Aku menatap layar yang menyala di kegelapan kamar. Sebuah nomor tidak dikenal, berjejer dengan ancaman-ancaman kasar, menuntut pelunasan atas angka-angka nominal yang asing bagi dompetku. Aplikasi pesan hijau itu, yang dulunya adalah ruang silaturahmi, kini berubah menjadi medan jagal bagi ketenanganku.
Ada ironi yang getir di sini. Di negeri ini, kita sudah terbiasa mendengar berita tentang miliaran data pribadi yang bocor dan diperjualbelikan di pasar gelap internet seperti sayur-mayur di pasar tumpah. Kita sering menertawakannya lewat meme, menganggapnya sebagai lelucon birokrasi yang usang. Namun, lelucon itu berhenti menjadi lucu ketika ia mengetuk pintumu sendiri. Ketika nama lengkapmu, nomor identitasmu, mungkin juga foto wajahmu yang sedang memegang KTP, telah berpindah tangan ke folder-folder komputer para lintah darat digital yang tidak memiliki wajah, tidak memiliki belas kasihan.
Aku merasa telanjang. Seseorang di luar sana, entah di sudut kota mana, memegang kunci menuju ruang paling privat dalam hidupku.
Ketakutan ini tidak datang berupa ledakan besar, melainkan gerogotan kecil yang konstan. Ia merusak caraku menikmati hari. Aku mendapati diriku terjebak dalam pusaran swing-mood yang melelahkan. Di satu jam, aku bisa tertawa bersama teman-teman di kedai kopi, mencoba melupakan semuanya sembari menyesap americano yang mulai mendingin. Namun, begitu ponsel di saku celanaku bergetar, dunia seolah kehilangan warnanya seketika. Lidahku mengecap rasa pahit yang bukan dari kopi. Aku mendadak menjadi dingin, mudah tersinggung, dan menarik diri dari percakapan. Pikiranku mendadak terbang ke skenario-skenario terburuk: bagaimana jika mereka meneror orang tuaku? Bagaimana jika mereka menghubungi atasanku di kantor?
Setiap malam, sebelum mata ini terpejam, aku terpaksa memeriksa kembali semua kunci pintu rumah, sebuah gestur sia-sia karena aku tahu, penyusup yang sesungguhnya tidak datang lewat jendela. Mereka sudah berada di dalam, duduk manis di dalam memori ponselku, mengawasi setiap gerak-gerikku lewat jaringan seluler.
Dulu, kita mengira bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk bersembunyi dari kekejaman dunia luar. Kita mengunci pagar, memasang gorden, dan mematikan lampu teras agar orang asing tidak mengusik. Namun di era ini, batas-batas itu telah runtuh. Kita bisa diserang secara brutal sambil berbaring di atas kasur empuk kita sendiri, hanya karena beberapa baris data kita telah dihargai murah di luar sana. Ketenangan, ternyata, bukan lagi sesuatu yang bisa kita miliki sepenuhnya; ia kini menjadi komoditas yang bisa direnggut kapan saja oleh ketukan pesan singkat dari ketidakpastian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar