Selasa, 23 Juni 2026

Menumbangkan Berhala dalam Kepala


Jam dinding berdetik lambat. Di luar, langit masih abu-abu pekat dan dingin sisa malam merayap masuk lewat celah jendela. Saya terbangun sebelum azan subuh sempat berkumandang. Napas saya agak memburu, tersentak dari sebuah mimpi yang menolak pergi dari kepala.

Dalam mimpi itu, seorang pria datang dengan wajah letih. Dia menyodorkan tumpukan kertas, meminta bantuan saya untuk membereskan disertasinya yang berantakan. Ironis. Di dunia nyata, bab-bab disertasi saya sendiri sedang mati suri di dalam laptop yang mulai berdebu. Semuanya mandek tepat setelah seminar proposal dan ujian komprehensif, terhenti oleh alasan-alasan kabur yang sengaja saya ciptakan untuk membohongi diri sendiri.

Saya termenung di tepi tempat tidur, menatap lantai yang dingin. Ada perang yang senyap namun riuh di dalam dada. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang tenggelam bisa mengulurkan tangan untuk menyelamatkan orang lain? Dalam mimpi yang terputus itu, saya hanya bisa tersenyum kecut dan memberi jawaban seadanya, lalu berbalik arah. Namun setelah terjaga, senyum itu menguap. Yang tersisa hanya rasa sesak yang akrab.

Apa sebenarnya yang mengunci langkah saya? Mental block apa yang membuat saya begitu tega menelantarkan diri sendiri, sekaligus menutup pintu bagi orang lain? Padahal, mulut ini begitu fasih meneriakkan jargon tentang hidup yang harus bermanfaat bagi sesama.

Nyatanya, di dunia luar, orang-orang memang sering datang membawa harapan kepada saya. Kadang saya mengulurkan tangan, dan melihat senyum mereka membuat saya merasa utuh. Tapi sering kali, saya justru melengos. Pekan lalu, dosen co-promotor saya meminta tolong untuk mengurus sebuah keperluan di kantor BKPSDM Pemda Agam. Tugas itu sederhana. Namun, sudah seminggu lebih berkas itu hanya tergeletak di meja kerja, tidak saya sentuh sama sekali. Saya menundanya tanpa alasan yang masuk akal.

Saat saya merenungkannya dalam-dalam di keheningan fajar ini, kebenaran itu datang seperti tamparan: ada bibit kesombongan yang tumbuh subur di dalam hati.

Saya merasa dicari karena saya lebih baik dari mereka. Perasaan bahwa "saya adalah penolong dan mereka adalah yang ditolong" diam-diam memberi makan ego saya. Bukankah ini penyakit lama yang membuat Iblis terusir dari surga? Merasa dirinya lebih mulia dari Adam karena diciptakan dari api. Keangkuhan dan rasa takabur inilah yang menjelma menjadi tembok tebal, menghalangi jiwa saya untuk menjadi bersih.

Padahal, apa yang sebenarnya saya miliki? Otak yang dianggap cerdas, fasilitas belajar yang lengkap, dan segala kemudahan hidup ini—tidak ada satu pun yang lahir dari kehebatan saya. Semuanya milik Allah yang dititipkan sementara. Namun, karena ego ini terlalu besar, ia melahirkan kedengkian. Hati saya mendadak panas dan benci ketika mendengar orang lain lebih dipilih untuk memimpin atau mengerjakan sesuatu. Saya merasa tersisih, padahal pekerjaan itu bisa jadi adalah ladang amal yang disediakan Tuhan agar saya bisa berguna. Rasa benci dan kebiasaan meremehkan orang lain inilah batu besar yang menyumbat aliran kebaikan dalam hidup saya.

Ya Allah, Engkaulah pemilik ruh dan tubuh ini. Bantu saya menghancurkan tembok keangkuhan ini. Saya tidak memiliki daya, dan saya tidak akan pernah mampu memperbaiki diri tanpa kekuatan dari-Mu.

Ego bodoh ini harus mati jika saya ingin mencapai apa yang dulu pernah saya mimpikan. Dulu, saya sangat menggebu-gebu ingin meraih gelar doktor. Jalan itu sudah saya buka, tapi saya memilih berhenti di tengah jalan. Kampus sudah berkali-kali menghubungi, mengirim surel peringatan, bahkan sudah memberikan lampu hijau agar saya bisa bimbingan secara daring. Tidak ada lagi kendala jarak. Jadi, kenapa saya masih diam?

Saya harus bicara pada diri sendiri dengan jujur: Ayo, bangkit. Kamu yang memulai perjalanan ini, kamu juga yang harus menyelesaikannya.

Namun, babak baru tidak akan pernah dimulai selama ego lama belum ditumbangkan. Selama keangkuhan ini dipelihara, saya akan selalu merasa paling benar, gampang sakit hati saat orang lain lebih unggul, dan terus menganggap remeh hal-hal kecil. Sampai kapan saya mau mempertahankan kemunafikan ini? Sementara lidah saya setiap hari berkata bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Betapa banyak peluang amal shalih yang menguap begitu saja hanya karena saya menyepelekan permintaan tolong orang-orang terdekat.

Hari ini, mimpi panjang itu harus selesai.

Saya harus bangun dan menjemput kenyataan. Di ujung jalan sana, segalanya pasti akan jauh lebih baik. Walal akhiratu khairullaka minal uula—masa depan dan akhiratmu jauh lebih berharga daripada masa lalu yang melenakan. Jangan berhenti sekarang. Perjalanan masih panjang, dan punggung saya sudah terlalu lelah memikul beban ego yang angkuh dan berat ini. Saatnya menaruh beban itu, membasuh muka, dan mulai mengetik kembali kata pertama di layar laptop yang sempat mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika "Pawang AI" di Madrasah Menjadi Usang: Menemukan Kembali Roh Pedagogi Kita

Belakangan ini, ruang-ruang obrolan guru dan grup WhatsApp madrasah riuh oleh satu topik populer: Kecerdasan Buatan ( Artificial Intelligenc...