Rabu, 15 April 2026

Menyemai Cinta di Ladang Kelelahan



Pagi itu, panas matahari di atas atap seng madrasah terasa lebih menyengat dari biasanya. Aku berdiri di ujung koridor yang catnya mulai mengelupas, meremas buku catatan usang yang berisi daftar 29 madrasah binaanku. Udara terasa tebal oleh debu yang beterbangan dari lapangan basket retak di tengah halaman. Dari kejauhan, kudengar suara bentakan keras seorang guru dari balik jendela kelas, disusul keheningan yang mencekik dari anak-anak di dalamnya. Kualihkan pandanganku ke bawah; selokan di dekat kakiku mampat, dicekik oleh tumpukan bungkus plastik es teh yang mengapung di atas air keruh.

Aku memejamkan mata. Angka-angka yang kubaca semalam mendadak berdenging di telingaku, menjelma menjadi hantu yang menari-nari di tengah lapangan berdebu ini. Sepanjang tahun 2022, 230.002 hektar hutan primer kita direnggut, mati ditebang keserakahan. Dan di saat bumi kita sekarat, rahim kedua bagi anak-anak kita—sekolah—justru berubah menjadi medan ketakutan. Kasus kekerasan anak di sekolah melonjak beringas, dari 11.264 kasus menjadi 19.628 kasus di tahun 2024.

Ini bukan lagi sekadar rentetan statistik dingin di atas meja kementerian. Ini adalah tragedi yang sedang bernapas, berjalan, dan duduk di bangku-bangku madrasah yang kuawasi setiap hari. Ada benang merah yang mengiris ngilu di antara pohon yang tumbang dan anak yang dipukul: kita telah kehilangan kepekaan untuk mencintai.

Selama bertahun-tahun, aku menyadari bahwa kita terjebak dalam ilusi pendidikan yang usang. Kita mendidik dengan pendekatan maskulin yang keras, menghukum setiap kesalahan dengan sabetan aturan yang kering, seolah agama hanyalah daftar panjang tentang dosa dan neraka. Kita mengajari anak-anak menghafal dalil di luar kepala, tapi membiarkan mereka merasa menjadi penguasa bumi yang berhak mengeksploitasinya. Pikiran kita terbelah, sibuk dengan ego sektoral, lupa bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling memeluk.

Kita butuh pergeseran. Sebuah revolusi sunyi yang meledak dari dalam dada. Kita butuh Jamaliyah—wajah Tuhan yang penuh kasih, yang membelai, bukan yang terus-menerus mengancam. Kita butuh ekoteologi, di mana menjaga selembar daun yang jatuh dan membersihkan selokan bukan sekadar program kerja, melainkan bentuk sujud yang paling panjang. Kita mendambakan wujud baru: Madrasah Penuh Cinta. Kurikulum Panca Cinta yang kita gaungkan harus hidup dalam senyum guru yang menyambut di gerbang, dalam proyek-proyek kolaboratif yang menggugah nalar, dan dalam keberanian seorang anak yang membela temannya dari ejekan.

Namun, khayalan indahku tentang revolusi cinta itu runtuh berkeping-keping siang itu juga, tepat di bawah derit kipas angin plafon ruang guru.

Di sudut ruangan yang pengap oleh aroma buku tua dan ampas kopi yang mengering di dasar gelas, Pak Rahman duduk mematung. Ujung kemeja batiknya basah oleh peluh. Jemarinya yang mulai keriput dan dihiasi noda tinta biru tampak gemetar saat mengusap layar ponsel di atas mejanya—sebuah benda pipih bercahaya yang seolah terus-menerus menertawakan kelambatannya.

Aku mengambil kursi lipat dan duduk di hadapannya, menata tumpukan form evaluasi di pangkuanku, berniat menanyakan progres implementasi kurikulum baru yang baru saja disosialisasikan bulan lalu. Namun, sebelum aku sempat merangkai tanya, ia menatapku. Tatapannya kosong. Matanya merah dan berkaca-kaca, bukan semata karena debu kemarau yang masuk lewat jendela kayu yang terbuka, melainkan oleh kelelahan bertahun-tahun yang menumpuk hingga ke ubun-ubun.

"Saya merasa seperti orang yang sedang tenggelam di tengah badai, Pak," suaranya parau, nyaris berbisik agar tak memecah kesibukan guru-guru lain di ruangan itu.

Ia menunjuk layar ponselnya, lalu menunjuk tumpukan modul di mejanya. "Dunia di luar sana berputar terlalu beringas. Kurikulum berubah setiap kali saya baru saja merasa paham. Kebijakan berganti, aplikasi pelaporan bertambah, menuntut segalanya diunggah detik ini juga. Sementara anak-anak..." ia menjeda kalimatnya, menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. "Anak-anak kita hari ini membawa bahasa, luka mental, dan masalah yang sama sekali asing buat saya. Kecepatan zaman ini merobek-robek kesanggupan saya."

Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri seolah mencari sisa-sisa tenaga di sana. "Saya menghabiskan seluruh sisa napas dan kewarasan saya hanya untuk berlari mengejar ketertinggalan administrasi. Kalau saya sudah habis-habisan begini, lalu kapan saya punya waktu untuk duduk di samping mereka dan sekadar bertanya, 'Nak, apakah kamu baik-baik saja hari ini?'"

Kalimat itu menghantam ulu hatiku lebih keras dari martil baja. Aku terdiam, merasakan ngilu yang merambat dari dada hingga ke ujung jari.

Selama ini, dalam setiap kunjunganku ke 29 madrasah binaan, aku datang selayaknya seorang mandor peradaban. Aku membawa koper penuh indikator keberhasilan, ceklis evaluasi, dan tuntutan pergeseran paradigma. Aku berdiri di depan forum, berkhotbah dengan lantang tentang perlunya meninggalkan pendekatan maskulin, pentingnya mempraktikkan Jamaliyah, dan mendesaknya mewujudkan madrasah yang ramah lingkungan dan bebas perundungan. Aku menuntut mereka beradaptasi. Sekarang. Detik ini juga.

Namun di hadapanku kini, duduk seorang manusia—ujung tombak dari semua teori langit yang kubawa—yang sedang mati-matian mencari udara untuk bernapas.

Bagaimana mungkin aku menuntutnya untuk menjadi pahlawan yang menyembuhkan luka mental anak-anak, menghentikan perundungan, dan menyelamatkan bumi, jika untuk menyintas hari demi hari di sekolah saja ia harus berdarah-darah melawan sistem yang menggilingnya tanpa ampun? Kita sering kali lupa, di balik setiap revolusi pendidikan yang kita rancang di ruang-ruang ber-AC kementerian, ada punggung-punggung renta yang memikul beban transisinya sendirian.

Kita tidak akan pernah bisa menyemai cinta di atas ladang kelelahan dan keputusasaan. Perubahan sistem yang dipaksakan berlari tanpa memberikan waktu bagi jiwa-jiwa di dalamnya untuk menapaki bumi bukanlah sebuah kemajuan; itu adalah sebuah pengusiran perlahan. Sebelum kita menuntut para guru untuk merangkul anak-anak dengan kasih sayang murni, kita harus terlebih dahulu memaafkan kelambatan mereka, dan memberi mereka ruang untuk menyeka keringat mereka sendiri.

Sebab cinta, sebesar dan seagung apa pun wujudnya, tidak akan pernah bisa lahir dari napas yang terengah-engah dan kaki yang terus-menerus dikejar waktu. Cinta hanya bisa tumbuh subur di dalam jeda.


Catatan : Untuk bacaan lebih lanjut silakan klik link:  https://drive.google.com/file/d/1_nkazTjSkKGrYZIz_SraIV6XTfXKlfCp/view?usp=sharing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sangkar Emas Panca Cinta: Mengapa Pendidikan Berbasis Cinta Butuh Sayap Nalar Kritis

Bayangkan seekor rajawali yang dibesarkan di dalam sangkar emas. Setiap pagi, ia diberi makan “ Cinta Tuhan dan Rasul-Nya ”, dimandikan deng...