Kumatikan mesin mobil. AC mati, tapi hawa panas di pelataran parkir madrasah ini belum benar-benar masuk menembus kaca.
Di jok sebelah kiri, ada sebuah map plastik biru. Isinya lembar-lembar instrumen supervisi. Empat belas halaman kolom kosong yang menuntut untuk dicentang. Aku menatap map itu cukup lama, lalu menggeser pandangan ke kaca spion tengah. Ada wajah yang terlihat agak terlalu kaku di sana. Wajah seorang pengawas.
Aku menghela napas, meraih laptop di atas pangkuan, lalu menutupnya pelan sampai terdengar bunyi klik. Hari ini, sebelum kakiku turun menginjak ubin koridor sekolah ini, aku ingin jujur pada diriku sendiri: Sebenarnya, apa yang sedang kubawa di dalam tas ini? Alat ukur, atau rasa peduli?
Kita ini sering sekali terjebak menganggap madrasah semacam pabrik. Guru-gurunya adalah operator mesin, anak-anaknya adalah bahan baku yang harus lolos standar mutu, dan aku—sang pengawas—adalah mandor yang datang membawa meteran. Kalau ukurannya meleset dua sentimeter, aku catat sebagai "temuan".
Padahal, di balik kelas 6B yang tadi pagi suaranya gaduh sampai ke jalan, ada seorang anak laki-laki di bangku pojok yang semalam tidak bisa tidur karena mendengar piring pecah dan tangis ibunya. Di balik meja guru yang tumpukan buku kerjanya miring tidak karuan, ada seorang perempuan yang kepalanya sedang penuh menghitung tanggal jatuh tempo cicilan motor. Dan di balik senyum kepala madrasah yang menyambutku di pintu gerbang tadi, ada punggung yang terlalu sering pegal karena memikul tanggung jawab sendirian.
Aku tahu persis apa yang terjadi satu minggu sebelum namaku muncul di jadwal kunjungan.
Grup WhatsApp guru pasti mendadak ramai. Semua orang mendadak jadi sutradara teater. Kelas dirapikan secepat kilat, RPP lama diprint ulang dengan tanggal baru, anak-anak dilatih menjawab salam serempak agar terdengar "aktif". Mereka bersandiwara demi terlihat sempurna di depan mataku. Lalu begitu ban mobilku melewati gerbang keluar, sandiwara selesai. Mereka kembali pada kelelahan yang sama. Kelas kembali terasa berat. Anak-anak kembali sulit dimengerti.
Maka pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Apakah supervisi hari ini selesai?” Pertanyaannya adalah: Setelah aku pulang nanti, apakah guru yang kutemui hari ini merasa lebih kuat untuk bertahan, atau justru merasa semakin kecil?
Menjadi pengawas dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta ternyata tidak butuh keahlian membaca grafik Excel. Yang dibutuhkan justru kemampuan membaca hal-hal yang tidak tertulis. Membaca suara guru yang sedikit bergetar waktu menjelaskan materi. Membaca diamnya seorang murid yang sebenarnya ingin angkat tangan tapi takut salah. Membaca "aroma" sebuah sekolah—apakah tempat ini bergerak karena rasa aman, atau berjalan semata-mata karena takut pada aturan.
Anak-anak ini seperti benih cabai yang kita taruh di polybag. Mereka tidak tumbuh karena kita bentak agar cepat besar. Mereka tumbuh karena kena sinar matahari. Mereka tidak mekar karena kita beri tinta merah, mereka mekar karena disiram.
Posisi pengawas sebenarnya sangat sederhana: kita ini petani bagi para petani. Tugas petani bukan langsung memetik buahnya. Tugas petani itu mengecek tanahnya. Menggeser potnya kalau terlalu teduh. Memastikan airnya mengalir. Lalu diam, dan menunggu.
Kadang, keajaiban di madrasah itu datangnya senyap sekali. Bukan dari grafik nilai rata-rata ujian yang naik lima angka. Tapi dari seorang guru yang siang ini memilih menarik napas panjang, lalu membatalkan niatnya memarahi murid yang tidak mengerjakan PR. Cuma itu. Geseran sekecil itu. Tapi di titik itulah pendidikan sedang terjadi.
Kutarik tuas pintu mobil. Suara bising jam istirahat langsung menyergap telinga. Aroma es teh plastik dan gorengan kantin mengambang di udara.
Kuambil map biru tadi. Kupegang santai di samping badan, bukan kuapit ketat di ketiak seperti biasanya. Kelak, kalau namaku dicoret dari daftar kepegawaian karena pensiun atau mati, orang tidak akan peduli berapa ribu kolom yang pernah kucentang. Mereka cuma akan ingat satu hal: apakah kehadiranku dulu membuat ruangan ini terasa lebih dingin, atau lebih hangat.
Aku melangkah masuk ke koridor. Biarkan instrumennya mengantre. Hari ini, aku mau menemui manusia dulu.