Gawai di atas mejaku bergetar pendek sore itu. Udara ruang guru lengket, bercampur aroma kertas ujian dan sisa kopi di dasar cangkir. Di layar, pesan masuk di grup WhatsApp sekolah. Bukan jadwal ujian atau pengumuman rapat. Pesan itu memvonis seorang anak mencuri.
Saya tidak bisa sekadar duduk membiarkan vonis itu mengeras menjadi kebenaran. Saya mencari anak itu.
Ketika dia berdiri di hadapan saya, tidak ada gurat kriminal di wajahnya. Hanya mata yang redup, bahu melorot, jari-jari gemetar memegang ujung seragam kusam. Lalu cerita sebenarnya terbuka. Dia hanya lapar atau tergoda barang kecil. Tangan masuk saku untuk mengambilnya. Tapi saku celana lain kosong. Uangnya tertinggal. Panik. Malu. Dia mengembalikan barang itu diam-diam.
Sebuah kecanggungan masa muda. Sebuah kesalahan yang sangat manusiawi. Tapi di mata rekan guruku, gerakan diam-diam itu adalah tarian pencuri.
Saya membawa fakta ke grup WhatsApp yang sudah mendidih marah. Menjelaskan urutan kejadian. Ketika kebenaran itu tak terbantahkan, rekan itu mundur dan mengakui kesalahannya. Tapi apa yang dia tulis kemudian membuat nafas saya tertahan.
"Di zaman sekarang apapun kesalahan anak-anak, pada akhirnya korban juga yang menjadi tersangka."
Saya menatap kalimat itu berulang kali, mencari jembatan akal sehat. Tidak ada. Semuanya runtuh dalam lompatan logika yang patah dan menyesatkan.
Siapa korban yang dia maksud. Dirinya yang salah menuduh. Siapa tersangka yang dia ratapi. Dirinya juga yang merasa dihakimi karena kecerobohannya terungkap. Ini bukan sekadar pembelaan diri. Ini adalah ego menolak hancur, lalu memutarbalikkan realitas agar tetap terlihat sebagai martir.
Di sinilah tragedinya. Kita sering menganggap logika hanya rumus matematika atau silogisme usang peninggalan Aristoteles. Kita lupa logika adalah rel yang menjaga kereta empati dan keadilan kita agar tidak keluar jalur.
Bagi seorang guru, cacat dalam berpikir bukan sekadar kelemahan intelektual. Ia adalah senjata. Ketika kerangka berpikir kita melompat-lompat, menjahit asumsi tanpa benang bukti, kita tidak hanya menyesatkan diri sendiri. Kita sedang mendistorsi realitas puluhan anak yang duduk di depan kelas, menelan kata-kata kita sebagai sabda kebenaran. Bagaimana kita bisa mengajarkan mereka membedakan mana benar dan salah, jika kita sendiri tersesat dalam labirin ego dan tak mampu menarik kesimpulan lurus dari premis sederhana.
Logika yang cacat melahirkan empati yang buta. Ketika seorang pendidik menolak merapikan cara berpikirnya, dia terus melihat niat baik sebagai ancaman, ketakutan anak sebagai pemberontakan.
Sore itu, bel pulang berbunyi dan bayangan pepohonan memanjang di lapangan. Saya merenung. Kita mengeluh tentang generasi yang kehilangan arah, anak-anak tak tahu cara mengambil keputusan benar. Mungkin kita lupa berkaca. Mereka bingung karena penunjuk jalan mereka sendiri berjalan dengan kompas yang jarumnya telah patah oleh keangkuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar