Pernahkah Anda merasa lelah luar biasa dalam dua minggu terakhir ini?
Lelah bukan hanya karena harus terus-menerus mengepel lantai akibat rembesan air hujan, atau was-was setiap mendengar bunyi atap yang dihantam angin kencang di tengah malam. Tapi juga lelah membuka media sosial.
Di luar sana, hujan badai seolah tak mau berhenti. Tapi di layar HP, badai komentar netizen justru lebih kencang. Timeline kita penuh dengan perdebatan tentang pejabat: "Pak Gubernur/Bupati kok cuma foto-foto angkat lumpur? Pencitraan banget!" Tapi giliran pejabatnya tidak posting foto di lapangan, komentar berubah: "Kemana pemimpin kita? Rakyat kebanjiran kok menghilang?"
Pertanyaannya sederhana: Sebenarnya apa yang sedang terjadi di langit Sumatera Barat sampai cuaca seekstrem ini? Dan di tengah kekacauan ini, apakah wajar kita terus-terusan bertengkar soal posisi pejabat—harus di lumpur atau di kantor?
Mengapa semua ini terjadi bersamaan? Mari kita bedah faktanya secara dingin.
1. Alasan Alamiah: Kita Sedang "Dikepung" Jangan hanya menyalahkan "musim hujan". Faktanya, menurut data BMKG, posisi Sumatera Barat saat ini sedang terjepit di antara dua raksasa badai sekaligus.
Siklon Senyar: Berada sangat dekat di Selat Malaka.
Siklon Koto: Berada jauh di arah Timur (Pasifik). Ibarat dua kipas angin raksasa yang saling tarik-menarik, pertemuan dua badai ini menciptakan Konvergensi (tabrakan angin) tepat di atas kepala kita. Awan hujan menumpuk macet di langit Sumbar. Itulah alasan ilmiah mengapa hujan ini begitu awet, deras, dan bersifat merusak (hidrometeorologi).
2. Alasan Sosial: Dilema "Simalakama" Pejabat Kegaduhan di medsos terjadi karena kita sering lupa bahwa manajemen bencana itu punya dua wajah.
Wajah Lapangan: Pejabat perlu hadir secara fisik. Alasannya psikologis; warga butuh melihat pemimpinnya ada, tidak lari, dan ikut merasakan beceknya lumpur. Ini penting untuk moral.
Wajah Meja (Lobby): Pejabat perlu berada di kantor atau Jakarta. Alasannya strategis; siapa yang akan menandatangani SK Tanggap Darurat agar dana cair? Siapa yang melobi BNPB pusat agar alat berat dikirim? Ini kerja sunyi yang tak terlihat di kamera, tapi vital.
Jika pejabat turun ke lapangan dibilang pencitraan, dan jika di kantor dibilang menghilang, maka energi kita habis hanya untuk prasangka, bukan untuk solusi.
Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Tulisan ini bertujuan mengajak kita semua untuk menggeser fokus. Musuh kita adalah badai siklon dan banjir bandang, bukan sesama kita, bukan pula pemerintah.
Tujuan Mitigasi: Fokuslah pada keselamatan keluarga. Cek atap, bersihkan drainase, dan hindari area rawan longsor. Pahami bahwa Siklon Senyar dan Koto adalah fenomena alam serius yang butuh kewaspadaan, bukan keluhan.
Tujuan Sosial: Mari berhenti menjadi "hakim dadakan" di media sosial. Berikan ruang bagi pejabat untuk membagi tugas—ada kalanya kaki mereka berlumpur, ada kalanya mereka harus bersih di balik meja lobby demi anggaran bantuan. Keduanya sama pentingnya.
Tujuan Informasi: Jadilah netizen bijak. Daripada nyinyir, gunakan jempol untuk menyebar info valid: "Jalan A putus", "Nagari B butuh popok bayi". Informasi positif adalah bantuan tercepat yang bisa kita berikan.
Siapa Kita Sebenarnya?
Sebagai masyarakat Sumatera Barat yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, kita punya identitas kuat dalam menghadapi musibah.
Sebagai Orang Beriman: Kita diajarkan Nabi SAW untuk tidak mencela angin, melainkan berdoa memohon kebaikannya. Kita yakin badai ini adalah ujian untuk menaikkan derajat atau teguran agar kita bertaubat.
Sebagai Orang Minang: Kita punya falsafah “Sachiok bak ayam, sadanciang bak basi” (Seiya sekata, satu tujuan).
Bencana ini berat, Sanak. Jangan tambah beban alam ini dengan beban kebencian antar sesama. Mari saling bantu, saling dukung, dan saling mendoakan. Pejabat bekerja dengan amanahnya, rakyat bekerja dengan gotong royongnya.
Badai pasti berlalu, tapi persaudaraan kita harus tetap utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar