Di samping ruang-ruang kelas darurat, berdiri tenda acara yang bergoyang pelan ditiup angin siang, suaranya berkelepak di antara sunyi yang ganjil. Saya berdiri di sana, seolah memandangi hamparan tanah yang kosong—tempat di mana beberapa bulan lalu, gedung MTsS Muhammadiyah Salareh Aia Palembayan tegak berdiri. Kini, tidak ada satu pun bata yang tersisa. Galodo di akhir tahun 2025 telah menghapus seluruh jejak fisik sekolah ini, meratakannya dengan tanah, seolah-olah ruang-ruang kelas tempat anak-anak mengeja masa depan itu tidak pernah ada.
Namun, hari ini, di bawah atap terpal dan di atas tanah yang masih menyimpan aroma sisa bencana, ada sesuatu yang menolak untuk terkubur. Hari ini adalah acara perpisahan sekaligus Wisuda Tahfidz.
Saya hadir mengenakan seragam kedinasan, melangkah bukan sekadar sebagai seorang pengawas madrasah, melainkan membawa amanah besar mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama. Di tengah suasana yang menguras air mata ini, kehadiran saya—kehadiran kami sebagai representasi negara—adalah sebuah maklumat yang sunyi namun tegas: negara tidak pernah berjalan membelakangi madrasah yang sedang terluka. Kami ada di sini, mendekap luka itu, dan memastikan mereka tidak merangkak sendirian di tengah kegelapan.
Kursi Kosong dan Suara yang Bertahan
Luka itu terasa begitu pekat ketika ingatan kami ditarik kembali pada sore kelabu di akhir tahun lalu. Di sudut tenda, ada sebentuk ruang hampa yang tak kasatmata namun terasa menyesakkan dada. Ruang itu milik salah seorang siswa kelas sembilan, seorang anak yang seharusnya hari ini ikut tersenyum mengenakan pakaian wisuda seperti teman-temannya, namun takdir menjemputnya lebih cepat melalui gulungan galodo. Ia telah tiada, meninggalkan duka yang masih basah di hati teman-teman sekelasnya.
Namun, di panggung darurat itu, kehidupan menolak untuk mengalah.
Saya memandangi sang pembawa acara, seorang siswi yang dengan tegap membacakan susunan acara. Suaranya jernih, meski ada getaran halus yang tak mampu ia sembunyikan. Anak ini, bersama guru yang berdiri di samping panggung, adalah para penyintas yang berhasil lolos dari maut sore itu. Mereka telah menembus lumpur, menantang maut, dan hari ini mereka berdiri di sini untuk memimpin jalannya perayaan.
"Bencana mungkin telah merobek tanah kami, meruntuhkan dinding-dinding kelas kami, tetapi ia tidak pernah bisa menyentuh apa yang telah tertanam di dalam dada kami," kalimat itu seperti menggantung di udara, diucapkan oleh ketegaran sikap mereka.
Melihat mereka, narasi pilu itu mendadak berubah menjadi sebuah monumen kekuatan. Bagi saya, dan bagi seluruh masyarakat Palembayan, esensi Hari Kebangkitan Nasional tahun ini tidak lagi ditemukan di dalam buku-buku sejarah atau pidato seremoni yang berjarak. Kebangkitan nasional itu sedang mewujud di sini, di Salareh Aia: sebuah ketangguhan purba untuk menolak menyerah pada takdir bencana. Kami telah dihantam, tetapi kami memilih untuk bangkit dan menata kembali puing-puing kehidupan.
Tegak di Atas Puing Krisis
Sebagai pengawas yang membina madrasah ini, dada saya bergemuruh oleh rasa haru yang sulit diredam. Ketika galodo meratakan sekolah ini, skenario terburuk sempat melintas di kepala: pendidikan anak-anak ini akan lumpuh, atau bahkan mati suri. Namun, menyerah tidak pernah ada dalam kamus kami.
Wildan Habib, sang Kepala Madrasah yang masih sangat muda, di hari-hari pertama pasca-bencana, mengabari saya bahwa gedung sekolahnya sudah rata. Saya sangat kaget bercampur sedih. Saya pompa semangatnya untuk terus berjuang untuk siswa-siswanya. Kami merancang strategi pendampingan yang tidak hanya berfokus pada kurikulum, melainkan pada pemulihan psikologis dan fleksibilitas ruang belajar. Kami bertarung dengan keterbatasan fasilitas, ketiadaan buku teks, dan trauma yang masih membayang.
Hari ini, air mata saya hampir jatuh saat melihat satu per satu dari mereka maju ke depan untuk diwisuda sebagai penghafal Al-Qur'an.
* Fakta bahwa madrasah ini mampu menuntaskan tahun pembelajaran adalah sebuah keajaiban.
* Fakta bahwa di tengah ketiadaan dinding kelas, mereka justru mampu melahirkan para penjaga ayat-ayat langit (Tahfidz) adalah sebuah prestasi yang melampaui batas nalar.
Ini adalah validasi mutlak bahwa strategi pendidikan darurat yang kami terapkan berjalan dengan sangat efektif. Mutu pendidikan dan benteng keimanan anak-anak ini tetap berdiri tegak, menjulang tinggi di atas puing-puing krisis yang sempat mencoba meruntuhkannya.
Sebuah gedung sekolah bisa diratakan dengan tanah dalam hitungan menit oleh amukan alam. Namun, jiwa sebuah madrasah—artikulasi mimpi, ketulusan guru, dan ayat-ayat yang dihafal di bawah tenda darurat—adalah sesuatu yang abadi. Siang ini, dari Salareh Aia Palembayan, kami tidak sedang merayakan perpisahan sekolah yang hancur; kami sedang merayakan kemenangan sebuah peradaban kecil yang menolak untuk padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar