Senin, 27 April 2026

Merakit Sekrup di Ruang Hampa Udara

Pagi ini di Padang, hujan turun keras. Menggedor atap seng dengan ritme yang membuat udara terasa berat dan dingin. Dari jendela berembun, aku melihat anak-anak berseragam merah-putih berlarian mencari tempat berteduh, mendekap erat tas mereka. Dadaku sesak. Ada sesuatu yang sedang menenggelamkan mereka perlahan, lebih dalam dari badai ini: sebuah sistem pendidikan yang kehilangan arah.

Kita berbicara tentang distribusi guru seperti mereka kotak-kotak logistik yang bisa dipindah-pindahkan di peta. Di kota-kota besar, guru dengan sertifikat menyajikan materi di bawah cahaya neon yang sejuk. Di pelosok sana, di jalan tanah yang jadi kubangan lumpur setiap hujan, seorang pendidik berdiri di papan tulis dengan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.

Plato menyebut mereka Guardian. Emas penjaga peradaban. Namun kita ingin mereka jaga moral bangsa sementara sistem membiarkan mereka berjuang sendirian. Ibnu Khaldun sudah memperingatkan ini berabad-abad lalu: ketimpangan antara pusat dan pedalaman adalah titik nol pembusukan peradaban. Jika kita tidak memberikan mereka kehidupan yang layak, ilmu hanya akan memusat sebagai hak istimewa kaum urban.

Lalu kita memaksakan kurikulum yang dirancang dari gedung-gedung tinggi ibu kota, jatuh dari atas seperti titah yang tidak tahu apa-apa tentang realitas. Kita panik karena anak-anak tidak siap kerja, lalu tergesa-gesa merombak silabus. John Dewey mungkin akan setuju bahwa kelas harus terhubung dengan dunia nyata. Tapi ada pertanyaan yang lebih dalam. Apakah kita mendidik manusia yang merdeka, atau merakit penurut untuk mesin industri? Itulah yang Socrates tanyakan.

Ketika pendidikan hanya diukur dari seberapa cepat seseorang terserap oleh pasar, kita tergelincir. Kita melucuti fitrah anak-anak ini, mereduksi jiwa-jiwa kompleks menjadi sekadar "sumber daya"—seperti yang disebut Heidegger sebagai Gestell, di mana segalanya dilihat hanya dari nilai kegunaannya.

Aku teringat meja-meja kayu berderit lapuk dan lemari perpustakaan tanpa buku di sebuah desa tak jauh dari sini. Kita berkoar tentang digitalisasi dan pendidikan abad dua puluh satu, namun lupa bahwa gagasan-gagasan besar tidak bisa mengenyangkan perut lapar atau menghangatkan tubuh yang menggigil. Karl Marx benar. Basis material menentukan segalanya. Sinyal internet putus-putus. Laboratorium tidak ada. Listrik sering padam. Ini bukan masalah teknis. Ini bukti nyata dari perjuangan kelas di era modern. Tanpa infrastruktur yang setara, pendidikan hanyalah teater ilusi yang membantu kelas penguasa melanggengkan dominasi mereka.

Sistem ini mengukur harga diri anak-anak dengan cara kejam. Ruang ujian hampa udara. Setiap goresan pensil menghapus kemampuan mereka untuk mempertanyakan dunia. Paulo Freire menyebut ini Banking Concept of Education. Guru menabung data mati ke kepala siswa, siswa mencairkannya di kertas ujian tanpa pernah memaknainya. Kesadaran kritis mereka mati di ujung pensil. Kita tidak membesarkan pemikir. Kita memproduksi arsip hidup yang patuh, yang hafal rumus namun gagap menghadapi realitas.

Semua ini berakar pada satu hal: terputusnya ikatan jiwa. Orang tua melepaskan genggaman tangan anak di gerbang sekolah, menghela napas lega karena merasa transaksi "mendidik" selesai. Meja makan di rumah tidak lagi tempat pertukaran gagasan. Padahal Konfusius mengajarkan bahwa harmoni dunia bermula dari keluarga. Al-Ghazali mewariskan bahwa pendidikan adalah proses Tazkiyatun Nafs, menyucikan jiwa. Sekolah tanpa pelukan hanyalah tumpukan batu bata tanpa ruh.

Hujan mereda. Aroma tanah basah mengingatkan bahwa kehidupan selalu mencari cara tumbuh. Kita tidak bisa menunggu keputusan dari atas. Revolusi harus meletus dari ruang kelas kita sendiri. Teknologi harus direbut kembali sebagai alat untuk mendemokrasikan pengetahuan, bukan memindahkan kebisuan ke layar digital. Kita harus berdiri di depan kelas sebagai provokator intelektual, menghubungkan materi mati dengan denyut nadi masalah di desa kita sendiri. Karena jika kita terus menyerah pada rutinitas mekanis, kita tidak hanya membunuh pendidikan. Kita memadamkan masa depan anak-anak yang berjalan gontai di bawah gerimis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siswa Malas Belajar karena TikTokers Lebih Kaya? Ini Cara Membalik Logikanya

Dulu, ruang kelas sekolah dasar kita sering kali dipenuhi oleh satu narasi seragam dari para guru: “Kalian harus belajar yang rajin, Nak. Se...