Kamis, 19 Maret 2026

Memandang Perbedaan Penentuan Awal Bulan dengan Hati


Penentuan 1 Syawal 1447 H kembali berbeda, seolah-olah perbedaan hitungan hari itu dapat mengurangi kesucian ibadah atau memutus tali persaudaraan di antara kaum beriman.

Benarkah? Janganlah membiarkan debu perselisihan lahiriah menutupi kemilau cahaya batin. Perbedaan itu ibarat warna-warni ombak di permukaan samudera, namun ketahuilah bahwa di kedalamannya, airnya tetap satu dan tenang. 

Ketahuilah seperti yang ditulis Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Al Hikam, pada baik ke-21 : مَا كَانَ لِلّٰهِ دَامَ وَاتَّصَلَ، وَمَا كَانَ لِغَيْرِ اللّٰهِ انْقَطَعَ وَانْفَصَلَ  yang artinya "Apa yang dilakukan karena Allah akan kekal dan bersambung (langgeng), dan apa yang dilakukan bukan karena Allah akan terputus dan terpisah. Ini semakna dengan "Sesuatu yang dikerjakan karena Allah, maka tidak akan sempit (susah) padanya."

Jika kita melihat perbedaan ini dengan kacamata nafsu dan ego kelompok, maka yang didapati hanyalah kesempitan dan perdebatan. Namun, jika kita memandangnya dengan kacamata Tauhid, kita akan melihat bahwa Allah-lah Sang Penggerak hati setiap hamba-Nya untuk berijtihad.

Memandang dengan Mata Hati

Ketahuilah bahwa:

  1. Hakikat Waktu adalah Milik-Nya: Baik kita memulai puasa di hari Selasa, Rabu atau Kamis bahkan Jum'at, sesungguhnya kita sedang menghadap Zat yang tidak terikat oleh waktu. Allah tidak melihat pada angka di penanggalan kita, melainkan pada shidq (kejujuran) niat yang bersemayam di relung qalbu.

  2. Ujian Adab, Bukan Ujian Hisab: Perbedaan ini adalah cara Allah menguji adab terhadap sesama mukmin. Apakah kita akan memilih mencela saudaramu yang berbeda, atau kita memilih melapangkan dadamu (insyirah) seluas cakrawala?

  3. Maqam Ketaatan: Jika kita mengikuti ketetapan pemimpin atau ulama yang kita percayai sanadnya, maka lakukanlah dengan ridha. Janganlah kita berpuasa dengan hati yang mendongkol karena merasa paling benar, sebab amal yang disertai rasa ujub (bangga diri) lebih berbahaya daripada kekhilafan dalam penentuan tanggal.

Dalam kitab Taj al-'Arus, Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari senantiasa mengingatkan agar kita membersihkan nafsu dari keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan. Perbedaan penentuan Ramadhan dan Syawal adalah manifestasi dari luasnya rahmat Allah dalam ilmu.

Jika semua manusia dipaksa dalam satu seragam pemikiran, maka di manakah letak keindahan kasih sayang dan kelapangan dada? Perbedaan itu adalah rahmat, asalkan hati kita tetap tertambat pada satu tali, yaitu Lailahaillallah.

Maka untuk menjaga kesucian hati, marilah kita melakukan :

  • Penyucian Niat: Sebelum fajar menyingsing, katakanlah pada hati, "Ya Allah, aku berpuasa karena-Mu, mengikuti petunjuk yang sampai kepadaku dengan penuh ketundukan."

  • Menjaga Lisan: Janganlah menjadi hakim atas ibadah orang lain. Biarlah Allah yang menjadi Hakim Tunggal di hari perhitungan nanti.

  • Fokus pada Inti: Ramadhan adalah bulan pembakaran dosa dan Syawal adalah bulan kembali kepada fitrah. Jangan sampai kita kehilangan "Sang Pemilik Bulan" hanya karena meributkan "Hitungan Bulan".

Ber'amallah dengan akal untuk mengikuti ilmu, namun biarkan hati tetap ber-istirahat dalam kedamaian dan kasih sayang kepada seluruh hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sangkar Emas Panca Cinta: Mengapa Pendidikan Berbasis Cinta Butuh Sayap Nalar Kritis

Bayangkan seekor rajawali yang dibesarkan di dalam sangkar emas. Setiap pagi, ia diberi makan “ Cinta Tuhan dan Rasul-Nya ”, dimandikan deng...