Cangkir kopi seng itu sudah berkarat di bagian pinggirnya. Saya memegangnya erat-erat, membiarkan rasa panasnya menembus kulit telapak tangan yang kasar. Di luar, laut tidak pernah peduli. Ia tetap memukul lambung perahu dengan ritme yang sama, tua dan konstan. Anehnya, justru di tengah gulungan ombak yang tidak pernah tidur itu, kepala saya malah menemukan jeda.
Sejak kecil, kita diajari untuk jadi pemenang. Kita dipaksa percaya bahwa menjadi orang biasa adalah sebuah kekalahan yang memalukan. Maka kita berlari. Kita merawat seekor binatang lapar di dalam dada—keinginan untuk dilihat, diakui, dipuji, dan dianggap penting. Kita ingin nama kita bergema di ruangan-ruangan ber-AC yang dingin, di meja-meja rapat yang kaku, atau di layar ponsel orang-orang yang bahkan tidak kita kenal.
Tapi makin keras kita memberi makan binatang itu, ia justru makin galak.
Saya ingat malam itu. Lampu kamar mati, cuma tersisa kilat ponsel yang menampilkan deretan ucapan selamat yang terasa hampa. Dada saya rasanya sesak luar biasa, bukan karena kekurangan oksigen, tapi karena kecemasan yang entah dari mana asalnya. Waktu itu saya baru sadar: saya sedang sekarat karena lapar akan validasi. Saya membiarkan hidup saya disetir oleh ketakutan untuk tidak dianggap.
Lalu saya melihat ke luar jendela. Hujan rintik-rintik basah menyapu dedaunan. Sepi. Tidak ada penonton, tidak ada panggung, tidak ada juri. Dan bumi tetap berputar tanpa peduli apakah saya menang atau kalah malam itu.
Di situlah hakikatnya berbisik, pelan sekali.
Segala hal yang kita kejar setengah mati ini hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Mahkota yang kita rebutkan akan berdebu. Orang-orang yang hari ini menepuk bahu kita besok akan sibuk dengan urusan perut mereka sendiri. Dunia ini terlalu kecil untuk dijadikan arena pertaruhan ego yang tidak ada habisnya. Kegelisahan kita selama ini bukan datang dari orang lain, tapi dari nafsu tersembunyi yang terus menuntut untuk disembah.
Ikan besar di laut dalam tidak pernah peduli apakah nelayan di atas perahu mengenakan pakaian mahal atau kain rombeng. Laut menerima mereka sama rata: sebagai jasad yang sama-sama bisa tenggelam.
Saya menarik napas dalam-dalam. Udara malam yang lembap masuk menghantam paru-paru. Ada rasa lega yang asing mendadak hadir. Ketika kita berhenti menuntut dunia untuk mengakui keberadaan kita, saat itulah kita benar-benar mulai hidup. Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Kita cuma perlu ada di sini, menikmati sisa teh yang mulai dingin, dan membiarkan dunia berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar