Jumat, 29 Mei 2026

Tetap Jalan


Saya pernah duduk dalam satu ruangan dengan orang-orang yang lebih banyak bicara tentang lelah daripada tentang kerja.

Keluhan itu nyata. Sistem kita memang belum ideal. Anggaran terbatas. Birokrasi lambat. Guru kelebihan beban administrasi. Kepala madrasah terjepit antara tuntutan atas dan realita bawah.

Tapi saya perhatikan satu pola.

Orang yang paling banyak mengeluh bukan selalu yang paling berat bebannya. Mereka hanya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk tetap melangkah.

Kalau saya mau, saya bisa mengeluh setiap hari sampai pensiun. Saya membina 29 madrasah. Ratusan guru. Ribuan siswa. Sistem yang sering tidak berjalan seperti yang seharusnya. Alasannya ada, dan tidak akan habis.

Tapi saya pilih tidak.

Bukan karena kondisinya sudah nyaman. Justru karena belum.

Ada satu hal yang saya pegang: manfaat paling besar tidak lahir dari situasi yang ideal. Manfaat lahir dari orang yang tetap bergerak di situasi yang tidak ideal.

Satu guru yang hari ini memilih mengajar dengan sungguh-sungguh meski honornya terlambat, itu sedang menanam sesuatu. Satu kepala madrasah yang tetap hadir penuh meski tidak ada yang mengawasi, itu sedang membangun sesuatu.

Pekerjaan kita bukan pekerjaan yang hasilnya langsung kelihatan. Kita menanam untuk orang yang belum tentu ingat nama kita.

Itu bukan kelemahan profesi ini.

Saya tidak tahu berapa lama sistem ini butuh untuk berbenah. Tapi saya tahu satu hal: selama saya menunggu sistem sempurna untuk mulai bekerja dengan baik, saya sedang membuang waktu yang tidak akan kembali.

Ketidaknyamanan bukan tanda bahwa Anda salah jalan. Itu tanda bahwa Anda sedang mengerjakan sesuatu yang penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sangkar Emas Panca Cinta: Mengapa Pendidikan Berbasis Cinta Butuh Sayap Nalar Kritis

Bayangkan seekor rajawali yang dibesarkan di dalam sangkar emas. Setiap pagi, ia diberi makan “ Cinta Tuhan dan Rasul-Nya ”, dimandikan deng...