Pernahkah Anda merasa hujan dua minggu terakhir ini sangat berbeda?
Jemuran yang tak kunjung kering, angin yang menderu menakutkan di malam hari, hingga banjir yang mulai menggenang di beberapa titik di Ranah Minang. Kita semua merasakan lelahnya. Lelah membersihkan rumah, lelah was-was, dan bertanya-tanya: "Sebenarnya ada apa dengan langit Sumatera Barat?"
Artikel ini tidak akan membahas istilah rumit yang bikin pusing. Kita akan bedah apa yang sebenarnya terjadi, kenapa hujan ini begitu "awet", dan siapa "tamu tak diundang" yang sedang mampir di langit kita.
Bukan Sekadar Hujan Biasa
Pertama, kita harus paham bahwa ini bukan sekadar musim hujan biasa. Para ahli menyebutnya Bencana Hidrometeorologi.
Jangan bingung dengan namanya. Gampangnya, ini adalah "amukan air dan angin". Karena cuaca yang ekstrem, siklus air jadi berantakan. Hujan turun terlalu banyak (banjir), atau angin bertiup terlalu kencang (badai).
Tapi, kenapa harus sekarang? Dan kenapa begitu dahsyat?
Kita Sedang "Dikepung" Dua Raksasa
Ini fakta yang mungkin belum banyak orang tahu. Menurut pantauan satelit cuaca terkini, posisi Sumatera Barat saat ini sedang terjepit di antara dua sistem badai (Siklon Tropis) sekaligus.
Bayangkan Anda berdiri di tengah lapangan, lalu ada dua kipas angin raksasa yang menyala dari arah yang berlawanan.
Si Tetangga Dekat: Siklon Tropis SENYAR Badai ini posisinya sangat dekat dengan kita, yaitu di sekitar Selat Malaka (dekat Aceh dan Sumut). Karena jaraknya yang dekat, "ekor" badainya mengibaskan angin kencang dan hujan lebat langsung ke atap rumah kita.
Si Raksasa Jauh: Siklon Tropis KOTO Badai ini adanya jauh di timur sana (dekat Filipina/Pasifik). Meskipun jauh, tenaganya besar dan ikut mempengaruhi pola angin di wilayah kita.
Macet Total di Langit (Konvergensi)
Nah, apa jadinya kalau ada dua badai yang menarik angin dari segala penjuru? Terjadilah apa yang disebut Konvergensi.
Bahasa sederhananya: Tabrakan Angin.
Angin dari Samudra Hindia ditarik oleh Senyar, angin dari arah lain ditarik oleh Koto. Apesnya, titik temu atau tempat tabrakannya pas banget di atas langit Sumatera Barat.
Ibarat kemacetan di perempatan jalan, angin dan uap air yang "tabrakan" ini tidak bisa kemana-mana. Mereka menumpuk, macet, lalu naik ke atas menjadi gunung-gunung awan hitam yang tebal. Karena awannya "ngetem" di atas kita, hujannya pun turun terus-menerus seolah ditumpahkan dari ember raksasa tanpa henti.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Mengetahui penyebabnya saja tidak cukup. Di hari Jumat yang mulia ini, mari kita ubah kekhawatiran menjadi aksi nyata:
Stop Mengeluh, Mulai Waspada Mengumpat hujan tidak akan menghentikan badai. Lebih baik gunakan energi untuk Cek Ricek. Cek atap rumah, bersihkan selokan depan rumah yang mampet (ini penyebab banjir paling umum), dan pangkas dahan pohon yang sekiranya rapuh.
Hindari "Wisata Bencana" Ombak laut sedang tinggi-tingginya karena pengaruh Siklon Senyar. Hindari main ke pantai dulu, dan kurangi perjalanan ke daerah rawan longsor (seperti Sitinjau Lauik atau Lembah Anai) jika hujan sedang deras-derasnya.
Solidaritas Sesama Warga Banyak saudara kita (nelayan, pedagang kaki lima) yang ekonominya lumpuh 2 pekan ini. Kalau Anda punya rezeki lebih, pesanlah dagangan mereka atau berikan bantuan pada tetangga yang kebanjiran. Ini saatnya Sachiok bak ayam, sadanciang bak basi.
Langitkan Doa Sebagai orang beriman, kita tahu pengendali Badai Senyar dan Koto adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Berdoalah agar angin ini membawa manfaat, bukan mudharat.
Penutup
Badai pasti berlalu, tapi keselamatan keluarga adalah prioritas nomor satu. Semoga penjelasan sederhana ini membuat Sanak semua lebih paham dan lebih siap.
Jaga diri, jaga keluarga, dan tetap pantau informasi resmi dari BMKG. Jangan mudah panik gara-gara berita hoaks yang bersileweran di media sosial.
Semoga Sumatera Barat segera membaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar