Suara jam dinding berbingkai plastik terdengar lebih keras dari biasanya. Di ruang-ruang kelas, aroma serutan pensil, kertas LKS, dan keringat seragam sekolah menjadi saksi dari tragedi yang berulang setiap hari. Sebuah tangan kecil gemetar terangkat ke udara. Keberanian rapuh, didorong oleh rasa ingin tahu. Tapi sebelum pertanyaan itu terucap, sang guru menatap dari balik meja. Matanya melirik cemas ke jam dinding, lalu ke tumpukan buku paket yang masih tebal. Ia vonis:
"Jangan banyak tanya, nanti pelajaran tidak sampai."
Kalimat itu meluncur dingin. Di detik itu, tangan yang terangkat ditarik turun. Sorot mata yang berbinar penasaran seketika meredup.
Pembunuhan nalar ini bukan hal baru. Ia berakar sejak Taman Kanak-Kanak, ketika tangan-tangan mungil dipaksa berhenti di garis tepi gambar. Apel harus merah, daun harus hijau. Bintang hanya untuk mereka yang patuh. Tahun-tahun berlalu, dan generasi yang bertahan tiba di bangku kuliah di bawah lampu neon dingin. Mereka menyalin kutipan jurnal untuk huruf A. Kampus menjadi tempat menaburkan abu nalar kritis sebelum mereka dilempar ke dunia nyata. Kita merawat generasi ini seperti pohon bonsai: dipotong tunas liarnya dan dipaksa kerdil.
Tapi tidak adil menimpakan dosa ini hanya pada satu guru. Pagi ini di Padang, melihat hujan menderas, aku menyadari guru-guru kita adalah orang-orang kelelahan yang tertindas. Di pelosok desa, pendidik berdiri di papan tulis dengan perut yang mungkin belum sepenuhnya kenyang. Kita ingin mereka jaga moral dan rawat nalar. Sementara sistem membiarkan mereka berjuang sendirian. Meja kayu berderit lapuk, laboratorium tidak ada, sinyal internet terputus-putus. Ini adalah ketidakadilan yang nyata dan terlihat.
Kita panik melihat angka pengangguran, lalu merombak silabus demi "kebutuhan pasar". Tapi apakah kita mendidik manusia yang merdeka, atau merakit penurut untuk mesin pabrik? Ketika kurikulum mereduksi jiwa-jiwa ini menjadi "sumber daya", guru tidak punya pilihan selain membalap waktu. Silabus menjadi tuhan baru.
Akibatnya, ruang ujian berubah menjadi ruang hampa udara. Guru sekadar menabung data mati ke kepala siswa, dan siswa mencairkannya di atas kertas ujian tanpa pernah memaknainya. Kesadaran kritis mati di ujung pensil pilihan ganda. Dan di manakah orang tua? Mereka sering melepaskan genggaman tangan anak di gerbang sekolah, menghela napas lega. Padahal pendidikan adalah proses keluarga. Sekolah tanpa pelukan dan dialog di meja makan rumah hanyalah tumpukan batu bata tanpa ruh.
Hujan mereda. Kehidupan selalu mencari cara untuk tumbuh dari tanah basah sekalipun. Kita tidak bisa lagi melihat pendidikan sekadar sebagai balapan menuju halaman terakhir buku. Apa gunanya kereta melaju cepat jika penumpang tidak boleh melihat dunia dari balik jendela? Pendidikan bukanlah tentang seberapa cepat kita menyelesaikan materi. Melainkan seberapa dalam materi itu memecah kebekuan kita terhadap hidup. Jika demi menyelesaikan sebuah bab anak-anak kita harus berhenti bertanya, maka kita telah tiba di garis akhir sebagai manusia-manusia yang kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar