Saat ini, ada 6 model kurikulum yang diakui unggul di dunia saat ini sehingga banyak diadopsi dan mengambil franchise untuk di Indonesia. Walaupun ada model lainnya, yang sering kita dengar kurikulum : 1) Montessori, yang menekankan kemandirian & motorik, 2) Singapore Math, yang menonjolkan logika & problem solving, 3) Cambridge, yang terkenal dalam keunggulan akademik & critical thinking, 4) Finlandia, yang terkenal dalam penguasaan literasi & eksplorasi, 5) Reggio Emilia, yang sangat menekankan dalam hal ekspresi & seni, 6) Waldorf , yang sukses dalam mengembangkan imajinasi & storytelling.
Keenam model kurikulum yang saya sebut itu datang dari filosofi pendidikan yang berbeda. Setiap model punya akar sejarah sendiri dan cara pandang sendiri tentang bagaimana anak belajar.
Montessori dikembangkan oleh Maria Montessori di awal abad 20 di Italia. Inti modelnya adalah anak belajar mandiri lewat aktivitas yang ia pilih sendiri. Guru berperan sebagai pengamat dan pemandu, bukan pengajar yang mendominasi kelas. Satu kelas berisi anak dengan rentang usia berbeda, jadi anak yang lebih besar membantu yang lebih kecil. Materi belajar dirancang agar anak bisa mengoreksi kesalahan sendiri tanpa campur tangan guru, misalnya kotak silinder untuk melatih koordinasi tangan, atau rangkaian manik untuk konsep matematika dasar. Fokus utamanya ada pada kemandirian dan keterampilan motorik halus lewat aktivitas kehidupan sehari hari seperti menuang air atau melipat kain. Untuk RA binaan Anda, prinsip ini bisa diterapkan lewat sudut belajar mandiri dan alat peraga yang aman dipegang anak sendiri.
Singapore Math lahir dari kurikulum matematika nasional Singapura sejak tahun 1980an. Model ini memakai urutan belajar dari konkret ke piktorial lalu ke abstrak, disebut pendekatan CPA. Anak mulai dengan benda nyata, lanjut ke gambar, baru kemudian simbol angka. Teknik bar model dipakai untuk memvisualkan soal cerita sebelum diselesaikan dengan angka. Satu topik dibahas mendalam sebelum pindah ke topik lain, berbeda dari kurikulum yang membahas banyak topik secara dangkal dalam satu tahun. Untuk MI dan MTs binaan Anda, pendekatan CPA relevan dipakai memperbaiki pembelajaran matematika dan bisa diadaptasi untuk pelajaran sains yang butuh logika berjenjang.
Cambridge merujuk pada kurikulum internasional dari Cambridge Assessment International Education di Inggris. Kurikulum ini terstruktur ketat per jenjang, dari Cambridge Primary, Lower Secondary, sampai IGCSE. Setiap mata pelajaran punya learning objective yang detail dan terukur. Penilaian dilakukan lewat checkpoint test dan ujian internasional yang dipakai di banyak negara. Critical thinking dilatih lewat soal yang menuntut analisis, terutama di pelajaran sains dan bahasa Inggris. Untuk MA binaan Anda yang ingin menaikkan mutu akademik, struktur learning objective ala Cambridge bisa jadi rujukan menyusun indikator pencapaian kompetensi yang lebih presisi.
Sistem pendidikan Finlandia dikenal karena hasil tinggi di PISA meski jam belajar formalnya pendek. Anak baru masuk sekolah dasar formal di usia 7 tahun. Sebelum itu, fokusnya bermain dan eksplorasi di taman kanak kanak. Guru punya otonomi tinggi menyusun pembelajaran sendiri tanpa beban ujian nasional. Model phenomenon based learning memakai tema nyata, misalnya isu lingkungan, sebagai pintu masuk belajar lintas mata pelajaran. Literasi dibangun lewat membaca buku cerita setiap hari dan diskusi terbuka, bukan lewat drilling soal. Anda bisa mengambil prinsip ini untuk mengurangi tekanan ujian berlebihan di MI binaan Anda dan menambah waktu eksplorasi tema nyata di luar buku teks.
Reggio Emilia berasal dari kota di Italia tempat model ini lahir setelah Perang Dunia kedua. Anak dipandang sebagai subjek aktif yang punya banyak cara mengekspresikan diri, dikenal dengan istilah hundred languages of children, lewat gambar, gerak, musik, dan tanah liat. Kurikulum tidak disusun kaku di awal tahun, tapi muncul dari minat anak yang diamati guru lalu dikembangkan jadi proyek panjang. Dokumentasi proses belajar lewat foto dan catatan jadi bagian penting untuk melihat perkembangan anak dari waktu ke waktu. Ruang kelas dirancang penuh cahaya alami dan area seni terbuka, dianggap sebagai guru ketiga setelah guru manusia dan teman sebaya. Untuk RA, model ini bisa memperkaya kegiatan seni dan ekspresi anak yang sering terbatas pada mewarnai buku cetak saja.
Waldorf dikembangkan oleh Rudolf Steiner berdasarkan pandangan antroposofi tentang tahap perkembangan anak. Pembelajaran akademik formal seperti membaca dan menulis baru dikenalkan di usia lebih besar dibanding kurikulum umum. Tahun tahun awal diisi dengan cerita, dongeng, permainan peran, dan kerja tangan seperti merajut atau mengukir kayu. Guru yang sama biasanya mendampingi satu kelompok anak selama beberapa tahun berturut turut untuk membangun kedekatan dan pemahaman karakter anak. Ritme harian dan musiman dijaga konsisten, misalnya selalu mulai hari dengan circle time dan lagu yang sama. Penggunaan layar dan teknologi sengaja ditunda sampai anak lebih besar. Prinsip storytelling Waldorf relevan dipakai memperkuat pembelajaran nilai agama di RA lewat kisah nabi yang disampaikan secara lisan, bukan lewat video.
Keenam model ini tidak harus dipilih satu saja. Anda bisa mengambil prinsip kemandirian dari Montessori untuk RA, pendekatan CPA dari Singapore Math untuk MI dan MTs, struktur learning objective dari Cambridge untuk MA, dan storytelling dari Waldorf untuk pembelajaran PAI di semua jenjang. Kombinasi ini lebih realistis diterapkan di madrasah binaan Anda dibanding mengadopsi satu model secara penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar