Kamis, 14 Mei 2026

Dua Hari Menjadi Da'i Bersertifikat MUI Pusat





Dua Hari Menjadi Da'i Bersertifikat

Jakarta, 29-30 April 2026.

Saya tidak menyangka ujian ceramah 3 menit terasa lebih menegangkan dari ujian tulis 50 soal. Tapi saya melewati keduanya. Alhamdulillah.

Selama dua hari, saya mengikuti Standardisasi Da'i yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI Pusat. Hari pertama di BSI The Tower Jakarta. Hari kedua di Hotel Balairung Jakarta.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Drs. K.H. Saeful Bahri. Singkat, tapi pesannya jelas: da'i bukan sekadar pandai bicara. Da'i harus terstandar, terverifikasi, dan dapat dipercaya umat.

Sesi pertama dibawakan Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A., Sekjen MUI Pusat. Materinya tentang ke-MUI-an. Saya baru sadar banyak yang saya pikir sudah paham, ternyata perlu diluruskan. MUI bukan lembaga pemerintah. MUI adalah wadah musyawarah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia. Posisinya strategis, tapi sering disalahpahami.

Sesi kedua soal hukum, dibawakan Dr. Rafiqul Umam. Relevan buat saya yang selama ini lebih banyak bergerak di dunia pendidikan. Berdakwah punya aspek hukum yang tidak bisa diabaikan. Ada batasan, ada tanggung jawab, ada konsekuensi jika da'i tidak hati-hati menyampaikan fatwa atau pendapat hukum.

Sesi terakhir hari pertama oleh KH. Abdul Manan Ghani tentang kode etik dakwah. Simpel tapi menohok. Ceramah yang mengundang tepuk tangan bisa jadi ceramah yang melanggar etika.

Hari pertama ditutup bukan dengan tanya jawab, tapi dengan tes. Peserta diminta menulis Surah Al-Fatihah dan bacaan doa iftitah dengan tangan. Terdengar mudah. Ternyata tidak semua orang bisa melakukannya dengan lancar.

Hari kedua suasananya berbeda di Hotel Balairung.

Dr. KH. Arif Fahrudin membuka sesi pagi dengan materi Islam dan wawasan kebangsaan. Topik sensitif, tapi disampaikan dengan tenang dan terstruktur. Da'i yang baik tidak membenturkan Islam dengan NKRI. Da'i yang baik justru menjadi perekat keduanya.

Setelah itu, Dr. Muhyiddin Fanda Setiawan, M.I.Kom. membawakan wawasan dakwah digital. Saya menyimak dengan antusias. Dunia digital bukan ancaman bagi dakwah. Ini medan dakwah baru yang belum digarap serius. Jumlah peserta dakwah digital jauh melampaui majelis taklim mana pun di Indonesia.

Sesi penutup dari KH. M. Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D. tentang Islam Wasathiyah. Bahasanya mudah dicerna. Islam Wasathiyah bukan Islam yang abu-abu. Islam yang adil, berimbang, dan berpijak pada dalil yang kuat.

Lalu tiba waktunya tes. Tiga jenis sekaligus.

Pertama, tes kefasihan membaca dalil. Peserta membaca ayat dan hadis dengan tajwid yang benar. Kedua, ceramah singkat tiga menit. Tiga menit terasa panjang saat berdiri di depan tim penguji. Tapi tiga menit juga terasa sangat pendek saat Anda ingin menyampaikan banyak hal. Ketiga, tes wawasan dakwah dengan 50 soal pilihan ganda dari semua materi dua hari.

Alhamdulillah, saya lulus ketiganya dan mendapat Sertifikat Da'i Bersertifikat MUI.

Tidak semua peserta seberuntung itu. Beberapa orang yang saya kenal belum lulus pada tes pertama. Mereka masih mendapat kesempatan remedial hingga dua kali lagi. Sertifikat mereka ditahan sampai lulus.

Dari dua hari ini, saya pulang dengan satu keyakinan yang makin kuat.

Menjadi da'i bukan soal suara yang keras atau kalimat yang indah. Da'i yang terstandar adalah da'i yang berilmu, beretika, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang diucapkan.

Sertifikat ini bukan puncak. Perjalanan baru saja mulai. Kelulusan ini bukanlah garis finis di mana saya bisa membusungkan dada. Sebaliknya, ini adalah garis start yang menakutkan. Sertifikat standardisasi tidak akan pernah bisa menutupi niat yang bengkok atau lisan yang menyakiti. Ia hanya selembar kertas pembuka pintu; selanjutnya, akhlak, kelembutan hati, dan kesediaan kita untuk merangkul umatlah yang akan menentukan apakah kita layak disebut sebagai penyambung lidah para Nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siswa Malas Belajar karena TikTokers Lebih Kaya? Ini Cara Membalik Logikanya

Dulu, ruang kelas sekolah dasar kita sering kali dipenuhi oleh satu narasi seragam dari para guru: “Kalian harus belajar yang rajin, Nak. Se...