi madrasah menjadi rujukan pendidikan karakter.
Kemudian saya masuk
ke materi inti tentang growth mindset dalam pembelajaran mendalam. Saya melihat
antusiasme di wajah-wajah para guru ketika membahas bagaimana mengubah
paradigma dari "saya tidak bisa" menjadi "saya belum bisa".
Diskusi menjadi hidup ketika mereka mulai berbagi pengalaman tentang
siswa-siswa yang awalnya dianggap lambat ternyata bisa berkembang pesat dengan
pendekatan yang tepat.
Waktu terasa cepat
berlalu. Setelah istirahat sholat zuhur dan makan bersama—yang juga menjadi
momen keakraban tersendiri—saya melanjutkan dengan materi tentang kurikulum
berbasis cinta.
Sesi ini saya awali
dengan memutar film inspiratif tentang Glenn Lim, seorang motivator asal
Singapura. Keheningan menyelimuti ruangan ketika film menampilkan perjalanan
Glenn dari seorang siswa yang pernah gagal hingga menjadi seseorang yang luar
biasa, berkat bimbingan guru hebat bernama Mr. Kumar.
Saya melihat air mata
menggenang di beberapa mata para guru. Mereka seperti melihat refleksi diri
mereka sendiri—bagaimana seorang guru bisa mengubah hidup seorang anak dengan
cinta dan kesabaran. "Inilah kekuatan kita sebagai pendidik," kata
saya sambil menatap satu per satu wajah mereka. "Kita tidak hanya mengajar
mata pelajaran, tetapi juga menanamkan harapan dan impian."
Waktu terus berdetak,
dan sebelum kami sadari, waktu shalat ashar telah tiba. Setelah menunaikan
shalat berjamaah, kami mengakhiri kegiatan dengan refleksi bersama. Momen ini
paling berkesan bagi saya—mendengar para guru berbagi pemahaman baru yang
mereka dapatkan dan komitmen untuk mengimplementasikannya di kelas
masing-masing.
Ketika saya berkemas
untuk pulang, beberapa guru mendekati dan mengucapkan terima kasih dengan
tulus. "Pak Pengawas, hari ini kami mendapat energi baru," ujar salah
seorang guru muda dengan mata berbinar. Itulah momen yang membuat semua lelah
terbayar.
Perjalanan pulang
sore itu terasa ringan. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari proses
transformasi para pendidik. Dalam hati, saya berdoa semoga ilmu yang dibagikan
hari ini dapat bermanfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Refleksi pribadi:
Hari ini mengingatkan saya mengapa saya memilih profesi ini. Setiap kali
melihat semangat para guru untuk terus belajar dan berbagi, hati ini selalu
tergerak. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.
Foto
kegiatan di MTsS Adat dan Syara’ Matur
Senin, 22
September 2025
Kegiatan dimulai
dengan apel pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Puluhan
pegawai berkumpul mengikuti arahan dari Kepala Subbagian Tata Usaha, Bapak
Pebri Doni, M.A. Beliau menekankan penyelesaian pengisian e-kinerja triwulan
III mengingat deadline yang mendekat. Hal ini penting untuk kelancaran
administrasi sesuai jadwal yang ditetapkan. Bapak Pebri Doni memberikan
apresiasi kepada CPNS yang lulus Latsar di BDK Padang:
-
Tommy Andika (KUA Palupuah) - peserta terbaik 2
-
Yulia Maharani (Kantor Kemenag Agam) - peserta terbaik
3 angkatan V
Prestasi ini
menunjukkan kualitas ASN muda Kemenag Agam. Beliau mengingatkan bahwa Latsar
adalah awal pengabdian, bukan akhir perjalanan.
Para peserta
orientasi PPPK disambut hangat dengan harapan dapat mengenal kultur kerja
Kemenag Agam. Semangat mereka diharapkan menjadi energi positif untuk
memperkuat sinergi tim.
Pengarahan ditutup
dengan penekanan pentingnya silaturahmi, koordinasi, dan kerja sama sebagai
kunci kinerja optimal dan pelayanan publik berkualitas.
Setelah apel, saya
melakukan monitoring pelaksanaan ANBK di MIN 2 Agam, Bawan, Kecamatan Ampek
Nagari. Kepala madrasah, Ibu Trisna Sesmiyenti, menyampaikan beberapa hal
penting.
Ibu Trisna berencana
melakukan diseminasi hasil Bimtek Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta
(KBC) dari Padang. Hanya dua kepala MIN dari Agam yang ikut kegiatan ini,
sementara daerah lain mengirim lebih banyak peserta. Ke depan, keterwakilan
Agam perlu ditingkatkan.
Ibu Trisna
mengusulkan program BUNDA (Bundo Akademik), modifikasi dari program guru wali
Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025. Meski program guru wali tidak berlaku untuk
SD/MI, beliau ingin menciptakan inovasi khas madrasah.
Sebagai pengawas,
saya memberikan masukan agar BUNDA menjadi akronim:
-
Bimbing murid yang diamanahkan
-
Urusi kepentingan murid
-
Nyaman bagi guru dan murid
-
Damaikan bila ada pertentangan
-
Asyik bagi murid
Masukan ini
memperkuat landasan filosofis program agar bermakna dan kontekstual.
Kegiatan ditutup
dengan ta'ziyah ke rumah Bapak Tasman, Kepala MTsS MTI Bayur di Muko-Muko, Koto
Malintang, Kecamatan Tanjung Raya. Ayahanda beliau wafat malam sebelumnya.
Kehadiran dalam
ta'ziyah mencerminkan kompetensi sosial pengawas dalam menjaga hubungan baik,
memberikan dukungan moral, dan hadir dalam suka duka bersama kepala madrasah
binaan.
Hari ini memberikan
pembelajaran berharga. Di satu sisi, saya menyaksikan madrasah melahirkan
inovasi dari keterbatasan. Di sisi lain, saya merasakan pentingnya persaudaraan
dalam mendampingi pemimpin madrasah.
Dua hal berbeda yang
bermuara pada nilai sama: cinta dan kepedulian sebagai fondasi kemajuan
pendidikan madrasah. Inilah esensi tugas pengawas yang sesungguhnya, tidak
hanya mengawasi secara administratif, tetapi juga hadir secara manusiawi.
Foto
monitoring pelaksanaan ANBK di MIN 2 Agam
Foto
kegiatan ta’ziyah di rumah Bapak Tasman
Selasa, 23
September 2025
Hari ini penulis
melaksanakan kegiatan di kantor dengan agenda utama melayani konsultasi
kurikulum dari MAS Bawan. Konsultasi ini berfokus pada penyempurnaan dokumen
kurikulum agar lebih sesuai dengan arah kebijakan terbaru sekaligus menjawab
kebutuhan nyata pembelajaran di madrasah. Diskusi ini menjadi ruang untuk
memperkuat visi madrasah agar tidak sekadar administratif, tetapi benar-benar
membentuk arah pendidikan yang lebih bermakna.
Selanjutnya, penulis
berkomunikasi dengan Kepala MTsS Muhammadiyah Kampung Tangah terkait
pendampingan supervisi pembelajaran. Sesuai jadwal, tim supervisor hari ini
melakukan supervisi terhadap guru tahfidz. Penulis ikut masuk ke kelas,
mengamati langsung proses pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan itu,
penulis mencatat beberapa hal positif sekaligus aspek yang masih perlu
diperbaiki untuk meningkatkan kualitas interaksi guru dengan siswa.
Setelah kegiatan di
kelas, penulis kembali ke kantor untuk memberikan umpan balik dan masukan
terkait pembelajaran. Diskusi dilakukan bersama wakil kepala madrasah bidang
kurikulum dan kesiswaan. Topik yang dibahas meliputi esensi pendidikan, peran
neurosains dalam memahami cara kerja otak anak didik, penerapan Kurikulum
Merdeka, konsep Deep Learning, serta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Percakapan
mengalir intens, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada
rutinitas, melainkan harus mampu menyentuh ranah terdalam perkembangan peserta
didik: akal, hati, dan karakter.
Supervisi
pembelajaran bukanlah ruang untuk mencari kesalahan guru, melainkan cermin
untuk melihat potensi dan peluang perbaikan. Guru bukan objek yang dihakimi,
tetapi mitra yang diajak tumbuh bersama.
Ketika supervisi
dilakukan dengan pendekatan humanis, guru merasa dihargai, diberi ruang untuk
berefleksi, dan dimotivasi untuk terus berkembang. Justru dari supervisi inilah
lahir kesadaran bahwa setiap pembelajaran bisa lebih bermakna, lebih mendalam,
dan lebih menyentuh hati murid.
Pada akhirnya,
supervisi adalah tentang menumbuhkan kualitas, bukan menekan kelemahan; tentang
membangun kepercayaan diri, bukan mengurangi semangat. Inilah jalan menuju
madrasah yang unggul, karena guru yang tumbuh akan melahirkan murid yang
berkembang.
Foto pendampingan supervisi di MTsS Muhammadiyah
Kampung Tangah
Rabu, 24 September
2025
Hari ini penulis
mengikuti kegiatan workshop “MCT Summit Indonesia 2025” yang diselenggarakan
secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams. Workshop ini dilaksanakan
selama dua hari, Rabu hingga Kamis, 24–25 September 2025, mulai pukul 09.00
hingga 15.00 WIB.
Sebagai peserta,
penulis bergabung dari kantor untuk menyimak rangkaian materi yang disampaikan.
Workshop ini difokuskan pada penguatan keterampilan digital, inovasi teknologi,
serta pemanfaatan platform Microsoft Learn sebagai sarana belajar mandiri bagi
pendidik maupun tenaga kependidikan. Dengan bergabungnya para pendidik dan
praktisi pendidikan dari berbagai daerah, suasana diskusi menjadi kaya akan
pengalaman dan praktik baik yang bisa diadaptasi sesuai kebutuhan madrasah.
Selain mengikuti
paparan narasumber, penulis juga melakukan registrasi pada platform Microsoft
Learn sebagai bagian dari komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi,
terutama dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung tugas pengawasan dan
pembinaan madrasah. Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas
wawasan, sekaligus menghubungkan arah kebijakan pengembangan mutu madrasah
dengan pemanfaatan teknologi digital secara lebih efektif.
Workshop hari ini
menegaskan kembali bahwa peran guru dan pengawas di era digital tidak hanya
sebatas mengajar dan mengawasi, tetapi juga harus menjadi pembelajar sepanjang
hayat. Teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mesti dikuasai
agar pendidikan madrasah tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Foto
mengikuti workshop "MCT Summit Indonesia 2025” di platform Teams
Kamis, 25
September 2025
Pada hari ini penulis
kembali melanjutkan keikutsertaan dalam workshop “MCT Summit Indonesia 2025”
yang sudah dimulai sejak Rabu kemarin. Workshop yang diselenggarakan secara
daring melalui Microsoft Teams ini memberikan banyak wawasan tentang inovasi
teknologi, pemanfaatan platform digital, serta penguatan kompetensi bagi para
pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan mengikuti rangkaian materi hingga hari
kedua, penulis semakin menyadari pentingnya peran teknologi dalam mendorong
transformasi pendidikan madrasah menuju arah yang lebih adaptif, kreatif, dan
relevan dengan kebutuhan zaman.
Selain mengikuti
workshop, penulis juga memanfaatkan waktu untuk menyusun laporan kinerja.
Penyusunan laporan ini menjadi bagian penting dalam menjaga akuntabilitas tugas
pengawasan sekaligus merefleksikan capaian yang sudah dilakukan. Dengan
menyusun laporan secara teratur, penulis dapat memetakan kegiatan, menilai
keberhasilan, serta mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat dalam
mendampingi madrasah binaan.
Hari ini meneguhkan
semangat bahwa menjadi pengawas bukan hanya sekadar melaksanakan rutinitas,
melainkan juga mengasah diri agar terus berkembang, baik melalui forum
pembelajaran digital seperti workshop maupun melalui praktik reflektif dalam
penyusunan laporan kinerja. Keduanya saling melengkapi: belajar untuk
bertumbuh, menulis untuk meneguhkan arah pengabdian.
Foto
sertifikat workshop MCT
Jum’at, 26
September 2025
Hari ini penulis
menjalankan aktivitas dari pagi hingga sore di kantor Kementerian Agama
Kabupaten Agam. Sejak pagi, penulis memfokuskan diri pada penyusunan laporan
e-kinerja triwulan III, sebuah kewajiban administratif yang bukan hanya soal
angka, tetapi juga refleksi terhadap capaian dan kontribusi nyata selama tiga
bulan terakhir. Sambil mengerjakan laporan, penulis kembali membuka catatan dan
materi hasil workshop MCT Summit Indonesia 2025 yang diikuti beberapa hari
sebelumnya, dengan tujuan memperdalam pemahaman serta menyiapkan strategi untuk
mengimplementasikan teknologi dalam pendampingan madrasah binaan.
Menjelang siang,
penulis menyempatkan diri untuk mempersiapkan materi khutbah Jum’at yang akan
disampaikan di Masjid Ihsan, Nagari Sangkir, Lubuk Basung. Khutbah ini
dipandang bukan hanya sebagai rutinitas ibadah, tetapi juga sebagai kesempatan
menyampaikan pesan moral, pencerahan, dan motivasi spiritual bagi jamaah agar
lebih menguatkan cinta kepada Allah, sesama manusia, dan tanggung jawab
terhadap kehidupan sosial.
Selepas pelaksanaan
ibadah Jum’at, penulis kembali ke kantor melanjutkan aktivitas penyusunan laporan
hingga sore hari. Hari ditutup dengan apel sore bersama seluruh pegawai, sebuah
tradisi yang mempererat kebersamaan dan disiplin ASN. Apel sore kali ini
dipimpin oleh Kasubag TU dan dihadiri oleh Kasi Bimas Islam serta para
pengawas. Dalam apel ini kembali ditegaskan pentingnya dedikasi, kerja sama,
dan komitmen ASN untuk terus melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Senin, 29
September 2025
Hari ini saya memulai kegiatan dengan
mengikuti apel pagi di halaman
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Apel dipimpin langsung oleh Kepala
Kantor dan diikuti oleh seluruh pegawai. Dalam amanatnya, beliau menekankan
pentingnya peningkatan kinerja menjelang berakhirnya Triwulan III. Pesan itu
disampaikan dengan nada tegas sekaligus mengingatkan agar setiap unit kerja
dapat segera memaksimalkan kegiatan serta penyerapan anggaran. Saya merasakan
bahwa semangat disiplin dan tanggung jawab yang beliau tekankan adalah
pengingat bagi seluruh ASN untuk terus menjaga ritme kerja dan pengabdian.
Usai apel, saya menghadiri acara pelantikan
pejabat fungsional perencana pertama, yakni Bapak Andri, S.Kom., yang
sebelumnya bertugas sebagai pelaksana di kantor. Prosesi pelantikan dipimpin
oleh Kepala Kantor dan disaksikan oleh seluruh jajaran pimpinan serta pegawai.
Momen ini menjadi refleksi bahwa setiap insan ASN berkesempatan untuk terus
berkembang dan meniti karier melalui dedikasi, integritas, dan kerja keras.
Saya turut berbahagia melihat rekan sejawat mendapatkan amanah baru, yang tentu
membawa tanggung jawab sekaligus kepercayaan yang harus dijaga.
Menjelang siang, saya menyempatkan diri untuk
berta’ziyah ke rumah saudara yang baru saja berpulang ke rahmatullah. Suasana
duka mengingatkan saya kembali pada kefanaan hidup; bahwa sehebat apa pun
jabatan dan prestasi, semua akan berakhir pada kematian. Almarhum disholatkan
dan dimakamkan pada hari yang sama. Momen ini menumbuhkan perasaan mendalam
dalam hati, sekaligus doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Setelah itu, saya kembali ke kantor untuk
melanjutkan pekerjaan administratif seperti biasa. Di sela-sela rutinitas, saya
menyempatkan diri untuk membaca berbagai bahan bacaan demi menambah wawasan.
Bagi saya, membaca bukan sekadar kegiatan pengisi waktu, tetapi bagian dari
upaya memperkaya pemikiran agar tetap relevan dalam menjalankan tugas
pengawasan.
Hari ini saya belajar bahwa hidup ASN adalah
kombinasi antara kedisiplinan, pengabdian, refleksi, dan terus menuntut ilmu.
Dari apel pagi hingga tahlil duka, semua menjadi bagian dari perjalanan batin
yang meneguhkan makna kerja: bukan semata urusan administratif, tetapi juga
ibadah dan pengabdian untuk sesama.
Selasa 30
September 2025
Hari ini saya memulai
aktivitas lapangan dengan mengunjungi MTsS Bawan. Sesuai agenda,
rencananya saya akan mendampingi supervisi yang sudah terjadwal, sehingga saya
sengaja datang lebih pagi agar bisa mengikuti pembelajaran dari awal. Namun,
setibanya di lokasi, suasana madrasah berbeda dari biasanya. Seluruh siswa dan
guru berkumpul di aula untuk nonton bareng film G30S/PKI, sebuah tradisi
tahunan yang dimaksudkan untuk mengingatkan generasi muda pada sejarah kelam
bangsa. Dalam kesempatan itu, saya diberi waktu untuk memberikan pengarahan
singkat. Saya sampaikan kepada para siswa bahwa sejarah bukan sekadar kisah
masa lalu, tetapi cermin bagi masa depan. Bangsa yang mau belajar dari
sejarahnya adalah bangsa yang lebih siap melangkah ke depan.
Selesai kegiatan,
saya berdialog dengan Kepala Madrasah, Ibu Nurnajmi, dan Waka
Kurikulum, Ibu Nurafni. Kami membahas dinamika pembelajaran, tantangan
turn-over guru di sekolah swasta, serta perkembangan proses penegerian
madrasah. Saya mencoba memberi dorongan agar mereka tetap semangat. Dalam hati,
saya kagum pada dedikasi para kepala madrasah swasta—mereka berjuang dengan
segala keterbatasan, namun tidak pernah kehilangan semangat mendidik.
Foto
kegiatan di MTsS Bawan
Perjalanan saya
lanjutkan ke MTsS MTI Salareh Aia. Saya menyempatkan diri memonitor
proses pembelajaran, lalu berdialog dengan guru dan tenaga kependidikan. Salah
satu masalah yang mengemuka adalah kendala penyelesaian e-ijazah bagi
siswa yang telah tamat. Sebagai pengawas, saya berusaha mencari solusi, bahkan
langsung menghubungi Plt. Kakanwil Kemenag. Karena kesibukan beliau, tidak
langsung terjawab. Setelah sore, beliau sendiri yang menghubungi nomor kontak
saya. Dari beliau saya mendapat arahan agar pihak madrasah segera membuat surat
resmi ke Kanwil, untuk diteruskan ke pusat. Saran ini saya teruskan kepada Kepala
Madrasah, Bapak Bayu, agar segera ditindaklanjuti dengan koordinasi
bersama Seksi Penmad Kabupaten Agam. Saya merasakan sekali bagaimana madrasah
ini butuh pendampingan bukan hanya secara teknis, tetapi juga dukungan moral.
Foto kegiatan di MTsS MTI Salareh Aia
Menjelang sore, saya
singgah di MTsS Muhammadiyah Salareh Aia, yang letaknya tak jauh dari
lokasi sebelumnya. Di sana saya bertemu dengan Kepala Madrasah, Bapak Wildan
Habib, yang masih relatif baru dalam jabatannya. Kami berdialog santai
mengenai kepemimpinan dan semangat membangun madrasah. Saya juga menyempatkan
diri melihat kegiatan pembelajaran di kelas. Saya berikan motivasi agar beliau
tidak patah semangat di awal masa kepemimpinan. Menjadi kepala madrasah memang
bukan perkara mudah, tapi dengan kemauan untuk terus belajar, perlahan akan
tumbuh kebijaksanaan. Saya yakin, setiap pemimpin yang tulus akan menemukan
jalan untuk memajukan madrasahnya.
Foto kegiatan di MTsS Muhammadiyah Salareh
Aia
Hari ini kembali
mengajarkan saya bahwa pengawasan bukan hanya soal administrasi dan laporan,
melainkan hadir sebagai sahabat bagi madrasah. Dari nonton film sejarah bersama
siswa hingga menyusun strategi penyelesaian persoalan ijazah, semuanya menjadi
bagian dari perjalanan untuk menumbuhkan madrasah yang tangguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar