Jumat, 29 Mei 2026

Hikmah Qurban : Berhala Paling Berbahaya Tidak Kelihatan


Cermin Hati yang Cemburu

Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menulis sesuatu yang sulit dilupakan: "hati tidak bisa memancarkan cahaya Ilahi kalau di dalamnya masih penuh gambar makhluk."

Nabi Ibrahim a.s. tahu ini dengan cara yang berat.

Ia mencintai Ismail dengan cara yang wajar, cara seorang ayah yang menunggu anak di usia tua. Tapi Allah cemburu terhadap hati kekasih-Nya. Maka datanglah perintah itu. Bukan untuk membunuh seorang anak. Tapi untuk memotong sesuatu di dalam dada sang ayah. Sesuatu yang sudah terlalu melekat.

Pisau itu tidak pernah dimaksudkan untuk menyentuh leher Ismail.

Ismail tidak gemetar. Ia bilang dengan tenang, "Lakukan apa yang diperintahkan." Kalimat itu pendek. Tapi bobotnya berat. Ia sudah sampai di titik di mana tubuhnya bukan miliknya sendiri. Titipan, dan titipan bisa diambil kapan saja.

Hajar pun tidak berpanjang kata ketika iblis datang. Ia ambil kerikil dan lempar. Tidak ada debat. Cukup itu.

Kita semua menyimpan "Ismail" masing-masing.

Karir. Jabatan. Nama baik. Bahkan amal yang kita sendiri terlalu sering kita ingat-ingat.

Tapi berhala yang paling sulit ditinggalkan justru tidak kelihatan. Itu adalah kebutuhan untuk dinilai baik oleh orang lain. Kita capek seharian, dan ternyata yang kita kejar hanya bayang-bayang persetujuan mereka.

Al-Hikam menulis: orang memujimu berdasarkan sangkaan mereka yang baik. Mereka tidak tahu apa yang ada di dalam. Kalau kebahagiaanmu bergantung pada pujian itu, kau sedang berdiri di tempat yang salah.

Ridha manusia tidak bisa dikejar secara langsung. Semakin kau kejar, semakin kau kelelahan. Tapi kalau kau berbalik, fokus ke ridha Allah, hal-hal yang tadi kau kejar itu cenderung datang sendiri.

Coba mulai dari yang kecil: satu amal yang tidak ada orang tahu. Tidak usah besar. Cukup sunyi. Itu cara yang paling sederhana untuk mulai melepas ketergantungan pada validasi orang lain.

Ketika dipuji, jangan langsung menerimanya sebagai kebenaran. Kembalikan dalam hati: "Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari yang mereka sangka tentangku."

Itu saja dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sangkar Emas Panca Cinta: Mengapa Pendidikan Berbasis Cinta Butuh Sayap Nalar Kritis

Bayangkan seekor rajawali yang dibesarkan di dalam sangkar emas. Setiap pagi, ia diberi makan “ Cinta Tuhan dan Rasul-Nya ”, dimandikan deng...