Hari ini, 25 November 2025.
Timeline media sosial kita mungkin penuh dengan ucapan "Selamat Hari Guru", bunga virtual, dan video-video mengharukan tentang perjuangan seorang pendidik. Namun, di balik riuh rendah perayaan digital ini, izinkan saya mengajak Anda—rekan-rekan guru, kepala madrasah, dan pemangku kebijakan—untuk sejenak "menepi".
Duduklah sebentar. Tarik napas panjang.
Tahun 2025 ini, kita telah melihat percepatan yang luar biasa. Rapor sudah digital (RDM), modul ajar tinggal unduh di cloud, dan kecerdasan buatan (AI) sudah mampu menjawab pertanyaan siswa dalam hitungan detik.
Pertanyaan mendasar yang menghantui kita hari ini adalah: Jika Google dan AI sudah bisa memberi semua jawaban, lalu apa yang tersisa untuk kita kerjakan di kelas?
Apakah kita masih relevan? Atau kita hanya menjadi administrator pendidikan yang terjebak dalam rutinitas?
Di momen Hari Guru Nasional ini, mari kita bedah tiga isu mendasar yang menjadi pengingat sekaligus inspirasi baru bagi kita.
1. Mengajar yang Tak Bisa Digantikan Algoritma
Isu pertama adalah krisis identitas. Banyak guru merasa tersaingi oleh teknologi. Namun, ingatlah satu hal:
"Teknologi bisa mentransfer pengetahuan, tapi hanya manusia yang bisa mentransfer KETELADANAN."
Siswa kita (Gen Alpha) tidak butuh guru yang hanya bertindak seperti "Flashdisk berjalan" yang membacakan isi buku. Mereka butuh koneksi. Mereka butuh tatapan mata yang teduh saat mereka gagal, tepukan di bahu saat mereka berhasil, dan omelan penuh kasih sayang saat mereka salah arah.
Mesin tidak punya hati. Mesin tidak bisa merasakan empati. Inilah wilayah kedaulatan kita. Hari ini, mari berjanji untuk tidak hanya menjadi pengajar materi, tapi jadilah arsitek jiwa.
2. Jebakan Administrasi vs Kemerdekaan Mendidik
Isu kedua adalah "kesibukan yang melenakan". Kita seringkali lebih takut salah menginput data di aplikasi daripada takut gagal membentuk karakter siswa.
Sebagai Pengawas, saya selalu menekankan: Administrasi itu penting sebagai jejak akuntabilitas, tapi jangan sampai ia membunuh kreativitas.
Di tahun 2025 ini, mari kita geser mindset. Administrasi harusnya melayani pembelajaran, bukan sebaliknya. Jika Anda merasa lelah dengan tumpukan dokumen, ingatlah wajah anak didik Anda. Energi kita harus habis untuk mereka, bukan untuk kertas. Mari kita sederhanakan yang rumit, agar kita punya waktu lebih banyak untuk hadir sepenuhnya bagi siswa.
3. Guru Sejahtera: Bukan Sekadar Gaji, Tapi Harga Diri
Isu ketiga adalah kesejahteraan. Ya, kita terus memperjuangkan kesejahteraan finansial. Namun, ada kesejahteraan lain yang sering kita lupa: Kesejahteraan Intelektual dan Mental.
Guru yang sejahtera adalah guru yang tidak berhenti belajar. Guru yang "miskin" ide dan malas membaca adalah bencana bagi masa depan. Kemerdekaan sejati seorang guru lahir ketika ia memiliki kompetensi yang mumpuni, sehingga ia dihormati bukan karena kasihan, tapi karena profesionalisme.
Mari kita rayakan Hari Guru ini dengan menaikkan standar diri kita sendiri. Jadilah guru yang berdampak, sehingga keberadaan kita dirindukan dan ketiadaan kita dicari-cari.
Sebuah Renungan Penutup
Bapak/Ibu Guru Hebat,
Seragam batik PGRI atau seragam dinas yang kita kenakan hari ini bukanlah sekadar kain pembungkus tubuh. Itu adalah jubah pengabdian.
Di tangan kitalah, peradaban masa depan Indonesia sedang diukir. Mungkin nama kita tidak akan tertulis di buku sejarah besar nasional, tapi percayalah, nama kita akan terukir abadi di hati anak-anak yang pernah kita bantu menemukan mimpinya.
Tetaplah Inspiratif meski lelah mendera. Tetaplah Berdampak meski dalam sunyi. Tetaplah Konsisten meski hasil tak langsung terlihat.
Selamat Hari Guru Nasional 2025. Terima kasih telah memilih jalan sunyi yang mulia ini.
Salam Takzim,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar